Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

KAMU PILIH DIDONGENGIN MAMA APA YOUTUBE

“Siapa yang tahu suara kerbau?” Tanya kak Najwa Shihab kepada Sobat Medi. Mereka pun menyahut, “Mmoooo..” Itu kan, suara sapi, jawab Kak Najwa.

Di lantai dasar Museum Nasional, Jakarta, para Sobat Medi ini mendengarkan cerita. Kisah pertama dari Sulawesi Selatan. Tokohnya La Dana dan seekor kerbau. Alkisah, La Dana bersama temannya Sappang, datang pada Rambu Solo, upacara kematian di Toraja. Mereka juga para tamu yang datang lain mendapat bagian dari potongan kerbau.

Sobat Medi suka mendengar dongeng? Biasanya mendengarkan atau menonton cerita dongeng juga nih?

Nah, sekarang ini dongeng tidak hanya bisa dibaca di buku, tapi juga bisa dicari di Youtube. Pasti sering, kan? Tapi Sobat Medi harus tetap minta didampingi bunda atau ayah ya, kalau mencari dongeng lewat internet.

Memberi pilihan, agar dongeng seru
Kak Najwa Shihab, atau akrab disapa Kak Nana, dulu juga sering didongengi lo, Sobat Medi. “Sering diceritai kisah nabi-nabi, ada Nabi Sulaiman, juga didongengi Abu Nawas. Abu Nawas itu kan orangnya cerdas, kalau melawan penguasa yang zalim, bukan dilawan dengan kekerasan, justru dengan jenaka,” cerita Kak Nana dalam acara Dongeng Yuk, yang diselenggarakan Youtube bersama Ayo Dongeng Indonesia, Sabtu, (27/01).

Menurut Kak Nana, kalau mau jadi pendongeng, ternyata enggak boleh egois, bertindak semaunya si pendongeng. Pendongeng harus juga bertanya kepada pendengarnya, jalan cerita berikutnya mau seperti apa. Namun, tetap harus diberi tahu konsekuensi dari setiap pilihan itu. “Cara itu akan mengembangkan daya imajinasi anak-anak, dan bisa membangun cerita.”

Belajar dari cerita
Sementara itu, Kak Ario Zidni, pendiri Ayo Dongeng Indonesia, menambahkan, melalui cerita, ia bisa meneladani nilai dalam cerita. Ia pun mengenang masa kecilnya ketika mendapat cerita tentang kunang-kunang.

“Ini cerita dari Jawa Tengah dan Yogya. Jadi kalau kuku-kuku kotor itu, yang sudah dipotong, malamnya akan terbang dan berubah jadi kunang-kunang. Kunang-kunang itu baik lo, ia mau berbagi. Dengan sinarnya, ia bisa menerangi di malam hari.”

Ayo dongengi kami
Kak Ario juga berpesan nih untuk Ayah dan Bunda Sobat Medi. “Kalau mau mendongeng untuk anak, jangan cari waktu luang. Tapi harus punya komitmen, misal jam berapa mau mendongengkan untuk anak.”

Sobat Medi yang datang ke acara Dongeng Yuk ini juga sangat antusias lo. Seperti Khansa Fauzia dan Izzati Zafira, yang sudah berangkat dari Bekasi pukul 09.00 menggunakan kereta. Bersama bundanya, mereka memang terbiasa datang ke acara mendongeng.

Sang pendongeng cilik
Ada juga Olivia Karenina Syahir, yang rupanya sudah memiliki empat dongeng yang diterbitkan secara e-book. Wah, keren ya, Olivia! Menurut Bunda Olivia, tante Rezki, “Olivia memang kemampuan bahasanya menonjol, jadi sejak usia dua tahun dia sudah terbiasa dengan cerita. Olivia bercerita, saya merekam, jadilah dongeng-dongengnya. Dia sekarang sedang belajar menulis sendiri dongengnya.”

Wah, hebat ya teman kita Olivia. Kalau Sobat Medi mau membaca cerita Olivia, kalian bisa akses di Serusetiapsaat.com.

Olivia juga sering datang ke acara-acara mendongeng. Ia pun mengidolakan Kak Ario Zidni. Jadi, setiap acara mendongeng yang ada kak Ario, Olivia pasti datang. Nah, enggak sia-sia juga nih, Olivia datang pagi-pagi dari Tebet, Jakarta Timur, untuk ikut mendengar dongeng. Siapa tahu, setelah pulang, Olivia punya cerita baru untuk dongengnya ya, Sobat Medi.

Kalau kalian, berani menulis cerita dongeng sendiri? Siapa tahu Sobat Medi juga bisa seperti Olivia yang sudah punya cerita dongeng di e-book. Sekarang, Sobat Medi tidak perlu khawatir kekurangan bahan cerita. Bukan hanya dari buku, kalian juga bisa akses lewat internet. Belajar mendongeng yuk! (M-1)

Penulis: Fathurrozak Jek
Sumber: Media Indonesia


PENDIDIKAN KARAKTER DAN HARI SEKOLAH

Tanggal 6 September 2017 menjadi momentum bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter (PPK). Pada tanggal tersebut Presiden Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Judul dari perpres itu memang tentang penguatan pendidikan karakter yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

Hal itu secara eksplisit dinyatakan pada pasal 1 butir 1 dari perpres tersebut. Namun, isi dari perpres itu juga mengatur hari sekolah sebagai sarana untuk melaksanakan PPK pada tingkat satuan pendidikan. Dalam pelaksanaannya, sebagaimana diatur pada pasal 9, PPK bisa dilaksanakan melalui dua opsi hari sekolah, yaitu lima hari atau enam hari sekolah dalam satu minggu. Untuk menentukan opsi mana yang tepat, dengan berdasarkan pada prinsip manajemen berbasis sekolah, satuan pendidikan bersama dengan komite sekolah yang menentukan. Penentuan hari sekolah tersebut perlu mempertimbangkan (a) ketercukupan pendidik dan tenaga kependidikan, (b) ketersediaan sarana dan prasarana, serta (c) kearifan lokal.

Dengan perpres itu, perdebatan bukan lagi pada perlu lima hari sekolah atau tidak, melainkan bagaimana satuan pendidikan dapat memaksimalkan hari sekolah untuk mencapai tujuan penguatan karakter siswa. Dalam konteks ini hari sekolah bukan merupakan tujuan dari penyelenggaraan PPK, melainkan sebagai sarana untuk mencapai target PPK. Pasal 3 menyiratkan target PPK, yakni kompetensi siswa dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila yang meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Penyelenggaraan PPK dan pengelolaannya
Upaya memaksimalkan hari sekolah perlu juga mempertimbangkan jalur penyelenggaraan PPK dan pengelolaannya. Dalam perpres dinyatakan bahwa penyelenggaraan PPK dilakukan melalui tiga jalur kurikuler, yaitu intrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran untuk memenuhi beban belajar dalam kurikulum; kokurikuler sebagai sarana untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan intrakurikuler; dan ekstrakurikuler sebagai sarana pengembangan karakter dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik secara optimal. 


Dengan merujuk pada ketentuan yang dinyatakan pada pasal 1 butir 1 bahwa penyelenggaraan PPK dilaksanakan melalui pelibatan dan kerja sama satuan pendidikan dengan keluarga dan masyarakat, dan dilaksanakan melalui tiga jalur, makna hari sekolah tidak berarti bahwa siswa harus selalu berada dalam lingkungan satuan pendidikan.

Satuan pendidikan sebagai lembaga pendidikan tidak hanya berarti lingkungan fisik satuan pendidikan, tetapi juga merupakan suatu struktur sistem nilai pedagogis yang melekat pada diri warga satuan pendidikan yang meliputi guru, kepala sekolah, dan siswa, serta staf administrasi satuan pendidikan. Dengan argumentasi ini, ketika siswa berada di luar sekolah, pada dirinya tetap melekat atribut pedagogis tersebut. 

Implikasi dari argumentasi ini ialah PPK pada hari sekolah tidak harus berlangsung di lingkungan satuan pendidikan. Proses belajar mengajar melalui jalur kokurikuler dan ekstrakurikuler dapat berlangsung di luar lingkungan satuan pendidikan dengan dua syarat. Pertama ialah kehadiran guru sebagai fasilitator kegiatan belajar mengajar dan kedua adanya target karakter yang ditentukan sebelum kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dilaksanakan.

Dalam skema ini kerja sama antara satuan pendidikan dan keluarga dan masyarakat, bahkan antara satu satuan pendidikan dan satuan pendidikan lainnya dapat terwujud. Pelibatan dan atau kerja sama dengan masyarakat didasarkan pada asumsi bahwa sumber belajar dalam penyelenggaraan PPK tidak hanya dari guru. Kelompok masyarakat dapat juga menjadi sumber belajar. 

Kelompok masyarakat memang tidak mempunyai komptensi mengajar, tetapi mereka mempunyai komptensi di bidang agama, kesenian, bahkan kompetensi profesional di bidang ekonomi dan bidang-bidang lainnya. Untuk memaksimalkan potensi kelompok masyarakat dalam penyelenggaraan PPK terutama melalui jalur kokurikuler dan ekstrakurikuler, guru sebagai wakil dari satuan pendidikan dengan kelompok masyarakat melakukan kesepakatan tentang target yang akan dicapai dan tahapan yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut.

Untuk mengukur tingkat ketercapaian target, guru juga perlu memantau pelaksanaannya dan mengembangkan metode evaluasi untuk mengukur ketercapaian target yang disepakati. Cakupan dan jenis kerja sama bergantung pada tingkatan satuan pendidikan.
Untuk SD kerja sama dapat diprioritaskan dengan kelompok masyarakat lokal. 

Jenis kegiatan yang dilakukan dapat berpusat pada kesenian dan atau agama, serta olahraga, Pada satuan pendidikan SMP dan SMA cakupannya lebih luas dan bervariasi. Kerja sana dapat dilakukan dengan organisasi profesi baik bidang kesenian maupun olahraga, bahkan pada kegiatan wirausaha. Kegiatan wirausaha terutama relevan bagi siswa SMK. Kerja sama antarsatuan pendidikan yang setingkat atau berbeda tingkat, bahkan beda jenis satuan pendidikan, dapat juga dilakukan.

Kerja sama antara satuan pendidikan umum dan madrasah merupakan sarana kerja sama yang tepat untuk memperkuat penanaman nilai-nilai agama Islam. Pada daerah-daerah tertentu kerja sama semacam ini penting karena daerah tersebut banyak siswa dari satuan pendidikan umum yang mengikuti kegiatan belajar agama Islam di madrasah diniah. 

Kerja sama ini dapat menepis kritik bahwa pemberlakuan full-day school menghentikan kesempatan siswa untuk belajar agama di madrasah diniah. Target penyelenggaraan PPK melalui tiga jalur kurikuler tidak hanya untuk pengembangan dan atau penyaluran minat dan bakat siswa dalam bidang tertentu, tetapi juga untuk menamkan berbagai nilai-nilai positif seperti nilai demokrasi, agama, toleransi, cinta tanah air, dan kreativitas sekaligus.

Penanaman dari setiap nilai tidak harus dilakukan secara tersendiri, tetapi dapat diintegrasikan melalui keterlibatan siswa dalam kegiatan PPK melalui tiga jalur kurikuler. Untuk menamkan sikap demokratis, misalnya, siswa tidak harus masuk partai politik, tetapi bisa ditanamkan ketika siswa terlibat dalam kegiatan kesenian atau keagamaan, yakni dengan cara melakukan musyawarah untuk mufakat ketika menghadapi perbedaan pendapat serta menghargai pendapat teman lainnya. Kehidupan toleransi juga dapat diekspresikan dengan menghargai siswa dari agama atau adat istiadat yang berbeda.

Kriteria keberhasilan
Kriteteria keberhasilan PPK mempunyai dua tahap. Tahap pertama ialah internalisasi nilai-nilai karakter pada saat siswa masih duduk di bangku sekolah dan ketika siswa sudah lulus dari satuan pendidikan tertentu. Kedua ialah ketika siswa sudah meninggalkan bangku sekolah dan terjun ke dunia kerja dalam bidang apa pun. Untuk mencapai keduanya perlu ditetapkan strategi habituasi. 

Habituasi terbentuk tidak hanya melalui nilai-nilai positif yang diajarkan guru melalui jalur intrakurikuler maupun oleh kelompok masyarakat atau orangtua melalui jalur kokurikuler dan ekstrakurikuler, tetapi juga melalui suri teladan oleh guru dan kepala sekolah ketika siswa berada di satuan pendidikan, oleh orangtua ketika siswa berada di tengah keluarga, dan tokoh-tokoh masyarakat ketika siswa berada di tengah masyarakat.

Menjamin efektivitas penyelenggaraan PPK tidak terlepas dari konteks kebijakan pendidikan secara makro. Dengan berbagai argumentasi, penyelenggaraan PPK tidak harus mengubah Kurikulum 2013, tetapi tetap didasarkan pada Kurikulum 2013 dengan mendorong guru untuk mengayakan topik bahasan pada mata pelajaran yang diampu. Dengan mengantisipasi kemajuan zaman yang disertai dengan dinamika kehidupan sosial, budaya, dan politik, penyelenggaran PPK juga perlu untuk mengantisipasi perkembangan orientasi pendidikan yang mengarah pada higher order thinking skills (HOTS). 

Para peserta didik yang hari ini duduk di bangku sekolah ialah generasi yang menggantikan generasi masa kini. Sebagian dari mereka akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia yang mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang kompetitif dengan tetap mempertahankan ideologi Pancasila sebagai pegangan hidup bangsa Indonesia. Globalisasi akan menjadi suatu keniscayaan. Penguatan karakter siswa yang sudah mulai dibina sejak saat ini akan menjadi fondasi karakter bangsa Indonesia di masa depan.

Penulis: Bambang Indriyanto Peneliti pada Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan,Balitbang,Kemendikbud/Direktur SEAMEO QITEP in Language
Sumber: Media Indonesia

MEMBENTUK KARAKTER LEWAT PERMAINAN TRADISIONAL

Di era 1970-1990-an, anak-anak belum mengenal permainan modern seperti Playstation, online game, internet, dan komputer. Anak-anak juga belum mengenal ponsel, apalagi smart phone. Televisi juga masih hitam putih. Anak-anak bisa bermain bebas di luar bersama teman-teman, mereka bisa berinteraksi satu sama lain. Anak-anak saat itu cuma mengenal permainan engklek, pecah piring, lompat tali, dan beberapa permainan tradisional lain. Namun, anak-anak merasa bahagia. Indonesia memiliki beragam budaya yang patut kita banggakan. Hal ini bisa kita lihat dari beragam permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia, sepatutnya kita bangga dengan beragam budaya yang kita miliki dan harus kita lestarikan.

Permainan tradisional merupakan salah satu warisan dari nenek moyang kita dan bisa menjadi identitas bangsa. Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, jenis-jenis permainan itu sudah mulai luntur, bahkan tidak dikenal lagi. Padahal, permainan tradisional itu bukan sekadar permainan, melainkan juga bisa mengajarkan anak-anak bersikap sportif, saling menghargai, ketelitian, kerja sama, serta bertanggung jawab. Seperti pada permainan pecah piring, setiap peserta dituntut bekerja sama dengan kelompok, saling menghargai sesama anggota tim, dan tidak curang bermain. Menurut Ashibly (2003), permainan tradisional merupakan sekumpulan ciptaan tradisional, baik yang dibuat kelompok maupun perorangan, dalam masyarakat yang menunjukkan identitas sosial dan budaya berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti turun-temurun.

Itu termasuk (1) cerita rakyat dan puisi rakyat, (2) lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional, (3) tarian-tarian rakyat dan permainan tradisional, dan (4) hasil seni. Namun, akhir-akhir ini permainan tradisional sangat kurang diminati anak-anak, bahkan lambat laun menghilang khususnya di kota-kota besar. Anak-anak zaman sekarang banyak tidak mengenal permainan tradisional. Perkembangan teknologi dan transformasi budaya ke arah kehidupan modern menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan nilai-nilai dari ermainan tradisional. Globalisasi dunia juga memberikan pengaruh yang besar dalam hal itu.

Ashibly (2003) juga menyatakan bahwa banyak sisi positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional Indonesia, antara lain (1) pemanfaatan bahan-bahan permainan yang berasal dari alam dan (2) memiliki hubungan yang erat dalam melahirkan penghayatan terhadap kenyataan hidup manusia. Salah satu cara melestarikan permainan tradisional ialah melalui pendidikan. Kurikulum pendidikan nasional seyogianya memadukan unsur-unsur tradisional berbagai daerah di Indonesia, seperti adanya kolaborasi silabus mata pelajaran dengan permainan tradisional.

Sebagai contoh, pada pelajaran olahraga kebanyakan siswa senang dengan permainan futsal, bola kaki, atau badminton. Padahal, guru juga bisa sesekali mengolaborasi atau mengganti jenis olahraga itu dengan permainan tradisional yang tidak kalah menariknya, seperti engklek dan pecah piring. Dengan begitu, permainan tradisional tidak akan luntur dan tetap diminati anak-anak. Permainan tradisional juga memberikan banyak manfaat membentuk karakter anak terutama di bidang pendidikan. I Wayan Tarna (2015) dalam studinya yang berjudul Peranan Permainan Tradisional dalam Pendidikan memaparkan bahwa permainan tradisional dapat meningkatkan berbagai aspek perkembangan anak, antara lain (1) aspek motorik yang dapat melatih daya tahan, daya lentur, sensori-motorik, motorik kasar, dan motorik halus; (2) aspek kognitif yang dapat mengembangkan imajinasi, kreativitas, problem solving, strategi, antisipatif dan pemahaman kontekstual; (3) aspek emosi mampu mengasah empati, pengendalian diri dan katarsis emosional; dan (4) aspek bahasa dapat mengembangkan pemahaman konsep-konsep nilai.

Permainan tradisional meningkatkan gerak motorik anak yang mampu menstimulus pertumbuhan otot dan otak menjadi lebih baik. Otot dan otak mampu bekerja seimbang sehingga dengan sendirinya mampu mendorong peningkatan kecerdasan anak dalam berpikir.
Selain itu, permainan tradisional mampu meningkatkan interaksi sosial yang berpengaruh pada kemampuan berkomunikasi anak, sikap saling menghargai, dan sportivitas melalui aturan-aturan yang ada dalam permainan sehingga anak mampu mengendalikan emosi dan sikap empati antarsesama.

Melalui permainan tradisional juga, anak belajar lebih mencintai alam dan meningkatkan nilai spiritual kepada Tuhan YME melalui sikap moral dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Alam memberi pelajaran berharga agar anak selalu mensyukuri segala anugerah yang diberikan Tuhan melalui kekayaan alam yang berlimpah. Anak juga dituntut lebih kreatif dan imajinatif dalam memecahkan permasalahan sendiri dalam permainan. Yang terjadi saat ini ialah permainan anak-anak sudah banyak beralih ke permainan elektronik yang modern seperti Playstation dan online game. Hal itu juga didukung penggunaan gadget yang semakin pesat. Melalui sambungan internet, gadget memudahkan seseorang bereksplorasi secara bebas di dunia maya tanpa ada batasan.

Tanpa kita sadari, penggunaan gadget yang tidak tepat memicu terjadinya tindakan kriminal yang bisa mengancam jiwa seseorang bahkan orang terdekatnya. Dengan gadget, orang dengan mudah mengunggah (upload) berbagai informasi pribadi yang seharusnya tidak diketahui khalayak ramai, seperti informasi pada kartu identitas, paspor, lokasi keberadaan, bahkan boarding pass pesawat. Sebagai contoh: seseorang dengan bangga meng-upload informasi dari paspor yang baru dimiliki ke media sosial agar diketahui teman-temannya, atau seseorang dengan bangga meng-upload boarding pass kenaikan pesawat dengan tujuan ke negara tertentu.

Padahal tanpa kita sadari telah memancing tindakan kriminal. Bayangkan jika bukti boarding pass atau paspor yang kita unggah ke media sosial di gunakan oknum tertentu untuk membajak pesawat yang kita tumpangi. Informasi kartu identitas bisa juga disalahgunakan oknum tertentu untuk kepentingan yang tidak baik. Karena itu, cermatlah menggunakan gadget agar terhindar tindakan kriminal. Pada dasarnya, penggunaan gadget memberikan banyak manfaat. Namun, di sisi lain gadget memberikan berbagai dampak negatif terhadap perkembangan anak, seperti menghambat perkembangan motorik anak, menimbulkan masalah perilaku dan kesehatan fisik, serta menghambat perkembangan bahasa dan sosial anak.

Oleh karena itu, pembentukan karakter anak dapat dilakukan melalui permainan tradisional. Untuk mengatasi lunturnya permainan tradisional di kalangan anak-anak pada zaman modern ini, perlu dilakukan upaya pelestarian permainan tradisional dengan cara mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pembelajaran. Namun, pengintegrasian itu harus sesuai dan tepat sasaran. Memang diperlukan waktu agar anak-anak dapat memahami kembali pentingnya permainan tradisional.


Penulis: Nova Marina 
Guru Sekolah Sukma Bangsa,Lhokseumawe,Aceh
Sumber: Media Indonesia

GURU DAN RESILIENSI PENDIDIKAN


Pengguna Google atau khususnya pengguna Facebook tentu mengenal siapa Sheryl Sandberg, Facebook Chief Operating Officer. Namun, tidak semua orang tahu kehidupan terjal dan pengalaman pahit yang dialaminya, serta bagaimana ia merespons semua tantangan hidup, yang akhirnya menghantarkannya menjadi salah satu orang terpenting di Facebook. Pengalaman hidup dan sikapnya diungkapkan dalam sambutannya pada wisuda almamaternya, University of California, Berkeley, pada suatu pagi, 14 Mei 2016.

Sandberg menyatakan beberapa pesan yang menarik, "I was swallowed up in the deep fog of grief.... That gratitude overtook some of the grief. Finding gratitude and appreciation is a key to resilience. Class of 2016, as you leave Berkeley, build resilience. Build resilience in yourselves... Build resilient organizations.... Build resilient communities. We find our humanity..." (Los Angeles Times, 14 Mei 2016).

Dari penyataan Sandberg di atas, gratitude--atau 'syukur' dalam bahasa agama Islam--dan resilience--bagian dari makna 'sabar'--ialah dua hal yang mengantarkan Sandberg pada posisi kariernya saat ini. Membangun resilience pada seseorang dan masyarakat bagi pendidik penting dikaitkan dengan tugasnya, antara lain, mengembangkan seluruh potensi peserta didik untuk menghadapi kehidupan masa depan, era global, yang penuh tantangan.

Resilience

Resilience berasal dari bahasa Latin, yaitu resilire, yang secara harafiah berarti kemampuan adaptasi dengan keadaan berbeda. Dalam dunia ilmu pengetahuan, kata ini pertama kali digunakan dalam studi ilmu alam.

Resilience merujuk pada kemampuan material atau benda untuk kembali ke keadaan awal setelah mengalami geliat atau mendapat terpaan (Pemberton, 2015:1; Golden; Brook, 2005: 8; Winstone. 2017: 41). Selanjutnya, kata itu digunakan dalam berbagai disiplin ilmu atau area kajian seperti metalurgi, teknik, psikologi organisasi, manajemen (Bhamra, 2016), pendidikan, psikologi sosial (Morales; Trotman, 2011) dan lainnya.

Resilience ialah kemampuan seseorang tetap fleksibel dalam pemikiran, perasaan, dan sikap ketika dihadapkan pada kesulitan dalam kehidupan atau tekanan yang bertubi-tubi (contohnya, musibah). Kemampuan itu membuat seseorang bisa keluar dari kesulitan dengan tegar atau kukuh), lebih bijak dan lebih mampu menghadapi kesulitan yang dihadapi selanjutnya.

Resilience ialah kemampuan yang diperoleh seseorang melalui proses belajar dari pengalaman kehidupan yang pahit yang membuat seseorang menjadi percaya diri dan berkemampuan dalam menangani dan mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi dalam kehidupan (Pamberton, 2015:3 dan 8).

Dalam kajian pendidikan, dua hal yang saling berkaitan, resilience akademik dan resilience pendidikan. Resilience akademik menunjuk kepada proses dan outcome dari peserta didik yang mengalami risiko atau kesulitan dan berhasil meraih prestasi akademik.

Dalam riset resilience, istilah ini dimaksudkan untuk memahami bagaimana peserta didik mengatasi dan membebaskan stressor sehingga ia dapat meraih prestasi akademik seperti peserta didik lainnya (Morales; Trotman, 2011:3).

Resilience pendidikan berkaitan dengan tiga hal.

  1. Pertama, pencapaian akademik anak-anak dari kelompok yang menghadapi ketidakberuntungan seperti kemiskinan atau tersisihkan (minoritas).
  2. Kedua, kemampuan sosioemosional dan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran yang berkaitan dengan sikap akademik yang positif, motivasi belajar dan berprestasi, merasa nyaman atau senang dalam kelas/proses belajar, kemampuan sosial dan komunikasi yang digunakan untuk membangun relasi efektif dengan teman sejawat dan senior (Cefal, 2008: 26).
  3. Ketiga, minimalisasi faktor-faktor yang menggangu keberhasilan pendidikan (pembelajaran) (Kinchin; Winston, 2017).
Urgensi resilience

Urgensi resilience dapat dilihat dari beberapa sisi, antara lain, pertama, kehidupan ini tidak lepas dari cobaan dan tidak seorang pun dapat imun dari hal tersebut. Resilience seseorang akan diuji sampai akhir hayat (Pamberton, 2015).

Kedua, kehidupan sangat dinamis dan kemajuan ilmu pengetahuan telah melahirkan kemajuan umat manusia pada satu sisi dan pada sisi lain melahirkan tantangan yang bisa menimbulkan ketegangan (Maddi; Khoshaba, 2005).

Ketiga, resilience bisa memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dalam menghadapi kesulitan yang dihadapi dalam perjalanan hidup menuju kedewasaan seseorang (Goldstein; Brooks, 2005: 4).

Keempat, sekolah merupakan salah satu institusi masyarakat yang berfungsi mengembangkan potensi anak (peserta didik). Sekolah yang sehat memiliki kemampuan memberi bekal yang diperlukan untuk membangun resilience pribadi seperti perhatian, saling mendukung, menciptakan lingkungan yang mendorong peserta didik berprestasi, memberikan kesempatan kepada peserta didik berpartisipasi dalam proses belajar dan menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran (Jennifer et al, 2004: 328).

Sekolah memberikan lingkungan yang melindungi anak-anak dari kelompok rentan (miskin) agar meraih prestasi akademik (Cefai, 2008:25), sekaligus juga melakukan perubahan--dalam konteks perbaikan pengajaran--dan pengembangan praktik pedagogik.

Dengan kata lain, ada dua tujuan dari pengembangan resilience pendidikan, yaitu pendidikan bermutu bagi anak-anak dari kelompok rentan (seperti ekonomi dan minoritas) dan membangun inklusi di kalangan peserta didik (Morales; Trotman, 2011:7; Winstone, 2017:39).

Pengembangan resilience indidvidu dan masyarakat akhirnya bermuara pada kerangka pemikiran mewujudkan kesejahteraan. Bagaimana menanamkan sikap dan skill yang dibutuhkan peserta didik dalam menghadapi tantangan keseharian merupakan upaya persiapan bagi seseorang/peserta didik menghadapi kesulitan atau cobaan yang tidak bisa dihindarkan lagi pada masa mendatang (Neenan, 2008: 17).

Yang perlu diperhatikan ialah semua keberhasilan upaya mengembangkan resilience di kalangan peserta didik memerlukan keterlibatan seluruh komunitas sekolah (community school-based approach). Wallaahu 'alam.

Penulis: Fuad Fachruddin
Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma

Sumber: Media Indonesia

HIDUP PENUH WARNA PENYANDANG TUNANETRA


Siapa bilang penyandang tunanetra hidupnya muram? Melalui film Jingga, Lola Amaria memotret kehidupan mereka yang penuh warna.

“Awalnya karena ketidaktahuan tentang teman-teman tunanetra untuk melakukan interaksi, komunikasi di lingkungan hidupnya, terus penyebab dari kebutaan itu sendiri, dan bagaimana mereka mengenal sebuah ruang yang tentunya sulit dipahami oleh orang normal,“ ucap Lona mengenai latar belakang dari dirinya membuat film tersebut.

Dari segala ketidaktahuan itu, Lola ingin membuat karya menampilkan kehebatan para tunanetra dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Menurutnya, tak akan pernah bisa dibayangkan orang normal bisa sekuat para tunanetra dalam menjalani hidup.

“Dari ketidaktahuan itu, saya justru terdorong untuk menciptakan sebuah film berkisah soal tunanetra ini untuk disampaikan kepada masyarakat mereka lebih hebat dari kita-kita yang masih hidup normal,“ ungkapnya.

Jingga menceritakan empat penderita tunanetra.Hidup mereka pun dilalui dengan hal-hal yang luar biasa. Hidup mereka bagaikan hidup, tetapi tanpa cahaya. “Di sisi lain terdapat kisah ibu yang berusaha berjuang setengah hidupnya membantu sang buah hatinya menemukan kegembiraan dari anak tersebut setelah anak tersebut divonis buta itu,“ ujar Lola.

Lola mengatakan Jingga bersekolah di SLB (sekolah luar biasa). Di sana Jingga berteman dengan ketiga temannya bernama Marun, Nila, dan Magenta. Ketiga sahabat itu memberi tahu bagaimana realita hidup, tempat mereka mampu mandiri di tengah kekurangan yang mereka miliki, yaitu dari penglihatan.

“Mereka bersama-sama membentuk grup musik dan bersedia mengikuti kompetisi,“ tambah Lola.

Sebelum membuat film itu, Lola banyak melakukan riset-riset untuk mengetahui pola hidup yang dijalankan para tunanetra, di antaranya dengan mendatangi beberapa SLB di Jakarta dan Bandung serta menemui para orangtua penyandang tunanetra itu.

“Kami riset, kami datangi, dan kami cari tahu bagaimana pola hidup dan cara mereka menjalani kegiatan mereka sehari-hari. Dari riset itu, kita kumpulkan untuk diterapkan ke dalam pembuatan film,“ ucap Lola. (Rio/M-5)


Sumber : Media Indonesia

KEBUTAAN BUKAN PENGHALANG


Tidak bisa melihat atau buta bukan berarti tidak bisa beraktivitas layaknya orang normal. Sapto Kridayanto membuktikannya. Pria yang akrab disapa Sapto itu setiap hari berangkat dari rumahnya di Parung, Bogor, ke kantornya di Mampang, Jakarta Selatan, menggunakan angkutan umum dan sebaliknya.

Sapto mengalami kebutaan saat SMP karena terkena peluru dari senapan mainan. Setelah sempat mengalami depresi, Sapto berhasil bangkit dan menerima keadaan ia yang tak lagi dapat melihat.

“Kejadian sekitar tahun 1996. Saat itu, saya sedang bermain tembak-tembakan dengan teman dan tidak disengaja salah satu mata saya kena peluru karet itu.Setelahnya saya dibawa ke rumah sakit dan akhirnya sembuh,“ ucap Sapto.

Kala itu, dokter memintanya kembali untuk pemeriksaan ulang dua minggu kemudian. Akibat keterbatasan ekonomi, Sapto menganggap matanya sudah sembuh dan tidak ke rumah sakit lagi.

“Enam bulan kemudian, saat saya sedang ujian, mata saya semakin lama tidak bisa melihat dan buta total sampai saat ini,“ jelas Sapto.

Dalam keseharian, Sapto seperti orang normal.Sang istri, Marlina, yang tidak memiliki gangguan penglihatan, setiap hari mengantar Sapto naik angkutan umum. “Suami saya itu sangat mandiri, hanya beberapa kegiatan yang butuh bantuan. Seperti kalau mau berangkat ke kantor, saya antar sampai naik angkutan umum,“ ujar sang istri.

Untuk ke kantornya, Sapto harus berganti angkutan umum. Tentunya itu bukan perkara mudah, kendala utama saat membayar ongkos. Ia sulit membedakan nominal uang.

“Dulu saya bedakan ukuran panjang dan lebar uang itu. Sekarang istri sudah mempersiapkan di rumah, uang pecahan ini taruh di kantong sebelah kanan, pecahan lain di sebelah kiri, dan seterusnya,“ ungkap Sapto.

Berprofesi sebagai telemarketing di Bank Permata, Sapto bertugas menghubungi calon nasabah melalui sambungan telepon. Meski tidak bisa melihat, ia bekerja dengan baik. Terbukti ayah dua anak itu bertahan selama lima tahun di Bank Permata.

Di rumah, Sapto hobi menulis artikel dan banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Setiap malam ia menyempatkan menulis artikel berisikan motivasi dalam kehidupan. Artikel itu biasanya ia kirim ke Kartunet.com, media daring untuk penyandang tunanetra.

Hingga saat ini, Satpo tidak pernah menyesali kondisinya. Justru ia selalu bersyukur ia masih bisa bekerja dan mencari nafkah untuk membiayai istri dan kedua anaknya. (Rio/M-5)


Sumber : Media Indonesia

BELAJAR TANGGUNG JAWAB SEPERTI LEBAH


Kotak berwarna-war ni berderet rapi terlihat saat memasuki gerba ng Taman Wisata Lebah, Cibubur. Lubang di salah satu kotak itu pun selalu dimasuki ribuan lebah. Ternyata kotak-kotak itu merupakan rumah para lebah untuk membuat madu.

Namun, jika kita ingin mendekat dan melihatnya, jangan sendirian ya! Kita harus dipandu oleh pengelolanya, seperti yang dilakukan 24 orang anak berusia 4-10 tahun, ketika berpetualang di Taman Wisata Lebah, Sabtu (21/11), yang diselenggarakan oleh Eco Family, PT Ekalavya.

Tak hanya itu, mereka pun mendapatkan ilmu dan pengalaman tak terlupakan berkenalan dengan hewan penghasil madu itu. Seru kan?

Pakai topi dan masker 

Sebelum berkenalan dengan lebah si penghasil madu, kita wajib memakai peralatan yang disiapkan khusus, yaitu masker yang terbuat dari jaring dan ujungnya disematkan pada topi. Tahukah Sobat, mengapa dua benda itu sangat penting dipakai?

Ya, topi dan masker itu berguna melindungi wajah kita dari sengatan langsung lebah. Menurut Pak Rohman, Staf Taman Wisata Lebah, wajah merupakan bagian paling vital.

“Kulit yang terkena sengatan lebah akan berubah dalam 15 menit, misalanya hidung yang terkena sengatan akan berubah lebih mancung dan membengkak dalam 15 menit.jadi kita wajib pakai ini,“ kata Pak Rohman yang membagikan topi dan masker kepada anak-anak.

Jangan ganggu 

“Berdiri berjajar digaris merah kuning ya, tidak boleh berada di tengah barisan kotak rumah lebah,“ kata Pak Ade, Instruktur Diklat Taman Wisata Lebah. Pak Ade punya alasannya nih, kotak rumah lebah itu memang mempunyai lubang sebagai pintu masuk si lebah.

Lantai yang dicat garis merah kuning itu berada di belakang lubang deretan kotak lebah. Jadi ketika kita berada di depan lubang, ten tunya akan bertabrakan dengan lebah yang akan pulang ke rumahnya.

Pak Ade dan Pak Rohman pun membuka rumah lebah, ia me nyemprot rumahnya dengan air. “Ini agar mereka tak agresif. Sama seperti kita, lebah juga galak jika rumahnya di ganggu,“ kata Pak Ade. 

Bahkan, Pak Ade mengungkapkan, jika lebah salah masuk rumah lebah lain, lebah tersebut akan bertengkar dan dibunuh lo. Wah, seram ya? 

Makanya jika kalian berada di depan lebah dan lebah tersebut hinggap di kulit kita, jangan disentuh ya, diamkan saja, jangan pula buat gerakan refleks dengan cepat.

“Jika kalian tidak mengganggu para lebah, mereka pun tak akan mengganggu kalian,“ kata Pak Ade. 

Satu lagi nih Sobat, jika kalian datang ke sana, pastikan jangan memakai parfum atau pengharum badan yang berlebihan ya, karena lebah akan tertarik dengan wangi-wangian.

Rumah lebah Setelah disemprot air, Pak Ade mengeluarkan sisiran yang terbuat dari kayu. Sisiran ini merupakan tempat lebah menyimpan madunya. 

Ada sekitar 5 sampai 7 sisiran dengan lilin rongga segi enamnya. Jika permukaan atas lilin itu telah tertutup, itu tandanya madu siap untuk dipanen.

Pak Ade mengeluarkan satu per satu sisir sambil memperlihatkan kehidupan lebah di dalamnya. Tahukah Sobat, ada 3 jenis lebah dalam satu keluarga di setiap rumahnya.

Keluarga yang lebih dikenal dengan sebuatan koloni itu memang terdiri dari lebah pekerja, lebah jantan, dan lebah ratu. Mereka pun memiliki tugas yang berbeda-beda.

Lebah pekerja yang mempunyai anggota lebih banyak bertugas menghasilkan sarang, madu, dan merawat lebah ratu. Mereka bisa mencari madu hingga radius 2 km dari rumah. 

Berbeda dengan lebah pekerja, lebah jantan malah bertugas makan dan membersihkan sarang, sedangkan lebah ratu bertugas bertelur setiap hari. 

“Lebah ratu setiap hari selalu bertelur. Ia bisa menghasilkan seribu hingga 1.500 ribu telur lo,“ kata Pak Rahman. Wah, banyak ya?

Gim seru 

Setelah berkenalan dengan 3 jenis lebah yang hidup dengan semangat bekerja dan mempunyai tanggung jawab pada tugas masing-masing, mereka melanjutkan kunjungan dengan gim seru bertema tanggung jawab. 

“Gim ini berguna menumbuhkan rasa tanggung jawab seperti kehidupan lebah yang mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing,“ kata Widiana Satya, Konsultan Parenting PT Ekalavya.

Dibagi dengan beberapa kelompok tim, anak-anak itu bermain di alam, mereka harus menyelesaikan semua misi di setiap pos, seperti memindahkan gelas berisi air menggunakan sapu tangan tanpa disentuh tangan, ada pula im yang harus mengumpulkan madu dari tangan anggota tim secara bergantian. 

“Setiap kali berhasil menyelesaikan misi, mereka akan mendapatkan hadiah berupa pot, tanah, hingga bibit tanaman,“ kata Wina Suntiowangi, Direktur PT Ekalavya.

Hadiah yang didapatkan setiap pos itu akan diberikan kepada orangtua untuk bersama-sama merawat agar tanaman itu bisa tumbuh. Itu juga bentuk tanggung jawab kita kepada tanaman lo.

Kegiatan di alam memang menyimpan banyak sekali ilmu dan pengetahuan. Pelajaran kecil pun bisa di dapat dari mana saja, seperti lebah yang mengajarkan cara bertanggung jawab. Yuk, ikuti cara bertanggung jawab ala lebah! 

(Suryani Wandari/M-1)

POLA ASUH TINGKATKAN KECERDASAN ANAK


"SAYA pernah ada di masa-masa tiada hari tanpa frustrasi, stres, dan cemas. Mulai cemas saat ASI saya enggak sebanyak ibu lain, panik saat anak sakit, frustrasi menghadapi anak yang tantrum sampai dengan stres karena merasa bukan ibu yang baik untuk anak saya." 



Demikianlah salah satu curahan hati aktris Mona Ratuliu, 33, seperti dikutip dalam laman pribadinya, kemarin. Ibu Davina Shava Felisa, 12, Barata Rahadian Nezar, 6, dan Syanala Kania Salsabila, 3, itu mengaku cap ibu tak baik itu pernah disematkan anak pertamanya saat berusia 6 tahun. 

"Saking sebelnya sama saya yang suka panik dan diakhiri dengan marah-marah, Davina protes. Akhirnya keluar pernyataan dari mulutnya bahwa dia enggak suka punya ibu kayak saya," tutur istri Indra Brasco itu. Kejadian itu jelas membuatnya panik dan menangis drama selama berhari-hari. 

Namun, kejadian itu pula yang membuat Mona berusaha untuk mencari solusi dan ia mendapatkannya melalui ilmu. Majalah, buku, menjelajah informasi di internet, mengikuti seminar, dan bergabung di grup-grup kesehatan anak dijalaninya secara rutin. 

Dampak positif pun mulai dirasakan pemeran Poppy di sinetron Lupus Mileniaitu. Ia mampu menjadi lebih tenang dan perlahan mulai berhenti ngomel. Yang senang bukan hanya anak, melainkan juga sang suami. 

"Dan akhirnya, saya enggak hanya menemukan kiat menghadapi anak yang rewel dan enggak panik saat anak sakit saja, tapi juga menemukan banyak cara untuk membimbing anak agar menjadi pribadi yang kuat," imbuh penulis bukuParenthink itu. 

Orangtua memang harus harus mengerti pola asuh yang baik untuk mengetahui bagaimana mengembangkan kecerdasan anaknya. Terlebih, anak merupakan peniru yang ulung yang akan menyerap segala sesuatu seperti spons. 

"Anak merupakan peniru yang ulung. Ini bisa dimanfaatkan orangtua untuk memberikan contoh-contoh baik di depan anaknya. Pemantauan fisik juga harus dilakukan para orangtua sebagai monitoring tumbuh kembang anak," ucap Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimoeso seperti dikutip dari Antara. 

Ada beberapa pola asuh yang diterapkan para orangtua, yakni diktator (otoriter), demokratis, temporizer atau tidak konsisten, appeasers atau overprotective, dan permisif yang cenderung memberikan kebebasan kepada anak. 

Pola asuh terbaik yang bisa diterapkan ialah demokratis yang ditunjukkan dengan sikap orangtua yang friendly, mendengarkan keluhan anak dengan terbuka, anak bebas mengemukakan pendapatnya, dan orangtua mau menerima masukan anak. 

Namun, ternyata didapati pola asuh diktator yang paling banyak terjadi. Misalnya, saat ayah memaksa anaknya untuk masuk ke jurusan kedokteran, padahal anak tidak menyukai jurusan tersebut. 

Ajari makna bahagia 

Di sisi lain, psikolog anak, remaja, dan keluarga Roslina Verauli mengingatkan keberhasilan pengasuhan (parenting) ditentukan bagaimana kerja sama ibu dan ayah. Jadi, bukan peran tunggal ibu semata. 

Karena itulah, orangtua perlu mencontohkan pola hidup yang baik serta menanamkan nilai-nilai kehidupan yang positif dalam keluarga sehingga anak-anak mendapat input yang baik untuk kehidupannya. 

"Orangtua harus mengajarkan living value dalam keluarganya khususnya kepada anak-anak. Apabila orangtua menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak akan mencontohnya. Begitupun sebaliknya," ujarnya saat dihubungi, kemarin. 

Orangtua, sambungnya, bisa memulainya dengan mengajari anak untuk memahami arti bahagia sebenarnya, berempati, serta membedakan benar dan salah. 

"Ajari anak-anak untuk selalu bahagia. Dan bahagia tidak selamanya dinilai dari materi. Cuma yang jadi masalah banyak keluarga di Indonesia yang kurang terdidik dan bahkan hidup di bawah tekanan khususnya tekanan ekonomi sehingga memengaruhi kehidupan anak," bebernya. (S-4) MI

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya