Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan

APLIKASI BIKIN JAGO MATEMATIKA


Berlatar batu bata berwarna merah dan diiringi musik yang ceria, tampilan pada aplikasi ini mengeluarkan soal-soal yang membuat otak kita berputar, 88 dikalikan 81 berapa, ya? Atau 428 ditambah 244 hasilnya berapa, ya? Ayo sobat Medi pada tahu tidak? Coba kamu jawab dengan waktu yang cepat, ya, karena jika lama menjawabnya, bisa-bisa enggak dapat skor nih hi hi....

Inilah serunya menjawab soal matematika di aplikasi Good Math ini. Kita dibuat makin deg-degan karena harus berpacu dengan waktu. Aplikasi quiz matematika ini bisa digunakan untuk belajar berhitung bahkan kamu bisa jago matematika seperti penciptanya, Muhammad Hafizh Bayhaqi. Yuk kenalan dengan dia!

Suka matematika
Matematika memang sering menjadi mata pelajaran yang tidak disukai karena susah, belum lagi banyak rumusnya ya. Hal ini berbeda dengan teman kita yang akrab dipanggil Hafizh ini. Cinta dengan matematika, Hafizh bahkan mengatakan ia ingin menjadi seorang matematikawan yang hebat lo sobat.

Hafizh yang masih berumur 10 tahun ini sangat menyukai matematika sejak dirinya kelas 2. "Aku suka matematika dari kelas 2, menurutku matematika itu tidak susah kok, malah itu pelajaran yang seru," kata Hafizh saaat diwawancara Medi, Rabu (4/10).

Kesenangannya dengan matematika didukung pula oleh sang ayah, Pak Abdul Hakim Budiman, yang juga sempat mengajar matematika di sekolah. "Dulu sempat mengajar juga, tapi ketika Hafizh mulai suka matematika, saya langsung fokus ke Hafizh untuk mengajarinya di rumah," kata Pak Abdul.

Pak Abdul punya cerita yang sangat berkesan mengenai pemahaman Hafizh memecahkan soal matematika. Hafizh yang saat itu masih kelas 3, berbeda pendapat dengan guru matematika di sekolahnya. "Ia (Hafizh) mengerjakan dengan benar tetapi gurunya itu yakin caranya salah. Hingga akhirnya Hafizh memutuskan untuk homeschooling bersama saya," lanjut Pak Abdul.

Coding sebagai pendamping
Berada di era digital sekarang ini, tentunya gawai (gadget) sudah begitu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Hal itu pula yang dirasakan Hafizh.

Tak hanya menjadi sarana komunikasi, gawai pun ia jadikan pula sebagai bahan belajar. Namun semangat Hafizh belajar ini sering tidak tersalurkan karena ia merasa aplikasi yang ada kebanyakan gim. Aplikasi tentang edukasi masih belum banyak.

Hebatnya, Hafizh tidak pasrah. Ia memutuskan untuk belajar membuat aplikasi dengan coding. Ya, tak hanya matematika, Hafizh pun kini mulai tertarik dengan coding. "Sejak setahun yang lalu aku belajar sendiri dari video tutorial di Youtube," kata Hafizh. Menurutnya, belajar coding pun tidak sulit lo, belajar coding justru melatih logika berpikir.

Hingga kini sudah ada tiga aplikasi yang dibuatnya. Selain Good Math, ada aplikasi quiz matematika yang dibuatnya dengan skala nasional. Namun, aplikasi ini terdapat beberapa kekurangan karena engine gim tersebut menggunakan software Construct 2 yang terbatas pada tool. Ada juga aplikasi bernama Puzzle Kartini dengan tiga tokoh Kartini masa kini yakni Ibu Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, dan Retno Lestari Priansari Marsudi.

Good Math
Di aplikasi yang baru launching sebulan yang lalu ini, Hafizh mengajak anak-anak untuk belajar matematika dengan quiz juga. Terdapat empat level yang masing-masing punya skor dan waktu untuk menjawab. Semakin tinggi levelnya, soal akan lebih sulit dan waktu semakin cepat.

Di aplikasi ini, ia memakai engine gim Unioty 3D dengan menggunakan bahasa pemprograman c#. Berbeda dengan Quiz Matematika, di Good Math pemain bisa memilih operasi hitungnya nih, misalnya penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau perkalian.

Hingga kini aplikasi tersebut sudah banyak diunduh lewat Playstore, Appstore, atau Tizen Store. Pengunduhnya tidak hanya di dalam negeri tapi juga dari beberapa negara seperti Rusia, Prancis, dan Tiongkok, lo. "Waktu itu Appstore sendiri me-review aplikasinya hingga kini banyak yang download terutama di luar negeri. Di Rusia sendiri sudah di-download 300, sedangkan Indonesia baru 80 saja," kata Hafizh.

Meskipun di dalamnya terdapat iklan, Hafidz mengatakan dirinya tak berniat mengambil keuntungan dari aplikasi ini. Ia hanya ingin anak-anak bisa lebih senang belajar matematika. Aplikasinya bisa berjalan dengan tanpa data atau offline kok sobat. Hafizh pun mengaku aplikasi ini cocok untuk semua umur karena terdapat level yang bisa dipilih. Hafizh berharap anak-anak bisa lebih memanfaatkan gawainya untuk hal positif, bukan hanya untuk bermain gim.

Penulis: Suryani Wandari Putri (Wartawati Media Indonesia)
Sumber: Media Indonesia

ROBOT KEREN KARYA KAKAK BERADIK


Robot berwarna putih dan hitam itu bergerak, maju beberapa sentimeter kemudian mundur dengan menggunakan kaki berodanya, tangannya kemudian disodorkan kepada juri. Ya mengajak bersalaman!

Robot yang dioperasikan lewat remote control oleh tangan mungil Syahrozad Nalfa Nadia dan Avicenna Roghid Putra Sidik, siswa Madrasah Pembangunan UIN Ciputat Jakarta, ini menunjukkan aksinya untuk bisa bersalaman dengan manusia saat olimpiade Asian Youth Robotic Olympiad (AYRO) 2016 yang digelar di Singapura. Lucu, ya, sobat!

Akan tetapi, tahukah sobat mereka bukan sekadar mengoperasikannya lo, melainkan juga membuat robot ini mulai ide, kerangka robot, hingga bisa bergerak. Hingga kini, robot buatannya ini telah bertanding dalam beberapa olimpiade robotik di berbagai negara, seperti ajang AYRO dengan memborong sembilan piala.

"Mereka memperoleh Gold Prize Medal Brick Speed, Gold Prize Medal, Silver Prize Medals Maze Solving Junior, dan Bronze Medal Aerial Robotic Junior," kata Ibu Himatul Laily Waisnaini, ibunda mereka berdua. Mereka berhasil membawa predikat sebagai juara umum ajang kompetisi robot internasional di Singapura. Keren, kan? Yuk kenalan dengan mereka!

Berawal dari Lego
Sobat, kepiawaian kakak beradik merakit robot ini tak disangka berawal dari kesukaan mereka bermain Lego. Itu, lo, permainan berbentuk kepingan plastik kecil yang memiliki bulatan-bulatan yang menonjol. Kepingan ini bisa disusun menjadi model apa saja seperti mobil, kereta api, bangunan, kota, patung, ataupun kapal. Kalian tentu sudah pernah memainkannya kan?

Permainan yang bisa melatih motorik halus, imajinasi, serta kecerdasan parsial atau kecerdasan ruang termasuk di antaranya kecerdasan dimensional dapat dilatih dan dikembangkan melalui konsep dasar bangun ruang mengenai panjang, lebar, dan tinggi sebuah bangun.

Berbagi tugas
Ketertarikannya untuk merancang robot diakui Syahrozad atau yang sering dipanggil Ocha berasal dari sang adik yang mengikuti ekstrakurikuler robotika terlebih dahulu. "Adikku yang mulai ekstrakurikuler duluan, dia sering latihan di rumah, akhirnya aku juga ikutan senang," kata Ocha.

Dalam urusan merakit robot, keduanya punya peran dan tugas berbeda tetapi saling melengkapi. Ocha bertugas melakukan pemprograman dan perakitan, sedangkan sang adik yang akrab dipanggil Ave ini bertugas mendesain robot. Ocha mengaku sangat senang bisa bekerja sama dengan sang adik.

Untuk membuat robot yang diberi nama humanoid, yakni robot yang bisa melakukan kegiatan sehari-hari seperti bersalaman ataupun salat ini, Ocha dan Ave memakai robot cero yang didesain sesuai dengan keinginan. "Robot cero dipilih karena pemrogramannya lebih sederhana," kata Ocha.

Berbagai kompetisi robotik
Sobat, robot ini pun sudah banyak mengikuti kompetisi robotik lo, seperti yang diikutsertakan dalam kejuaraan robotik tingkat Asia di Singapura, tingkat ASEAN di Malaysia, dan tingkat internasional di Korea. Saat Medi mewawancara mereka pun sedang berkompetisi di Wonderfull Indonesia Robot Challenge (WIRC) National di Puspa Iptek, Bandung, Jumat (13/10).

Di kompetisi ini Ocha dan Ave masuk kategori robot underwater (junior). Mereka harus teliti untuk membawa benda dari bagian tengah tangki dan menjatuhkannya pada keranjang. Tangkinya ini berbentuk L dengan dimensi 1.425 mm x 1.425 mm x 500 mm. Barang yang diangkat adalah kelereng dengan berat 3 gram sampai 7 gram. Kabar gembiranya, mereka juara 2, lo. Hebat, kan, sobat!

Selesai kompetisi ini Ocha dan Ave kembali disibukkan dengan persiapan berkompetisi kembali. "Pada 5 November 2017 mereka bersama-sama menuju Tokyo, Jepang, mewakili Indonesia untuk kompetisi robotik," kata sang ibu.

Ingin jadi dokter
Ditanya soal cita-cita, siapa sangka Ocha ingin menjadi dokter spesialis anak. "Cita-citanya dokter spesialis anak. Nanti pas jadi dokter spesialis anak, sarana prasarananya pakai robot," tandas Ocha.

Ya, robot akan menjadi sarana dia menjalankan profesinya agar anak-anak tak takut bertemu dokter.

Oh, ya, sobat, Ocha dan adiknya ini pun menjadi 72 Ikon Prestasi Indonesia Agustus silam, yakni festival paling bergengsi di Tanah Air lo. "Aku berharap bisa membanggakan Indonesia bahwa Indonesia juga bisa juara di tingkat internasional," kata Ocha.

Penulis: Suryani Wandari Putri (Wartawati Media Indonesia)
Sumber: Media Indonesia

BELAJAR BERSAMA MOBIL IQRO


Masih pagi, Para siswa belum pada datang tetapi mobil bertuliskan Mobil Iqro itu sudah parkir di depan sekolah Badan Keluarga Balita Pendidikan Usia Dini (BKP PAUD) Matahari, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (29/11). Bagian jendela terbuka lebar ke atas, bagian belakangnya pun terbuka. Bukan untuk membawa penumpang, mobil ini malah dijadikan perpustakaan keliling dengan koleksi buku yang lumayan banyak di dalamnya. Wah, keren, ya, sobat!

Mobil perpustakaan keliling ini, dibuat khusus dan rutin mengunjungi sekolah-sekolah di Jakarta sekitarnya dalam menyiarkan paham tentang agama Islam. Mau tahu lebih lanjut sobat? Ikuti Medi (Media Anak) ya!

Belajar huruf Hijaiah
Saat semua siswa sudah berkumpul di sekolah, Suryani Tholib, kepala sekolah BKB PAUD Matahari, mempersilakan anak-anak untuk mengambil buku yang ada di Mobil Iqro. Semua bersemangat, mereka meraih buku dari rak mobil.

Kak Fikri, tutor Mobil Iqro meraih buku bersampul hitam. Pelajaran membaca Alquran pun dimulai. "Alif, ba, ta, sa, jim, ha, kho...," kata Kak Fiqri sambil menyanyikan huruf hijaiah bersama-sama. Kak Fiqri pun menjelaskan ciri-ciri setiap bentuk huruf agar mereka hafal.

Koleksi buku
Ya, bukan hanya menyediakan buku, sang tutor turun langsung untuk mengajarkan pelajaran yang berhubungan dengan agama Islam, misalnya, berwudu dan salat. Bahkan mobil ini punya koleksi buku mencapai 1.500, tetapi di bagian belakangnya, terdapat televisi untuk menampilkan film yang berkaitan dengan Islam, seperti kisah teladan nabi dan lainnya. Wah seru ya sobat!

"Anak-anak senang sekali kalau ada Mobil Iqro ada disekolah. Selain bentuknya lucu, mereka bisa menemukan banyak sekali buku. Bahkan orangtua yang mengantarkan, bisa ikut membaca," kata Ibu Suryani.

Mengunjungi sekolah marginal
Pasti sobat medi ingin bertemu Mobil Iqro ini kan? Menurut Kak Fikri, Mobil Iqro memilih tempat yang akan dikunjunginya, target utamanya, sekolah serta tempat marginal yang dekat dengan sungai dan lokasi pembuangan sampah pinggiran kota.

Setiap hari mobil ini beroperasi rutin mengunjungi sekolah-sekolah. Satu sekolah bisa dikunjungi Mobil Iqro ini sekali seminggu selama tiga bulan.

Mobil Pintar
Selain Mobil Iqro, ada mobil istimewa lain yang dimiliki pengusaha pemilik Yayasan CT Corps, Chairul Tanjung, namanya Mobil Pintar yang menyediakan macam-macam buku dan aneka kegiatan belajar, mulai mendongeng, menggambar, hingga prakarya. Mobil Pintar bertujuan mengantarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak, terutama di daerah kurang mampu.

Medi menjumpainya di kawasan Kedaung, tepat di pinggir Kali Angke, Daan Mogot, Jakarta Barat. Di sana, Kak Neneng memulai kegiatan dengan membacakan dongeng menggunakan boneka. Para penontonnya, anak-anak yang tinggal di permukiman padat itu, tertawa bahagia melihat aksi Kak Neneng. Selanjutnya, diputar film Si Unyil.

Film usai diputar, anak-anak berpindah ke buku-buku yang disimpan di mobil. Mereka meraihnya satu per satu dan membacanya. Anak yang belum bisa membaca dibacakan kakak-kakaknya.

Terakhir, Kak Neneng mengajak membuat prakarya menggunakan kertas, lem dan gunting. Semuanya bersemangat dan diperbolehkan membawa pulang karyanya. "Sampai jumpa lagi minggu depan ya!" ujar Kak Neneng yang seperti Mobil Iqro mengunjungi lokasi perkampungan penduduk selama tiga bulan, sebelum berpindah ke lokasi lain.

Tak cuma Mobil Iqro, ada juga mobil yang tak kalah kerennya yaitu Mobil Sehat. Didalam Mobil Sehat, ada ruangan praktik dokter, dengan pelayanan kesehatan umum dan gigi cuma-cuma. Ayo, siapa mau jadi dokter agar juga bisa berbagi? (M-1)

Penulis: Suryani Wandari Putri (Wartawati Media Indonesia)
Sumber: Media Indonesia


SERUNYA MENGINTIP FENOMENA SUPER BLOOD MOON


Rabu (31/1) malam lalu, Sobat Medi (Media Anak) bersama warga telah memenuhi pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Semua yang hadir di situ, menghadap ke langit! Memangnya ada apa sih?

Ya, Sobat Medi bersama 5.000 orang lebih yang hadir di TIM, termasuk anak-anak, yang mayoritas tinggal di Jabodetabek itu datang untuk menyaksikan fenomena super blue blood moon.

“Ada 5.000 lebih yang datang. Kita menyediakan 16 teleskop yang tersebar di beberapa titik,” ujar Pak Eko Wahyu, Kepala Satuan Pelaksana Teknik Pertunjukkan dan Publikasi Planetarium Jakarta.

Wow, namanya keren ya, tapi kira-kira apa sih super blue blood moon ini?

Kenapa banyak orang begitu bersemangat menyaksikannya dan enggak mau melewatkan momen ini ya? Ya, seperti yang juga banyak dikupas di media, super blue blood moon ini salah satu peristiwa gerhana bulan total. Namun, ia juga istimewa karena peristiwa ini gabungan dari tiga fenomena bulan.

Gerhana bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke bulan. Kalian pasti tahu kan, yang punya sumber cahaya kan matahari. Oh iya, gerhana ini terjadinya saat bulan purnama ya, sedangkansuper blue blood moon ini, gabungan tiga fenomena nih, Sobat Medi. Ada super moon, blue moon, dan terakhir blood moon.

Berkat teleskop
Syukurlah, meski sempat tertutup awan, karena cuaca sore hari itu hujan, menjelang masuk gerhana bulan total, bulannya terlihat. Puncaknya, pukul 20.30, bulan terlihat merah.

Enggak sia-sia deh Medi ikut beramai-ramai untuk menyaksikan fenomena yang menurut kakak-kakak Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ), akan terulang kembali 150 tahun mendatang! Wah, lamanya. Mungkin nanti yang akan melihat fenomena super blue blood moon cucu kita ya, Sobat Medi.

Oh iya, kalian tahu enggak sih, alat yang digunakan untuk melihat benda-benda di langit supaya terlihat jelas? Ya, betul sekali, teleskop!

Sudah tahu, ada berapa jenis teleskop? Kak Indra Firdaus, Ketua HAAJ, memaparkan, secara umum terdapat dua jenis teleskop, yaitu reflektor dan refraktor.

Apa ya, perbedaannya? “Bedanya, di perangkatnya, juga kesesuaian kebutuhan penggunaan. Reflektor itu untuk perangkat berbasis cermin, dan lebih nyaman digunakan untuk pengamatan. Nah, kalau refraktor, basisnya lensa, jadi lebih enak kalau untuk motret,” kata Kak Indra.

Tonton gerhana berikutnya
Salah satu Sobat Medi yang ikut datang ke TIM ialah Syakira Putri Ramadhani. Ia datang bersama ayah dan bundanya dari rumahnya di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. “Ini baru pertama kali lihat gerhana bulan secara langsung,” kata Syakira.

Mengamati fenomena alam seperti gerhana bulan ini penting lo, Sobat Medi. Selain untuk mengenal lebih dalam fenomena alam, juga menjadi praktik langsung dari buku-buku yang kita pelajari.

Untuk Sobat Medi yang masih ingin melihat gerhana, pada tahun ini masih ada kok, bahkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memprediksi gerhana bulan total akan kembali terjadi pada 28 Juli nanti. Fenomena ini bisa dilihat dari Indonesia.

Namun, selain itu, ada fenomena-fenomena langit yang tak kalah seru, tapi tak dapat dipantau dari Tanah Air, yaitu gerhana matahari sebagian pada 15 Februari, 13 Juli, dan 11 Agustus. (M-1)

Cari Tahu Yuk
Yuk kita kupas satu persatu pengertian super blue blood moon ini, Sobat Medi. Ada super moon, blue moon, dan terakhir blood moon.
1. Super moon merupakan fenomena ketika jarak bulan dengan bumi paling dekat. Jadi bulan terlihat lebih besar dan lebih terang daripada biasanya.
2. Terus, kalau blue moon, yaitu ketika dua kali bulan purnama terjadi pada bulan yang sama dalam kalender Masehi. Kok dua kali, memang yang satunya terjadi kapan?
3. Kalau Sobat Medi masih ingat, bulan purnama pertama di Januari terjadi saat malam tahun baru! Nah, blue moon kali ini terjadi karena bulan purnama terjadi lagi pada Januari.
4. Blood moon, ternyata enggak seseram namanya, darah. Blood moon ini merupakan fenomena gerhana bulan total, yang saat puncak totalnya berwarna merah seperti darah. Meski namanya bulan darah, indah banget lo, Sobat Medi!
5. Kenapa bisa berwarna merah ya? Menurut Kak Nural dari Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ), merahnya ini disebabkan pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer dari Bumi. (*/M-1)

Penulis: Fathurrozak Jek
Sumber: Media Indonesia


KAMU PILIH DIDONGENGIN MAMA APA YOUTUBE

“Siapa yang tahu suara kerbau?” Tanya kak Najwa Shihab kepada Sobat Medi. Mereka pun menyahut, “Mmoooo..” Itu kan, suara sapi, jawab Kak Najwa.

Di lantai dasar Museum Nasional, Jakarta, para Sobat Medi ini mendengarkan cerita. Kisah pertama dari Sulawesi Selatan. Tokohnya La Dana dan seekor kerbau. Alkisah, La Dana bersama temannya Sappang, datang pada Rambu Solo, upacara kematian di Toraja. Mereka juga para tamu yang datang lain mendapat bagian dari potongan kerbau.

Sobat Medi suka mendengar dongeng? Biasanya mendengarkan atau menonton cerita dongeng juga nih?

Nah, sekarang ini dongeng tidak hanya bisa dibaca di buku, tapi juga bisa dicari di Youtube. Pasti sering, kan? Tapi Sobat Medi harus tetap minta didampingi bunda atau ayah ya, kalau mencari dongeng lewat internet.

Memberi pilihan, agar dongeng seru
Kak Najwa Shihab, atau akrab disapa Kak Nana, dulu juga sering didongengi lo, Sobat Medi. “Sering diceritai kisah nabi-nabi, ada Nabi Sulaiman, juga didongengi Abu Nawas. Abu Nawas itu kan orangnya cerdas, kalau melawan penguasa yang zalim, bukan dilawan dengan kekerasan, justru dengan jenaka,” cerita Kak Nana dalam acara Dongeng Yuk, yang diselenggarakan Youtube bersama Ayo Dongeng Indonesia, Sabtu, (27/01).

Menurut Kak Nana, kalau mau jadi pendongeng, ternyata enggak boleh egois, bertindak semaunya si pendongeng. Pendongeng harus juga bertanya kepada pendengarnya, jalan cerita berikutnya mau seperti apa. Namun, tetap harus diberi tahu konsekuensi dari setiap pilihan itu. “Cara itu akan mengembangkan daya imajinasi anak-anak, dan bisa membangun cerita.”

Belajar dari cerita
Sementara itu, Kak Ario Zidni, pendiri Ayo Dongeng Indonesia, menambahkan, melalui cerita, ia bisa meneladani nilai dalam cerita. Ia pun mengenang masa kecilnya ketika mendapat cerita tentang kunang-kunang.

“Ini cerita dari Jawa Tengah dan Yogya. Jadi kalau kuku-kuku kotor itu, yang sudah dipotong, malamnya akan terbang dan berubah jadi kunang-kunang. Kunang-kunang itu baik lo, ia mau berbagi. Dengan sinarnya, ia bisa menerangi di malam hari.”

Ayo dongengi kami
Kak Ario juga berpesan nih untuk Ayah dan Bunda Sobat Medi. “Kalau mau mendongeng untuk anak, jangan cari waktu luang. Tapi harus punya komitmen, misal jam berapa mau mendongengkan untuk anak.”

Sobat Medi yang datang ke acara Dongeng Yuk ini juga sangat antusias lo. Seperti Khansa Fauzia dan Izzati Zafira, yang sudah berangkat dari Bekasi pukul 09.00 menggunakan kereta. Bersama bundanya, mereka memang terbiasa datang ke acara mendongeng.

Sang pendongeng cilik
Ada juga Olivia Karenina Syahir, yang rupanya sudah memiliki empat dongeng yang diterbitkan secara e-book. Wah, keren ya, Olivia! Menurut Bunda Olivia, tante Rezki, “Olivia memang kemampuan bahasanya menonjol, jadi sejak usia dua tahun dia sudah terbiasa dengan cerita. Olivia bercerita, saya merekam, jadilah dongeng-dongengnya. Dia sekarang sedang belajar menulis sendiri dongengnya.”

Wah, hebat ya teman kita Olivia. Kalau Sobat Medi mau membaca cerita Olivia, kalian bisa akses di Serusetiapsaat.com.

Olivia juga sering datang ke acara-acara mendongeng. Ia pun mengidolakan Kak Ario Zidni. Jadi, setiap acara mendongeng yang ada kak Ario, Olivia pasti datang. Nah, enggak sia-sia juga nih, Olivia datang pagi-pagi dari Tebet, Jakarta Timur, untuk ikut mendengar dongeng. Siapa tahu, setelah pulang, Olivia punya cerita baru untuk dongengnya ya, Sobat Medi.

Kalau kalian, berani menulis cerita dongeng sendiri? Siapa tahu Sobat Medi juga bisa seperti Olivia yang sudah punya cerita dongeng di e-book. Sekarang, Sobat Medi tidak perlu khawatir kekurangan bahan cerita. Bukan hanya dari buku, kalian juga bisa akses lewat internet. Belajar mendongeng yuk! (M-1)

Penulis: Fathurrozak Jek
Sumber: Media Indonesia


DARI HARI ANAK NASIONAL KE GERAKAN REGIONAL


Indonesia baru saja pada akhir tahun lalu menghasilkan dua legislasi penting. Pertama, Undang-Undang Perlindungan Anak. UU ini merupakan hasil kerja supercepat legislatif dan eksekutif sebagai respons terhadap situasi Indonesia terkini yang disebut Komisi Perlindungan Anak Indonesia sebagai darurat kejahatan seksual terhadap anak. Kedua, Instruksi Presiden tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental. Inpres ini memberikan penegasan bahwa rumah dan sekolah merupakan basis utama penciptaan lingkungan ramah anak dan nirkekerasan.

Sebagai salah satu negara terbesar di dunia, baik dari sisi bentangan geografis maupun jumlah penduduk, situasi perlindungan anak Indonesia niscaya dianggap sebagai potret nyata tentang hal yang sama di kawasan Asia bahkan dunia. Dengan dasar berpikir seperti itu, pertanyaan mendasarnya ialah apakah kegentingan dimensi keamanan anak-anak di Indonesia juga mencerminkan realitas tingginya risiko anak-anak di seantero wilayah Asia?

Tentu butuh kajian mendalam untuk menjawabnya. Namun, sebagai ilustrasi, Child Helpline International memetakan situasi kekerasan di 145 negara. Hasilnya cukup melegakan jika dibandingkan dengan belahan dunia lainnya, rerata kekerasan terhadap anak di kawasan Asia Pasifik sebesar 10%. Angka ini separoh dari rerata di Afrika, Eropa, dan Amerika. Bahkan sepertiga dari rerata di Timur Tengah.

Kabar baik tentang situasi keamanan dunia sebetulnya juga pernah disampaikan oleh Profesor Steven Pinkler lewat bukunya, The Better Angels of Our Nature: Why Violence has Declined, pada 2011 silam. Profesor Pinkler menyimpulkan bahwa anak-anak masa kini menjalani hidup yang lebih aman daripada di masa lalu.

Itu bertolak belakang dengan pemberitaan media tentang perundungan, penculikan, kekerasan fisik dan seksual, serta berbagai perlakuan salah lainnya terhadap anak. Namun, mari kita bicara tentang dunia anak-anak Asia dengan membandingkan data sesama kita, sesama negara Asia.

Meta-analisis estimasi UNICEF pada 2014, yang dimuat dalam Violence Against Children in East Asia and the Pacific - A Regional Review and Synthesis of Findings, memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap anak tersebar di seluruh wilayah Asia.

Itu baru satu masalah. Masalah berikutnya ialah segala bentuk kekerasan terhadap anak berhubungan dengan masalah kesehatan mental dan depresi. Ambil misal, dalam persentase yang besar, perilaku menyakiti diri sendiri, pemikiran dan upaya bunuh diri dialami lebih tinggi oleh anak-anak yang mengalami kekerasan psikis.

Anak-anak korban kekerasan fisik memulai perilaku merokok pada usia belia. Semua ragam kekerasan menjadi penyebab anak menjadi pecandu minum keras dan penyalah guna zat adiktif berbahaya. Satu lagi, dan ini sangat menakutkan, anak-anak yang mengalami kekerasan seksual tumbuh dewasa menjadi predator seksual serta mengembangkan beraneka bentuk masalah dalam relasi sosial mereka.

Mirip dengan Indonesia, laporan kasus tentang anak-anak yang mengalami kekerasan di negara-negara Asia lainnya juga menunjukkan tren kenaikan yang ajek. Kita sejenak bisa membuat tafsiran positif tentang temuan UNICEF itu. Pada satu sisi, persepsi masyarakat Asia mengenai kekerasan terhadap anak tampaknya telah berubah.

Dulu masalah semacam itu dianggap sebagai kejadian domestik yang tidak semestinya diintervensi oleh pihak luar keluarga. Akibatnya, masyarakat enggan melapor kepada penegak hukum betapa pun mereka mengetahui atau bahkan anak mereka sendiri telah mengalami kejahatan keji tersebut. Namun, kini masyarakat paham bahwa korban kanak-kanak harus ditolong.

Anak-anak yang menderita kekerasan bukan lagi individu-individu yang boleh dipaksa tutup mulut. Perubahan sikap tersebut membuat masyarakat lebih terbuka, lebih responsif, sekaligus lebih percaya diri untuk selekasnya mendatangi polisi ataupun lembaga-lembaga perlindungan anak guna melaporkan masalah mereka. Kondisi psikologis masyarakat sedemikian rupa tentu akan mengakibatkan meningginya data kejahatan terhadap anak, baik yang terkumpul di kepolisian maupun lembaga-lembaga perlindungan anak. 


Satu tarikan napas dengan masyarakat, media massa pun menaruh atensi lebih mendalam terhadap peristiwa-peristiwa kekerasan terhadap anak. Stamina media yang lebih tinggi terwujud dalam liputan berhari-hari dan tulisan berkolom-kolom.

Gempuran pemberitaan yang intens itu menghajar kesadaran publik, yang disusul dengan tumbuhnya kengerian sekaligus kemarahan terhadap para pelaku kekerasan serta keinsafan akan pentingnya upaya lebih masif untuk melindungi anak-anak.

Tak bisa disampingkan sama sekali ialah respons lembaga penegakan hukum, utamanya kepolisian, baik terhadap laporan masyarakat maupun informasi dari media tentang kejahatan seksual tersebut. Kentara, betapa polisi bekerja lebih keras guna mengungkap kasus-kasus kejahatan terhadap anak. Konsekuensi dari kuatnya reaksi masyarakat, media, dan polisi sebagaimana dilukiskan di atas tak lain ialah meningginya angka kejahatan seksual terhadap anak.

Naiknya laporan kasus kekerasan terhadap anak justru boleh jadi mengandung titik cerah bahwa segenap unsur masyarakat Asia kini lebih mafhum, lebih waspada, serta lebih kuat dalam memerangi kejahatan-kejahatan seksual terhadap anak. Kemampuan yang berbasis pada kemitraan antara penegak hukum dan masyarakat, tentunya, pantas diharapkan menjadi senjata sakti untuk melawan kejahatan biadab ini.

Uraian ini menjadi dasar untuk membangun simpulan yang lebih positif bahwa ketangguhan masyarakat Asia dalam menindak pelaku kejahatan seksual terhadap anak justru kini lebih hebat. Pertanyannya, dengan ketangguhan yang telah terbangun sedemikian rupa, bagaimana dengan peranti hukum terkait perlindungan anak di negara-negara lain se-Asia?


Penulis: Seto Mulyadi 
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma,Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia
Sumber: Media Indonesia

KAJI MATANG PERUBAHAN SISTEM PENDIDIKAN

Wacana perombakan porsi pendidikan bagi sekolah dasar dan menengah dianggap sebagai hal yang akan berdampak baik bagi sistem pembelajaran siswa. Namun, hal tersebut juga harus dilakukan dengan persiapan matang dan terlebih dahulu melalui kajian yang mendalam.

Pengamat pendidikan Doni Koesoema mengatakan jumlah mata pelajaran di SD dan SMP selama ini memang cenderung terlalu banyak. Hal itu berpotensi membebani siswa. Wacana perombakan porsi mata pelajaran menjadi salah satu yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

“Pemerintah, kalau memang mau melakukan perombakan, juga harus terlebih dulu mengkaji dampak dan model alternatif yang akan diterapkan nantinya,” ujar Doni.

Dikatakan Doni, alternatif yang dipilih nantinya harus membuat proses pembelajaran menjadi lebih sesuai dengan tahap perkembangan anak. Selama ini, kurikulum SD dan SMP banyak mengandung ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan tahapan pengetahuan yang seharusnya diberi seusai sekolah dasar dan menengah.

“Selain itu, kalau mata pelajaran dikurangi, juga perlu dikaji bagaimana dengan solusi para guru. Kalau ini berlaku jangka panjang, perlu dikaji kebijakan kurikulum di LPTK (lembaga pendidikan tenaga kependidikan) universitas,” ungkap Doni.

Selain itu, dikatakan Doni, mengurangi jumlah mata pelajaran butuh analisis kompleksitas. Pengurangan mata pelajaran harus diimbangi dengan konsep pembentukan karakter yang jelas.

“Perubahan besar seperti ini membutuhkan persiapan dan analisis yang menyeluruh, dilakukan objektif dan terbuka,” ungkap Doni.

Perombakan besar
Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan Presiden Jokowi menghendaki adanya perombakan besar-besaran di bidang pendidikan. Hal itu dikemukakan Muhadjir dalam acara penganugerahan Kawastara Prawita kepada pemerintah daerah dan yayasan yang memiliki komitmen tinggi menyelenggarakan Program Penyiapan Calon Kepala Sekolah (PPCKS) di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (15/10).

Menurut Muhadjir, Presiden Jokowi mengamanatkan kepadanya untuk membangun pendidikan yang kuat dan berkarakter. Pembangunan karakter itu difokuskan pada jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama

“Kalau memungkinkan, nanti pelajaran di SD dan SMP akan dikurangi. Sekarang sedang dikaji,” katanya.

Sesuai platform Nawa Cita, lanjut Muhadjir, porsi pelajaran pada jenjang SD sebesar 30%, sisanya untuk pendidikan karakter. Untuk SMP, pelajaran 40% dan 60% pendidikan karakter. Pendidikan karakter tersebut, menurutnya, dalam pelaksanaannya tidak perlu diseragamkan karena yang ditekankan di sini ialah membangkitkan kearifan lokal sehingga bentuk pendidikan karakter di setiap daerah akan berbeda-beda.

Dalam kesempatan itu, Muhadjir juga mengemukakan wacana untuk mewajibkan para guru berada di sekolah selama jam kerja. Utamanya para guru yang sudah berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan swasta yang sudah mendapatkan tunjangan profesi.

Muhadjir menegaskan para guru tidak boleh lagi menyuruh anak-anak kembali ke sekolah setelah pulang sekolah. Itu supaya anak-anak bisa menik-mati waktu bersama keluarga mereka. “Belajar harus tuntas di sekolah. Jangan ada lagi guru yang mewajibkan les kepada muridnya.” (FR/H-2)

Penulis: Putri Rosmalia OctaviyanI
Sumber : Media Indonesia

PENDUKUNG PENDIDIKAN VOKASI

Dalam dialog yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan RI, Muhadjir Effendi, dengan atase pendidikan dan kebudayaan beberapa Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (Atdikbud Kedubes RI) beberapa negara, seperti India dan Malaysia, muncul bahasan penting terkait kerja sama internasional.

Kerja sama internasional itu akan terus ditingkatkan khususnya agar kualitas pendidikan vokasi semakin baik. Muhadjir mengatakan, terdapat tiga isu yang dibahas untuk memulai pelaksanaan hal itu.

Mulai rencana pemberian sertifikasi bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK), peluang kerja sama magang di perusahaan internasional, dan rencana pelatihan bertaraf internasional bagi siswa vokasi.

Rencana program magang internasional dengan beberapa negara merupakan salah satunya.

"Melalui dialog dengan atase pendidikan kebudayaan dan kedutaan yang hadir upaya peningkatan kerja sama magang dikatakan akan di-follow up untuk diintenskan," ungkap Muhadjir selepas menutup rangkaian acara Wolrd Culture Forum (WCF), 2016, di Nusa Dua, Bali, kemarin.

Sementara itu, peningkatan terutama akan dilakukan pada empat bidang kompetensi, yakni kelautan dan maritim, pariwisata, pertanian yang berorientasi pada ketahanan pangan dan ekonomi kreatif.

"Desakan kebutuhan SMK yaitu berupa penyiapan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan. Kita akan benahi skema pelatihan yang akan naik jadi sebesar 30% kegiatan belajar mengajar, menggandeng lembaga magang perusahaan internasional, dan rencana sertifikasi bagi tiap pelatihan yang dilakukan tersebut," ujar Muhadjir.

Atdikbud Kedubes RI untuk New Delhi-India, Iwan Pranoto, mengatakan, arah kerja sama Indonesia-India di bidang pendidikan vokasi bukan berupa saling meniru, tetapi dengan menyediakan langkah-langkah strategis untuk siapkan tenaga terampil.

Menurutnya, kesamaan karakteristik Indonesia dengan India dalam jumlah penduduk yang besar dapat menjadi potensi yang menguntungkan kedua negara.

Dengan India, bentuk kerja sama yang memungkinkan berupa pengiriman praktisi dari India untuk mengajari siswa Indonesia.

Rencana kerja sama juga akan dilakukan pada sertifikasi bagi siswa lulusan vokasi.

"Sertifikasi itu sangat penting sebagai pengakuan atas keahlian para siswa. Hal itu akan memberi manfaat besar bagi kita," ungkap Iwan.

Sementara itu, Atdikbud Kedutaan Besar Kuala Lumpur, Ari Purbayanto, mengungkapkan pemberian perizinan dan kerja sama sangat memengaruhi rencana kebijakan sertifikasi bagi pelajar Indonesia di Malaysia karena terdapat dua model perizinan sekolah yang berbeda bagi pendidikan anak Indonesia di Malaysia. (H-5)

Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani
Media Indonesia

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya