Tampilkan postingan dengan label Dompu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dompu. Tampilkan semua postingan

RIMPU, BUDAYA YANG MENGAKAR DARI SYARIAT ISLAM


Rimpu merupakan perpaduan unik antara budaya Indonesia dengan syari’at Islam yang kuat. Rimpu juga menunjukkan jati diri bangsa tanpa meninggalkan identitas Islam.
***

Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan menggunakan sarung tenun khas (tembe nggoli) yang terdiri dari 2 (dua) lembar sarung, satu digunakan untuk bagian atas (rimpu) dan satunya lagi untuk menutup bagian bawah, biasanya para lelaki menggunakannya untuk katente tembe. Cara memakai rimpu cukup sederhana, kain bagian atas dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah (rimpu colo) atau terlihat matanya saja (Rimpu Mpida)

Seiring kemajuan menenun, Rimpu tidak hanya menggunakan tembe nggoli, kini tersedia beragam songket dengan motif-motif yang indah, namun motif yang banyak digunakan adalah motif dari slogan Nggusu waru seperti: (Bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli dengan menggunakan benang rayon. Perpaduan unik dari ragam motif tersebut membuat Rimpu tampil indah dan elegan.

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya.

Hal tersebut juga menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu pada saat itu mampu menciptakan kreasi busana yang tetap merujuk pada model atau tatakrama berbusana perempuan Arab, maka jadilah rimpu yang lebih simpel dan mudah menggunakannya.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Ncolo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka.

Seiring kemajuan peradaban dunia yang kian moderen, dengan segala kemudahan dan kecepatan mengakses informasi, dampak dan berpengaruh terhadap generasi muda mulai terlihat. Betapa tidak , dengan perkembangan yang kian pesat tersebut, perilaku manusia secara nyata telah beralih ke fenomena baru, salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi ditangan-tangan kreatif yang mulai menanggalkan akar budayanya sendiri ke budaya barat.

Lihat saja, seorang wanita lugu dari desa yang mencoba meraih mimpi diajang pesona bintang, disaksikan jutaan mata dilayar kaca, tiba-tiba dalam sekejab dandanannya berubah total dirias sesuai tuntutan kerlap-kerlipnya panggung bintang. Apakah fenomena ini menjadi bagian dari lunturnya kecintaan generasi muda yang menganggap akar budayanya sudah kuno? Padahal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya.

Melestarikan budaya bukanlah pekerjaan mudah, Pemerintah, pejabat terkait atau pemerhati budaya harus senergi dan secara terus menerus mengenalkan akar budaya pada generasi muda, misalnya dengan menyelenggarakan pawai budaya atau pentas seni budaya. Hal itulah yang menjadi acuan bagi perantauan asal Bima-Dompu sejabodetabek menyelenggarakan 'Festival Rimpu Bima Dompu di Monas, Minggu 15 juli 2018 mendatang.

Salah satus pencetus ide Festival Rimpu Bima Dompu 2018, Bams Uba Zeo mengatakan, Semangat kebersamaan Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Bima, Kota kecil diujung pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya (Rimpu ) di jantung Ibukota Negara ( Monas ) Jakarta adalah hal yang spetakuler, dan akan lebih spektakuler jika Pemerintah ikut mendukungnya. “Saya mengajak semua elemen masyarakat Bima Dompu, Ayo rame-rame, ke Monas, Minggu 17 Juli 2018, Kita tunjukan pada dunia, inilah Rimpu, Inilah Budaya, Inilah Indonesia yang kaya akan keberagamanan Budayanya ”. (AB)

PAJUMONCA SIAP MERIAHKAN FESTIVAL RIMPU BIMA-DOMPU 2018


Pajumonca adalah sebuah band yang dibentuk di Jokjakarta pada 20 November 2010, Band ini berawal dari sebuah Komunitas sanggar seni yang sering melakukan pentas seni budaya, hingga terbentuklah sebuah band yang mengusung musik tradisional. Seiring dengan perkembangannya, Pajumonca bermetamorfosis dengan sentuhan musik diatonic yang meramu musik tradisional dengan musik modern, kreasi dan inovasi terus dikembangkan, menjadikan Pajumonca terus eksis sebagai band ethnikc progressive yang tetap mengedepankan sentuhan musik tradisional.

Pajumonca Band, selalu membawakan Lagu-lagu ciptaan sendiri dengan berbagai konsep dan tema atau dari beragam realita yang terjadi ditengah masyarakat di ilustrasikan dalam musik. Lirik lagu, selain bahasa Indonesia, juga menggunakan berbagai bahasa daerah, maka tidaklah heran, Band yang digawangi Aan Moema (Vocal, Gitar, Serunai) Anange (Bass) Irfan (Gitar dan Backing Vocal) Urino Zateza (Gendang , Rebana, Kentingan) Agil (Drum, Perkusi). telah melanglang buana di seluruh pelosok negeri.

Gitaris Aan Moema (35) asal Bima mengatakan, Suatu kehormatan Pajumonca diijinkan untuk tampil pada acara Festival Rimpu Bima-Dompu, pada 15 Juli 2018 mendatang. Kami tidak ingin menyia-nyiakan momentum yang bersejarah ini, karena semua tercapai dari jalinan silaturahim yang amat kuat dan semangat kebersamaan masyarakat Bima dan Dompu yang ingin menunjukan eksistensi budaya leluhur (Rimpu) di Ibu Kota Metropolitan Jakarta. "Peristiwa yang fenomenal karena melibatkan masyarakat dari Dua Kabupaten dan Satu Kota Bima ( Bima & Dompu ) dari provinsi Nusa Tenggara Barat, Sangat fenomenal , karena ini baru pertama kali terjadi di Indonesia" tegasnya.

Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan memakai kain tenunan khas (Tembe Nggoli), kain terserbut dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah saja.Terlihat memang agak rumit memakainya, tapi sesungguhnya lebih simpel dan cepat setelah terbiasa. Budaya rimpu mirip dengan cara berbusana perempuan Arab yang lebih dikenal dengan busana Cadar, atau busana Jilbab. Adapun cara memakai rimpu, seperti diperagakan Artis sinetron Artta Ivano di link ini > https://youtu.be/QHkBSiBZIWI

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya dan kearifan lokal budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya, maka jadilah rimpu sebagai busana penutup aurat.

Menutup perbincangan, Aan Moema mengatakan, Melalui musik Pajumonca ingin berbagi kebahagiaan, cerita dan pengalaman. Melalui budaya kita bersatu dengan beraneka ragam suku, adat istiadat, budayalah yang mempersatukan kita semua. Ayoo, maysarakat Bima Dompu, "Kita tunjukan pada dunia bahwa Rimpu adalah kearifan budaya leluhur kita yang patut kita junjung tinggi, dijaga dan dilestarikan, Kalau bukan kita siapa lagi?" pungkasnya (AB)
abunawarbima@gmail.com


KAWULA MUDA LESTARIKAN BUDAYA


Generasi muda adalah adalah salah elemen penting dalam melestarikan kebudayaan dan berkontribusi besar dalam pembangunan bangsa dan negara. sudah seharusnya generasi muda berpartisipasi aktif melestarikan budaya, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melestarikan budayanya.

Partisipasi tersebut bisa dilakukan melalui festival atau pentas seni budaya. Itulah yang tengah diagendakan oleh Komunitas Kasamaweki (Komunitas muda mudi) yang beranggotakan sejumlah perantuan/mahasiswa dari daerah Bima dan Dompu se- Jabodetabek yang akan mengadakan 'Pentas Seni Budaya' di Kampung. Rawabadung Jatinegara Jakarta Timur, Sabtu, 5 Mei 2018 mendatang dengan menampilkan Tari Tradisional, Mpaa Gantao, Kapatu Cambe, Bazar kuliner khas Bima-Dompu.

Ketua Umum Kasamaweki, Ifan Sofian (27) asal Dompu mengatakan, Miris melihat prilaku remaja saat ini, terutama pemuda pemudi Bima-Dompu yang kian luntur kecintaan terhadap budayanya, untuk itu, kami merasa terpanggil mengadakan acara tersebut dengan mengundang sejumlah muda mudi. "Dimana kaki berpijak, budaya harus dijunjung tinggi, karena budaya merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai sejarah tinggi yang wajib dijaga dan dilestarikan, budaya jualah yang mempersatukan kita" jelasnya.

Apa acara tersebut tidak bersenggolan dengan acara Festival Rimpu Bima-Dompu, 15 Juli 2018?

Acara Kasamaweki sudah jauh hari kami agendekan, bahkan pada tahun 2017, kami telah melakukan pementasan yang sama di Kalideres Jakarta Barat dengan sutradara Ryan Kananu (Sutradara Muda Dompu) dan sekenario Rahman Kertas. Kami sangat mendukung Festival Rimpu yang diadakan di Monas, 15 juli mendatang, karena acara semacam itu adalah bagian dari visi dan misi kami juga. "Anggap saja acara yang kami adakan adalah pemanasan awal demi mendukung Festival tersebut, kami semua pasti hadir memeriahkan dan berpartisipasi " tegasnya.

Lebih lanjut Ifan menjelaskan, Kasamaweki didirikan pada 29 Desember 2016, Berawal dari kegiatan sosial penggalangan dana banjir bandang Bima, 4 Desember 2016 silam, juga penggalangan dana korban banjir Sumbawa, kemudian berlanjut dengan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.

Sejak empat bulan lalu, Kasamaweki telah mendirikan Taman Belajar Kasamaweki tingkat Sekolah Dasar di Aula Musholla Al-furqon Rawabadung Jakarta Timur, dengan tujuan memberikan edukasi pendidikan terhadap anak Rawabadung sekitarnya, dengan pengajar sukarela dari mahasiswa (anggota Kasamaweki). "Apa yang kami lakukan memang masih kecil, tetapi kami berharap bisa bermanfaat bagi orang banyak" pungkasnya. (AB)


Penulis: abunawarbima@gmail.com
Sumber: BDSL

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya