Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

INSPIRASI UNTUK ANAK NEGERI


NEGERI ini adalah negeri pertanian, sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian, namun ironisnya, nasib para petani justru terabaikan hingga terpasung dalam hidup yang tidak berkecukupan. Alhamdulillah, diantara sekian banyak anak keluarga petani, ada yang tanpa kenal lelah, terus berjuang mempertaruhkan cita-cita tinggi, meski hanya bermodalkan semangat juang tetapi Ia mampu meraih prestasi gemilang, salah satunya adalah Heni Sri Sundani.

Heni yang membekali dirinya dengan semanagat juang, kuliah di Universitas Saint Mary Hong Kong, Jurusan Manajemen Kewirausahaan, hingga lulus dengan predikat cum laude pada 2013. Seusai menggenggam gelar sarjana, ia pulang kembali ke tanah kelahirannya di Rancatapen, Ciamis, Jawa Barat.

Tidak ingin desanya terus terpuruk, Heni tidak tinggal diam, dengan berbekal lebih dari tiga ribu buku yang dibeli di Hong Kong, ia kemudian mendirikan perpustakaan di rumahnya. Kehadiran perpustakaan tersebut menumbuhkan minat baca warga sekitar. “Semangat saya kian menggebu seiring minat baca warga kian tumbuh, karena ia yakin dengan minat membaca, akan melahirkan anak-anak negeri yang pintar”. ucap Heni.

Belakangan muncul tantangan baru setelah Heni menikah dengan Aditia Ginantaka yang mengharuskan Ia pindah ke Bogor dan tinggal bersama suami disana. Heni kembali mendapati kenyataan, sebagian besar warga di sekitar tempat tinggalnya bermata pencarian sebagai buruh tani, pengojek, buruh kasar, dan asisten rumah tangga, imbuh Heni.

Yang bikin miris kata Heni, warga sekitar memanfaatkan selokan untuk MCK (mandi, cuci, dan kakus). Melihat kondisi tersebut, ia berdiskusi dengan suami untuk mencari solusi membantu mereka, hingga lahirlah Gerakan Anak Petani Cerdas (GAPC), sebuah gerakan pendidikan dan pendampingan belajar kepada anak petani miskin.

GAPC mengajarkan tiga aspek pelajaran dasar, yakni kemampuan linguistik, kemampuan bahasa asing, kemampuan literasi, dan kemampuan logika serta membekali mereka kemampuan dibidang komputer, pertanian, peternakan, perkebunan, dan bahasa daerah.

Kiprah GAPC semakin diminati, awalnya hanya mendidik 15 siswa di Kampung Sasak, Desa Jampang, Bogor. Kini GAPC tersebar di lebih dari 11 kampung dengan peserta 2 ribu anak, mulai anak petani, anak asisten rumah tangga, anak TKI, anak pengojek, sampai pemulung. juga memberdayakan istri-istri petani memproduksi anyaman keset yang berasal dari limbah perca pabrik boneka. Penerima manfaat dari seluruh program ini mencapai lebih dari 150 ribu orang dari Aceh hingga Papua, yaitu anak petani, janda-janda, dan ibu-ibu.

GAPC mengandalkan dana dari kebaikan para donatur dengan cara membuka kesempatan donatur dengan cara berinvestasi di hewan kurban atau investasi tambak ikan lele dengan sistem bagi hasil di kisaran petani: 50%, investor: 40%, komunitas: 10%, dan memberdayakan 100 petani di Bogor, Lombok, Tasikmalaya, Banjar, dan Ciamis.

Ingin mengetahui lebih lengkap Sosok Heni dan sosok inspiratif lainnya, silakan saksikan MetroTV dalam acara Big Circle, Dream Big Make an Impact dalam episode Harmoni Bisnis dan Alam yang akan ditayakan pada Minggu, 14 Oktober 2018, pukul 19.05-20.00 WIB. (H-2)

Sumber: Media Indonesia
Post by IG @abunawars
Foto: Instagram @henisrisundani
Facebook Heni : Heni Sri Sundani Jaladara
#Inspirasi

BUTET MANURUNG, EDUKASI MASYARAKAT ADAT MELALU SOKOLA RIMBA


Hidup bahagia dengan segala kebutuhan yang ada, Kaya dengan sumber daya alam serta kearifan lokal budaya sesuai dengan kondisi lingkungan mereka, itulah gambaran Masyarakat Adat yang sebenarnya. “Sangat keliru jika ada yang beranggapan bahwa mereka terbelakang, bodoh dan miskin” ucap Pendiri Sekola Rimba, Butet Manurung (46).

Melalui Sekola Rimba yang Butet dirikan bersama teman-temannya sejak 15 tahun lalu, Butet terjun langsung mengedukasi Masyarakat Adat dengan cara pendekatan dan pengajaran yang disesuaikan. Ajari apa yang mereka pakai dan mereka butuhkan, jika tidak berkaitan langsung dengan kegunaanya, mereka pasti akan bertanya, untuk apa. “Jadi yang diajari adalah hal-hal yang berkaitan langsung dengan segala manfaatnya” ucap Butet.

Satu tantangan yang masih dihadapi ialah persepsi masyarakat adat bahwa sekolah itu tabu. Mereka tidak bisa menerima sembarangan orang luar untuk mengajari mereka. Jadi, upaya pendekatan perlu dilakukan lebih dulu sebelum memulai program belajar mengajar.

Persepsi yang salah juga sering menyebabkan bantuan dan program kepada masyarakat adat tidak tepat sasaran. Kita tidak bisa menerapkan standar kehidupan modern untuk mengukur kehidupan masyarakat adat, pungkasnya.

Penulis: Abunawar Bima

.

KOMIK GAK JELAS, TUJUAN JELAS


Ia sukses memadukan seni dan bisnis, dengan memacu diri agar senantiasa kreatif serta disiplin memenuhi tenggat. Jasmine Sukartty merintis jalan menjadi komikus sejak SD. Ia berkarya dan sukses menjualnya. Kini, ia bergabung bersama komunitas untuk menambah keterampilan sekaligus berbagi kiat dengan para juniornya. Selain komik, Jasmine produktif menggarap ilustrasi, desain grafik, film, hingga gim. Yang paling keren, Jasmine juga aktif mengikuti beberapa workshop atau forum pegiat visual untuk mempersiapkan komikus muda yang ingin berkecimpung di dunia visual. Simak ya, obrolan dengan penulis Komik ga Jelas ini!

Ceritakan dong perjalanan kamu menjadi komikus?
Enggak kebayang malah bakal jadi komikus, dulu justru ingin jadi astronaut. Ingin sekali, sampai akhirnya aku dinyatakan mengidap skoliosis atau kemiringan pada tulang belakang waktu kelas 5 SD. Akhirnya aku harus terapi dalam jangka waktu lama. Singkat cerita, sejak saat itu, menggambar dan membaca komik menjadi sahabat sekaligus pelarianku.

Setelah itu ya aku jadi terbiasa buat menggambar di mana pun. Malah ada pengalaman unik waktu duduk di bangku SD. Jadi, dulu orangtuaku melarang aku jajan sembarangan, makanya uang sakuku dibatasi. Nah, namanya anak-anak kan bandel. Akhirnya aku bikin komik pertama, judulnya Poni Cantik, lalu aku jual ke teman-teman harganya cuma Rp500 tapi lumayan, aku jadi bisa jajan sering-sering dan nabung buat beli komik. Akan tetapi, aku benar-benar dapat izin untuk jadi komikus setelah lulus kuliah.

Berarti dari sana sudah terampil jualan juga dong?
Bisa dibilang iya, tapi sampai beberapa waktu yang lalu aku masih mengalami beberapa pengalaman kurang mengenakkan di bidang ini, terutama soal hukum. Aturan di industri kreatif Indonesia juga masih abu-abu jadi ketelitian juga pemahaman yang baik saat kontrak itu perlu supaya nantinya sama-sama enak antara aku dan klien.

Apa kamu melanjutkan studi di bidang-bidang tersebut?
Tidak, background aku art, tetapi justru banyak belajar saat tergabung di komunitas. Komunitas aku sekarang, Komikin Ajah, termasuk aktif juga memiliki banyak anggota, jadi di situ bisa sharing pengalaman ke pemula, tapi aku juga bisa belajar dari senior. Bahkan bukan enggak mungkin, aku belajar dari yang pemula juga. Salah satunya adalah forum-forum mingguan rutin serta program Temu Bincang.

Karakter gambar kamu?Aku sempat mengalami dua fase, waktu SD-SMP aku suka banget manga, makanya komik yang aku jual waktu SD, juga memiliki judul dengan kesan imut. Akan tetapi, sejak SMA hingga sekarang aku jatuh cinta sama Amerika yang kuat dengan karakter-karakter superheronya. Bisa dibilang kiblat aku Marvel atau DC, tapi aku tetap punya gaya sendiri di tiap karakter.

Ceritakan dong soal Komik ga Jelas?
Komik ga Jelas muncul pada 2014, tujuan utamanya menghibur, terutama untuk anak-anak usia sekolah. Soalnya, aku merasa mereka mulai kesulitan mendapatkan hiburan atau tontonan sesuai dengan usianya. Jadi obrolan yang hadir di komik itu ya sederhana dan relateable sama kehidupan sehari-hari. Kalaupun ada kritik sosial aku coba sampaikan dengan halus. Ya lumayanlah sekarang sudah dinikmati sama banyak orang. Terbukti dari rilisan komik strip yang aku bukukan pada Oktober 2016, berhasil terjual habis 30 ribu eksemplar selama dua bulan.

Selain buku, ke depannya ada terobosan apa lagi dengan karakter di Komik ga Jelas?
Lumayan banyak PR ke depannya. Komik ga Jelas sebentar lagi bakal ada di stiker di gawai, lalu Agustus tahun ini akan ada gim yang isinya mengenalkan permainan-permainan tradisional Indonesia dengan karakter-karakter dari Komik ga Jelas.

Bisa sampai sejauh ini, promosinya gimana?
Tentu lewat medsos. Selain karena mudah dan murah ya, seperti yang kita tahu konsumen di Indonesia itu aktif banget pakai medsos apalagi target aku yang kisaran usianya 15-24 tahun itu lagi aktif-aktifnya pakai medsos.

Tertarik untuk membuat komik seri?
Untuk saat ini aku masih suka dengan komik strip ya, tapi bukan tidak mungkin ke depannya aku bikin juga.

Berniat menjadikan komik sebagai karier?
Mungkin banget, apalagi kalau memang passion-nya di situ pasti bisa. Akan tetapi, ya, sepengalaman saya, harus giat dan sabar kalau mau jadi komikus. Karena awal-awal pasti pelan sekali kemajuannya. Lama-kelamaan kalau sudah paham pasar dan rajin, pemasukannya juga lumayan kok. Saya sudah memeulainya, tapi saya iringi juga dengan kegiatan menjadi ilustrator, concept artist, dan motion graphic. Semuanya sih bidang yang sama, output-nya saja yang berbeda.

Penghasilannya berapa sih kalau jadi komikus?Selama aku jadi komikus, pemasukan dari komik bisa sampai puluhan juta rupiah per bulan. Akan tetapi, kalau sedang tidak ada sponsor yang mau iklan, ya harus sabar, paling hanya dapat Rp1 juta hingga Rp2 juta saja per bulan.

Sekarang sedang sibuk apa?
Aku sekarang sedang mengelola PT yang akau dirikan, namanya PT JHS Production yang jadi wadah buat proyek sampingan. Lalu ada kerja sama dengan organisasi internasional Girl Effect yang bekerja sama dengan enam komikus negara lain seperti Nigeria, Filipina, Afrika Selatan, Pakistan, dan Kolombia untuk membuat sebuah komik superhero perempuan sebagai kampanye girls' effect. Nantinya akan diberikan kepada anak-anak di penjuru negeri.

Menurut kamu, bagaiana sih potensi komikus Indonesia?
Komikus kita banyak banget dan serbabisa, artinya mau cari yang manga, Marvel, semua ada. Namun, sayangnya kekayaan karya mereka itu tidak diimbangi pengetahuan yang cukup di bidang hukum. Menurut aku, saat komikus dapat tawaran dari publisher atau klien itu, harus benar-benar dipahami sistem kerja dan kontraknya supaya enggak rugi bandar he he he.

Selain masalah hukum, ada kiat lainkah buat komikus di luar sana?
Ada beberapa poin penting sih. Pertama harus konsisten sama deadline, mau itu deadline dari diri sendiri atau dari publisher, supaya nantinya masyarakat terus ingat sama karya kita dan akhirnya jadi pembaca setia. Kedua harus rajin riset supaya komik yang sudah jadi punya alur cerita yang menarik dan real. Ketiga, harus peduli juga terhadap sistem pemasarannya, apa itu dibuat merchandise atau yang lain supaya ada pemasukan walaupun belum dapat sponsor. Terakhir yaitu soal hukum, harus paham!

Kalau peran pemerintah sejauh ini bagaimana?
Kepedulian mereka sudah ada dengan adanya kompetisi dan workshop, tetapi untuk working space gitu-gitu sih aku belum pernah dengar.

Harapannya untuk para komikus pemula?
Harus fight! jangan mudah menyerah! (M-1)

Penulis: Ni Putu Trisnanda, Mahasiswa Jurnalistik
Universitas Padjadjaran
Sumber: Media Indonesia


KETERBATASAN BUKANLAH HALANGAN



Nama Sugeng Siswoyudono, Asal Mojokerto Jawa Timur ini, tadinya banyak yang belum mengenalnya, tetapi setelah tampil di acara Kick Andy, April 2008, dengan tema “Berbagi dalam Keterbatasan” sontak menjadi buah bibir pemirsa. Begitu banyak pemirsa yang penasaran bahkan termotivasi dengan semangat Sugeng dalam menyikapi hidupannya yang merelakan kaki kanannya harus diamputasi akibat kecelakaan di jalan raya pada tahun 1981, memaksa Kick Andy dan tim kreatifnya mengundang Sugeng untuk tampil kembali di acara tersebut.

Pada penampilan yang kedua itulah, mengantarkan Pria kelahiran Baturaja, 3 Juni 1962 Sumatera Selatan ini, bertemu dengan Menteri Negara Riset dan Teknologi (saat itu), Kusmayanto Kadiman yang ikut tergerak untuk mengadakan gerakan 1.000 (Seribu) kaki palsu untuk dibagikan kepada masyarakat seluruh Indonesia yang membutuhkan.

Tantangan untuk memenuhi gerakan 1.000 kaki palsu, membuat Sugeng merekrut sejumlah tenaga sekitar daerahnya untuk bekerja dibengkelnya, selain itu Sugeng juga memiliki lembaga yang diberi nama Paguyuban Penyandang Cacat Jasmani dan Wirausaha (P2CJDW) yang bertempat di Kabupaten Mojokerto yang turut membantunya, sehingga gerakan 1.000 kaki palsu dapat terpenuhi.

Sugeng menceritakan bahwa awal Ia bisa membuat kaki palsu adalah dari kebiasaanya memperbaiki kaki palsunya yang sering gonta-ganti karena cepat rusak, mengusik jiwa kreatifnya membuat sendiri kaki palsu. Setelah merasa mampu dan daya tahan kaki palsu yang ia buat itu cukup kuat, tahun 1995 Sugeng memberanikan diri membuka bengkel reparasi dan produksi kaki palsu dari bahan fiber dibawah bendera Than Must Soegenk Mirtha Production di rumah yang sekaligus menjadi bengkelnya tersebut, jelas Sugeng.

Kalau boleh memilih, lebih baik saya seperti dulu sebelum tampil di Kick Andy. Kenapa? Dulu, waktu saya lebih bebas, saya masih ada waktu untuk santai, bersenda gurau dengan keluarga dan tetangga, merenung dan lain sebagainya, pokok e lebih enak lah, tetapi saya sudah berkomitmen dan komitmen itupun sejalan dengan visi-misi Kick Andy Foundation untuk membantu siapapun yang membutuhkan, makanya saya tetap semangat, tidak pernah lelah berangkat kemapun, apalagi keakraban dengan Ketua Kick Andy Foundation, Bp. Ali Sadikin yang sudah terjalin sangat baik, semangatpun kian bertambah, “Bp. Ali pun berpesan, Tugas kita ini mulia, jadi jalani saja dengan penuh keihlasan" imbuh Sugeng.

Hampir semua daerah sudah Ia kunjungi , sepesenpun tak ada biaya yang Ia keluarkan. Ongkos pesawat terbang, pulang pergi, akomodasi, uang saku dan lain sebagainya ditanggung semua oleh Kick Andy Foundation, walau Ia tidak pernah meminta, dengan tegas Sugeng katakan tidak pernah meminta atas pekerjaanya karena Ia ikhlas membantu sesama, itu jualah yang membuat hubungannya dengan Kick Andy Foundation berjalan mesrah hingga detik ini, tegas Sugeng.

MOTIVATOR

Jauh berbeda dengan kebanyakan motivator yang lebih memilih mengasihani dengan empati, dan simpati atau ungkapan lemah lembut. Sugeng malah kebalikannya, Dengan ceplas-ceplos dan berkelakar ala Jawa Timuran, memotivasi pasien saat proses pengukuran, pembuatan dan test produk. Sugeng sama-sekali tidak memberi peluang pasiennya welas asih, rendah, minder apalagi minta dikasihani, mungkin terkesan keras dan kasar, ternyata jurus itu mampu mengangkat kembali mental para pasien dan terbukti pasien-pasiennya malah cepat akrab dengan motivator yang piwai memompa semangat ini.

Saya jadi ingat sebuah iklan minuman energi terkenal yang dibintangi beberapa artis dan tokoh ternama. Dalam tayangan iklan tersebut terlihat Ada seorang pria dengan satu kaki buntung sedih dan murung, kemudian datang rekannya sembari berteriak menasehati "Koen gak semangat? Yo goblok" (Kamu tak bersemangat, ya goblok). Ternyata pria yang datang menasehati itu, cacat juga alias kaki kanannya buntung, tidak disangka pria itu Sugeng sendiri yang menjadi bintang utama pada iklan tersebut, Luar biasa “Komendan” Julukan atau panggilan dari anak buah kepada bosnya Sugeng. (AB)

Sekian, Semoga pembaca termotivasi
Penulis: abunawarbima@gmail.com

Sugeng: https://web.facebook.com/sugeng.kakipalsu
Ali Sadikin: https://web.facebook.com/ali.sadikin.58511?ref=br_rs



RELA MELEPAS GAJI BESAR DEMI MEMPERDAYAKAN MASYARAKAT DIDESANYA


Kebahagian tak hanya diukur dari banyaknya uang yang bisa dikumpulkan. Ada juga yang bahagia apabila melihat orang lain bahagia. Salah satunya Aang Permana, pengusaha muda Crispy Ikan Sipetek asal Cinjur, Jawa Barat.

Demi menyejahterakan kehidupan warga di kampung halamannya, ia rela melepaskan pekerjaan lamanya di perusahaan migas dengan gaji besar hanya untuk membuka usaha Crispy Ikan Sipetek.

"Ya sedikit kecewa, jauh-jauh sudah dapat kerja, terus malah memilih seperti ini. Kan cari kerja susah, pokoknya ingin ngebuktiin jalan ini yang terbaik buat Aang, dan semoga bisnis ini membantu buat keluarga dan masyarakat di sini," kata Yenny Nurhayati, ibunda Aang.

Siapa yang mengira, saat kecil Aang harus berupaya keras untuk mengenyam dunia pendidikan. Pasalnya, ia berasal dari keluarga kurang mampu. Sang ayah terkena PHK dan menjadi tukang ban sambil membuka toko kelontong. "Jadi dulu saya itu bisa sekolah karena berbekal surat keterangan tidak mampu untuk sekolah," kenang Aang.

Dengan berkat kerja keras dan kemauan meraih cita-cita, Aang terus sekolah dan mencari pekerjaan yang dirasa cukup baik untuk masa depannya. Saat sudah mencapai impiannya, ia merasakan ada yang kurang hingga memutuskan untuk berbisnis.

Berawal dari coba-coba, sekarang bisnis Aang mampu meraih omzet hingga Rp150 juta setiap bulannya. Ide membuat usaha olahan ikan muncul ketika Aang kerap bepergian ke berbagai daerah saat bekerja di perusahaan itu. Ia melihat potensi perikanan di daerah masih tinggi.

Di Cianjur, Jawa Barat, tepatnya di sekitar Waduk Cirata, banyak sekali ditemukan ikan petek. Kemudian Aang meminta temannya untuk mengecek kandungan ikan petek itu, yang justru ternyata memiliki kandungan protein serta kalsium yang cukup tinggi.

Aang sengaja mempekerjakan kaum ibu yang sudah cukup berumur dalam memproduksi olahan ikan sebagai langkah dalam membantu perekonomian warga. Pasalnya para ibu mau digaji sesuai upah minimum regional (UMR). Produksi olahan ikan ini juga melibatkan para nelayan sekitar Waduk Cirata.

Sekarang, produk ikan milik Aang sudah tersebar di berbagai tempat di Indonesia, termasuk di toko daring. Kini Aang Permana merasa bahagia karena ada perubahan tingkat perekonomian di desanya. (Rio/M-4).

Sumber : Media Indonesia.

WARNA WARNI PENGUBAH NASIB



Kota Malang, Jawa Timur, sering menjadi destinasi liburan wisatawan. Selain udara yang sejuk, banyak tempat wisata yang menarik dan unik. Tempat itu memiliki daya tarik bagi wisatawan yang datang. Salah satu destinasi yang menarik ialah Kampung Warna-warni di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing.

Namun, siapa sangka kampung penuh warna di pinggiran Sungai Brantas itu dulunya kampung biasa dan terkesan kumuh.

Sejak kedatangan sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), julukan kumuh tidak lagi disandang Kampung Jodipan. Salah satu penggagas perubahan itu ialah Nabila Firdauziyah.

Nabila bersama tujuh rekannya sesama mahasiswa semester tujuh Fakultas Komunikasi UMN memilih kawasan itu sebagai bagian dari tugas kampus. Mereka mendapatkan tugas praktikum public relation dari seorang dosen.

Tugas yang dikerjakan Nabila dan teman-temannya tidaklah main-main. Mereka terinspirasi oleh kota di Rio de Janeiro, yang diubah dari kampung kumuh menjadi berwarna-warni. Perubahan membuat kawasan Kampung Jodipan ramai dikunjungi wisatawan dari Kota Malang dan luar Kota Malang.

Ada 91 rumah yang dicat dengan 15 warna berbeda, mulai dinding, atap, hingga tangga-tangga di tengah kampung. Butuh 2 ton cat kala itu untuk mewarnai rumah-rumah warga. Mereka tidak sendiri. Untuk mewujudkan visi itu, mereka dibantu warga, TNI, dan Polri.

"Dampak dari semua pengecatan atau warna-warni ini kampung kita jadi bersih, jadi rapi, tertata. Akhirnya timbul rasa kepedulian, mereka sudah tidak membuang sampah dengan sembarangan karena dari segi pihak pengurus kampung, akhirnya menyediakan tempat sampah di rumah-rumah masing-masing," tutur Agus, salah seorang warga Kampung Jodipan.

Sejak Jodipan dinyatakan sebagai kampung wisata, perekonomian warga pun meningkat karena banyaknya kunjungan wisatawan yang ingin mengetahui kampung unik tersebut.

"Dampak ekonomi sangat terasa dengan adanya banyak pengunjung yang ingin mengetahui Kampung Warna-warni, salah satunya perekonomian di bidang penjualan. Jadi sekarang ibu-ibu menjual kebutuhan-kebutuhan dari orang-orang yang masuk," kata Agus.

Kini Kampung Jodipan banyak dikunjungi wisatawan untuk berfoto dan menghabiskan waktu liburan. Menariknya tak hanya kampung menjadi indah dan bersih, tetapi kesejahteraan masyarakat Jodipan juga meningkat.(Rio/M-4)

Sumber : Media Indonesia.

KINCIR AIR PERMUDAH AKSES PETANI DI LOMBOK TIMUR


Namanya Mashum. Namun, ia lebih dikenal dengan panggilan Zainul Hadi yang merupakan nama anak pertamanya. Sehari-hari pria kelahiran 31 Maret 1967 ini bekerja sebagai petani di Dusun Bagik Manis, Desa Kembang Kerang Daya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Ternyata petani ini bukan petani biasa. Ia merupakan pelopor pembangunan kincir air di desanya. Inisiatif pembangunan kincir air itu muncul dari pengalaman dirinya bersama keluarga yang begitu sangat sulit mendapatkan air ketika musim kemarau melanda.

Ia juga prihatin melihat masyarakat di desanya yang setiap hari berjalan jauh untuk memenuhi kebutuhan air bersih karena sumber air letaknya jauh di bawah permukiman penduduk. Bahkan tak hanya mengorbankan tenaga, masyarakat juga harus menghabiskan banyak uang untuk sekadar mendapatkan air.

"Saya susah karena di sini tidak ada air, udaranya panas. Itu kalau musim begini airnya kering ke sana kemari enggak ada air. Kita pergi ngambil air sampai harus berkilo-kilometer jauhnya. Bahkan menggunakan jasa ojek untuk bantu angkut air," tutur Samsuri Yuri, salah satu warga di Dusun Azziadah.

Tak tanggung-tanggung, materi yang dikeluarkan untuk membeli air bersih pun kadang sampai jutaan rupiah. "Kalau musim panas seperti sekarang ini, kita beli air dua kali satu minggu. Dua tong air itu harganya Rp120 ribu. Kalau orang resah-resah, kita beli air sampai harga Rp1,5 juta," sambung Samsuri.

Melihat kondisi itu, pada akhirnya di 2012 Mashum membuat kincir air bersama masyarakat sekitar. Ia juga memasang instalasi pipa untuk mengalirkan air tersebut ke rumah-rumah penduduk di desanya. Hingga kini, sudah ada tujuh kincir air yang dibuat.

Pembangunan kincir air tersebut dilakukan secara swadaya bersama masyarakat lokal. Hebatnya lagi, sampai sekarang sudah ada enam dusun yang merasakan manfaat kincir air yang dibuatnya. "Kalau sekarang kan, alhamdullilah sudah mudah dapat air bersih. Tidak perlu lagi jalan beberapa kilometer hanya untuk mencari air bersih," ujar warga lain bernama Mahyudin.

Atas kerja keras yang dilakukan Mashum bersama masyarakat sekitar, kini masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan dan merasakan air bersih dengan mudah. Meski demikian, Mashum mengingatkan warga untuk berhemat dan menggunakan air dengan bijak.

Mashum juga berharap kelak kincir air buatannya itu bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang. Dengan demikian, air bersih bisa diakses dan dinikmati siapa saja, merata sampai ke rumah-rumah hingga pelosok Nusantara.

"Masyarakat sudah merasakan, sangat sangat merasakan perubahan itu. Mereka sekarang hanya tinggal buka keran di rumah, mereka tinggal pakai airnya untuk mandi dan segala kebutuhan yang lain," pungkasnya. (Rio/M-4)

Sumber : Media Indonesia.

BISNIS MENGALIR SAMPAI JAUH


Bisnis penjualan langsung alias multilevel marketing (MLM) memang punya banyak wajah dan kisah. Ada peluang tanpa batas sekaligus tantangan yang mesti ditaklukkan untuk menebusnya. Banyak pula kiat yang harus dilakukan agar tak terjebak pada perusahaan yang manis di awal tapi menjebak di perjalanan.

Jika cermat memilih dan menjalankannya dengan optimal, dampak yang akan dirasakan akan terus dialirkan bagi sekelilingnya yang juga siap menjalani tantangannya. Yuni membagi kiatnya memilih, menjalankan, dan kemudian memetik hasilnya, yang juga melibatkan fasilitas kekinian, seperti dunia digital dan media sosial.

Sejak kapan mulai bergabung dengan bisnis ini? Apa alasan saat memutuskan ikut dengan sistem ini?
Sejak 2006, saat masih SMA, saat masih 18 tahun. Awalnya, orangtua aku sakit-sakitan, sudah sangat parah, mulai sakit mag kronis sampai sinus. Nah, sejak teman mama menawarkan produk yang dikeluarkan CNI, salah satu perusahaan penjualan langsung, ternyata diminum rutin terus-menerus. Alhamdulillah sembuh total.

Selulus SMA, aku jalankan terus bisnis ini. Aku enggak malu buat jualan dan menawarkan ke orang-orang karena punya banyak impian dan harapan bisa lebih baik lagi di bisnis. Pagi sampai sore, aku jalankan. Sore sampai malam aku kuliah.

Ceritakan dong bagaimana kamu menjalankan bisnis ini sehari-hari?
Saya melakukan penjualan produk CNI ke konsumen di sekitar rumah dan melakukan pengiriman orderan dari penjualan daring ke Jabodetabek dan ke luar kota, dari Sabang sampai Merauke melalui jasa kurir. Bisnis ini mudah kok, bahkan bisa dijadikan pendapatan pasif karena produknya sudah dikenal masyarakat luas. Jadi lebih mudah menawarkan.

Sekarang, sudah jadi profesi utama?
Ya, bisnis ini satu-satunya profesi aku.

Lalu hasilnya?
Aku sekarang memiliki mobil, motor, dan memberangkatkan haji orangtua dan tentunya membiayai kuliah sendiri.
Penghasilan sebulan minimal Rp7 juta-Rp8 juta dan bisa jalan-jalan keluar negeri gratis, setiap tahun, dengan fasilitas mewah. Semua impian dan harapan satu per satu menjadi kenyataan.

Keren! Jalan-jalannya ke mana saja?
Singapura, Thailand, Malaysia, Hong Kong, Shanghai, Beijing, Jepang dan Turki. Aku pergi setiap tahun berturut-turut, mulai 2009 hingga 2015.

Bagaimana sih perusahaan ini menghitung pendapatan para anggotanya, apakah terjamin keadilannya?
Income dihitung dari keuntungan langsung, nilai rabat, produktivitas, progresif, dan masih banyak lagi, dari penjualan produk serta pengembangan jaringan yang berkwalitas. Nilainya sesuai kinerja kita.

Bagaimana cara memilih bisnis penjualan langsung ini sih supaya kita enggak terjebak?
Memang banyak MLM yang tidak baik dan tidak bagus. Bisa dilihat dari pengakuan terhadap produk itu, status hukum dan rekam jejaknya. Kalau perusahaan yang aku pilih ini kan sudah mendapat penghargaan selama 7 tahun berturut-turut.

Lalu, pahami produk dan bisnis yang akan kita jalani sebaik mungkin, jika produk yang kita geluti ternyata ada pesaingnya, harus tahu perbedaan dan kelebihan produk kita dengan mengikuti pelatihan dan pastinya mengonsumsi agar bisa menjelaskan ke konsumen. Lihat juga sistemnya, pilih yang transparan, pendapatan dan posisi yang sangat adil. Karena citra negatif itu, kini kami menyebutnya bisnis murni karena dilakukan dalam sistem bisnis dan cara promosi dan penjualan langsung ke masyarakat.

Saran kamu buat sebagian anak muda yang mendengar bisnis MLM saja sudah alergi?
Ini bisnis yang sesungguhnya sangat mudah, kekinian juga, karena bisa dijalankan dengan mempromosikan di media sosial atau bikin website tentang produk. Pilih produk yang sudah dikenal masyarakat luas dan kualitasnya sangat bagus, supaya jualannya lebih mudah. Kuncinya, fokus, tekun kerja keras dan tentunya pantang mundur.

Kamu mulai bisnis ini saat masih pelajar? Ada enggak sih keuntungan memulai sejak muda?
Usia muda sangat bagus untuk melakukan bisnis ini karena kita bisa lebih maksimal dan banyak tenaga, waktu dan kemampuan luar biasa. Kita juga sudah terbiasa dengan medsos untuk melakukan penjualan dan promosi. Apabila fokus menjalankannya, paling lama, 10 tahun kita bisa sukses.

Apakah ini cuma soal bisnis? Bagaimana korelasinya dengan wirausaha sosial, bisnis yang adil dan berdampak pada kehidupan orang lain?
Tentunya berdampak karena untuk jadi distributor, semua orang bisa, bisa dimulai sesuai modal yang dimiliki. Seperti yang aku alami, bisa dilakukan seorang pelajar, mahasiswa, dan kemudian berdampak bagi lingkungan terdekatku. (M-2)

Biodata
Nama: Yuni Rijayanti
Pendidikan: Sarjana Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi International Golden Institute

Sumber : Media Indonesia

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya