Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

INSPIRASI UNTUK ANAK NEGERI


NEGERI ini adalah negeri pertanian, sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian, namun ironisnya, nasib para petani justru terabaikan hingga terpasung dalam hidup yang tidak berkecukupan. Alhamdulillah, diantara sekian banyak anak keluarga petani, ada yang tanpa kenal lelah, terus berjuang mempertaruhkan cita-cita tinggi, meski hanya bermodalkan semangat juang tetapi Ia mampu meraih prestasi gemilang, salah satunya adalah Heni Sri Sundani.

Heni yang membekali dirinya dengan semanagat juang, kuliah di Universitas Saint Mary Hong Kong, Jurusan Manajemen Kewirausahaan, hingga lulus dengan predikat cum laude pada 2013. Seusai menggenggam gelar sarjana, ia pulang kembali ke tanah kelahirannya di Rancatapen, Ciamis, Jawa Barat.

Tidak ingin desanya terus terpuruk, Heni tidak tinggal diam, dengan berbekal lebih dari tiga ribu buku yang dibeli di Hong Kong, ia kemudian mendirikan perpustakaan di rumahnya. Kehadiran perpustakaan tersebut menumbuhkan minat baca warga sekitar. “Semangat saya kian menggebu seiring minat baca warga kian tumbuh, karena ia yakin dengan minat membaca, akan melahirkan anak-anak negeri yang pintar”. ucap Heni.

Belakangan muncul tantangan baru setelah Heni menikah dengan Aditia Ginantaka yang mengharuskan Ia pindah ke Bogor dan tinggal bersama suami disana. Heni kembali mendapati kenyataan, sebagian besar warga di sekitar tempat tinggalnya bermata pencarian sebagai buruh tani, pengojek, buruh kasar, dan asisten rumah tangga, imbuh Heni.

Yang bikin miris kata Heni, warga sekitar memanfaatkan selokan untuk MCK (mandi, cuci, dan kakus). Melihat kondisi tersebut, ia berdiskusi dengan suami untuk mencari solusi membantu mereka, hingga lahirlah Gerakan Anak Petani Cerdas (GAPC), sebuah gerakan pendidikan dan pendampingan belajar kepada anak petani miskin.

GAPC mengajarkan tiga aspek pelajaran dasar, yakni kemampuan linguistik, kemampuan bahasa asing, kemampuan literasi, dan kemampuan logika serta membekali mereka kemampuan dibidang komputer, pertanian, peternakan, perkebunan, dan bahasa daerah.

Kiprah GAPC semakin diminati, awalnya hanya mendidik 15 siswa di Kampung Sasak, Desa Jampang, Bogor. Kini GAPC tersebar di lebih dari 11 kampung dengan peserta 2 ribu anak, mulai anak petani, anak asisten rumah tangga, anak TKI, anak pengojek, sampai pemulung. juga memberdayakan istri-istri petani memproduksi anyaman keset yang berasal dari limbah perca pabrik boneka. Penerima manfaat dari seluruh program ini mencapai lebih dari 150 ribu orang dari Aceh hingga Papua, yaitu anak petani, janda-janda, dan ibu-ibu.

GAPC mengandalkan dana dari kebaikan para donatur dengan cara membuka kesempatan donatur dengan cara berinvestasi di hewan kurban atau investasi tambak ikan lele dengan sistem bagi hasil di kisaran petani: 50%, investor: 40%, komunitas: 10%, dan memberdayakan 100 petani di Bogor, Lombok, Tasikmalaya, Banjar, dan Ciamis.

Ingin mengetahui lebih lengkap Sosok Heni dan sosok inspiratif lainnya, silakan saksikan MetroTV dalam acara Big Circle, Dream Big Make an Impact dalam episode Harmoni Bisnis dan Alam yang akan ditayakan pada Minggu, 14 Oktober 2018, pukul 19.05-20.00 WIB. (H-2)

Sumber: Media Indonesia
Post by IG @abunawars
Foto: Instagram @henisrisundani
Facebook Heni : Heni Sri Sundani Jaladara
#Inspirasi

MEMBALAS DENDAM DENGAN KASIH SAYANG



Menjalani hidup dengan serba berkecukupan itu mudah, namun menjalani hidup dengan serba pas-pasan itulah yang sulit. Lebih sulit lagi dan juga hal yang sangat langka saat ini jika menemukan orang yang hidupnya sendiri serba susah akan tetapi masih peduli dan senang berbagi untuk sesama, Itulah sosok yang langka tersebut, yakni Andy Karyasa Wayan dari Desa Peninjoan, Kecamatan Tembeku, Kabupaten Bangli Provinsi Bali.

Sejak kecil, Andy hidup dalam keluarga yang serba kesusahan, Ketika lapar, ibunya sering mengacuhkan bahkan marah-marah, ahirnya tidak jarang ia terpaksa meminta makan pada tetangga karena sudah tidak kuat lagi menahan lapar.

Sebagai anak kecil, Andy juga sama seperti anak-anak lainnya yang ingin sekolah, belajar dan bermain, namun Ibunya selalu melarangnya. Kalau sekolah Andy tidak bisa dilarang, maka diam-diam Ia sekolah sendiri, bahkan belajarpun harus sembunyi-sembunyi. Satu-satunya lampu teplok yang ada dirumahnya, kalau ketahuan dinyalakan untuk belajar, maka ibunya akan marah bangat karena menganggap hanya menghabiskan minyak tanah saja.

Andy menganngap perlakukan Ibunya sangat tidak wajar, hingga ahirnya ia nekat kabur dari rumah, pergi jauh-jauh keluar Bali dengan menyimpan dendam pada Ibunya, namun keburu sadar bahwa apa yang ia lakukan ternyata keliru. Ibunya tidak salah, keadaanlah yang membuat ibunya tertekan, terlebih setelah Ia menyaksikan Ibunya sering dipukuli oleh Bapaknya tanpa penyebab yang jelas.

Menjelang usia remaja, Andy lebih memahami bagaimana beratnya perjuangan seorang ibu dalam membesarkan ke tujuh orang anak-anaknya. Andy juga sering mendapati ibunya sama sekali tidak makan, hanya untuk mendahulukan agar anak-anaknya tetap bisa makan, sekalipun begitu, kakak Andy yang pertama tidak tertolong, meninggal karena kelaparan.

Kesabaran dan kegigihan Ibunya, membuat Andy termotivasi atau terpanggil untuk membantu meringankan beban keluarga, Andy mulai membantu Ibunya jualan keliling ketela rambat, singkong, kayu bakar atau mengambil air dari sungai untuk di jual keliling kampung.

Pada saat jualan keliling itulah, Andy menemukan fakta, ternyata masih banyak keluarga-keluarga lain yang membutuhkan pertolongan, terlebih ketika Andy menemukan seorang jompo, yang sedang sakit parah tanpa seorangpun yang menemani karena memang sudah tidak punya keluarga lagi.

Andy berpikir keras bagaimana cara menolong orang tersebut, ahirnya tercetus ide untuk menodong (istilah Andy) untuk mengumpulkan sumbangan dari teman-teman atau warga lainnya. Ide Andy berhasil hingga jiwa sang Jompo pun tertolong. Sejak saat itu, semakin banyaklah, keluarga-keluarga yang berhasil di tolongnya.

Jiwa sosial Andy terdengar dari mulut ke mulut hingga menyebar di seluruh Bali, ahirnya banyak orang yang datang langsung ke tempat Andy dan semuanya terperangah, terkagum-kagum karena bagaimana mungkin keadaan Andy sendiri yang serba susah di rumah gubuk reotnya, mampu menolong orang lain padahal ia sendiri sebenarnya butuh pertolongan? Itulah yang membuat beberapa orang terinspirasi dan langsung menyatakan diri sebagai relawan.

“Tidak sekedar menjadi relawan, bahkan ada diantara relawan menjadi donator tetap untuk mendukung misi kemanusian yang dijalankan oleh Andy tersebut. Relawan pun kian hari kian bertambah, Andy sangat bangga dan bersyukur atas dukungan teman-teman relawan”.

Atas saran teman-temannya, di tahun 2009, Andy membuat akun facebook: https://www.facebook.com/andywayankaryasa Akun tersebut semakin di intensifkan untuk mensosialisasikan segala kegiatan seperti siapa saja donator yang menyumbang dan dimanfaatkan untuk apa saja sumbangan tersebut.

Keterbukaan itulah yang membuat nama Andy semakin terkenal, Tidak ketinggalan Presenter Andy Noya bersama tim Kick Andy mengundangnya tampil di acara Kick Andy di Metro TV untuk membagikan kisah inspiratifnya. Acara tersebut akan disiarkan pada 14 September 2018 pukul 20.05 Wib dan tayang ulang pada 15 September 2018 pukul 13.05 Wib. Saksikan ya, Salam Inspirasi. (AB).

Penulis: Abunawar Bima
abunawarbima@gmail.com


BERKAH MERAJUT KAIN PERCA


Lumpuh sejak umur 4 tahun karena terkena virus polio, wanita bernama lengkap Irma Suryati ini pun harus pasrah tidak bisa berjalan dengan sempurna. Perundungan, hinaan, hingga kata menyepelekan selalu ia dapatkan saat duduk di bangku sekolah.

Bahkan saat dirinya berkali-kali melamar pekerjaan di perusahaan, berkali-kali pula ia ditolak. "Sebagai disabilitas ternyata saya dibedakan, ada diskriminasi sehingga melamar kerja sampai 15 kali selalu ditolak perusahaan," kata Irma. Tetapi, yang muncul bukan putus asa dan dendam melainkan menjadi tekad untuk untuk terus berusaha.

Mengenyam pendidikan terakhir di SMA, Irma membuktikan keteguhannya dengan kini menjadi pengusaha keset kain perca yang sukses. Dalam usahanya, Irma tak hanya berhasil membuka lapangan pekerjaan, tetapi juga memberdayakan kaum difabel yang selama ini terpinggirkan. 


Saat ini, Irma memiliki puluhan ribu mitra kerja, di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra, hingga Kalimantan. Usahanya yang terus maju tak membuatnya lupa diri. Irma mendirikan asrama untuk menampung dan menyediakan pelatihan keterampilan gratis bagi para kaum difabel. Berkat kepedulian Irma yang konsisten, Irma kerap mendapatkan penghargaan, termasuk pernah dianugerahi penghargaan Kick Andy Heroes pada 2012.

Ujian
Namun, tantangan pun tak luput menghampirinya. Di tahun 2012, rumah produksinya terbakar yang membuatnya harus memulai kembali dari minus nol. "Kami memulainya dengan berutang. Kami pun mengubah konsep dari bisnis kemudian sosial menjadi sosial dahulu kemudian bisnis, seperti menanam padi, rumput akan tumbuh dengan sendirinya. Sebaliknya jika menanam rumput dulu, tidak mungkin padi akan tumbuh," tambahnya. Ya, Irma tidak berhenti membantu sesama, ia terus melanjutkan kegiatan sosialnya, sejalan dengan usahanya. 


Irma sering menerima undangan untuk memberi pelatihan menjahit dan monitoring bisnis. Selama enam bulan terakhir, sudah 300 orang yang mengikuti monitoring bisnis yang diadakannya. Dengan pengalamannya membangun usaha keset kain perca, banyak orang yang datang untuk berkonsultasi urusan bisnis. Setahun belakangan Irma bepikir untuk membuat sekolah bisnis dan kewirausahaan. Sekolah tersebut memberikan bimbingan kewirausahawan dan bantuan saat memulai usaha.

Selama ini pelatihan digelar Irma di ruangan menjahitnya, atau menyewa tempat yang lebih luas. Meskipun belum memiliki fasilitas yang memadai, Irma dan suaminya yakin sekolah yang mereka impikan akan terbangun dan membantu banyak orang. (*/MI-3)

Sumber: Media Indonesia



BISNIS FESYEN DAN PROPERTI


Berawal dari kebutuhan karena pas kuliah di arsitektur Unpar, 
Mesa Dekawati butuh banget uang lebih untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliyah. Sebenarnya orangtua mampu, tapi karena memang anaknya tidak enak kalau terus minta uang, jadi memang kalo beli apa pun berusaha pakai uang sendiri.
Nah, aku juga suka bikin-bikin baju sendiri sampai akhirnya dapat ilham kenapa enggak jualan baju? Dari SMP aku sudah mulai jualan, mulai puding, baju bekas aneka makanan. Tiap istirahat keliling-keliling kelas jualan. Aku memutuskan fokus bikin merek MESZ. 

Di kampus, aku dibilang kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Sampe teman di arsitektur alias arsi, sering nyindir-nyindir, Mesa mah main terus, enggak pernah ikut himpunan. Padahal, sebenarnya aku ngurus brand Mesz ini. Langkah aku yang bikin brand baju, bukan kerja di bidang arsitek juga direspons macam-macam. Padahal, di samping aku jalanin Mesz, saat aku kuliah, aku sudah terjun di interior dan merenovasi rumah. Alhamdulillah sudah dikasih kepercayaan.

Wow, pencapaian kamu yang dirasa paling keren?
Mesz jalan beberapa bulan, alhamdulillah dapet respons positif dari konsumen. Aku bisa belanja peralatan kampus tanpa minta ke orangtua. Bayangin, semester akhir, aku ambil tugas akhir sekaligus skripsi, ngurus Mesz dan proyek interior. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Skripsi aku A, TA aku B, Mesz pameran di mana-mana dan proyek aku selesai. Dengan doa dan kesa­baran semua pasti bisa dilalui. Sekarang, aku yang ngajak mereka bikin proyek atau mereka minta proyek ke aku.

Kunci kesuksesan kamu?
Mungkin aku memang tidak pintar, tapi percaya deh, dalam dunia yang sesungguhnya yang paling penting link dan bagaimana kita mengambil hati klien. Seberapa pintar pun kita jika tidak pandai bersosialisasi semua bakal percuma.

Upaya promosi untuk merek kamu?
Awal-awal branding aku cuma seadanya, seperti endorse dan pameran-pameran saja.

Bagaimana strategi kamu dalam menghadapi persaingan?
Wah sudah sangat banyak banget saing­an, tiap tahun ada brand baru. Cara agar bertahan, desain bajunya berbeda dengan brand lain, harus memiliki ciri khas dan update gaya-gaya terbaru.

Dalam menjalani bisnis, kamu dibantu siapa?
Papa, yang ngasih nama Mesz. Tiba-tiba papa nyeletuk Mesz, karena papa lucky-nya sangat besar maka aku ambil deh. Juga ada peran mama, dia sangat modis, suka bantu menentukan desain. Tujuan Mesz membuat yang muda menjadi dewasa dan yang tua menjadi terlihat muda. Maka, segmennya pas banget di kalangan aku dan mama. Jadi semua desain aku pilih sesuai dengan desain yang aku dan mamaku suka. Mama membuat aku sangat bersemangat jalanin Mesz.

Pernahkah kamu mengalami kegagalan?
Pernah kok, dulu sekali ikut pameran, sama sekali tidak ramai dan rugi, rugi sekitar Rp6 jutaan. Namun dari sana dapat hikmah harus lebih hati-hati lagi. Aku terus mencoba, mencoba, dan mencoba lagi.

Tantangan utama bisnis ini?
Konveksi karena dia enggak cuma menangani brand aku, jadi kadang-kadang suka lama dan modelnya ada yang sama.

Berapakah kisaran harga baju kamu dan omset per bulan?
Berkisar Rp200 ribu-Rp300 ribu, kalau omzet bisa sampai Rp90 juta-120 juta per bulan.

Jadi sekarang ini fokus kamu ke arsitektur atau clothing?
Aku masih ngerjain proyek kok, sekarang lagi bikin gugus perumahan. Cuma aku lebih senang di bisnis baju karena hobi. Kalau kamu suka sama apa yang kamu kerjain, pasti tidak akan ngerasa terbebani. Dagang juga hobi aku. Seneng banget bisa lihat konsumen pakai baju yang kita bikin dan memang uangnya lebih cepat mengalir.

Apakah ada keterkaitan antara arsitektur dan bisnis kamu?
Ada dong, sama-sama ngedesain. Di koleksi pertama Mesz, ada baju yang aku desain dari denah tugas arsitektur. Bentuk polanya aku ikuti seperti desain bangunan, makanya dari situ aku suka bikin baju yang modelnya miring-miring, seperti pola bangunan.

Dari mana kamu dapat inspirasi membuat desain-desain baju?
Kita tidak bakal bisa lepas dari yang namanya referensi. Nah, dari referensi itu bisa kita ulik dan inovasikan sendiri mengikuti tren dan kesukaan aku.

Apa yang membuat karya kamu berbeda?
Bentuk asimetris pada setiap baju, tidak ada yang simpel. Ada yang panjang sebelah, tangannya buntung sebelah, mungkin bisa dibilang gila kali ya! Tapi Alhamdulillah dapet respons baik. Aku meyakini, apa yang aku suka untuk dipakai, pasti bakal ada orang di dunia ini yang seleranya sama seperti aku.

Pencapaian bisnis kamu?
Alhamdulillah Mesz bisa mengikuti bazar terkenal, contohnya Market Museum, Localfest, Trademark dan lain-lain. Mesz sudah mulai dikenal di kalangan artis seperti Fitri Tropica, Ikke Nurjanah, Indy Barends, BLINK, dan banyak lainnya.

Agenda lainnya?
Kolaborasi sama artis, tunggu tanggal mainnya ya. Stay tuned terus Instagram kita di @mesz_id. Aku juga akan terus melanjutkan bisnis ini sekaligus arsitek. Mesz insya Allah akan terus berjalan sampai generasi di bawahku dan proyek arsiteknya terus berlanjut untuk tabungan masa depan. (M-1)

Penulis: Syifa Amelia Politeknik Negeri Jakarta
Sumber: Media Indonesia

MENGGAPAI MIMPI LEWAT PANGGUNG JFW


Fenomena alam yang menghasilkan kecantikan cahaya berwarna-warni, meliuk-liuk di atas langit lapisan hemisphere utara itu rupanya bukan hanya indah jika dilihat di kutub. Di Jakarta Fashion Week (JFW) 2017 yang berlangsung Senin (23/10), berjudul Northern Kaleidoscope yang digagas Putri Nugreni Jelita, desainer muda yang masih kuliah semester 6 Lasalle Collage Jakarta, menawarkan looks yang terinspirasi oleh cahaya indah aurora borealis yang sedap dipandang bahkan dipakai.

Pada desain bajunya, ia menggunakan konsep aurora borealis untuk siluet, sedangkan detail terinspirasi oleh pemandangan indah kaca patri, rose window di gereja Eropa. Putri berbagi cerita di balik kesuksesannya menampilkan rancangan-rancangannya di panggung JFW, panggung mode tahunan terbesar di Indonesia.

Bagaimana ceritanya desain bajumu bisa masuk ke JFW 2017?Sebenarnya ini merupakan tugas akhir semester 5 di Lasalle College Jakarta. Memang tiap tahun kampusku berpartisipasi tampil di JFW. Ya, sebelumnya diseleksi dosen dan tiba-tiba aku dapat kabar kalau aku dapat selot tampil di JFW. Aku salah satu dari sembilan mahasiswa Lasalle yang beruntung. Tentunya kaget, soalnya desain teman-temanku lebih banyak yang bagus, menurutku mereka lebih keren. Enggak ada bayangan masuk ke situ, kayak impian itu terlalu tinggi gitu.

Konsep desainmu?
Judulnya Northern Kaleidoscope, terinspirasi oleh fenomena alam aurora borealis, yakni tumpukan gradasi cahaya di langit yang aku saksikan sendiri sewaktu SMP kelas 1 di Iceland atau Islandia. Lalu dikombinasikan dengan kacapatri yang ada di gereja Eropa untuk detailnya.

Ada berapa looks?
Dalam koleksi ini aku menampilkan lima looks. Sebelumnya dosenku memang mengharuskan mendesain 50 dalam satu koleksi, tapi kemudian dipilih lima terbaik. Kelima desainnya bentuknya gaun karena saat aku cari seluk beluknya aurora adalah sesuatu yang elegan. Warna-warnanya aku sesuaikan dengan gradasi, ada pink, ungu, terus lama-lama jadi tosca dan biru. Aku keluarin baju ke penontonnya pun begitu sesuai dengan gradasinya.

Berapa lama persiapannya?
Jadi aku ngerjain di semester 5, sedangkan satu semester itu tiga bulan, jadi prosesnya dalam tiga bulan itu. Langsung buat ini. Satu setengah bulan untuk konsepnya, lalu diseleksi dosen, satu setengah bulan lagi untuk jadikan baju.

Tantangan yang kamu hadapi?
Aku kan juga lagi kuliah semester akhir, lagi sibuk ngurusin skipsi dan magang juga. Untungnya baju ini kan sudah selesai, paling detailnya yang ditambahin dikit. Di belakang layar juga begitu, saat show JFW durasinya cepat banget, apalagi harus gantian dengan temanku.

Katanya kamu yang menjahit bajunya sendiri?
Aku memang menjahitnya sendiri. Jadi memang kampusku itu punya prinsip enggak boleh dibantu sama orang lain sama sekali. Dari pola, cari bahan, potong bahan sampai hasil jadi itu aku sendiri. Jadi beberapa malam enggak tidur, yang harusnya Sabtu jalan sama teman enggak jadi, benar-benar harus maksimal ngerjainnya.

Mengaplikasikan desain jadi baju juga susah-susah gampang sih, soalnya warna bahannya harus pas. Aku juga sempat kehabisan bahan tulle dan susah carinya. Untuk tumpukan tulle juga jadi tantangan, ini kan bentuknya melingkar dan harus dijahit satu per satu. Dalam satu baju ini ada sekitar 280 potongan tulle.

Dari pergelaran JFW itu sudahkah ada pihak yang ingin membeli?
Belum sih, tapi dari kemarin banyak banget yang mau endorse. Mamaku belum bolehin gitu karena bajunya mau dipakai buat wisuda, takut rusak. Kemarin kejadian juga, dipinjam orang tapi saat dibalikin itu zonk, bajunya dicuci di tempat yang enggak bagus. Bahannya berkerut dan payetnya juga lepas.

Aku juga sempat marah-marah karena itu kan hasil karyaku, jahitnya juga setengah mati, tapi akhirnya dia mau untuk bantuin cari solusinya. Jadi setelah itu ada yang mau endorse atau pinjam, aku cancel dulu. Nanti dululah setelah wisuda, ini juga mau difoto untuk portofolio kerja.

Bentuk dukungan orangtua?
Mendukung sekali karena mamaku Elizabeth sudah lama ngerintis punya butik, namanya Inne Boutique tapi belum bisa tembus JFW kan, bahkan aku baru 2 tahun sekolah desain langsung bisa masuk JFW. Mamaku sendiri belajar desain autodidak. Jadi pas aku masuk kuliah, mamaku belajar dari aku, juga sebaliknya.

Katanya sempat magang juga ya?
Aku magang di Danjyo Hiyoji, brand desain yang terkenal juga. Mereka sih cukup mengapresiasi, men-support dan ikut senang juga, tapi karena mereka pun harus tampil di JFW dalam empat show, mereka enggak bisa nonton.

Ada rencana buat jual karyamu?
Iya, tapi aku belum nentuin harganya karena takut kemahalan. Ini kan hasil karya aku sendiri, pengerjaannya juga rumit. Mungkin aku akan hargai Rp7 juta-Rp8 juta karena payetannya pakai swarovski yang lumayan mahal karena aku ingin kelihatan mengilat gitu.

Agenda kamu ke depan?
Menurutku ini seperti batu loncatan, aku yang baru dan belum dikenal orang. Harapannya orang-orang lebih tahu dan saat aku kerja, orang sudah pada tahu aku pernah masuk di JFW. Punya namalah seenggaknya. Ke depannya, aku mau kelarin dulu kuliah, nanti kalau ada yang mau bajunya, aku akan buka open preorder di Instagram dan buka butik sendiri. (M-1)

Penulis: Suryani Wandari
Sumber: Media Indonesia

JURAGAN BATIK TERUS BERSEMI


Menikah muda menjadi pilihan satu-satunya Selly Giovanni, 27. Keputusan besar itu ia lakukan untuk meringankan beban orangtuanya yang sudah berpisah. Hidup bersama suami dan mertuanya membuat Selly kemudian belajar menjadi pebisnis muda dengan menjual kain kafan, lalu melompat berdagang batik sejak 2008. Kini setelah 16 tahun merintis, Batik Trusmi miliknya telah terbang hingga ke luar negeri.

Ceritakan dong, mengapa kamu yang ibu rumah tangga lalu berbisnis?
Saya tidak ingin merepotkan orangtua. Jadi, sejak lulus SMA pada 2006, saya memutuskan hal yang berisiko, menikah di usia 17 tahun. Suami saya sama- sama lulusan SMA, tapi mempunyai pola pikir yang sama. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, akhirnya uang yang didapat dari pesta nikahan saya buat modal berbisnis kain kafan untuk orang meninggal. Usaha kain kafan itu berjalan sekitar dua tahun.

Lalu sejak kapan beralih berbisnis batik?
Saat usaha kain kafan, saya jadi tahu bahwa kain jenis mori yang biasa digunakan sebagai kafan juga dipakai para perajin untuk membuat batik. Saya lalu beralih menjadikan mereka sebagai konsumen kain. Dari sana, saya juga menggali ilmu dari perajin tentang bahan yang dipakai hingga cara membatik. Lama-kelamaan saya jadi paham tentang bisnis ini. Saya pun memesan batik ke beberapa perajin lalu menjualnya ke pasar Tanah Abang. Itu saya lakukan sejak 2008, tapi ternyata enggak begitu laku. Ternyata kalau di lapangan itu ujian dulu baru belajar. Dari sana, saya belajar tentang pangsa pasar, keinginan konsumen, dan sebagainya.

Filosofi di balik merek Trusmi?
Nama Trusmi itu diambil dari nama daerah di Cirebon yang memang terkenal sebagai sentra batik. Tapi saya selalu mengartikan Trusmi itu kependekan dari terus bersemi, sedangkan jika dilafalkan dalam bahasa Inggris, artinya percaya padaku.

Sekarang sudah mempunyai berapa karyawan? Ada berapa cabang?
Batik Trusmi kini punya 850 karyawati dan 340 karyawan. Selain Cirebon, kami mempunyai 9 outlet di empat kota lainnya, yakni di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Kami kini menjadi produsen dengan mempekerjakan perajin hingga menjualnya di toko-toko yang juga milik batik trusmi.

Kamu bermitra dengan suami untuk berbisnis ya? 

Boleh diceritakan pembagian tugas itu?
Iya, kita bagi tugas. Saya bagian marketing promosi, sedangkan suami bagian data back offi ce.

Usaha kamu pernah dapat Rekor Muri juga ya?
Ya, kategori pemilik toko batik terluas se-Indonesia, yakni 1,5 hektare pada 2013 dan Rekor Muri stempel batik cap raksasa 50 kali lipat dari stempel biasa pada 2014.

Sekarang stempel itu digunakan untuk apa?
Kami gunakan untuk dekorasi toko.

Harga yang kamu patok?
Paling murah itu Rp20 ribu hingga mencapai Rp8 juta. Kami pun sudah mengekspor batik hingga ke negara lain, seperti Italia, Jerman, Amerika, dan Prancis.

Jenis batik yang kamu jual?
Cap, tulis dan cetak.

Apa yang membuat batik trusmi dicari orang-orang?
Saya mempunyai prinsip, lebih baik dikomplain harga daripada dikomplain kualitas. Jika orang nyaman pakainya, pasti akan balik lagi untuk membeli berapa pun harganya. Selain itu, saya memberikan servis yang bukan hanya baik, melainkan memuaskan dengan beragam promo.

Apa saja sih promosi yang kamu lakukan agar bisa unggul di sentra batik ini?
Promosinya bermacam-macam, beragam diskon, vocer untuk artis-artis hingga tagline beli batik harga seribu pun pernah, tapi memang dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Mau dong dibagi kiat menjadi sukses usia muda?
Berani memulai, jangan takut rugi, karena jika itu terjadi, berarti kamu takut sukses. Kedua, lakukan apa yang bisa, intinya harus bisa mengukur dan mengenal diri sendiri. Berikutnya, berani menjalani proses, jangan takut gagal karena kegagalan itu sesuatu yang pasti. Segera habiskan jatah gagalmu. Terakhir, keyakinan yang tidak pernah memudar pada potensi diri. (M-1)

Penulis: Suryani Wandari
Sumber: Media Indonesia

HIJAB, BISNIS DAN EKSIS


Hijab, penutup kepala buat perempuan muslim ini, menjadi inspirasi, lahan bisnis, dan eksistensi di Youtube.

Gangguan kesehatan membuat Atina Maulia harus mengubur mimpinya menjadi seorang ahli perminyakan. Namun, siapa sangka karena itu pula, Atina sukses merintis bisnis hijab bersama sang kakak, Intan Kusuma Fauziah. 


Intan bercerita tentang bisnis hijab yang mereka mulai sejak 2013. Intan menuturkan sang adiklah yang sebenarnya yang mempelopori bisnis hijab. Atina melihat peluang bisnis yang besar di Instagram dan merasa bisnis daring menguntungkan pun mudah. "Karena sakit mimpi yang sudah dia bangun jadi hancur sesaat. Kemudian dia berpikir kalau dia enggak boleh terus-terusan kaya gini. Waktu itu yang terpikir adalah bisnis daring karena kayanya gampang dan banyak endorsement di Instagram. Akhirnya dia mencoba untuk menjual hijab," jelas Intan.

Tanpa modal
Bisnis hijab yang mereka beri nama Hijab Vanilla ini dimulai tanpa modal. Menurut Intan, Atina saat itu pergi ke salah satu pusat kain di Jakarta Selatan ditemani sang ibu. Atina hanya memfoto bahan-bahan yang sekiranya cocok, kemudian ia unggah di media sosial. Setelah ada konsumen yang tertarik, baru ia membeli bahan tersebut untuk dibuat hijab.

Pemilihan nama Vanilla Hijab sendiri menurut Intan karena vanila identik dengan manis dan ia berharap perempuan yang menggunakan hijab dari mereknya akan terlihat senang dan semangat. Saat ini bisnis Vanilla Hijab sudah mencapai penjualan hingga 12 ribu hijab dalam satu bulan. Belum lagi saat ini kakak beradik ini juga merambah dunia fesyen yang lain, seperti baju dan tas. "Pernah dalam kurun waktu 1 jam kami menjual 6.000 hijab. Kita sistemnya memang tidak menyediakan barang yang sama, kalaupun kita melakukan re-stock pasti ada yang beda," ujar gadis yang masih berusia 25 tahun tersebut.

Uniknya, saat mengawali bisnis hijab sendiri sang adik sekaligus pendiri Vanilla Hijab, belum menggunakan hijab. Menurut penuturan Intan, Atina baru berhijab ketika sudah menjalankan bisnis ini. "Ketika bisnis Atina semakin besar, saya pun membantu. Sekarang sih sudah ada sekitar 7 orang yang bekerja di rumah, sementara untuk penjahit sekitar 60 orang di tiga konveksi," jelas Intan.

Semua hijab yang mereka produksi pun murni hasil dari kreasi mereka sendiri. Untuk inspirasinya, Intan mengaku rajin melihat tren yang sedang ramai di pasaran. Selain itu, hijab mereka diklaim nyaman dan enak dipakai. Setiap bisnis pasti tidak lepas dari pasang surut, begitu pun bisnis kakak beradik yang jarak usianya hanya terpaut setahun ini. Menurut pengakuan Intan, banyak kendala yang dialami saat awal bisnis. Seperti sudah banyak pemesanan, tetapi bahan habis padahal uang sudah di transfer konsumen. Tantangan lainnya, hijab yang selesai dibuat ternyata tidak sesuai ukuran sehingga tidak dapat dijual. Namun, berkat dukungan moril yang terus diberikan orangtua, Intan dan Atina mampu bertahan bahkan lini bisnis mereka terus bertambah sampai saat ini.

Inivindy, tutorial hijab
Video hijab tutorial bisa banyak dicari atau ditonton di media sosial. Salah satunya akun Youtube milik Harfrida Vindy yang sudah mempunyai pengikut sampai 120 subscriber. Vindy bercerita, ia mulai berbagi tutorial hijab dari blog karena pada 2011 video hijab tutorial sendiri belum terlampau populer.

Menurut perempuan kelahiran Malang itu, ia memang sudah menggunakan hijab dengan berbagai variasi. Sampai-sampai teman dan orang-orang sekitarnya mengatakan kalau gayanya seperti penyihir karena bentuk hijabnya lain daripada yang lain.

Pada 2005 memang hijab belum banyak dilirik kalangan pecinta fesyen sehingga aneka kreasi penutup kepala juga belum populer. Saat itu Vindy berkreasi menggunakan bahan-bahan yang ia beli sendiri untuk membuat aneka rupa hijab.

Keunikan, bahasa Jawa
Video tutorial hijab Vindy ini menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar meski kini sudah banyak yang ia campur bahasa Indonesia. Namun, Vindy tidak menghilangkan ciri khasnya. Menurutnya, penggunaan bahasa Jawa membuat ia lebih nyaman dan lancar dalam bertutur dalam setiap videonya. "Sebenarnya yang bikin viral dan mengangkat akun Youtube aku itu hijab tutorial pertama aku, dan itu pakai bahasa Jawa," jelas pemilik akun Inivindy tersebut.

Video-videonya pun tidak sebatas video hijab, tapi ada pula tutorial tata rias yang ia tampilkan di akun Youtube pribadinya. "Ada juga beauty make up, karena kan hijabnya sudah bagus, biar lebih sempurna, ditambah dengan tata rias yang pas," ujar Vindy.

Selain bekerja sama dengan beberapa mereka, Vindy mendapat keuntungan material dari video-video yang diunggahnya. Jumlahnya pun bisa mencapai Rp8 juta. Tidak sampai di situ saja, tutorial hijab membuka peluang pada usaha lain. "Saya sekarang buka merek hijab sendiri. Dari pada mereka susah-susah untuk mencari hijab yang sama dengan apa yang saya perlihatkan di tutorial, sekalian saja saya buat merek sendiri," jelasnya.

Perempuan yang juga jago menata rias berbagai karakter animasi ini meyakini tutorialnya diharapkan bisa membuka jalan secara fun untuk orang-orang belajar menggunakan hijab. (M-1)

Penulis: Dila Rizky Anisa, Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran
Sumber: Media Indonesia


DARI KERTAS MEMBAWA BERKAH


Levia Indaka dapat meraih keuntungan Rp50juta perbulan dari kreasi scrapbook. Dari semula produksi di kamar sendiri, jualan mandiri, kini ia punya tim, kantor, dan tempat produksi.

Gimana ceritanya kamu mulai berbisnis?
Dari kecil emang senang jualan. Jadi usaha yang saya jalankan tidak lepas dari kegagalan usaha-usaha sebelumnya. Hingga suatu ketika, saat SMA, enggak punya uang buat ngado temen, akhirnya tercetuslah ide kreatif buat sendiri. Saya kumpulin foto-foto jaman dulu terus hias-hias saja, belajarnya otodidak. Ternyata banyak yang suka hasil karya scrapbook atau album hias pertama saya ini. Muncul ide juga kenapa nggak coba jual saja daring. Dari sini akhir­nya banyak belajar ke teman-teman yang sudah sukses membangun bisnis daring, ikut seminar, baca buku bisnis dan gabung komunitas. Dan berdirilah Indaka Scrapbook pada April 2015.

Tantangan yang kamu hadapi saat merintis dan membesarkan bisnis ini?
Pertama enggak didukung sama orangtua, mereka ingin aku sekolah, cari kerja, jadi karyawan bank, punya uang. Menurut mereka, jadi pengusaha itu susah, banyak rugi dan besar risikonya. Tapi, saya buka pola pikir mereka, saya kasih edukasi tentang bisnis. Saya itu orangnya ngeyel, kalau mimpi sesuatu, nggak akan bisa tidur sampai impian terwujud. Jadi, seiring berjalannya waktu, orang tua mulai sadar passion tiap anak-anaknya berbeda. Orangtua tidak butuh kata-kata, mereka butuh pembuktian dan alhamdulillah sekarang ful dukung saya. 


Selain itu, aku juga sempat ditipu karyawan sendiri, dia mencuri bahan dan membuat usaha yang sama. Pernah juga diremehkan dan dijauhi teman, mereka bilang, ginian aja dijual buat apa, buat sampah kali. Terus, kalau bisnis tanpa rugi, rasanya bukan bisnis, kalau kita sudah punya mental pebisnis, kalau rugi ya bangkit lagi, evaluasi apa yang kurang setiap bulannya dan tentukan target setiap bulan.

Kamu yakin dengan masa depan bisnis ini?
Peluangnya cukup besar, pasarnya juga luas, saya suka plus passion saya di dunia paper craft.

Promosi yang kamu lakukan?
Word of mouth, Instagram marketing, membangun kepercayaan dan kepuasan kustomer tentang produk dan merek kami. Semboyan kami, scrapbook bisa mengabadikan momen berharga setiap orang dan bisa disimpan lama, sekitar 5-10 tahun.

Berapa modal dan omzet kamu?
Dengan modal awal Rp150 ribu, kini saya mendapat omzet Rp50 juta per bulan.

Apa yang membuat usaha kamu istimewa dengan usaha scrapbook lainnya?
Desain kami berbeda dan eksklusif, 1 kustomer 1 desain. Kami juga berupaya menjaga kualitas, menggunakan bahan yang ecofriendly atau ramah lingkungan, seperti kertas, manik-manik, lem. Kami mengurangi penggunaan plastik.

Di Youtube kamu bercerita tentang kegiatan Indaka Scrapbook, bagaimana mekanismenya?
Saya punya tujuan dalam bisnis, tidak hanya untuk internal perusahaan, tapi ingin orang-orang sekitar yang kurang mampu atau memiliki keterbatasan, juga bisa berkembang dan punya kreativitas. Saat ini kami punya binaan, ada lima ibu, SLB dan panti asuhan. Saat berinteraksi dengan anak-anak istimewa itu, rasanya harus bersyukur banget, berbagi dan mendukung mereka. Itulah misi saya, mengembangkan kreativitas, membuat kehidupan mereka lebih baik, dan menumbuhkan jiwa wirausaha bagi mereka yang kurang beruntung. Kami latih sampai bisa, sehingga sebagian order kami limpahkan, dengan wadah sama. Jadi ada bagi hasil dalam pengerjaan.

Berapa orang anggota tim yang mengoperasikan bisnis ini?
Sekarang ada 7 orang pegawai yaitu 1 admin, 1 desain, dan 5 tim produksi. Mereka semuanya pegawai full time.

Bagaimana prosedur pemesanan scrapbook Indaka?
Pertama, konsumen bisa langsung memesan via Whatssap ataupun Line Indaka Scrapbook yang sudah disediakan. Kedua, isi formulir order, lalu transfer sejumlah harga yang sudah diorder. Ketiga, kirim foto dan tema desain yang diinginkan. Keempat, pesanan akan diproses dan didesain semenarik mungkin. Untuk pembuatannya, diberi jangka waktu 5-10 hari, tapi apabila kustomer ingin pengerjaan yang lebih cepat, mereka bisa menambah biaya sebesar Rp30 ribu dan pesanan akan selesai dalam 3 hari. Kelima, hasil desain akan difoto dan ditunjukkan ke kustomer sebelum dikirim, kustomer bisa melakukan revisi desain, maksimal 2 kali. Keenam, apabila kustomer sudah setuju, barang segera dikirim.

Bahan baku yang kamu gunakan?
Berbagai jenis kertas, bisa kertas HVS, kertas pattern, kertas warna, dan kertas bekas majalah. Selain itu, untuk mempercantik, diberi manik-manik seperti kancing baju, mutiara kecil-kecil, dan bunga-bunga. Untuk bingkai foto, kita bekerja sama dengan pengrajin kayu di Malang, Jawa Timur. Jadi sudah dipastikan bagus kualitasnya

Bagaimana cara kamu bagi waktu kuliah dan bisnis?
Ada prioritas dalam hidup yang selalu dikorbankan, saya punya mimpi besar untuk membantu orang-orang agar punya kehidupan yang lebih baik. Tentunya saya setiap malam buat jadwal apa yang harus saya lakukan dari bangun sampai kembali tidur, itu saya lakukan rutin agar jadwal saya tidak kacau dan bisa konsisten.

Pengalaman paling berkesan dalam menjalani bisnis?
Saya harus kirim ke kurir, saat itu malam hari, macet banget. Saya naik motor. Karena saya telat satu menit, ditinggal sama kurir sehingga saya nangis dan bingung ngomong ke pihak kustomernya gimana. Akhir­nya karena kurir ekspedisinya ka­sih­an, barang saya dikirim sendiri oleh si karyawan tersebut. Dari sini belajar banyak bahwa waktu itu penting banget, telat 1 menit pun bisa mengubah hidup seseorang.

Agenda kamu ke depan?
Terus mengembangkan kreativitas orang-orang yang kurang mampu dan memiliki keterbatasan, dan menjadikan produk kami go global.

Bagaimana kiat kamu agar bisnis ini nggak berhenti di tengah jalan, tetap berkesinambungan?
Yang paling penting, mental. Orang kalau mau buka usaha yang penting mentalnya dulu, mental rugi, mental bangkrut, mental ditipu, mental mengalami banyak masalah. Pada dasarnya kalau kita pebis­nis, setiap hari pasti ada masalah, tinggal bagaimana kita mengha­dapinya. Kedua fokus, karena memang passion saya disini, saya lebih memilih fokus mengembangkan bisnis saya. Ketiga, impian yang besar, ini sangat penting, untuk apa saya berjuang, untuk siapa saya berjuang dan alasan saya berjuang. (M-1)

Penulis: Syifa Amelia Jurusan Jurnalistik Politenik Negeri Jakarta
Sumber: Media Indonesia

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya