Tampilkan postingan dengan label NTB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTB. Tampilkan semua postingan

MEDIA GROUP PULIHKAN AKSES PENDIDIKAN PASCAGEMPA LOMBOK


KETUA Yayasan Dompet Kemanusian Media Group, Ali Sadikin mengatakan, Kami tidak melupakan Lombok, Hanya mengalik perhatian sejenak ke Sulawesi Tengah. Media Group tetap pada komitmennya memulihkan kembali akses-akses pendidikan tidak hanya di Lombok, tetapi juga di Sulawesi Tengah.

"Pemulihan sistem pendidikan merupakan salah satu aspek krusial dalam penanganan pasca bencana. Segenap lapisan masyarakat wajib bahu-membahu membangun kembali daerah yang terdampak bencana,” kata Ali Sadikin saat penempatan tenaga pendamping di Lombok, Senin (14/10)

Yayasan Sukma sebagai bagian dari Dompet Kemanusiaan Media Group melakukan kerja kemitraan dengan beberapa sekolah terdampak gempa di Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk memulihkan pendidikan pascagempa. “Guru pendamping dari Yayasan Sukma yang sudah berpengalaman dalam penanganan pasca tsunami Aceh akan menetap di Lombok selama masa pemulihan,” jelasnya.

Sejumlah sekolah mitra dimaksud, antara lain Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ishlahul Ummah, SDN 3 Pemenang, dan SDN 1 Sigar Penjalin di Kabupaten Lombok Utara. Berikutnya di Kabupaten Lombok Barat SDN 2 Kekait, dan MI At-Tahzib dan SDN 5 Pohgading, Kabapaten Lombok Timur. "Sekolah-sekolah itu segera kita bangun ulang karena rusak berat akibat diterjang gempabeberapa waktu lalu," ucap Ali Sadikin.

Pada kesempatan yang sama, Ketua tim relawan Yayasan Sukma untuk Lombok, Syamsir Alam yang didampingi Fuad Fachrudin, mengatakan timnya yang berjumlah 8 orang telah mendatangi setiap sekolah. “Kami telah melakukan diskusi dengan pemangku kebijakan di setiap wilayah, bupati, kepala dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, tokoh masyarakat, dan siswa. Sejumlah program twinning schools yang bakal dilakukan dalam kerja sama tersebut.” Pungkasnya.

Sumber: MI
#PrayForLombok #PrayForNTB
.

ANTARA SULAWESI TENGAH & NUSA TENGGARA BARAT


DUKA kembali menerpa Indonesia. Belum selesai berbenah dengan bencana Lombok kini dihadapkan lagi dengan benca gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, yang hingga saat ini, kondisi di lokasi bencana Sulteng, tercata 832 orang meninggal dengan rincian; 821 warga Palu dan 11 dari Kabupaten Donggala, kemungkinan korban akan terus bertambah,” ucap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho

Ada dana siap pakai di BNPB sebesar Rp 560 miliar untuk memberikan bantuan penanganan darurat ke Suteng. BNPB juga belum selesai menangani bencana Lombok, karena Ribuan korban gempa Lombok dan Sumbawa masih memerlukan banyak bantuan. Percepatan pemulihan masih dilalukan. “jadi kita membutuhkan dana triliunan, Ayo… bergerak bersama menangani bencana" pungkas Sutopo. (AB)

Penulis: Abunawar Bima

.

RIMPU, BUDAYA YANG MENGAKAR DARI SYARIAT ISLAM


Rimpu merupakan perpaduan unik antara budaya Indonesia dengan syari’at Islam yang kuat. Rimpu juga menunjukkan jati diri bangsa tanpa meninggalkan identitas Islam.
***

Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan menggunakan sarung tenun khas (tembe nggoli) yang terdiri dari 2 (dua) lembar sarung, satu digunakan untuk bagian atas (rimpu) dan satunya lagi untuk menutup bagian bawah, biasanya para lelaki menggunakannya untuk katente tembe. Cara memakai rimpu cukup sederhana, kain bagian atas dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah (rimpu colo) atau terlihat matanya saja (Rimpu Mpida)

Seiring kemajuan menenun, Rimpu tidak hanya menggunakan tembe nggoli, kini tersedia beragam songket dengan motif-motif yang indah, namun motif yang banyak digunakan adalah motif dari slogan Nggusu waru seperti: (Bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli dengan menggunakan benang rayon. Perpaduan unik dari ragam motif tersebut membuat Rimpu tampil indah dan elegan.

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya.

Hal tersebut juga menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu pada saat itu mampu menciptakan kreasi busana yang tetap merujuk pada model atau tatakrama berbusana perempuan Arab, maka jadilah rimpu yang lebih simpel dan mudah menggunakannya.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Ncolo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka.

Seiring kemajuan peradaban dunia yang kian moderen, dengan segala kemudahan dan kecepatan mengakses informasi, dampak dan berpengaruh terhadap generasi muda mulai terlihat. Betapa tidak , dengan perkembangan yang kian pesat tersebut, perilaku manusia secara nyata telah beralih ke fenomena baru, salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi ditangan-tangan kreatif yang mulai menanggalkan akar budayanya sendiri ke budaya barat.

Lihat saja, seorang wanita lugu dari desa yang mencoba meraih mimpi diajang pesona bintang, disaksikan jutaan mata dilayar kaca, tiba-tiba dalam sekejab dandanannya berubah total dirias sesuai tuntutan kerlap-kerlipnya panggung bintang. Apakah fenomena ini menjadi bagian dari lunturnya kecintaan generasi muda yang menganggap akar budayanya sudah kuno? Padahal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya.

Melestarikan budaya bukanlah pekerjaan mudah, Pemerintah, pejabat terkait atau pemerhati budaya harus senergi dan secara terus menerus mengenalkan akar budaya pada generasi muda, misalnya dengan menyelenggarakan pawai budaya atau pentas seni budaya. Hal itulah yang menjadi acuan bagi perantauan asal Bima-Dompu sejabodetabek menyelenggarakan 'Festival Rimpu Bima Dompu di Monas, Minggu 15 juli 2018 mendatang.

Salah satus pencetus ide Festival Rimpu Bima Dompu 2018, Bams Uba Zeo mengatakan, Semangat kebersamaan Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Bima, Kota kecil diujung pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya (Rimpu ) di jantung Ibukota Negara ( Monas ) Jakarta adalah hal yang spetakuler, dan akan lebih spektakuler jika Pemerintah ikut mendukungnya. “Saya mengajak semua elemen masyarakat Bima Dompu, Ayo rame-rame, ke Monas, Minggu 17 Juli 2018, Kita tunjukan pada dunia, inilah Rimpu, Inilah Budaya, Inilah Indonesia yang kaya akan keberagamanan Budayanya ”. (AB)

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya