Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

SEPAKBOLA API DIHARI SANTRI


Menghidupkan kembali sebuah tradisi menjadi penyemangat Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menyelenggarakan tradisi unik yakni ‘Pertandingan Sepakbola Api’ dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di lapangan sepakbola Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Sabtu (20/10) malam.

Tradisi sepakbola api adalah budaya pondok pesantren zaman dulu, namun permainan bola api yang terbuat dari kelapa tua yang direndam minyak tanah selama beberapa hari, kemudian dibakar ini kian tergerus oleh kemajuan zaman now, itulah tujuannya diadakannya acara tersebut agar para santri bisa menghidupkan tradisi tersebut sekaligus mengenang para pahlawan muslim dari kalangan santri.

Pertandingan semakin menarik karena sejumlah santiriwati yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa NU seluruh Kabupaten Brebes, ikut berpartisipasi memeriahkan pertandingan dengan semangat yang berapi-api. “Kalah menang bukan jadi acuan, tetapi kami bangga memeriahkan, sekaligus mengenang para pahlawan kami” ucap Komala Sari, salah seorang santriwati dari SMA Islam Bustanul Ulum, Bumiayu, Brebes.

Pembina Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa NU Kabupaten Brebes, Mohammad Irham mengatakan, tujuan pertandingan sepak bola api untuk melestarikan tradisi yang merupakan bagian dari budaya pondok pesantren tempo dulu bahkan sebelum masa Indonesia merdeka. “Irham mengajak semua elemen santri bersenergi meletarikan tradisi unik ini”. Pungkasnya. (AB).

Foto: Beby Novita
Editing: @abunawars
#SepakbolaApi #Budaya #Tradisi #Santri
.

RIMPU, BUDAYA YANG MENGAKAR DARI SYARIAT ISLAM


Rimpu merupakan perpaduan unik antara budaya Indonesia dengan syari’at Islam yang kuat. Rimpu juga menunjukkan jati diri bangsa tanpa meninggalkan identitas Islam.
***

Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan menggunakan sarung tenun khas (tembe nggoli) yang terdiri dari 2 (dua) lembar sarung, satu digunakan untuk bagian atas (rimpu) dan satunya lagi untuk menutup bagian bawah, biasanya para lelaki menggunakannya untuk katente tembe. Cara memakai rimpu cukup sederhana, kain bagian atas dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah (rimpu colo) atau terlihat matanya saja (Rimpu Mpida)

Seiring kemajuan menenun, Rimpu tidak hanya menggunakan tembe nggoli, kini tersedia beragam songket dengan motif-motif yang indah, namun motif yang banyak digunakan adalah motif dari slogan Nggusu waru seperti: (Bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli dengan menggunakan benang rayon. Perpaduan unik dari ragam motif tersebut membuat Rimpu tampil indah dan elegan.

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya.

Hal tersebut juga menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu pada saat itu mampu menciptakan kreasi busana yang tetap merujuk pada model atau tatakrama berbusana perempuan Arab, maka jadilah rimpu yang lebih simpel dan mudah menggunakannya.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Ncolo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka.

Seiring kemajuan peradaban dunia yang kian moderen, dengan segala kemudahan dan kecepatan mengakses informasi, dampak dan berpengaruh terhadap generasi muda mulai terlihat. Betapa tidak , dengan perkembangan yang kian pesat tersebut, perilaku manusia secara nyata telah beralih ke fenomena baru, salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi ditangan-tangan kreatif yang mulai menanggalkan akar budayanya sendiri ke budaya barat.

Lihat saja, seorang wanita lugu dari desa yang mencoba meraih mimpi diajang pesona bintang, disaksikan jutaan mata dilayar kaca, tiba-tiba dalam sekejab dandanannya berubah total dirias sesuai tuntutan kerlap-kerlipnya panggung bintang. Apakah fenomena ini menjadi bagian dari lunturnya kecintaan generasi muda yang menganggap akar budayanya sudah kuno? Padahal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya.

Melestarikan budaya bukanlah pekerjaan mudah, Pemerintah, pejabat terkait atau pemerhati budaya harus senergi dan secara terus menerus mengenalkan akar budaya pada generasi muda, misalnya dengan menyelenggarakan pawai budaya atau pentas seni budaya. Hal itulah yang menjadi acuan bagi perantauan asal Bima-Dompu sejabodetabek menyelenggarakan 'Festival Rimpu Bima Dompu di Monas, Minggu 15 juli 2018 mendatang.

Salah satus pencetus ide Festival Rimpu Bima Dompu 2018, Bams Uba Zeo mengatakan, Semangat kebersamaan Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Bima, Kota kecil diujung pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya (Rimpu ) di jantung Ibukota Negara ( Monas ) Jakarta adalah hal yang spetakuler, dan akan lebih spektakuler jika Pemerintah ikut mendukungnya. “Saya mengajak semua elemen masyarakat Bima Dompu, Ayo rame-rame, ke Monas, Minggu 17 Juli 2018, Kita tunjukan pada dunia, inilah Rimpu, Inilah Budaya, Inilah Indonesia yang kaya akan keberagamanan Budayanya ”. (AB)

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya