Tampilkan postingan dengan label Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muda. Tampilkan semua postingan

ANAK MUDA INDONESIA MENUJU INDONESIA MAJU

Indonesia membuat tercengang dunia dengan tarian, nyanyian, dan pertunjukan pada Asian Games yang lalu. Memang itulah DNA bangsa Indonesia yaitu kreatif. Ketika kita 'menjual' Indonesia, yang kita tunjukkan ialah tarian, nyanyian, lukisan, cerita, dan panorama karena memang Indonesia adalah negara kreatif.

Kekayaan Indonesia ialah pada kreativitasnya. Bukan tanpa alasan Presiden Joko Widodo membentuk Badan Ekonomi Kreatif pada 2015. Di 2028, 100 tahun setelah Sumpah Pemuda, jumlah penduduk usia produktif Indonesia diperkirakan 60%-70% dari total penduduk. Pada dekade yang sama itu pula, kian banyak pekerjaan diambil alih oleh robot, mesin, ataupun artificial intelligence. Namun, tidak dalam hal kreativitas dan bakat, dan kedua hal itulah yang dimiliki Indonesia.

Kompetitif dan produktif, dua hal yang selalu disebut Presiden Joko Widodo, ialah kunci kemenangan Indonesia untuk menjadi negara maju. Kreatif sebagai modal dasar bangsa Indonesia dapat memenangi pertarungan global dan kompetitif. Modal yang sudah dimiliki sejak zaman nenek moyang.

Selama 4 tahun terakhir, tiga hal penting sudah dikerjakan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla untuk memperkuat daya saing dan produktivitas, juga menjadikan Indonesia negara maju dan memastikan di 2030 kita mampu menjadi negara maju yang produktif dan kompetitif.

Hal pertama ialah memperkuat infrastruktur serta kesempatan untuk bekerja dan berusaha sehingga Indonesia menjadi kompetitif dan produktif. Tanpa infrastruktur transportasi, sulit bagi perdagangan Indonesia untuk menekan biaya. Tanpa infrastruktur backbone internet yang kuat, sulit bagi ekonomi digital untuk berkembang. Tanpa infrastruktur pembiayaan yang tepat, sulit bagi anak muda untuk berusaha dan berkembang, ataupun memiliki desa yang mandiri.

Kedua, menghubungkan pendidikan vokasi dengan bisnis. Pendidikan vokasi yang terhubung dengan bisnis memungkinkan anak muda Indonesia untuk mendapat pekerjaan. Utamanya pekerjaan yang memadai, apalagi dengan kondisi pendidikan saat ini yang rata-rata hanya kelas 2 SMP.

Ketiga, memastikan bahwa di masa depan, anak muda Indonesia cerdas dan mampu bersaing, dengan cara meningkatkan gizi dan menekan angka stunting. Kesehatan merupakan 'infrastruktur' kunci untuk penguatan sumber daya manusia.

Kecerdasan ialah sesuatu yang harus direncanakan sejak 1.000 hari pertama manusia terbentuk, yaitu dari kehamilan hingga berusia 3 tahun. Setelah lewat masa itu, yang bisa dilakukan hanyalah mengoptimalkannya saja, bukan membentuk.

Kreativitas ialah bibit yang membutuhkan medium untuk berkembang dan berbuah. Bibit yang sudah diberkahi Tuhan Yang Mahakuasa untuk bangsa Indonesia yang menjadi kekuatan negara ini. Berkat yang diberikan Tuhan Yang Mahakuasa kepada kita ialah negara yang berwarna, beraneka ragam dalam satu bangsa, bangsa Indonesia.

Sudah jelas bahwa Indonesia bukanlah negara yang seragam dan tidak bisa diseragamkan. Karena itulah, menjadikan ekonomi kreatif sebagai kekuatan Indonesia ialah strategi kunci Presiden Joko Widodo agar anak muda Indonesia memenangi persaingan global.

Jadi jelas, bukan sekadar 'kekinian' yang ditunjukkan Presiden Joko Widodo ketika membentuk Badan Ekonomi Kreatif, atau menggunakan budaya pop sebagai analogi ketika berbicara di forum internasional, juga menggunakan berbagai produk kreatif dalam berbagai kesempatan.

Presiden Joko Widodo ingin menunjukkan kepada dunia dan masyarakat Indonesia bahwa keberagaman budaya dan kreativitas kita adalah kekuatan besar yang sedang kita eksplorasi dan dorong sebagai bagian dari perjalanan kita menuju Indonesia maju.

Jika pada 28 Oktober 1928 pemuda kita bersumpah mempersatukan Indonesia, kini saatnya kita mendorong persatuan itu ke langkah yang lebih jauh yakni menjadi negara maju.

Dengan perkiraan jumlah usia produktif hampir dua kali lipat usia nonproduktif di 2028, dapat kita bayangkan dahsyatnya kekuatan anak muda Indonesia yang kreatif, produktif, dan kompetitif. Ini sesuatu tujuan yang tidak bisa dicapai dengan menggunakan prinsip Roro Jonggrang, diraih dalam semalam.

Dibutuhkan waktu, kecerdasan, infrastruktur, konsistensi, dan visi kuat anak muda Indonesia saat ini, persis seperti yang terjadi 90 tahun lalu yakni pada 28 Oktober 1928.

Sumber: Media Indonesia
Penulis: Chrisma A Albandjar Praktisi Kebijakan Publik

.

KIPRAH 17 ANAK MUDA INDONESIA DIAKUI DUNIA


Kreatif anak muda Indonesia tidak kalah dengan sejawatnya dari negara-negara lain.

Hal itu terbukti dalam daftar 30 Under 30 Asia pemimpin muda penuh inspirasi yang dirilis majalah Forbes, kemarin, 17 nama pemuda Indonesia bertengger di dalamnya.

Ke-17 pemuda Indonesia itu berkiprah di beragam bidang, di antaranya entertainment & sports, arts, retail & e-commerce, finance & venture capital, entreprise technology, consumer technology, social entrepreneurs, dan healthcare & science.

Di antara nama-nama pemuda tersebut, termasuk di dalamnya sejumlah nama yang selama ini sudah dikenal.

Misalnya, Joey Alexander Sila, musikus belia yang tampil di Grammy Awards 2016 pekan lalu; Ferry Unardi, Co-founder & CEO Traveloka; Kevin Aluwi, Co-founder & Chief Financial Officer Go-Jek; Carline Darjanto, pemilik label pakaian CottonInk, dan sejumlah nama lain.

Secara total Forbes merilis 300 pemimpin muda berusia di bawah 30 tahun penuh inspirasi yang terdapat di Asia.

Selain bidang-bidang yang disebutkan di atas, para pemimpin muda itu berkiprah di bidang manufacturing and energy, serta media, marketing, dan advertising.

Di tiga bidang terakhir tidak ada nama pemuda Indonesia.

Beberapa kiprah pemuda Asia lainnya yang masuk daftar ini ialah 9GAG, situs media sosial yang dibentuk oleh lima mahasiswa University of Hong Kong.

9GAG yang didirikan pada 2008 itu kini memiliki 26 juta pengikut di Instagram, 29 juta fan di Facebook, dan 6 juta follower di Twitter.

Mereka menangguk US$2,8 juta dalam modal ventura.

Melalui akun Instagram pribadinya, Carline Darjanto mengungkapkan perasaan bangganya masuk rilis Forbes tersebut.

'I'm so happy to be included in #Forbes30Under30 first ever list. Thank you Forbes', tulisnya.

Guru Besar Ilmu Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali menilai itu membuktikan banyaknya generasi muda Indonesia yang inspiratif.

"Saya melihat hari-hari ini munculnya anak muda yang berhasil. Mereka mempunyai gagasan orisinal yang inginkan perubahan dan mereka langsung bergerak tidak banyak omong," ujar Rhenald, Jumat (26/2).

Rhenald menilai bakat dan minat yang dimiliki ke-17 anak muda tersebut tidak dimiliki oleh para birokrat.

"Ini yang tidak diminati dan dimiliki kalangan birokrasi kita, kalangan terdidik yang hanya menguasai pengetahuan tapi tidak bertindak. Anak anak muda ini seperti menyindir mereka yang banyak omong di parlemen yang selalu mengkritik," jelasnya.

Rhenald mengajak anak muda Indonesia lainnya agar mencontoh ke-17 anak muda yang berhasil itu meski banyak tantangan dan godaan di era sekarang.

"Tidak banyak bertanya. Ada ide langsung dituangkan dalam planning dan langsung dilakukan," tandasnya.

Sumber : Media Indonesia

MERAUP REZEKI DI DINDING


Dari kertas beralih ke kanvas. Dulu kanvas, sekarang dinding. Itulah yang dilakoni Andy Prasetiya. Meski sama-sama melukis/menggambar, kegiatan yang dilakukannya menggunakan medium berbeda. Ia kini bergerak sebagai penyedia jasa mural atau lukis dinding. Hasil karya orang-orang seperti Andy ini, misalnya, dapat Anda lihat pada taman kanak-kanak (TK). 


Andy mulai menekuni profesi itu pada 2009. Saat itu ia tengah melukis rumahnya. Bersamaan dengan proses itu, ia kedatangan tamu seorang guru TK (taman kanak-kanak). Merasa tertarik dengan karya Andy, guru TK itu meminta dia menggambar dinding di sekolah tempatnya mengajar. Gayung bersambut.


Andy merasa nyaman dengan prosesi melukis dinding. Ia pun memutuskan terjun dalam pekerjaan itu. "Daya tarik di mural justru makin kepingin kami tekuni," kata Andy yang kini dibantu beberapa temannya. Saat Media Indonesia berkunjung ke lokasi garapannya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, pekan lalu, Andy tampak asik menyapukan kuas ke dinding. 

Ia dan tiga rekannya seolah sudah tahu model yang bakal digambar. Mereka larut dengan kuas dan cat masing-masing seakan mereka menghadapi kanvas besar berukuran 16 x 3 meter. Dengan lincah Andy menaiki perancah yang diletakkan di depan dinding. Dua tingkat peracah disusun tepat di sisi sebelah pintu masuk ruangan.

Dua orang menggarap bagian atas dan dua bagian bawah. Andy kebetulan kebagian menggambar bagian atas sisi kiri. Sedianya ruangan itu bakal dipakai untuk kafe sekaligus tempat latih kungfu sehingga nuansa gambar yang dihadirkan pun mencerminkan bela diri asal Tiongkok itu. Gambar itu sudah selesai sebagian. Gambar lapis pertama rampung, tinggal beberapa gambar lagi harus ditambahkan. Sebab, gambar yang bakal dibuat ialah tiga dimensi. "Itu masih belum selesai," ujar Andy sembari menggeser laptop. 

"Rencananya kaya gini," terusnya sambil menunjuk gambar di dalamnya. Berikutnya ia menggambar bangunan mirip saung bergaya Tiongkok. Beberapa orang yang tengah berbincang dengan posisi duduk dan berdiri di dalam saung, sedangkan di luar saung, ada beberapa orang tengah memeragakan gerakan kungfu dengan latar pohon dan rumput hijau.

Meski kini sering dapat order, Andy mengaku tak mudah memulai usahanya. Ia bersama rekan setim harus rela menahan lapar. Cukup lama Andy harus tertatih untuk menggembangkan usaha jasa mural, sekitar 5 tahun, mulai usaha 2009 sampai 2013. 

Menunggu bola tampaknya bukan cara yang dipilih Andy. Pada masa awal, ia serius membangun pasar. Ia berkeliling mendatangi kafe, hotel, dan perumahan untuk menawarkan jasa muralnya. Ada yang diterima, banyak pula yang ditolak. Saat itu seni mural belum semeriah sekarang. Peminat lukisan dinding masih sedikit.

Konsisten

Konsisten dengan pilihan usaha dan pantang putus membangun pasar membuat usahanya semakin berkembang seiring dengan sambutan masyarakat terhadap seni mural. Pada 2014 usahanya menampak hasil. Ia mulai kebanjiran order, bukan hanya dari pihak kafe, melainkan juga hotel dan rumah pribadi turut meminati jasanya. 

Kini omzetnya mencapai kisaran 60 juta per bulan. Pasarnya semakin luas. Untuk itu, ia mulai berpikir untuk sedikit mengubah stretegi pemasaran. Tadinya ia hanya berdasarkan 'getok tular' dari mulut ke mulut. Namun, saat ini Andy bersama rekannya menggelola dua situs, yakni lukisdinding.net dan andymural.com. Bahkan, saat ini ia mengaku kewalahan dengan order yang menumpuk.

Terpaksa beberapa pesanan klien ditolaknya. Ada beberapa jenis lukisan yang bisa dikerjakan Andy dkk, di antaranya lukis dinding tiga dimensi, lukis dinding ruang keluarga, lukis dinding sekolahan, lukis dinding kafe, lukis dinding objek wisata, dan lukis dinding plafon. 

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, bergantung pada tingkat kesulitan dan desain. Desain sederhana dibanderol Rp300 ribu per meter. Harga itu bisa bertambah sesuai dengan desain yang diminta konsumen. "Itu kosumen sudah terima bersih. Bahan dan desain dari kami. Konsumen tinggal nyediain tempat sama jadwal pelukisan," terang Andy. Biasanya Andy memulai dengan melihat medan gambar.

Setelah itu, ia berbincang dengan klien tentang konsep lukisannya, kemudian ia membuat desain. Setelah semua setuju dengan desain dan sepakat dalam harga, pengerjaan pun bermula. Tidak butuh waktu lama bagi Andy bersama timnya untuk merampungkan orderan. Untuk lukisan dinding seluas 14 x 3 meter, misalnya, ia hanya butuh waktu tiga hari. Gambar itu menempel di dinding sebuah kafe (Mr Cuan) di bilangan Jakarta Utara. 

Ia menggambar kartun berlatar Tiongkok zaman dulu. Jalan besar tanpa kendaraan serta bangunan rapi berada di dua sisi. Beberapa meja dan kursi disusun berbaris di depan bangunan. Sekaligus beberapa orang tengah menggobrol santai.

Menikmati minuman ringan sembari berkumpul dan berbincang dengan sesamanya. Meski pembuatannya tak terlalu memakan waktu lama, bukan berarti gambar yang dibuatnya asal-asalan dengan kualitas seadanya. Salah seorang pengguna jasa mengungkap kepuasaan terhadap karya Andy. "Puas banget," ujar Stanley Prakasa, salah seorang konsumen Andy. Andy mengaku tidak banyak mengalami kendala dalam menekuni profesinya. Sebab, ia berangkat dari hobi menggambar. 

Jadi, meski saat tertatih membangun usaha, ia tetap merasa itu bukanlah duka. "Dukanya itu banyak curanrek (pencurian korek) di sini," ujarnya sembari tertawa. Kontan saja ucapan Andy dibalas tawa oleh rekan setimnya. 

Sampai saat ini ia mengaku masih memendam cita-cita. Cukup unik memang keinginan Andy. Ia ingin menggambar di Monas (Monumen Nasional). Bukan dengan latar keindahan alam Indonesia, melainkan dengan wajah koruptor di negeri ini. "Biar orang se-Indonesia tahu kalau itu koruptor," tandasnya. (M-4)

Sumber : Media Indonesia

CLOTHING LINE, JAKCLOTH YEAR AND SALE 2015


Aneka merek fesyen yang didesain dan diproduksi anak-anak muda secara independen itu memamerkan produkproduknya, mengalihkan perhatian dari label-label mainstream yang lazimnya telah mengglobal. Di sini, justru clothing line yang masih merintis dan belum rilis di mal yang dapat prioritas. 


Merek yang telah berskala besar itu, kata Perdana Kusuma, Creative Director Jakcloth, di dunia clothing line diistilahkan sudah go-public. "Kalau merek-merek yang sudah sangat besar dan sudah dijual di mal kami tolak, untuk melindungi merek-merek yang masih kecil, terang Dana.



Dana menjelaskan, acara yang diselenggarakannya memang berusaha membangun semangat dan jiwa bisnis anak-anak muda. "Mereka-mereka ini kan membangun lapangan kerja, anggap saja satu cabang toko distro bisa mempekerjakan lima sampai delapan orang. Kami berusaha membuka peluang bagi siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur," ujar Dana. 

Pebisnis-pebisnis muda ini memandang Jakcloth sebagai ajang tempat untuk berjualan sekaligus promosi. "Untuk memperkenalkan mereknya secara cepat ke banyak orang. Para pengunjung di sini pun sangat terbuka dengan merek-merek baru, tapi tetap respek dengan merekmerek lama. Kalau ada merek baru yang bagus, ya mereka juga mau membeli. Makanya merek-merek baru itu sangat senang ikut acara ini," ujar Dana.

Diselenggarakan di penutup dan pembuka tahun, 30 Desember 2015 hingga 3 Januari 2016, acara yang diselenggarakan Lian Mipro ini memasuki tahun kedelapan. Terus bertumbuh "Dulu pas 2009 itu gue tahu salah satu merek di sini cuma punya satu stan kecil. 

Sekarang, merek itu sudah bisa menyewa satu sampai tiga stan," ujar Antonius, salah satu pengunjung Jakcloth. Berdesain keren dan berbahan bagus, harga yang disematkan pada labellabel kaus, kemeja, celana, hingga aneka asesori itu pun terjangkau jika dibandingkan dengan produk serupa yang dijual di mal.

"Kalau barang merek jelek terus harga mahal, ya tidak akan dilirik pengunjung. Pasti tumbang, mereka juga pasti selalu menjaga kualitas, boleh diadu dengan barang-barang yang ada di mal," tegas Dana. 

Hal senada diungkapkan Yulianto, 18. "Misalnya gue dapat satu baju di mal, dengan harga yang sama, gue bisa mendapatkan dua sampai tiga baju di sini," kata Yulianto. Pada ajang tahun ini, ada 400 brand yang saling berebut perhatian pengunjung. Di antaranya, Restart Development Kickdenim serta Bloods. 

Gugi Aryamula, pemilik Restart Development meyakini bisnis clothing bertahan di situasi krisis sekalipun. "Kebutuhan sandang ini bisa dibilang primer. Hebatnya lagi, Indonesia adalah negara dengan penduduk muda atau produktif yang banyak," ujar Gugi.

Firmansyah, pemilik Bloods juga optimistis fesyen lokal bisa bersaing dengan merek-merek luar yang juga tak kalah agresif masuk ke pasar Indonesia. “Kami mencoba membuat produk sebaik mungkin dan mengikuti pasar Indonesia yang harganya tidak terlalu tinggi. Kita lokal tapi kualitas sebaik mungkin,” terang Firmanyah.

Ekspresikan diri

Fesyen, lanjut Firmansyah, tidak ada matinya. Orang-orang, terutama anakanak muda dipastikan ingin mengekspresikan dirinya lewat fesyen. Mereka lalu mengidentikkan dirinya dengan merek fesyen tertentu, baik sebagai produsen maupun konsumen. "Tiap orang punya taste, jadi mereka bisa ekspresi sesuka hati. Misalnya mereka tidak suka dengan merek ini, mereka mau campur konsep merek A dengan merek B. Akhirnya dengan ide seperti itu, mereka membuat merek mereka sendiri," terang Firmansyah. 

Saat anak-anak muda itu menolak cuma jadi sasaran pasar dan menjajaki bisnis fesyen dengan membuka clothing line, makin banyaknya tempat produksi dan perajin yang bisa jadi mitra, membuat peluang terbuka lebar. "Mereka juga melihat kesempatan, tidak perlu ada fisik bangunan untuk dagang, karena bisa berjualan lewat online," lanjut Firmansyah.

Di sisi lain, Dana menganggap kebutuhan sandang ialah salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat. "Walaupun sesusah-susahnya orang, pasti mereka mau trendi-trendi sedikit. Nabung dulu sebulan atau dua bulan sebelum perhelatan Jakcloth," ujar Dana. Harus cepat Desain yang silih berganti, merek yang terus bertumbuhan, dan muka-muka pengusaha clothing baru yang bermunculan,

Menurut Ivanza, Manajer Kickdenim, menuntut pebisnis di bidang ini cepat berpikir dan bergerak. Soalnya dalam hitungan hari atau bulan, keinginan konsumen itu sudah berubah-berubah. Fesyen, musik, fotografi , dan internet, bagi Gugi ialah empat faktor yang mendorong perkembangan bisnis clothing di Indonesia. "Sekarang yang sedang berkembang itu ialah bandband lokal yang sering menjadi endorser bagi merek-merek fesyen.

Dengan banyaknya event baik itu yang on-air maupun off air, band-band lokal tersebut sangat eksis keberadaannya. Gaya berpakaian mereka itu akan diikuti juga oleh para fan mereka," terang Gugi. Senada dengan Gugi, Dana juga mengakui adanya kolaborasi antara musik dengan fesyen. "Menurut saya, itu ramuan mujarab. Kebetulan beberapa clothing kan juga akrab dengan bandband sebagai endorser.  Kadang yang bikin ngetrend clothing-clothing ini ya band," jelas Dana. 

Dunia Fotografi , bagi Gugi, juga sangat penting bagi perkembangan bisnis di Indonesia. Menurutnya, jika endorser sesuai dengan konsep produk dibarengi dengan visualisasi yang persuasif dan menarik, niscaya konsumen terpikat. Kualitas tetap nomor satu Tentu saja faktor-faktor tersebut wajib dibarengi dengan produk-produk berkualitas agar konsumen tidak merasa ditipu lewat iklan. 

Gugi mengatakan merek-merek lokal saat ini sangat cerdas melakukan ikhtiar menguatkan mereknya. "Itu merupakan kreativitas dari brand-brand tersebut, bagaimana brand-brand tersebut mengikat talent-nya, bagaimana brand-brand tersebut meng-endorse artis-artis terkenalnya, ataupun memunculkan bintangbintang tamu sebagai foto modelnya.

Tak kalah pentingnya, memanfaatkan internet serta media sosial. “Internet memudahkan merek yang memiliki konsumen di luar kota atau bahkan luar negeri. Misalnya brand itu ikut Jakcloth, toko mereka di Bandung, padahal konsumennya tinggal di Jakarta. Ya jadi terhubung dengan online. Ke depan,online akan menjadi pendukung terbesar di luar penjualan langsung," kata Dana. Jadi, kapan kamu mulai berbisnis? (M-1)

Penulis: Jonathan Patrick Andreas Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran
Sumber : Media Indonesia

PERTANIAN ITU KEREN



Ia mengaku jatuh cinta pada tanah, tumbuhan, panen, serta a berbagai aktivitas pertanian lainnya.

Tak mau pemahaman tentang ko relasi alam, pangan, dan manusia itu cuma berakhir di semboyan, Sabrina Haisya, mahasiswi kedokteran hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengawal Pasar Rakyat Tani (PRT) 2015 yang diselenggarakan pada September 2015 lalu.

Kerja keras Sabrina dan timnya pada helatan PRT ketiga itu berhasil merangkul 42 petani untuk turut serta dan memutarkan dana transaksi hingga Rp130 juta dalam dua hari penyelenggaraannya. Yuk jajaki dunia yang disebut Sabrina sebagai masa depan itu, dari berbagai aktivitasnya di dunia menanam, memanen, hingga memasarkan hasilnya.

Bagaimana ceritanya kamu bisa terpilih sebagai PRT 2015?
Sebelumnya saya aktif di berbagai kepanitiaan dan organisasi, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB, himpunan, dan alhamdulillah sempat terpilih menjadi mahasiswa berprestasi IPB peringkat tiga pada 2014.

Di situ sudah banyak beraktivitas, tapi belum banyak kontribusi ke masyarakat.Awalnya cuma partisipan saja di PRT perdana, dulu namanya masih Pesta Rakyat Tani. Kemudian saya lihat kok masih ada yang kurang, lalu saya aktif untuk memberi masukan. Kemudian, terjun langsung secara teknis, jadi Co-Project PRT kedua, pada Maret 2015.

Jadi butuh etos kerja tinggi, profesionalitas, dan banyak aksi ketimbang bicara, untuk menjadi seorang Project Director. Mungkin, karena pengalaman, dan networking, aku dipercaya.

Selain di PRT, kamu aktif juga di Agrisocio, jelaskan dong?
Agrisocio menampung minat mahasiswa dalam kewirausahaan pertanian serta berfokus membantu meningkatkan produktivitas petani. Ini bentuknya perusahaan sosial yang bergerak di bidang pertanian, menggandeng petani di sekitar kampus IPB.

Agrisocio memberdayakan para petani untuk mengolah lahan dan jenis tanaman seperti jahe dan singkong. Agrisocio juga memberdayakan perempuan petani dan janda yang tidak memiliki pekerjaan dengan bekerja sama.

Mereka diajak menghasilkan produk olahan dari jahe dan singkong untuk kemudian dipasarkan.Agrisocio juga mendukung bermunculannya pangan lokal melalui perhelatan pasar rakyat tani.

Pencapaian dan manfaat yang kamu dapat dari setiap kegiatan?
Secara nyata, kapasitas dan skill meningkat. Karena hobiku di public speaking, project directing, wawasanku jadi terbuka luas. Aku jadi lebih banyak belajar tentang dunia pertanian, berinteraksi dengan masyarakat, terutama petani.

Jadi, kegiatan-kegiatan sebelum bergabung di Agrisocio, terakumulasi dan menjadi modalku ketika sekarang sudah menjadi anggota tetap Agrisocio dan Project Director PRT 2015.

Bagaimana cara kamu mengembangkan PRT 2015, dari sebelumnya hanya 17 petani yang ikut serta menjadi 42?
Kita publikasi melalui media sosial, seperti Facebook, lalu jaringan pribadi, seperti Whatsapp, karena cakupannya di IPB. Kemudian ada juga kenalan mahasiswa yang kuliah kerja nyata (KKN).Mereka kan juga bertemu dengan petani.Jadi, kita gunakan networking internal dulu.

Kemudian, kenapa bisa bertambah jumlah petani yang ikut serta?
Itu karena kepercayaan. Kita kasih laporan dari kegiatan dua kali sebelumnya. Kita minta bantuan dari petani, maju bersama. Jadi, intinya kerja sama. Kuncinya networking, sama mulut ke mulut, karena petani kan juga punya jaringan.Mereka ajak yang lain untuk ikut daftar di PRT 2015.

Bagaimana keluaran dan respons PRT 2015?
Sampai sekarang, masih banyak yang bertanya, kapan lagi ada PRT. Responsnya bagus. Para petani juga senang. Dalam dua hari kemarin, keuntungan yang didapat mencapai 130 juta dari 42 petani.Paling gede, ada yang dapat sampai 16 juta. PRT juga meningkatkan nilai tawar produk para petani.

Kamu kuliah kedokteran hewan, tapi sangat tertarik pertanian, katanya karena nenekmu petani pisang, benarkah itu?
Itu faktor penyemangat ya. Keluarga saya sendiri pun petani dan saya sekolah di IPB. Saya ingin ilmu yang didapat benar-benar sampai ke petani.

Kalau kedokteran hewan sendiri sebenarnya ilmu yang menunjang bidang pertanian, terutama untuk hewan karena lulusan dokter hewan bukan hanya menjadi dokter klinik.

Namun, bisa juga jadi dokter hewan di peternakan, kemudian menjadi quality control untuk produk-produk yang dihasilkan dari hewan, seperti sosis, kornet, bahkan kosmetik. Kemudian, kebijakan di dinas peternakan dan pertanian, seperti jual beli hewan, syarat-syarat seperti surat sehat hewan.

Jadi, saya merasa itu menjadi nilai tambah. Sebenarnya saya enggak perlu sekolah Institut pertanian untuk menjadi petani. Tinggal belajar sama petani, jadi. Namun, di sini menjadi nilai tambah untuk meningkatkan nilai jual dari hasil pertanian.

Ke depannya, di Agrisocio, kami tidak hanya menyentuh pertanian hijau, tapi juga pertanian merah. Kalau pertanian hijau itu ya tanaman, rempah, sedangkan merah ya protein, seperti telur, dan daging.

Rencana kamu pulang dan membangun kampung di Lampung?
Untuk saat ini, saya dipercaya memegang PRT, sampai lima tahun ke depan. Sembari itu, saya juga menyusun replikasi ilmu yang saya dapatkan dari Agrisocio untuk diterapkan di Lampung, kampung halaman saya. Semacam bikin cabang begitu.

Secara kasar, sudah punya gambaran.Bahkan, pemetaan SDM. Saya butuh teman-teman dari peternakan juga karena ingin membuat peternakan rakyat yang terintegrasi dengan pertanian.

Rencana lokasinya di daerah Lampung Timur karena Lampung potensial sekali untuk peternakan sapi potong, dalam rangka swasembada daging Indonesia juga.

Kamu mengikuti ASEAN Veterinary Volunteer Project 2015 di Thailand, kegiatan apa saja sih?
Program sosial yang diadakan Kasetsart University, IPB-nya Thailand. Dari berbagai negara, termasuk non-ASEAN, seperti Belanda, Jepang, Kanada, Brasil, dan beberapa negara ASEAN, yaitu Indonesia, Kamboja, Myanmar, Filipina, Vietnam, dan Thailand.

Kami membahas pengembangan program pengabdian masyarakat di Thailand dan Vietnam. Jadi dua minggu di Thailand, seminggu Vietnam.

Kami belajar aplikasi ilmu kedokteran hewan untuk masyarakat, seperti di Thailand, untuk vaksinasi sapi, serta memberantas rabies pada anjing, sedangkan di Vietnam, belajar di peternakan rakyat sapi perah yang sudah modern.

Dari Indonesia, kita berlima, IPB 2 orang, Universitas Airlangga Surabaya 2, dan Universitas Gadjah Mada 1 orang, semuanya kedokteran hewan. Total 60 peserta.

Untuk pakan sapi perah di Vietnam, satu peternak punya dua lahan hektare jagung. Jadi, sudah terintegrasi dengan pertanian. Produksi susunya kualitas premium. Kuantitasnya 25-50 liter per sapi per hari.

Bagaimana dengan kurang minatnya pemuda pada pertanian?
Nah, itulah. Kita sarjana harus balik ke desa. Contoh IPB yang mahasiswanya dari Sabang sampai Merauke. Minimal mereka saja agar mau balik ke tanah masing-masing.

Di IPB, ada 4 ribu mahasiswa yang masuk tiap tahunnya. Karena dari IPB, harusnya mereka concern ke pertanian dong. Walaupun banyak jurusan, di tahun pertama, mereka kan dapat pengantar ilmu pertanian.

Mungkin di awal, mereka minat pertanian, tapi di tingkat selanjutnya, siapa tahu?
Makanya, Agrisocio ini hadir untuk memfasilitasi mereka yang mau terjun ke indahnya dunia pertanian. Mereka sebenarnya butuh wadah dan fasilitas untuk berkarya.

Perkembangan desa binaan Agrisocio?
Bisa dilihat dari jumlah petani. Awalnya, cuma satu petani jahe. Sekarang, ada 10, dari petani jahe dan singkong.Kemudian womenpreneur. Mereka ialah janda dan istri petani yang tidak punya pekerjaan.

Awalnya tiga, sekarang yang bekerja sama dengan Agrisocio ada 10.Kemudian kita juga punya dua lahan, ada 1 hektare yang ditanami singkong, diolah petani.

Katanya pantang jadi pegawai negeri sipil?
Ya, karena terlalu nyaman. Saya orangnya ya suka dengan tantangan dan suka berada dalam keadaan yang kurang nyaman. Sekarang ya ingin fokus di Agrisocio.Saya ingin mengembangkan lebih besar dan lebih baik lagi agar bisa membantu petani sekitar.

Keinginan ke depannya ya jadi wirausaha sosial bidang pertanian. Saat ini juga lagi membangun koneksi untuk mengadakan PRT di luar Bogor. Kemarin, sudah ada koneksi di Bandung. Bahkan, rencananya nanti, PRT ingin diadakan tiap dua bulan.

Pesan pada anak muda yang minat pertanian?
Kalau saya mengembalikan ke diri saya, lakukan jika suka, jangan takut gagal. Karena saya suka apa yang saya kerjakan, saya jadi serasa bermain.

Harapan untuk pertanian ya petani kita makin cerdas, anak muda makin peduli, dan masyarakat juga peduli dengan pertanian. Pasalnya, pertanian itu sebenarnya keren, hidup mati bangsa sampai kapan pun.

Kita tiap hari tidak bisa hidup tanpa makanan dan makanan itu dari pertanian. Nah bisnis di bidang pertanian artinya kita bisnis memberikan makan kepada semua orang. Keren kan? Jadi pilihannya ya, mau jadi produsen, si petani itu sendiri, atau konsumen?

Siapa yang menginspirasi kamu?
Sejak kecil saya mengidolakan Habibie. Etos kerjanya, sebagai muslim, ilmuwan, itu patut dicontoh. Saya ingin seperti beliau, tapi di bidang pertanian. (M-1)

BERBISNIS DAN BERBAGI SAMA PENTING.

Sebelum fokus pada bisnis penyelenggaraan pernikahan dan mendirikan yayasan, ia pernah menjajaki banyak bidang.

Bisnis dan aktivitas sosial, itulah dunia Ayu Wulansari, 24. Kunci kesuksesan Ayu menge jar semua mimpinya ialah menentukan priori tas dan mematuhi tenggat. Muda menjumpai Ayu pada Minggu (11/10) di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Bisnis kamu apa saja?

Bisnis saya bernama Shatara Wedding, usaha wedding organizer (WO). Lalu ada Hijab School Indonesia, sekolah kepribadian khusus wanita muslimah yang sudah berhijab maupun belum. Di sana ada kelas model, public speaking, acting, dan lainnya. Masih terkait hijab, saya juga mendirikan Yayasan Hijab Indonesia (YHI).

Proses terwujudnya YHI?

YHI berdiri setahun ke belakang. Kami berfokus merintis gerakan cinta lingkungan yang berkolaborasi dengan beberapa pihak maupun komunitas.

Kami juga ingin melakukan kegiatan pentas seni budaya untuk mengenalkan seni budaya Indonesia.

Kami juga berkunjung ke sekolah-sekolah serta masyarakat umum untuk mencari dan menyaring anak muda yang berbakat, berpotensi, dan berprestasi untuk diberikan bantuan beasiswa serta pelatihan untuk mencetak generasi unggul.

Aktivitas bisnis dan sosial kamu banyak, cara bagi waktunya? 

Sebenarnya untuk bagi waktu agak pusing, tapi harus tetap dipikirkan dengan baik. Pekerjaan ini kan bukan di kantor, ya, saya bisa kerja dari rumah.

Misalnya kalau ada pekerjaan di bidang wedding, saya pastinya harus me layani klien. Setelah pekerjaan selesai, saya bisa mengerjakan yang lain, seperti program-program yayasan, diskusi dengan teman-teman YHI. Lalu apabila ada klien yang menanyakan tentang Hijab School, mau tidak mau saya harus mengutamakan klien-klien yang bertanya. Setelah semuanya terlayani dengan baik, saya bisa menjalankan program-program yayasan.

Kegiatan YHI saat ini, mencari dana lebih untuk disalurkan ke anak-anak sebagai beasiswa. Untuk membuat suatu program yayasan, pembuatan visi-misinya hampir satu tahun karena tentunya tidak mudah membuat program yayasan. Namun, alhamdulillah sekarang volunteer-nya sudah banyak, apalagi kami mau membuat sebuah acara. Saya pengennya yayasan ini akan memiliki image yang positif.

Kenapa pilih garap bidang sosial?

Begini, karena saya dari keluarga yang sederhana, apa pun yang saya inginkan saya harus berusaha semaksimal mungkin. Saya pengen jadi model, tapi nggak punya background, nggak bisa sekolah model karena mahal.

Akhirnya saya mengikuti ajang-ajang duta, saya dapat ilmu gratis modeling dan public speaking. Saat sekarang saya punya ilmu-ilmu itu, saya pengen orang lain di luar sana, yang juga pernah mengalami apa yang saya alami, juga mendapatkan ilmu-ilmu tersebut.

Saya juga sering jadi motivator, bercerita tentang pengalaman saya yang selalu kepentok, sana-sini ditolak. Tapi alhamdulillah, saya bisa dapat juara. Saya share pengalaman yang saya alami dengan hijab saya, kemudahan dan kesulitan saya dengan hijab.

Saat jadi motivator, apa yang kamu ceritakan?

Saya pernah jual nasi bungkus, donat, jaga warnet, jual pop ice, es batu, parfum, softlens, tas dan aksesori, buka butik hijab, usaha kain batik, hingga bisnis mengajar membatik praktis untuk anak-anak. 

Di bidang pen didikan, saya mengajar modelling-acting modell g di Sanggar Ananda & Lenong presenting Bocah, jadi pembicara dan motivator lingkungan-wirausaha-hijab, bidang lingkungan-wiraus model, hingga karyawan s swasta.

Mungkin orang berpikir semuanya saya coba, kesannya maruk. Namun coco dengan saya mencari sesuatu yang cocok saya.

Gimana sih kitanya bisa tetap te fokus pada aktivitas positif? 

Kita harus pilih lingkungan lingkun yang baik, harus jadi diri sendiri, send menghormati orangtua. Ketika kita yakin yang kita lakukan positif dan bisa membuktikan ke orangtua kalau kita memang bisa, itu akan menjauhkan dari lingkungan negatif. 

(MI)

MENGHALAU NARKOBA DARI GENERASI MUDA

Meski hanya 1,6% dari total penduduk Indonesia, biaya sosial ekonomi yang harus dikeluarkan negara akibat penyalahgunaan narkoba sangat tinggi. Laporan Survei Perkembangan Penyalah Guna Narkoba 2014 menyebutkan perkiraan kerugian biaya sosial ekonomi mencapai Rp63,1 triliun pada 2014.

Diperkirakan, biaya sosial ekonomi yang akan dikeluarkan akibat narkoba pada 2020 akan meningkat 2,3 kalinya atau menjadi Rp143 triliun jika tidak ada intervensi serius untuk menurunkan tingkat penyalahgunaan. 

Tingginya biaya sosial ekonomi yang harus ditanggung tidak terlepas dari karakteristik penyalah guna narkoba. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan, dari sekitar 4,2 juta penyalah guna narkoba, 75% di antaranya masuk dalam kalangan usia produktif. 

Di antara kalangan usia produktif itu, 22% di antaranya berstatus sebagai pelajar. Kedua kelompok itu menjadi sasaran empuk para bandar karena dua alasan berbeda.

Peredaran narkoba berkembang dengan subur di kalangan pekerja karena mereka memiliki kemampuan secara fi nansial, tetapi tidak pandai menghadapi tekanan kerja yang tinggi. Jenis narkoba yang cenderung digunakan pun yang mampu mempertahankan kebugaran tubuhnya. 

Sementara itu, peredaran narkoba di kelompok pelajar/ mahasiswa bisa terjadi dengan memanfaatkan kondisi psikologis mereka. Kelompok tersebut memiliki rasa keingintahuan dan ego sangat tinggi, sedangkan di sisi lain harus beradaptasi dengan tekanan kelompok sebaya agar bisa diterima dengan baik. 

"Kebanyakan awalnya coba-coba lalu berlanjut ketagihan. Namun, ada juga beberapa yang menjadi korban karena paksaan," ujar Kepala Humas BNN Slamet Pribadi kepada Media Indonesia di Jakarta, Senin (26/10).

Situasi itu tak bisa dibiarkan karena akan membebani pembangunan. Sejumlah strategi disiapkan pemerintah untuk menurunkan angka penyalahgunaan narkoba. Prinsipnya ialah dengan menyeimbangkan kinerja upaya pemberantasan, pencegahan, dan rehabilitasi. Masalah narkoba tidak akan bisa ditanggulangi jika ketiga elemen tersebut tidak berjalan bersamaan.

"Beberapa waktu lalu memang pemberantasan yang berjalan lebih dulu, tapi sekarang sudah mulai diseimbangkan. Antara pemberantasan, pencegahan, dan rehabilitasi tidak boleh ada saling mendahului," sahut Slamet. 

Satker pencegahan 

Ibarat pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati. Kerugian yang ditanggung jauh lebih sedikit ketimbang saat korban sudah mulai kecanduan. Dalam laporan yang sama disebutkan, media biaya jika jatuh sakit akibat narkoba, terutama bila harus dirawat inap, bisa menghabiskan sekitar Rp6 juta per orang per tahun. Sementara itu, satuan biaya yang dihabiskan untuk konsumsi narkoba bisa mencapai Rp10,8 juta per orang per tahun.

BNN kemudian membentuk satuan kerja pencegahan demi membangkitkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya narkoba. Sejumlah program dilaksanakan dengan menggandeng berbagai pihak, terutama orangtua, guru, pelajar, dan lembaga swadaya masyarakat. Di samping itu, aktivitas kampanye antinarkoba juga memasuki dunia maya. 

"Ada gambar, ada visualisasi, dan ada permainan sehingga pelajar lebih tertarik. Sayang, media banyak yang lebih tertarik dengan berita penggerebekan," cetus Slamet.

Laporan yang sama juga mengungkapkan bahwa banyak penyalah guna, yang notabene korban, kesulitan mengakses fasilitas rehabilitasi. Selain masih kurangnya Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL), informasi mengenai rehabilitasi ini belum tersebar secara merata. 

Mereka yang ingin tobat akhirnya ragu karena mengkhawatirkan biaya pengobatan yang harus ditanggung. Terkait hal ini, Slamet menyatakan hal tersebut sebagai domain dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial. 

"Dari kami, kami ingin memperbaiki implementasi rehabilitasi di lapangan. Mereka tetap harus diproses hukum karena melanggar UU, tapi tetap direhabilitasi," tukasnya.(Din/S-1) MI

GRRRAAAHHH! AWAS, JAKARTA TENGGLEAM.




Pasar Santa, Jakarta Selatan, bukan cuma tempat asyik buat kongko, membicarakan aneka dampak perubahan iklim juga seru dilakukan di sana.

GRRRAAAHHH! Perubahan di Tangan Kita yang diinisiasi tiga kedutaan, yaitu Prancis, Inggris, dan Jerman, digelar pada Sabtu (10/10). Acara tersebut seru. Pasalnya, bukan cuma kabar buruk yang disosialisasikan. Berbagai program pun digelar, mulai kelas menulis opini, coffee cup ping, mengolah limbah, menyablon, memasak, hingga kampanye berjudul Utarakan Jakarta.

Di sela-sela coffee cupping, dijelaskan bagaimana kita seharusnya mampu membeli barang yang baik oleh World Wildlife Fund (WWF) Indonesia serta berbagai organisasi konservasi.

Dalam acara itu, hadir pula salah satu pemilik produk kopi Aceh Gayo organik, Muhammad Isa. “Konsumen harus mencari tahu asal usul produk yang dikonsumsi. Produk seharusnya jelas, menyatakan dari mana asalnya , “ kata Isa.

Sementara itu, di kelas me nyablon tas kain, anak-anak muda diajari mengurangi peng gunaan plastik. Totebag bisa digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk belanja, berkali-kali, tanpa harus meng ganti yang baru. Di sela berbagai aktivitas dan pemaparan, ada pula aksi panggung Stars and Rabbit serta Bangkutaman.

Utarakan Jakarta Tak hanya perubahan iklim, risiko Jakarta akan tenggelam juga dibicarakan. Targetnya, obrolan itu nantinya masuk da lam perbincangan keseharian.

Jakarta akan tenggelam, harusnya jadi perhatian khusus.

Tapi kok sepertinya hal itu enggak urgen di kalangan anak muda,“ ujar Ika Vantiani, Project Coordinator GRRRAAAHHH! Diskusi makin panas ketika Cynthia Boll, jurnalis foto asal Belanda, yang sudah menetap di Indonesia selama dua tahun, berkisah.

“Proyek kampanye Jakarta Tenggelam dimulai sejak 1 Okto ber 2015 lalu di media sosial dan akan berlangsung hingga Desember nanti, fokusnya di Jakarta Utara. Setiap harinya, kami menghadirkan cerita dari empat warga Jakarta, nelayan, penjual jamu, pemandu wisata kota tua, pelajar, dan dari kamu, yaitu siapa pun warga Jakarta,“ kata Boll.

Boll juga berjanji akan menghadirkan cerita dari ahli lingkungan. “Adanya perubahan iklim itu ya memperparah fakta bahwa Jakarta tenggelam. Bayangkan saja, permukaan laut naik 25 cm per tahun. Jadi, para warga harus meninggikan lantainya tiap tahun. Penyebabnya karena over populasi dan penyedotan air tanah yang berlebihan. Penggunaan air saja, di Jakarta, bisa mencapai 7-23 liter per hari per orang,“ ujar Boll.

Target kampanye Boll dan timnya ialah anak muda usia 18-30 tahun. “Karena sebenarnya mereka yang akan terdampak tenggelamnya Jakarta. Sayangnya, di Jakarta itu sepertinya kalau belum sial, enggak bakal tergerak. Harus sial dulu, baru penanganan. Padahal kan bisa diperbaiki keadaannya dari sekarang, dari diri sendiri dulu. Mulai kesadaran pemanfaatan air supaya enggak terbuang sia-sia,“ papar Ika.

Kendala utama, menurut Ika, ialah minimnya pengetahuan masyarakat. “Oleh karena itu, kami ingin berbagi cerita. Selain mendokumentasikan keseharian empat warga Jakarta dalam proyek kami, siapa pun bisa berbagi cerita tentang kebiasaan buruk dalam mengonsumsi air.Tujuannya supaya timbul kesadaran karena ini urgen sekali. Mereka bisa follow, like, dan bagi cerita di akun-akun media sosial kami, Utarakan Jakarta, kapanpun,“ ceritanya.Yuk ikutan!

HANI PNS Datang ke acara ini sama teman.

Perubahan iklim itu kan perubahan variabel-variabel kalimat ya. Penyebabnya ya sebenarnya aktivitas manusia, seperti alih fungsi lahan yang sekarang ini makin banyak untuk industri. Jakarta akan tenggelam kalau warganya tidak mau mengubah pola pikirnya. Harusnya pemerintah dan warga Jakarta bekerja sama. Kalau saya sendiri, dalam konsumsi air, sudah mulai ada perbaikan. Dulu mencuci setiap hari, tapi sekarang 3 hari dikumpulin baru nyuci, itu kan juga bisa menghemat air. Jumlah air memang banyak sih, tapi kan yang bersih dan bisa dimanfaatkan jadi lebih sedikit.

ANDRE Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta

Perubahan iklim dampaknya bisa kita lihat, sampah di mana-mana. Terus ada juga kan kabut asap dan Jakarta yang nantinya bakal tenggelam. Kalau penyebab dari Jakarta yang nantinya bakal tenggelam sih, menurut gue, karena banyaknya gedung-gedung tinggi dan menyedot air tanah. Gue sendiri sebenarnya dalam memanfaatkan air kurang bijak, kalau nyuci gue banyak pakai air. Namun, seka rang sudah mulai sadar, harus bisa manfaatin air dengan benar. Sekarang sudah berasa kok, di kos, sekarang air yang ngalir kecil.

HANA Mahasiswi Jurnalistik UIN Jakarta

Tahu acara GRRRAAAHHH! ini dari Instagram Stars and Rabbit. Gue enggak terlalu tahu dan mengikuti isu Jakarta tenggelam. Cuma sempat beberapa kali baca di berita online. Gue sendiri masih boros dalam memanfaatkan air, yang harusnya satu gayung, gue bisa pakai dua gayung. Gue tinggal di Tangerang dan di tempat yang berlimpah sumber airnya.

Terkadang, itu juga yang jadi faktor kita membiarkan air terbuang secara cuma-cuma. (M-1)

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya