Tampilkan postingan dengan label Tsunami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsunami. Tampilkan semua postingan

UNIKA SANTO THOMAS MEDAN PEDULI BENCANA SULAWESI TENGAH


GEMPA Donggala dan Tsunami Palu Sulawesi Tengah adalah duka seluruh masyarakat Indonesia. Dari berbagai daerah di Nusantara tanpa memandang suku, agama, ras dalam bingkai NKRI, bahu membahu melakukan solidaritas nyata dengan menggalang dana kemanusiaan juga berbondong-bondong menyumbangkan tenaga sebagai relawan untuk Palu, Sigi, dan Donggala Sulawesi Tengah.

Semua prihatin, termasuk Universitas Santo Thomas sebagai salah satu kampus ternama di Kota Medan menunjukan rasa empatinya terhadap bencana tersebut. Para mahasiswa dan masyarakat sekitar menggalang dana dan melakukan do’a bersama. “Seluruh mahasiswa berkumpul membentuk formasi ‘Love’ sambil menyalakan 1000 (seribu) lilin di Lapangan Reformasi Kampus Unika di Jalan Setia Budi Tanjung Sari Medan, Jumat (5/10) malam.

Sekretaris Rektorat Helena Sitohang mengatakan, Acara tersebut adalah bentuk keprihatinan dan pernyataan duka bagi seluruh sivitas yang dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Santo Thomas, Frist Tambunan, ucap Helena. (AB).

Penulis: Abunawar Bima

.

ADELIA PASHA IKUT TIDUR DITENDA PENGUNGSIAN


PASCA Gempa dan tsunami Palu, Keluarga dan krabat Adelia Pasha, menanyakan kabar beritanya, bahkan sebagian mencari kesana kemari keberadaan Adelia dam suminya yang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Palu, Pasha Ungu. “Jaringan komunikasi yang rusak, membuat Adelia dan Pasha Ungu sulit dihubungi

Ternyata, Adelia dan suaminya selamat dan sedang berada ditempat pengungsian bersama warga lainnya. Mereka berlindung untuk berjaga-jaga dari gempa susulan maupun tsunami. “Terpaksa tidur di tenda pengungsian dan ini baru pertama kali saya merasakannya” ucap Adelia.

Sebelum gempa, ia sedang menunggu dijemput suami untuk menghadiri acara perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Palu. "Saat menunggu Mas Pasha pulang kantor untuk mejemput saya di rumah, tiba-tiba terjadi gempa" ungkap Adelia.

Setelah mengalami peristiwa itu, Adelia mengaku ketakutan. Ia takut masuk rumah lagi hingga memilih berada di tempat pengungsian. Satu hal yang membuat Adelia bersyukur, ke empat anaknya sedang berada di Bogor saat terjadi bencana. “Alhamdulillah Ya Allah, anak-anak diselamatkan dari bencana ini” tutup Adelia. (AB)

Penulis: Abunawar Bima

.

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya