Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

BELAJAR MEMBACA DI USIA DINI, PERLUKAH?


Ada banyak pendapat mengenai pengajaran membaca di usia dini. Ada yang pro dan tentu saja ada yang kontra. Yang setuju memberikan alasan bahwa usia ini adalah masa keemasan seorang anak (sekitar 0-3 tahun, pendapat lain mengatakan 0-5 tahun), seorang anak harus distimulasi dengan berbagai stimulus agar mereka tumbuh menjadi anak cerdas. 

yang tidak setuju, berpendapat bahwa seorang anak tidak boleh dieksploitasi dengan stimulus yang terlalu “dewasa”, biarlah mereka tumbuh secara alami layaknya seorang anak. Sebab kematangan dan kecerdasan emosional lebih penting dibandingkan yang lain. karena kecerdasan kognitif yang tidak didukung kecerdasan emosional, akan sia-sia belaka.

Lalu bagaimana pendapat Anda?
Kalau saya tergantung pada anak. Semua anak pada dasarnya dilahirkan dengan bakat dan kecerdasan beragam. Setiap anak memiliki ketertarikan yang belum tentu sama dengan anak lainnya. Kalau anak Anda tertarik dengan alam misalnya, maka tidak ada salahnya kita mengajari dia tentu Sains dan semacamnya. 

Jika anak Anda tampaknya sangat antusias untuk selalu berbicara dengan orang-orang sekitarnya, mungkin lebih baik kita mengajarinya tentang seni public speaking. Maka, jika anak-anak kita tampaknya sangat tertarik untuk membolak-balik lembaran majalah, buku,ataupun koran yang ditemui, maka mengajarinya mengenali simbol-simbol penyusun kata, insya Alloh akan mennyenangkan untuknya.
Jadi tak perlu bingung… apakah sudah waktunya atau belum untuk mengajarkan membaca pada Anak-anak kita. Yang terpenting mereka memang tertarik dengan apa yang Anda berikan.

Setiap anak memiliki bakat, potensi, dan keistimewaan yang berbeda-beda. Maka, sebagai orangtua, selayaknya kalau kita memilihkan aktivitas yang sesuai dengan potensi masing-masing anak.
Membaca pun demikian, kadang sebagian orangtua ingin anak-anaknya cepat “pintar” membaca. Sehingga mereka kadang memaksakan keinginan tersebut pada sang anak meskipun anak terlihat ogah-ogahan. Hal ini, tentu sangat disayangkan, niat baik, tapi respon buruk yang didapat.

Metode Alataka

Metode yang berusaha memudahkan anak-anak yang baru belajar membaca. Belajar membaca, terasa seperti mendengarkan dongeng singkat dari sang ibu atau ayah.

Ciri khas metode ini adalah urutan hurufnya tidak mengikuti kaidah alfabet, tapi berurutan sesuai bentuk, sehingga seakan-akan hurufnya memiliki keterkaitan dengan huruf sebelum dan sesudahnya. Penyusunan huruf-hurufnya terinspirasi dari urutan huruf-huruf hijaiyah, yang tampak berurutan, sehingga memudahkan siapa saja untuk segera menghafalnya.

Metode ini disusun dalam sebuah buku, yang terdiri dari 2 buku. buku yang pertama adalah buku level 1 dan buku kedua, terdiri dari 2 level, level 2 dan level 3.

Metode ini menggunakan prinsip sederhana. setiap suku kata kita hubungkan dengan sebuah karakter yang dekat dengan kehidupan anak. selain cerita, metode ini mencoba mencocokkan bentuk huruf dengan bentuk karakter tersebut. misalnya: la, sayang, la adalah Laaa lat, kakinya kurus, dia adalah laaaaa-lat.

Sumber : Ibunyasakhi

BUKU REPCIL UNTUK ANAK INDONESIA


Masih pagi, tapi Sabtu (27/8) itu, para reporter cilik (Repcil) Media Anak Media Indonesia sudah berada di Kantor Media Indonesia. Kali ini mereka datang bukan untuk liputan atau mewawancarai para menteri seperti beberapa bulan belakangan ini. Mereka diundang untuk menghadiri peluncuran buku.

Ya, buku berjudul Pemimpin Masa Depan ini sudah jadi dan resmi dirilis Media Indonesia, sobat. Asyiiik! Penyerahan buku itu secara simbolis diserahkan kepada repcil Omar Parikesit Rawidigdo dari Global Jaya School dan Keyla Arista dari SD Highscoope Jakarta dari Pak Usman Kansong, Pimpinan Redaksi Media Indonesia.

“Program dengan tujuan baik ini menjadi wahana pengayaan pendidikan formal. Tidak setiap anak punya kesempatan untuk mendapat berbagai pengalaman berharga seperti kalian,” kata Pak Usman dalam sambutannya.

Pak Usman kemudian bercerita pengalamannya menjadi seorang reporter dan mengucapkan terima kasih kepada orangtua dan guru yang telah mendukung kegiatan ini.

Pasalnya, tak jarang para repcil izin sekolah untuk melakukan wawancara atau meliput kegiatan para pemimpin bangsa ini, presiden hingga para menterinya.

“Kami dari pihak sekolah selalu mendukung semua kegiatan murid baik itu jurnalistik atau olahraga,” kata Pak Rizka Endrayatna, guru Global Jaya School.

Hal senada pun diungkapkan Pak Sumadi, guru SD Cordova, yang salah satu muridnya menjadi Reporter Cilik Terbaik 2014, “Kami selalu mendukung, terima kasih telah mengembangkan bakat anak-anak Indonesia,” kata Pak Sumadi.

Semua teks dalam buku ini ditulis para repcil lo sobat Medi. Ya, sebelumnya, pada September 2015 lalu, para repcil ini dilatih selama tiga hari oleh tim Media Anak Media Indonesia. Keterampilan yang diperoleh kemudian mereka aplikasikan di lapangan.
Kisah masa kecil, perjalanan karier, hingga perjuangan para pemimpin ini digali para repcil dalam wawancara.

Bermanfaat bagi teman-teman

Kini perjuangan para repcil ini berbuah manis. Mereka menjadi angkatan repcil pertama yang menghasilkan buku setelah hanya berbentuk tulisan yang ditampilkan di koran. Buku ini diharapkan memberikan inspirasi kepada masyarakat luas, khususnya anak-anak untuk mengenal dunia jurnalistik.

Rencananya, selain dibagikan kepada seluruh repcil, buku ini pun akan didistribusikan kepada sejumlah sekolah hingga ke pelosok Indonesia.

“Banyak teman-teman kita yang susah mendapatkan akses buku. Dengan ini, kami mencoba membagikan pada anak-anak Indonesia,” kata M Oemar Sidiq, Asisten Kepala Divisi Sirkulasi dan Distribusi Media Indonesia.

Repcil dan orangtua yang saat itu hadir pun menyampaikan dukungan positif.

“Senang sekali buku yang kita tulis ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang lain di seluruh Indonesia,” kata Repcil Michelle, kelas 6 Homeschooling Primagama.

Hingga saat ini buku telah disebarkan ke Medan, Balik Papan, dan Sorong dengan memprioritaskan sekolah dengan fasilitas yang masih minim. Semoga buku ini dapat bermanfaat dan memberikan inspirasi untuk anak-anak Indonesia ya! (Suryani Wandari/M-1)

Sumber : Media Indonesia

TAK BERMIMPI, NYATANYA IA PENULIS YANG HEBAT


"Jika ingin mengenal dunia, Maka Membacalah, Namun jika ingin dikenal oleh Dunia, Maka Menulislah”


"Setiap kata yang terucap akan berlalu bersama angin, tetapi setiap kata yang tertulis akan tetap mengabdi bersama zaman"


Kutipan diatas menjadi gambaran saya terhadapad sosok Setyo Wardoyo, Sang Penulis Buku “The Rise of majapahit”. Dalam bukunya pun Ia menyisipkan kutipan yang menarik “Jika engkau kehilangan kesabaranmu, maka engkau akan hilang kesempatanmu”

Awalnya tidak pernah bercita-cita, mimpi pun tidak, ingin menjadi seorang penulis, apalagi dikaitkan dengan rutinitas kesehariannya yang amat padat bahkan nyaris tidak berhubungan langsung dengan kegiatan menulisnnya tapi itulah Setyo Wardoyo, yang mampu menyisihkan sedikit waktu hingga melahirkan karya tulis yang hebat.

Saat bertemu di Plaza Media Indonesia, Jumat (12/2/2016) Ia menjabat tangan saya sangat erat, sembari berucap ; terima kasih atas suportnya karena The Rise of Majapahit kini kembali dicetak lagi (cetak tahap ke 2), Katanya.

Ketika ditanya, apakah bukunya yang baru sudah terbit dan siap beredar?

Karena banyaknya permintaan Buku The Rise of Majapahit, maka penerbitan buku yang baru terpaksa kami tunda, tunggu saja, buku yang baru akan dilengkapi dengan beberapa ilustrasi gambar yang menarik dan pastinya akan lebih hebat dari buku yang pertama, Tegas Setyo.

Bagamana Anda membagi waktu dengan kesibukannya yang amat padat dan apa rahasianya buku The Rise of Majapahit laris manis dipasaran?

Mau tau jawabannya? Hubungi langsung Setyo Wardoyo dan sebaiknya Anda jadi temanan dulu agar bisa curhat sepuas-puasnya, Silakan ke Akun personal Facebooknya www.facebook.com/kerajaanmajapahit790

Penulis : Abunawarbima

SETOP BUKU RADIKAL UNTUK ANAK


Lima seri buku bacaan untuk anak-anak usia dini dan taman kanak-kanak itu tidak begitu  tebal.
Buku dengan latar warna kuning (jilid 1), merah (jilid 2), biru (jilid 3), hijau (jilid 4), dan pink (jilid 5) itu tiap-tiap seri hanya setebal 52 halaman. Namun, kendati tipis, buku berjudul Anak Islam Suka Membaca karangan Nurani Musta'in yang diterbitkan Pustaka Amanah, Surakarta, Jawa Tengah, itu membuat geger dunia pendidikan di seantero Tanah Air. 


Musababnya, dalam buku itu terdapat sejumlah kata bernuansa radikalisme. Pada jilid 3, misalnya, disebutkan sejumlah kata seperti 'Bila agama kita dihina, kita tiada rela, lelaki bela agama, wanita bela agama, kita semua bela agama, kita selalu sedia jaga agama kita demi Ilahi semata'. Kalimat tersebut dimuat di halaman 27.

Di jilid 4 buku tersebut juga dimuat kata 'jihad' (halaman 5), 'bom' (halaman 12), 'kafi r' (ha laman 15), dan 'berjihad di jalan dakwah' (halaman 20). Selain itu, ada katakata 'sahid di medan jihad', 'gegana ada di mana', 'basoka dibawa lari', serta 'bahaya sabotase'.

Dalam laporannya kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Rabu (20/1), pengurus Gerakan Pemuda Ansor mencatat terdapat 32 ujaran berbau radikalisme dalam buku tersebut. Aktivis GP Ansor menemukan peredaran buku ajaran membaca itu di Depok, Jawa Barat. Satu hari pascatemuan, Ditjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud mengeluarkan surat Nomor 109/C.C2/DU/2016 yang melarang peredaran buku yang terbit sejak 1999 itu.

Surat edaran larangan atas buku yang telah memasuki edisi cetak ulang ke-167 tersebut ditandatangani Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat Harris Iskandar. Melalui media sosial, penulis buku Nurani Musta'in membantah mengajarkan radikalisme. 

'Kami mengabarkan dan menegaskan bahwa akidah yang kami yakini dan selalu kami ajarkan kepada putra putri kami dan anak didik kami bahwa terorisme adalah perkara mungkar yang tidak dibenarkan oleh agama', tulis mereka dalam bantahan itu. Tim khusus Anggota Komisi X DPR Asy Narang meminta Kemendikbud membentuk tim khusus pengawas efektivitas larangan buku di daerah.

"Pusat harus turun langsung. Jika tidak, di lapangan tidak jalan," ujarnya, kemarin. Menurut dia, seharusnya pemerintah daerah mengawasi tiap buku yang beredar di sekolah ataupun di masyarakat. "Namun, kebanyakan tidak jalan." Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti setuju dengan ide membentuk tim khusus itu.

"Tim harus melibatkan para ahli agama dan pendidikan," ujar Abdul Mu'ti, kemarin. Selain itu, buku-buku yang beredar perlu dikaji ulang oleh ahli yang tidak hanya memahami ajar an agama dan pendidikan, tetapi juga memahami gerakan ke agamaan klasik dan kontemporer.

"Muhammadiyah siap membantu menanamkan sikap moderat di kalangan anggota dan generasi muda." Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat Harris Iskandar menambahkan orangtua harus ikut dalam pengawasan sebagai pencegahan agar anak terhindar dari konten radikalisme.

"Jangan hanya menyerahkan ke sekolah dan satuan pendidikan. Mohon ikut memeriksa apa isi buku pelajaran anak dan ikut mengawasi pengajaran yang dilakukan suatu sekolah," ujar Harris saat dihubungi, kemarin. 

Sekjen PBNU Marsudi juga mengimbau orangtua berhati-hati memilih bacaan bagi anak-anak mereka. "Orangtua dan guru seharusnya tahu materi apa yang diajarkan kepada anak. Langkah pemerintah mengeluarkan edaran sudah benar. Tinggal orangtua dan guru jangan lalai." (Try/X-3)

Sumber: Media Indonesia

MENCEGAH SIMBIOSIS TERORIS DAN MEDIA


Cyberspace kini menjadi media baru untuk menyebarkan paham radikalisme. Internet memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan propaganda terorisme yang dijalankan secara terbuka, efektif, dan masif.



Propaganda berupa tulisan, video, dan ajakan-ajakan yang disebarkan melalui situs, media sosial, blog, terbukti efektif dalam upaya menyebarkan kebencian, memperluas jaringan, ataupun mencari rekrutan baru.



Membendung pengaruh terorisme dan penyebaran konten radikal di dunia maya tidak cukup dengan memotong dan mematikan akses media mereka.Kebijakan deradikalisasi dunia maya digambarkan sebagai upaya melawan ideologi dan propaganda kelompok radikal, menghiasi dunia maya dengan berbagai konten damai, dan akhirnya meningkatkan daya tahan masyarakat dari pengaruh paham radikal terorisme.


Buku Deradikalisasi Dunia Maya: Mencegah Simbiosis Terorisme dan Media yang ditulis Mayjen TNI Agus Surya Bakti itu secara gamblang menjelaskan penyebaran terorisme dan radikalisme yang sekarang sudah masuk ke ranah cyberspace.

Penulis yang sekarang menjabat sebagai Panglima Kodam VII/Wirabuana itu mampu menyampaikan analisisnya secara mendalam terkait fenomena radikalisasi di dunia maya. Selain itu, adanya data-data hasil monitoring terhadap situs negatif dan contoh-contoh kasus yang pernah terjadi baik di Indonesia maupun luar negeri.

Perlu juga ditambahkan penjelasan mengenai langkahlangkah ataupun kiat yang bisa dilakukan agar terhindar dari penyebaran ajaran berbahaya itu, khususnya bagi pembaca awam dan generasi muda, sehingga pembaca bisa dengan mudah mewaspadai dan mengenali ancaman radikal yang ada di dunia maya. 

Buku itu layak dan penting untuk dibaca. Literatur mengenai penyebaran terorisme melalui media baru ini belum banyak yang mengulasnya. (M-2) 

Penulis ialah Ketua Communication & Information System Security Research Centre (CISSReC)

Sumber : Media Indonesia

MENIKMATI BUKU DALAM BAHASA GAMBAR


Lewat akun Instagram-nya, Sesti Kusmayati, 28, mengunggah foto proses mewarnai buku yang sedang ditekuninya. ‘Sengaja unggah foto yang belum selesai karena prosesnya lebih penting’, tulisnya santai. Dia tidak mengikuti kebiasaan netizen lainnya yang memilih memamerkan foto hasil mewarnai yang sudah tuntas.



Setelah demam swafoto yang banyak membanjiri media sosial, kini foto buku mewarnai untuk orang dewasa memang menjadi tren baru. Tersebarlah foto beberapa gambar yang sama dengan perpaduan warna yang berlainan.

Sebenarnya tren buku mewarnai sudah lebih dulu meluas di luar negeri sejak dua tahun lalu. Namun, baru sejak Juni 2015, virus mewarnai untuk kalangan dewasa tersebar di Indonesia seiring dengan beberapa penerbit yang mulai menghadirkan pilihan buku mewarnai untuk orang dewasa. 


Johanna Basford dikenal sebagai pelopor tren mewarnai segala usia. Gramedia Pustaka Utama membeli hak cipta bukunya yang berjudul Secretret Garden dan membuat buku itu bisa dibeli di Tanah Air. Sebelum buku mewarnai untuk dewasa dijual di Indonesia, beberapa penikmatnya bahkan sampai membeli langsung dari negara asalnya.



Buku mewarnai untuk dewasa berdesain gambar lebih rinci dan terbilang rumit. Uniknya kegiatan mewarnai di kalangan dewasa ini diklaim ampuh untuk menangkal stres. Beberapa komunitas yang peduli pada kesehatan mental, seperti Komunitas Gethappy, ikut mempromosikan kegiatan mewarnai.



Amandani Hastari, 27, seorang ibu dari satu orang anak yang sesekali menggunakan waktu istirahatnya dengan mewarnai. Saat anaknya sudah tidur, dia menyibukkan diri dengan mewarnai. Oktober lalu, dia sengaja membeli satu buku mewarnai karena merasa jenuh, membutuhkan pengalihan fokus. “Saya membutuhkan terapi, lalu tahu ada terapi warna dan memang suka gambar-gambar,” katanya.

Lantas berhasilkah misi Amandani lewat mewarnai? Dia mengaku sebenarnya gambar yang penuh dengan detail malah bisa membuat stres karena harus mewarnai bidang yang kecil.

Kalau tidak ditopang dengan alat mewarnai yang bagus, dia merasa kurang semangat karena bisa mengurangi kualitas gambar dan itu memperburuk suasana hatinya.

Dalam acara talkshow Tren Buku Mewarnai dan Manfaatnya sebagai Antistres di Gramedia Central Park, Jakarta, Sabtu (16/1) lalu, psikolog Agatha Novi Ardhiati menyatakan manfaat mewarnai itu terkait dengan fokus.

“Ketika seseorang sedang ada masalah, saat mewarnai fokusnya akan tertuju pada kegiatan yang sedang ia lakukan, sejenak melupakan masalah-masalahnya.” Setelah merasa lebih rileks karena senang dengan serunya mewarnai, ketika kembali dihadapkan dengan masalah, pikirannya bisa lebih jernih mencari jalan keluar.

Hal itu dirasakan Dini Afi andri, 29, yang seharihari berprofesi sebagai penulis . Dia mulai awalnya mengetahui buku mewarnai untuk dewasa lewat media sosial seorang temannya. Suatu hari dia melihat di toko buku dan tertarik karena gambargambarnya terbilang rumit yang memancingnya membayangkan warna yang dipikirnya akan cocok untuk setiap gambar. 

“Ini rasanya membantu mengurangi stres soalnya bisa fokus memilih warna dan mewarnai sampai berjam-jam, terus puas dan senang lihat hasilnya,” simpulnya. Perkembangan Stres di pekerjaan, waktu yang dihabiskan sia-sia di jalan, kemacetan yang harus dilalui demi ke lokasi wisata, semua itu diyakini Tria menjadi pendorong merebaknya tren buku mewarnai di kalangan dewasa Indonesia. Bersama Khalezza, dia digandeng Penerbit Renebook untuk membuat buku mewarnai sejak Juni 2015.

Bersama penerbit, mereka kemudian menggagas Komuni tas Tabrak Warna di media sosial sebagai wadah bagi orang dewasa yang suka mewarnai.

Kini pengikut mereka di Instagram sudah 9.000. Tak hanya di Jakarta, Komunitas Tabrak Warna juga ada di Malang, Surabaya, Bandung, Lampung, Pekanbaru, dan Yogyakarta.

Mereka menyebar virus mewarnai lewat berbagai kegiatan di car free day, kampus, bahkan ajang peng galangan dana. “Mewarnai ialah aktivitas sederhana, mudah, dan murah yang dapat menjadi teman untuk mengisi time,“ pikir Tria.

Meski banyak aplikasi mewarnai, format buku mewarnai bisa menghadirkan sensasi yang lain. Buku yang disusun ilustrator pada akhirnya bukan karya ilustra tor itu, melainkan karya si pemilik buku, orang yang mewarnainya. Nilai plusnya buku mewarnai bisa disimpan dan dikenang.

Indonesia tampaknya baru di tahap awal dalam tren mewarnai untuk orang dewasa. Namun, kini semakin lazim pula lomba mewarnai untuk dewasa, bukan sekadar untuk anak-anak.

Gramedia Pustaka Utama (GPU) sudah menerbitkan 12 judul buku mewarnai. Tak hanya karya ilustrator luar negeri, sebagian di antaranya juga karya ilustrator lokal. Dini selaku editor buku mewarnai di GPU mengatakan pihaknya akan mendorong lebih banyak ilustrator lokal untuk membuat buku mewarnai.

“Kita menerbitkan edisi kartu pos mewarnai dan buku mewarnai ukuran travel yang lebih nyaman dibawa untuk saat bepergian“ ujarnya menegaskan ke depan perkembangan tren mewarnai ini masih panjang.(Her/M-2)

Sumber : Media Indonesia.

MUSIBAH JADI ANUGRAH, KISAH INSPIRASI WANITA HEBAT


Buku ini adalah sebuah memoar tentang dahsyatnya cinta dan do'a yang mengubah musibah menjadi anugerah. 

Tuturan seorang istri tentang episode kehidupan yang membawanya pada titik nadhir, Sebuah kecelakaan merenggut satu mata sang suami, bahkan nyaris nyawanya.

Rentetan keajaiban yang dialami dalam peristiwa itu menjadi begitu nyata, meski secara kasatmata dan medis mustahil, tapi takdir Tuhan sejalan dengan kemampuan hamba menerima. 

Buku ini merefleksikan perjalanan spiritual yang memahami bahwa musibah hanyalah media tersingkapnya rahasia Sang Pencipta.

Ditulis oleh kandidat PhD bidang antropologi dari University of Western Sydney yang juga dosen hukum Islam di IAIN Mataram. 

Kisahnya mengalir, menyentuh dan penuh inspirasi dan motivasi.

Catatan: Semua royalti dari penjualan buku ini didedikasikan untuk program operasi bagi penderita katarak di Nusa Tenggara Barat.

Penulis : https://www.facebook.com/awardatun

LELAKI DUKA


Cover : lelaki duka
Judul : Lelaki Duka
Pengarang : Eche Subki. S
Penerbit. : Tinta Hitam Mata Hati
Tahun Terbit. : 2012
Tempat Terbit : Batulicin Kab. Tanah Bumbu
Tebal : 224 Halaman
Ukuran Buku : panjang 21 cm, lebar 14 cm
Oleh : Tato A. Setyawan

Membaca novel Lelaki Duka karya novelis Eche Subki.S membuat kita seakan-akan berada pada situasi kerumitan nasip dan perjalanan hidup manusia laki-laki.

Ini karena dibagian pertama saja atau di bab pertama novel dengan sub judul Percikan Doa ini tercermin betapa Lesmana sebagai tokoh sentral dari novel Lelaki Duka teramat nyata tergambarkan situasi bathinnya yang gundahmenggulana, bahkan cenderung mengalami sindrom atau kepanikan jiwa akibat lilitan masalah yang bertubi-tubi hingga kemudian ia berpikir jika saja ia bisa mengkalkulasi takdir yang ditimpakan Tuhan kepadanya, maka ia tak akan menanggung derita panjang.

Dari bab awal, sepertinya penulis dengan sengaja memborbardir sisi psikologis tokoh utama itu dengan mengekploitasi bagian penting dari tipikal seorang laki-laki yang idealnya tergambar tangguh, kokoh, tidak cemen, dan beragam gambaran tipikal laki-laki lazimnya, menjadi sebaliknya, Lesmana sebagai wujud laki-laki dengan predikat suami dengan satu putra, harus pontang-panting menaklukkan nasipnya sendiri yang menurutnya tak pernah disinggahi keberuntungan.

Jika pun keberuntungan menyinggahinya, itu tak berlangusng lama, dan dipastikan beragam terjangan masalah mulai dari ekonomi rumah tangga, perselinghan Dewi sang istri, hingga masalah terkait pekerjaannya silih berganti menggodam kehidupannya.

Tentang pilihan judul, ini tentu bukan faktor kebetulan. Karena secara umum jika kita cermati esensi pesan cerita yang ditulis novelis Eche Subki. S dari kesemua bab dari 26 bab yang ada secara keseluruhan merupakan dramatisasi dari betapa tokoh Lesmana tak ubahnya seperti manusia laki-laki yang nyaris dari seluruh perjalanan hidupnya terbungkus dengan banyak kesialan, hingga kemudian pilihan judul yang “tepat” dari novel karya pedagang burger ini adalah Lelaki Duka. Lelaki yang sepanjang hidupnya senantiasa diliputi duka, duka yang panjang.

Sebuah judul novel yang sudah barang tentu akan memudahkan pembaca untuk bermain tebak-tebakan, bahwa bisa dipastikan isi novel tersebut bercerita tentang duka panjang seorang laki-laki, Lelaki Duka. Yang mana dari judul saja, sudah merefresentasikan isi buku secara keseluruhan.

Pada cover depan novel Lelaki Duka, ada semacam sinopsis yang sengaja ditempatkan oleh penulis dengan perhitungan, pembaca akan dengan mudah menangkap batang tubuh pesan serta bagian-bagian penting yang merupakan esensi pesan inti dari novel itu sendiri.

“Sebagai lelaki, suami dari istri dan ayah dari satu putraku, aku merasa banyak hal yang membuatku tidak layak menyandang predikat sebagai suami, bahkan menyandang nama ayah untuk putraku Tegar. Selama bertahun-tahun membangun mahligai rumah tangga bersama istriku, aku belum bisa membahagiakannya secara materi termasuk dengan Tegar putra tunggalku.

Justru sebaliknya, mereka banyak kulibatkan dengan banyak persoalan yang secara tidak langsung membuat dua belahan jiwaku menderita : Inilah deritaku, derita lelaki, lelaki duka.”

Jelas ini sebuah penggiringan yang dirancang sekaligus diformulasikan oleh novelis Eche Subki. S agar pembaca tahu, bahwa ia sudah meletakkan kompas dengan satu mata angin yakni “Kedukaan panjang yang melilit seorang laki-laki.”

Pola penggiringan ini semakin intens dibangun oleh penulis memasuki bab sembilan Dia Selingkuh Saat Kujauh, hingga berlanjut pada beberapa bab, dan terakumulasi pada bab penutup atau terakhir, Penyakit Kutukan.

Membaca novel Lelaki Duka bagi pembaca umum pasti akan memberikan kesan mendalam di hati karena fase-fase derita bathin yang dijalani Lesmana sebagai tokoh utama berhasil diurai secara detail oleh penulis, sehingga pembaca tergiring dalam lingkaran yang meliuk-liuk hingga sampai pada muara puncak derita bathin yakni penghakiman-penghakiman yang dilakukan oleh si tokoh utama terhadap dirinya sendiri yang terefrensentasi dari penyebutan diri sebagai Lelaki Duka.

Namun bagi pembaca atau penikmat sastra yang secara khusus senantiasa mencermati sebuah karya novel dengan pola-pola khusus pula, yang salah satunya adalah mencoba menelusuri proses kreatif dan menggali dari arah mana gagasan atau ruh ide penulis muncul hingga lahir karya novel itu.

Maka membaca novel Lelaki Duka karya Eche Subki.S ini akan memberikan pemahaman yang sedikit banyak merupakan langkah penting dalam mengetahui isi ‘kotak pandora’ yang dimiliki penulis hingga sedikit banyak pula kita akan tahu sisi tersembunyi dari proses kreatif serta bangunan ide yang menjadi dasar sekaligus alasan ditulisnya novel itu. Meski pun kita tahu, bahwa karya fiksi yang salah satunya berupa novel adalah sebuah karya tulisan yang lahir dari olah imajinasi dan kreativitas dari seorang penulis.

Namun begitu, pembaca sudah mahfum dan paham benar, bahwa karya fiksi bukan semata-mata sebuah karya yang lahir dari proses imajinatif penulis dengan sumber pengamatan lingkungan sosial disekitarnya saja atau nota bene merupakan apresiasi dari sebuah kejadian yang dilihat, diresapi untuk kemudian dituliskan. Tapi bisa juga sebaliknya, karya itu justru terbukukan karena rangkaian peristiwa yang dirangkum menjadi karya fiksi itu tidak lain merupakan fase-fase peristiwa yang dijalani oleh penulis sendiri, termasuk pada novel Lelaki Duka ini. Walahualam..

Jika Anda membaca novel Lelaki Duka karya Eche Subki. S, Anda tak seharusnya berhenti pada bab tertentu sebelum menuntaskan keselurahan bab, atau hanya membaca beberapa bab awal untuk kemudian meloncat di bab penutup. Jika cara membaca yang demikian Anda lakukan, Anda tak akan menemukan titik-titik dramatisasi dari novel tersebut. Ini karena rangkaian masing-masing bab yang diformulasikan oleh Eche Subki. S dalam novelnya dibangun secara menanjak hingga novel ini mampu menggiring pembaca untuk terus tertarik pada pusaran inti pesan sampai berakhir pada bab penutup, Penyakit Kutukan. Selamat membaca.


Novel ini dapat dipesan di : https://www.facebook.com/ayu.indah.99

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya