Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

KETEKUNAN DAN KREATIVITAS KUNCI ATASI ANAK PICKY EATER



ANAK yang pilih-pilih hanya mau makan makanan tertentu (picky eating), bahkan tidak mau makan sama sekali, kerap menjadi problem yang dialami banyak ibu. Termasuk artis Nagita Slavina, ibu dari Rafathar Malik Ahmad, anak balita berusia tiga tahun.

"Pernah Rafathar enggak mau makan sayur. Pernah juga dia enggak mau makan apa-apa, maunya minum susu terus," tuturnya saat hadir dalam talk show kesehatan anak sekaligus peluncuran Susu Curcuma Plus oleh Soho Global Health di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Awalnya, dia sempat panik karena khawatir asupan gizi Rafathar kurang. Namun, berkat konsultasi dengan dokter, sharing pengalaman dengan ibu-ibu lain, dan menambah pengetahuan melalui berbagai bacaan, perempuan yang akrab disapa Gigi itu bisa juga menyelesaikan masalah tersebut.

"Aku akalin, kalau Rafathar lagi enggak suka makan nasi, ganti dengan sumber karbohidrat lain, seperti kentang atau roti. Sayuran aku olah, campur dengan daging giling, atau diblender bikin smoothie bareng buah. Alhamdulillah bisa teratasi. Menurutku, kalau menghadapi anak picky eater yang penting kita tetap tenang dan kreatif dalam menyajikan makanan maupun membujuk si anak," tuturnya.

Selain itu, dalam memilih susu untuk Rafathar, Gigi kini mengandalkan susu yang mengandung temulawak. "Di Rafathar, susu dengan temulawak ini ngefek banget meningkatkan nafsu makannya, jadi membantu banget, termasuk dalam mengatasi saat-saat dia lagi susah makan atau picky eating," sambungnya.

Pada kesempatan sama, dokter spesialis anak Prof dr Rini Sekartini SpA(K) menjelaskan, problem anak picky eating umumnya disebabkan kurangnya variasi makanan anak. Anak tidak boleh memilih makanan yang disukai, suasana di rumah tidak menyenangkan, kurang perhatian orangtua, atau contoh yang kurang baik dari orangtua.

"Kalau anak tidak suka sayur, coba perhatikan apakah orangtua sehari-hari sudah gemar mengonsumsi sayur? Karena anak cenderung meniru kebiasaan orang sekitarnya," ujar Rini.

Salah kaprah

Terkait dengan upaya mengatasi picky eating, Rini menyebut banyak orangtua salah kaprah menyiasatinya dengan mengandalkan susu sebagai solusi. Anak diberi banyak susu dengan harapan kebutuhan gizinya tercukupi. Padahal, tegas Rini, susu sebetulnya hanya pelengkap.

Ia menjelaskan, susu memang kaya gizi, tapi kandungan zat besi di dalamnya biasanya kurang optimal. Dalam 1.000 cc susu hanya mengandung 0,5-2 mg zat besi, sedangkan bayi satu tahun saja butuh 6 gram zat besi setiap hari.

"Itulah mengapa sebaiknya orangtua tidak hanya mengandalkan susu untuk memenuhi kecukupan gizi anak. Pada usia balita, kebutuhan susu sekitar 500-600 cc per hari. Selebihnya, anak harus makan," tegas guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Dalam menghadapi anak picky eater, lanjutnya, orangtua harus tetap berusaha memenuhi kebutuhan gizi anak, yakni anak harus mengasup sumber karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral.

"Di sinilah kreativitas orangtua diperlukan. Ganti jenis makanan yang tidak disukai anak dengan jenis lainnya. Misalnya, anak tidak suka ayam, biarkan dulu. Coba beri dia sumber protein lainnya, seperti daging, ikan, atau telur. Tapi usaha memberikan menu olahan ayam tetap harus dilakukan pelan-pelan. 


Demikian juga kalu anak lagi enggak suka nasi, beri sumber karbohidrat lain, misalnya kentang. Yang penting, menu makan anak harus mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral," papar Rini.

Pada kesempatan sama, psikolog anak Tari Sanjojo menyarankan orangtua untuk tidak panik menghadapi anak picky eater, tetapi juga tidak boleh menganggapnya sepele. Hal itu disebabkan, bila tidak diatasi dengan tepat, dapat menyebabkan anak menjadi malas makan dan pada kelanjutannya menyebabkan anak menjadi cepat lesu, tidak bersemangat, kurang konsentrasi, bahkan sakit.

"Yang terpenting, orangtua harus sabar, tekun, dan kreatif dalam mengolah dan menyajikan menu bervariasi serta menciptakan suasana menyenangkan saat makan. Penting juga bagi orangtua untuk menerapkan pola makan sehat agar bisa dicontoh anak," sarannya.

Langkah lain yang bisa membantu mengatasi picky eater ialah meningkatkan nafsu makan anak. Misalnya, menggunakan suplemen atau susu berkandungan temulawak, salah satu bahan herbal asli Indonesia yang sejak lama digunakan untuk meningkatkan nafsu makan. 

"Soho Global Health telah melakukan uji epigenetic untuk melihat dan menggali potensi-potensi temulawak," ujar VP Research & Development, Regulatory, & Medical Affairs Soho Global Health, Raphael Aswin Susilo.

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/CvHjRZ
*-*

SNACKING, CUKUPI GIZI SEKALIGUS LATIH KEMANDRIAN BAYI


ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) dalam jurnal Infant and Young Children Feeding (2009) menganjurkan konsumsi makanan selingan di antara makan utama (snacking) pada anak usia 9-23 bulan untuk membantu asupan nutrisinya. Namun rupanya, manfaat pemberian makanan selingan bukan sebatas memenuhi gizi. Snacking juga bermanfaat melatih kemampuan motorik dan kemandirian anak sejak dini.

“Snacking yang diterapkan pada anak mulai usia 10 bulan dapat mengasah kemampuan si kecil untuk belajar makan sendiri (self-feeding). Kegiatan self-feeding ini merupakan stimulus untuk perkembangan motorik halus anak," terang psikiater anak dr Tjhin Wiguna SpKJ(K), pada peluncuran snack bayi Cerelac NutriPuffs oleh Nestle Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dengan belajar meraih makanan dan memasukkannya ke mulut, lanjut Tjhin, anak dapat menjadi lebih terampil dalam menggunakan tangannya. Keterampilan itu sangat penting untuk kemandirian makannya, juga untuk kegiatan positif lainnya kelak, seperti mewarnai, menggambar, bahkan menulis.

Tak hanya itu, menurut Tjhin, kegiatan snacking yang dilakukan dengan cara menyenangkan juga akan menciptakan interaksi positif dan menumbuhkan rasa saling percaya antara anak dan orangtua. 

“Anak yang punya rasa saling percaya dengan orangtuanya cenderung lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan dan lebih percaya diri," kata dokter konsultan kesehatan jiwa anak dan remaja itu.

Selain itu, sambungnya, snacking juga dapat menstimulasi perkembangan bahasa verbal dan nonverbal si kecil. "Caranya, orangtua atau pengasuh yang mendampingi anak saat snacking harus fokus, aktif merespons setiap pembicaraan atau perilaku anak. Termasuk memberi pujian ketika anak bisa makan dengan baik," jelasnya. 

Yang tidak kalah penting, sambung Tjhin, suasananya harus menyenangkan. Tidak boleh ada pemaksaan. "Anak tidak boleh dipaksa makan. Pemaksaan justru akan membuat anak trauma," tegasnya.

Ketika dalam sesi makan anak menolak, orangtua bisa mencoba membujuknya. Namun, jangan lebih dari 15 menit. "Kalau sudah 15 menit dibujuk anak tetap enggak mau, lewatkan. Nanti coba lagi di waktu makan berikutnya. 

Ketika anak lapar, akan lebih mudah membujuknya untuk makan." Karena itu, penting bagi orangtua menyusun dan menjalankan jadwal makan pada anak. "Jadwalkan makan utama tiga kali, dan snacking dua kali, di antara waktu makan utama," saran Tjhin.

Cegah malnutrisi
Pada kesempatan sama, Market Nutritionist PT Nestle Indonesia Eka Herdiana menuturkan bagaimana pemenuhan kebutuhan gizi sangat penting untuk mencegah berbagai permasalahan kesehatan. “Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi dari Departemen Kesehatan pada 2015, 3 dari 10 anak di Indonesia mengalami stunting (perawakan pendek) akibat malnutrisi. 

Selain itu, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, 28% anak Indonesia berusia 12-59 bulan mengalami anemia di usia dini akibat kekurangan zat besi. Hal ini menunjukkan pentingnya pemenuhan gizi di awal kehidupan. Jika tidak ditangani dengan baik, malnutrisi dapat mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan kognitifnya.”

Category Marketing Manager Infant Cereal & Baby Foods PT Nestle Indonesia Rendi Kusumo menambahkan, untuk membantu mengatasi permasalahan gizi pada anak, pihaknya berupaya menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan bayi pada setiap periode tumbuh kembangnya. 

"Misalnya, dengan penambahan zat gizi mikro, seperti vitamin dan mineral, termasuk zat besi yang sangat penting bagi tumbuh kembang bayi dan anak," paparnya. (Nik/H-2)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/Xxdbya
****

PEMENUHAN GIZI DI SERIBU HARI PERTAMA

KURANGNYA asupan gizi akan berpotensi menurunkan capaian ketiga dimensi pembangunan manusia sekaligus, yakni kesehatan, pendidikan, dan kemampuan daya beli. Khususnya pada anak balita, kurangnya asupan gizi menyebabkan menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terserang penyakit. 

Kekurangan gizi juga akan mendistorsi tumbuh kembang mereka sehingga menyulitkan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat untuk pe­nyiapan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Untuk itu, dalam rangka Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari, kita kembali diingatkan pentingnya asupan gizi, terutama untuk balita.

Pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama dalam kehidupan diyakini sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Dokter spesialis gizi klinik dari Dapartemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Fiastuti Witjaksono mengatakan 1.000 hari pertama, yakni sejak masa awal dalam kandungan hingga anak berumur dua tahun. 

“Kekurangan zat gizi di 1.000 hari pertama kehidupan tidak hanya berdampak pada status gizi usia anak, tapi juga status gizi pada usia muda nantinya. Dampaknya tidak kelihatan dalam jangka pendek, tapi ketika besar dia berpotensi terkena berbagai penyakit,” ujarnya kepada Media Indonesia di Jakarta, selasa (24/1).

Berkaitan dengan itu, salah satu kebijakan nasional dalam menanggulangi permasalahan gizi di Indonesia ialah melalui perbaikan gizi yang fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan. Gerakan itu mengedepankan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat dengan prioritas itu.

Sasaran yang ingin dicapai ialah menurunkan proporsi balita pendek atau stunting, tidak ada kenaikan proporsi anak dengan gizi berlebih ataupun kelebihan berat badan atau obesitas. Sasaran lainnya, menurunkan angka ibu usia subur yang menderita anemia dan meningkatkan persentase pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif. 

Direktur Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Doddy Izwardi mengatakan dalam upaya meningkatkan gizi masyarakat, pemerintah setiap tahun melakukan pemantauan status gizi secara berkala. Dengan pemantauan itu diharapkan, diperoleh informasi yang akurat untuk menentukan tindakan intervensi.

Dijelaskan Doddy, persentase balita dengan gizi buruk dan tumbuh pendek (stunting) mengalami penurunan. Penilaian status gizi pada 2015 menyebut 3,8% balita mengalami gizi buruk. Angka itu turun dari tahun sebelumnya, yakni 4,7%. Begitu pun angka stunting. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar terakhir pada 2013, stunting di Indonesia mencapai 37,2%, perlahan menurun pada tahun berikutnya berdasarkan indikator kesehatan nasional angka stunting menjadi 33%. 

Pada 2015, dari hasil survei di 150 kabupaten/kota melalui pemantauan status gizi, angka ­stunting kembali turun jadi 28,9%. Menurutnya, terkait dengan status gizi, permasalahan yang dihadapi Indonesia ialah beban ganda malnutrisi atau double burden of malnutrition. Keadaan itu ialah di satu sisi masih terjadi kekurangan gizi serta gizi buruk, di sisi lain ada anak-anak yang menderita obesitas atau kegemukan.

Solusi menangani permasalahan gizi double burden of manutrition, tutur Doddy, melalui intervensi pemerintah dengan cara meningkatkan status gizi utamanya bagi balita, anak-anak, dan ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK). “Dengan pemberian pendamping makanan tambahan (PMT) berupa biskuit,” ujar Doddy. 

Di sisi lain, untuk mengatasi permasalahan gizi, tidak cukup hanya dengan intervensi pemberian makanan tambahan, tetapi juga perlu didukung langkah lainnya, yakni gerakan masyarakat yang sadar gizi.

Untuk itu, perlu pendidikan mengenai gizi sejak dini pada ibu, anak, dan remaja putri pada saat memasuki usia pernikahan. Pendidikan gizi, ujar Doddy, berupa penyuluhan yang melibatkan kader-kader posyandu, kelompok masyarakat, serta petugas kesehatan. Itu dimulai dari pola konsumsi makanan beragam dan berimbang, perlunya pemantauan berat badan secara berkala, serta rutin melakukan aktivitas fisik untuk mencegah bertambahnya prevalensi anak dengan obesitas. 

Peneliti dari Departemen Ilmu Gizi Universitas Harvard Anuraj H Shankar mengakui pendidikan gizi melalui pendekatan keluarga dan masyarakat perlu dimaksimalkan.

Buah dan sayur

Sementara itu, Doddy mengakui gangguan gizi tidak hanya disebabkan kekurangan zat gizi makro seperti karbohidrat dan protein. Namun, juga bisa dikarenakan kekurangan gizi mikro seperti zat besi, vitamin, dan seng. Masyarakat Indonesia kurang memerhatikan asupan gizi mikro. Asupan gizi mikro banyak terdapat pada sayur dan buah. 

Namun, berdasarkan data Diretorat Gizi Masyarakat Kemenkes, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia untuk sayur dan buah, masih di bawah 10%. Oleh karena itu, dalam acara peringatan Hari Gizi Nasional ke-57 yang diselenggarakan besok, Kemenkes mendorong agar masyarakat rutin mengonsumsi sayur dan buah sebagai bagian dari program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. 

“Seperti kita ketahui, kekurang­an zat gizi mikro bisa berdampak pada tingginya prevalensi anemia, kekurangan vitamin A, ataupun zinc,” tukas Doddy. (S-1)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/qBxoUq
***


WASPADA OBESITAS PADA ANAK


OBESITAS atau Kelebihan berat badan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak, terutama dalam aspek kesehatan fisik dan psikososial. Obesitas pada anak juga sangat berisiko tinggi menjadi obesitas pada masa dewasa yang berpotensi menjadi penyebab berbagai penyakit, terutama diabetes melitus bahkan kematian. 


Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, di Indonesia sebanyak 18,8% anak usia 5 tahun hingga 12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 10,8% menderita obesitas. Kondisi tersebut memprihatinkan. Dr Rita Ramayulis dari Tim Komite Ahli Pengendalian Obesitas Tingkat Nasional mengatakan, meski obesitas yang diderita anak mirip dengan orang dewasa, pengukuran obesitas untuk anak-anak harus juga mempertimbangkan faktor usianya sebab beda usia bulan saja, poin mereka berbeda.

Ia menyebutkan, pada penderita obesitas dewasa, penanganannya bisa dilakukan dengan langsung mengurangi makanan mereka. Namun, pada-anak-anak karena tengah dalam masa pertumbuhan, tidak bisa dilakukan dengan mengurangi makanan atau menghentikannya. "Orangtua perlu melakukan 3M (move, model, dan meet) sebagai pendekatan pada anak dalam membatasi asupan makanannya," kata Rita, baru-baru ini. 

Ciri-ciri gejala klinis fisik obesitas pada anak, ujarnya, lemaknya terus bertambah sehingga bentuk pipinya menjadi gembil. Wajahnya juga membulat dan memiliki dagu dobel. Selain itu, perutnya membuncit, dan pada saat duduk akan terlihat ada lipatannya. Kemudian, ketika berjalan, paha kanan dan kiri akan bergesekan dan lama-kelamaan akan menghitam.

Menurut Rita, obesitas pada anak laki-laki akan terlihat di bagian dada atau payudaranya yang membesar. Selain itu, ukuran penisnya terlihat mengecil karena timbunan lemak yang membuat daerah kemaluan merapat, sedangkan pada anak perempuan, obesitas bisa menyebabkan menstruasi yang lebih awal, yakni pada usia sembilan tahun. 

Untuk mengantisipasi terjadinya obesitas pada anak, Rita menganjurkan kepada orangtua agar mengenalkan anak pada sayuran sejak dini sehingga mereka terbiasa menyukai mengonsumsi sayuran sampai kelak dewasa.

Ia juga menganjurkan pengaturan pola makan, yakni dengan cara mengurangi makananan yang digoreng dan menggantinya dengan makanan yang diolah tanpa minyak atau mengandung sedikit minyak. Para orangtua sebaiknya memilih protein rendah lemak untuk anak-anak dan tidak mengonsumsi protein tinggi lemak. 

Selain itu, mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang manis, mengurangi takaran gula dalam makan dan minum, sekaligus membiasakan mengonsumsi buah untuk mengganti rasa manis. "Setiap makan usahakan ada sayur dan buah. Utamakan memilih buah untuk makan selingan. Buah dalam keadaan utuh sangat dianjurkan dan tidak menambahkan gula pada jus," ujar Rita.

Olahraga

Sementara itu, dr Michael Triangto SpKO menganjurkan, untuk mencegah obesitas pada anak dengan memberikan keterampilan dasar olahraga sejak dini. Namun, Olahraga yang dilakukan tidak sampai berlebihan karena dapat meningkatkan kontra produktif, yakni terlalu lapar. "Aktivitas fisik untuk menurunkan berat badan tidak harus berat, tidak membayar, dan pastikan dapat dilakukan di mana saja," katanya. 

Aktivitas aerobik dan latihan beban dapat meningkatkan jumlah dan fungsi mitochondria. Namun, dalam berolahraga juga harus selalu menyesuaikan tingkat kemampuan dan kesehatan individu agar tidak terlalu berat dan kesulitan. "Bila terlalu lapar, pola makan menjadi tidak teratur," Ujar Michael. (*/H-2)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/veZ6FH
**


KURANG SAYUR DAN BUAH, BISA JUGA BIKIN ANAK JADI REWEL


ANAK Anda sering rewel dan kesal? Coba teliti lagi menu makannya. Sudahkah kebutuhan sayur dan buahnya terpenuhi? "Buah dan sayur penting bagi anak-anak. Bukan hanya dapat menyehatkan fungsi pencernaan anak-anak, tapi juga membuat mereka lebih ceria," ujar dokter konsultan gastrohepatologi anak, Frieda Handayani Kawanti, dalam peluncuran program PAUD Healthy Eating Habit SGM Eksplor yang diselenggarakan Sarihusada di Jakarta, awal bulan ini.

Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Evasari, Jakarta, itu menjelaskan serat yang terkandung dalam buah dan sayur terdiri dari serat yang larut dalam air dan serat yang tidak larut dalam air. Saat dikonsumsi, keduanya akan masuk dalam usus lalu difermentasi bakteri dan menghasilkan asam lemak rantai pendek.

Asam lemak tersebut ada bermacam-macam, yang paling esensial ialah asam butirat. Asam butirat itu lalu diserap usus dan beredar dalam sirkulasi darah lalu mencapai berbagai organ, termasuk otak. "Konsentrasi tinggi asam butirat di otak kita dapat memicu keluarnya hormon serotonin. Hormon serotonin merupakan hormon yang memicu perasaan senang," paparnya.

Jadi, apabila anak-anak sering marah-marah, dia mengimbau pada orang agar memperhatikan apakah asupan makanan pada anak, termasuk buah dan sayur, sudah cukup diberikan. Dikatakan Frieda, anak usia 3-6 tahun membutuhkan 300-400 gram sayur dan buah yang terbagi dalam tiga kali jadwal makan. 


"Untuk anak-anak dibutuhkan 2-3 porsi buah sehari, ukurannya setengah potong buah. Untuk sayur, satu kali makan ukurannya seperempat mangkuk. Itu untuk memenuhi kebutuhan serat bagi anak-anak, yaitu 19-25 gram sehari," ucapnya.

Frieda menambahkan, kebiasaan makan sayur dan buah harus diterapkan sejak dini pada anak-anak. Penerapan pola makan sehat pada anak idealnya sudah dilakukan di usia 3-6 tahun. Sesuai dengan masa perkembangan anak, pada usia tersebut mereka tengah mengalami pematangan dalam konsep, bentuk, dan warna. 

Mereka akan sangat senang mengeksplorasi sehingga lebih mudah diperkenalkan dengan berbagai macam sayuran dan buah-buahan. "Anak harus terus menerus diedukasi dan berulang-ulang," imbuhnya.

Jangan dipaksa

Namun, kerap terjadi, anak cenderung enggan makan buah dan sayur. Menurut psikolog Anna Surti Ariani, bisa saja hal itu terjadi karena trauma akibat dipaksa makan. "Penting bagi orangtua untuk memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan cara pemberian makanan yang tepat bagi anak sehingga makan sayur dan buah menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak," kata dia.

Pada kesempatan sama, Brand Manager of SGM Eksplor Buah & Sayur, Diana Beauty, mengungkapkan pihaknya turut berupaya mengatasi permasalahan tersebut melalui program PAUD Healthy Eating Habit yang sudah dilakukan sejak tahun lalu. 

"Melalui program yang melibatkan 10 institusi pendidikan anak usia dini (PAUD) ini kami berupaya memperkenalkan dan meningkatkan kesukaan anak-anak terhadap buah dan sayur melalui cara yang menyenangkan," ujarnya. (Ind/H-3)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/GCkUDJ
***

AGAR RAMBUT SIKECIL TUMBUH SEHAT


BERMAIN merupakan sarana belajar yang utama bagi anak. Ketika anak aktif bergerak saat bermain, berbagai keuntungan akan didapat, antara lain fisik jadi lebih kuat, kemampuan motorik lebih terlatih, interaksi dengan teman pun akan terbangun. Satu hal yang perlu diperhatikan, ketika anak aktif bergerak, mereka cenderung berkeringat. Karena itu, menjaga kebersihan harus diutamakan. Jika tidak, bisa timbul masalah kulit dan rambut yang akan mengganggu kenyamanan anak. 


Umumnya, memandikan anak dua kali sehari sudah biasa dilakukan para orangtua, terutama ibu, untuk menjaga kebersihan tubuh anak. Namun kadang, ritual tersebut tidak disertai dengan mengeramasi rambut si buah hati.

"Padahal, keramas rutin setiap hari penting bagi bayi dan anak-anak. Sebab, aktivitas yang tinggi membuat mereka berkeringat, terutama di bagian kepala. Apalagi, untuk kita yang tinggal di daerah tropis," ujar dokter sepsialis anak, Margareta Komalasari, pada acara Keramas Ceria yang digelar My Baby Shampoo Black & Shine di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Ia menjelaskan, bayi sekalipun butuh keramas setiap hari sebab tingkat metabolismenya yang tinggi membuat mereka mudah berkeringat, meski mereka belum bisa berjalan. "Lihat saja ketika bayi menyusu, sering berkeringat, terutama di bagian kepala," kata dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pusat Pertamina dan Brawijaya Women & Children Hospital, Jakarta, itu.

Jika tidak dikeramasi, rambut dan kepala anak akan berbau tak sedap. Bau itu muncul karena endapan keringat yang mengering menumpuk di kulit kepala. "Akibatnya bukan cuma itu, tumpukan keringat kering dan kotoran di kepala juga akan merusak akar rambut. Akibatnya, rambut tidak bisa tumbuh sehat, tipis, dan kusut. Kulit kepala pun mudah timbul kerak, " jelas Margareta.

Ia menampik anggapan bahwa keramas setiap hari terlalu berlebihan bagi anak. Sebaliknya, keramas setiap hari memang diperlukan untuk menjaga kebersihan rambut anak. "Di sinilah pentingnya memilih produk sampo anak yang aman dan efektif. Pilih yang memiliki tanda registrasi Kemenkes, tidak pedih di mata agar anak tetap nyaman saat keramas, menggunakan bahan-bahan alami, dan teruji klinis," katanya. 

Adapun cara keramas yang dianjurkan ialah dengan pijatan lembut di kulit kepala untuk memperlancar peredaran darah sehingga akar rambut bisa menerima nutrisi dengan baik dan rambut menjadi lebih sehat.

Pererat bonding

Pada kesempatan sama, Brand Development Manager My Baby Selva Marsentiani menjelaskan, berdasarkan hasil survei konsumen di awal 2017 yang dilakukan My Baby pada para ibu di seluruh Indonesia diketahui bahwa rambut tipis dan cepat bau menjadi permasalahan utama yang paling sering dialami bayi dan anak dengan persentase 61% dan 47%. “Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak para ibu untuk mengetahui informasi seputar rambut dan kulit kepala bayi sehingga dapat memberikan perawatan yang tepat,” jelas Selva.

Pada kesempatan itu ia juga menjelaskan ragam bahan alami yang bermanfaat untuk rambut, antara lain kemiri yang mengandung asam linolenat dan linoleat, bagian dari omega 3. "Dengan kandungannya itu, kemiri berguna untuk merangsang pertumbuhan rambut. Lalu, alpukat yang mengandung asam folat dan omega 3 juga bermanfaat untuk pertumbuhan rambut, melembapkan, dan memberikan kilau alami rambut bayi.”

Artis Astrid Tiar, 30, yang juga hadir dalam acara itu mengungkapkan pengalamannya dalam merawat rambut putrinya, Annabel yang berusia 4 tahun. Menurutnya, ia mengutamakan produk sampo berbahan alami dan teruji klinis untuk menjamin keamanan dan efektivitasnya. 

“Bagi saya kegiatan keramas yang dilakukan setiap hari tidak hanya dapat merawat penampilan anak, tetapi juga sekaligus mempererat bonding, ikatan batin antara ibu dan anak," pungkasnya. (Nik/H-2)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/zRiz8P
***

ANAK TERLAMBAT BICARA, TANGANI SEGERA


ANAK usia satu tahun seharusnya sudah bisa mengucap setidaknya satu kata. Kata yang dimaksud bukan yang berbentuk pengulangan seperti mama atau papa. Selanjutnya, setiap bulan kosa kata anak akan bertambah minimal satu kata. Hingga di usia dua tahun, normalnya anak sudah bisa menyusun kalimat yang minimal terdiri dari dua kata. 


Jika di usia tersebut anak belum mampu menunjukkan kemampuan berbicara seperti itu, sebaiknya periksakan segera ke psikiater anak. Jangan menunda-nunda. Siapa tahu, keterlambatan bicara yang dialami anak merupakan gejala dari gangguan serius seperti autisme dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

"Masih ada orangtua yang berpendapat, 'Ah, biarin saja nanti lama-lama juga bisa ngomong sendiri'. Itu tidak sepenuhnya benar. Harus diingat bahwa setiap perkembangan anak ada periodenya yang bila terlewatkan sulit untuk dikejar kembali. Pun demikian dengan perkembangan kemampuan bicaranya," ujar psikiater anak dan remaja dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI)-Puri Indah Jakarta, Gitayanti Hadisukanto, dalam diskusi media di Jakarta beberapa waktu lalu. 

Ia menjelaskan, setiap perkembangan kemampuan anak akan diiringi dengan pembentukan sinaps atau sirkuit di otak. "Makin banyak stimulasi diberikan pada anak, makin banyak sinaps yang terbentuk. Setelah anak berusia tiga tahun, akselerasi pembentukan sinaps akan menurun. Setelah anak berusia 6 tahun, grafiknya relatif flat. Jadi, kalau di usia 6-7 tahun anak masih belum bisa bicara, sulit untuk diterapi," jelasnya.

Ia mengungkapkan, keterlambatan bicara pada anak ada beberapa jenis, antara lain gangguan berbahasa ekspresif. Anak yang mengalami gangguan itu memahami perkataan orang lain tapi sulit berbicara. Mereka sulit mengekspresikan keinginan atau maksud hati dengan kata-kata. 

Selain itu, ada pula gangguan berbahasa reseptif, yakni kesulitan dalam memahami perkataan orang lain. Umumnya, kemampuan berbahasa ekspresifnya juga terganggu. Menurut Gitayanti, kedua jenis gangguan tersebut bisa muncul karena anak kurang mendapat stimulasi bicara. "Sejak janin berusia 7 bulan, ia sudah bisa mendengar. Orangtua sebaiknya mulai mengajaknya ngobrol," katanya.

Stimulasi dengan obrolan itu perlu diteruskan hingga bayi lahir. Selanjutnya, ketika anak sudah bisa bermain, stimulasi bisa diberikan lewat obrolan dalam permainan. "Orangtua perlu terlibat dalam permainan, bukan sekadar menemani anak bermain," imbuhnya. 

Gangguan berbahasa ekspresif dan reseptif, lanjut Gitayanti, bisa diatasi dengan terapi wicara. Namun, jika gangguan tersebut ternyata merupakan gejala dari autisme atau ADHD, terapi wicara saja tidak cukup. 

Diperlukan terapi lain, termasuk obat-obatan. "Jadi, jika anak terlambat bicara sebaiknya periksakan untuk memastikan penyebabnya. Semakin dini diterapi, hasilnya semakin baik," tutup Gitayanti. (Nik/H-2)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/UokkW2
***

MEMILIH SUSU TERBAIK UNTUK ANAK



PEMBERIAN susu masih menjadi pilihan bagi sebagian ibu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Karena ada beragam jenis susu, ibu harus memilih yang paling tepat dengan kebutuhan anak. Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta, Ariani Dewi Widodo, menjelaskan pemberian susu tambahan boleh diberikan selepas masa ASI eksklusif, yakni setelah bayi berusia 6 bulan saat bayi perlu mendapat makanan pendamping ASI (MPASI). 


“Setelah lepas dari ASI eks­klusif, pemberian susu sebagai tambahan makanan boleh diberikan jika diperlukan,” ujarnya dalam acara diskusi bertajuk Mengenal Varian Susu untuk Tumbuh Kembang Anak, di Jakarta, Senin (14/8).

Susu, lanjutnya, mengandung komponen nutrisi yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan anak karena mengandung berbagai zat gizi penting. Susu bukan hanya untuk pertumbuhan, melainkan juga mengandung banyak mikronutrien yang penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak.  
“Susu kaya akan kalsium, magnesium, selenium, riboflavin (vitamin B2), vitamin B12, dan asam pantotenat (vitamin B5)”. 

Terkait dengan pilihan jenis susu, gaya hidup alami menjadikan orangtua terdorong untuk memberikan susu segar pada anak-anak. Namun, Ariani tidak menganjurkan susu segar diberikan kepada anak, apalagi bayi. Itu karena susu sapi segar tidak mengalami proses sterilisasi sempurna sehingga berpotensi menyisakan bakteri-bakteri berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit. 

“Susu segar juga tidak mengandung cukup zat besi dan asam folat yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah. Pada bayi zat besi sangat penting untuk pembentukan sel-sel otak,” kata Ariani.

Pada kesempatan sama, dosen teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor, Dede R Adawiyah, menambahkan susu segar memang memiliki kandungan gizi lengkap, termasuk enzim-enzim penyerta di dalamnya. Namun, kadar airnya sangat tinggi sehingga sangat mudah rusak. Daya simpannya hanya kurang dari satu hari pada suhu ruang. Hal itu menjadikan susu segar sangat berisiko jika diberikan kepada anak apalagi bayi.

Pilihan produk susu yang sesuai dan aman untuk anak ialah susu yang sudah mengalami proses sterilisasi dengan penambahan zat gizi (fortifikasi zat gizi), yaitu susu bubuk. “Susu bubuk lebih mudah diberikan kepada anak dan sangat aman.” Susu bubuk, lanjutnya, juga memiliki keuntungan yakni tingkat keawetannya cukup tinggi dan dapat diformulasi sesuai kebutuhan gizi.

“Misalnya ditambahkan serat, prebiotik, dan lain-lain. Susu bubuk awet karena kadar airnya sudah sangat turun. Satu lagi, untuk susu pertumbuhan anak, umumnya prosedur pembuatannya memiliki standar keamanan yang sangat ketat,” jelas Dede.

Susu kental manis

Bagaimana dengan susu kental manis? Menurut Ariani maupun Dede, susu kental manis bukan masuk kategori susu pertumbuhan, melain­kan susu untuk penambah rasa makanan. Dede menjelaskan susu kental manis dibuat dari susu biasa yang dilakukan penguap­an sampai menjadi padat. 

Setelah itu untuk mengganti kadar air yang diuapkan, digantikan dengan gula sampai 40%-45%. Fungsi gula ialah sebagai pengental dan pengawet sehingga susu kental manis dapat bertahan sampai satu tahun. Susu kental manis seharusnya hanya diperuntukkan tambah­an makanan, bukan untuk anak-anak.

“Gula lebih berbahaya daripada lemak untuk konsumsi anak-anak. Di masa pertumbuhan, lemak penting untuk pertumbuhan otak. Sebaliknya efek samping gula dalam jangka panjang sangat jahat. Memicu berbagai gangguan seperti kegemukan dan diabetes di kemudian hari,” kata Ariani. (*/H-3)

Sumber: Media Indonesia
***

BAYI PREMATUR CENDERUNG ALAMI GANGGUAN BAHASA DI USIA DINI


SEBUAH studi menemukan bahwa bayi prematur kemungkinan mengalami masalah dalam kemampuan bahasa di awal perkembangannya karena perubahan bagian penting dalam pendengaran di otak, terutama dalam mengenali suara.

Umumnya, bagian pendengaran dalam tubuh berkembang 15 minggu sebelum kelahiran, sehingga membuat bayi sensitif terhadap kemampuan berkata dan bahasa saat masih menjadi janin.

Sebuah penelitian dari University of Illinois menyebutkan bahwa gangguan perkembangan pada korteks pendengaran dapat menyebabkan kerusakan dalam hal berbicara dan bahasa pada usia 2 tahun.

Tim penelitian berfokus pada korteks utama pendengaran, yang merupakan area kortikal pertama untuk menerima sinyal suara dari telinga melalui bagian lain otak, yang memiliki peran penting dalam memproses rangsangan.

Analisis tersebut menemukan bahwa korteks pendengaran utama berkembang lebih dini namun lebih lambat dibandingkan korteks pendengaran yang tak utama, sehingga mengubah periode kehamilan khas pada 10 minggu terakhir.

Perbedaan perkembangan pada korteks pendengaran non utama pada bayi prematur berhubungan dengan penurunan kemampuan berbahasa ekspresif, seperti isyarat dan kosa kata, pada pemeriksaan lanjutan di usia 2 tahun.

"Kami memiliki pengertian terbatas tentang bagaimana perkembangan otak pendengaran pada bayi prematur," ujar pemimpin studi Brian Monson.

"Kami tahu dari penelitian sebelumnya vahwa bayi yang berusia normal tak hanya mendengar, namun juga menyimak dam memelajari dalam janin," tambah Monson.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal eNouro tersebut memeriksa 90 bayi prematur yang lahir sekitar 30 minggu dan 15 bayi dengan kelahiran jangka waktu normal.

Tim tersebut menggunakan penggambaran neuro yang menyebar untuk memelajari perkembangan korteks pendengaran pada otak bayi.

"Teknik ini mengukur pernyebaran dari air dalam jaringan otak, sehingga dapat mengungkapkan banyak hal tentang perkembangan neuron dan axon," tambahnya.

Menurutnya, hasil penelitian ini menarik karena teknik tersebut dapat membantu memelajari teknik perkembangan bahasa pada bayi prematur kelak. (OL-8)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/FXwTsU
***

GIZI BURUK PERPARAH CAMPAK



Virus campak memperlemah daya tahan tubuh sehingga anak mudah terkena komplikasi penyakit lain, seperti diare, radang paru, hingga radang otak yang mematikan.

SEBANYAK 59 anak meninggal akibat kejadian luar biasa (KLB) campak disertai gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua, dalam empat bulan terakhir. KLB terjadi di enam distrik di Kabupaten Asmat. Sejak September 2017 hingga kini, RSUD Asmat dilaporkan merawat ratusan pasien campak.

Kementerian Kesehatan menyatakan cakupan imunisasi campak di sana hanya 17% pada tahun lalu. Dokter spesialis tumbuh kembang anak dr Soedjatmiko SpA(K) mengatakan anak berstatus kurang gizi yang terkena campak, apalagi belum diimunisasi, bisa lebih fatal mengalami dampaknya daripada anak yang sudah diimunisasi. Menurutnya, KLB campak yang terjadi di Asmat terjadi cukup parah lantaran gizi buruk dan tidak diketahuinya ketuntasan anak mengikuti imunisasi.

"Di mana saja, bukan hanya di Asmat, kalau ada anak gizi kurang lalu belum diimunisasi, maka kalau terkena campak pasti sakitnya akan lebih berat," kata Soedjatmiko yang merupakan Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) itu saat dihubungi, kemarin.


Menghadapi situasi seperti itu, ia mengatakan penanganan yang perlu segera dilakukan ialah penambahan asupan gizi dan segera melakukan tindakan pengobatan dengan pemberian antibiotik. Dijelaskannya, komplikasi campak dapat menyebabkan sejumlah penyakit. Di antaranya diare dan radang paru-paru.

"Kalau komplikasinya radang paru, selain harus diperbaiki gizinya bakterinya juga harus dimatikan. Pada penyakit radang paru bakteri biasanya ikut nimbrung. Pengobatannya dengan antibiotik," jelas staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo itu. 

Meski begitu, ia menyatakan langkah pencegahan lebih efektif ketimbang pengobatan setelah kejadian. Pasalnya, campak merupakan penyakit yang bisa dicegah. "Menangani gizi buruk memang agak susah tidak bisa sehari dua hari. Perlu waktu berminggu-minggu. Tapi campaknya bisa dicegah dengan imunisasi," imbuhnya.

Menurutnya, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam mencegah kejadian campak yang parah akibat gizi buruk. Pertama ialah pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif selama 6 bulan lalu dilanjutkan sampai 2 tahun. Kedua, memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) berkualitas sejak anak umur 6 bulan. Ketiga, lanjut Soedjatmiko, ialah pengawasan teratur dengan rutin menimbang berat badan anak. 

"Langkah pertama pencegahannya, jangan ada yang gizi buruk. ASI itu sangat penting," tambahnya. Selain itu, sambungnya, kebersihan lingkungan juga patut dijaga seperti mencuci tangan sebelum memegang bayi, juga menutup mulut dan hidung jika batuk atau bersin di dekat balita.

Selanjutnya ialah imunisasi. Ketuntasan imunisasi penting untuk menciptakan kekebalan tubuh. Menurutnya, anak harus diberi minimal 1 kali vaksin MR (measles/campak dan rubella) pada usia 9 bulan. Imunisasi dilakukan lagi minimal 1 kali pada usia 15-18 bulan.

"Untuk usia sekolah juga minimal satu kali imunisasi, kecuali kalau ada wabah perlu ditambah. Pencegahan lainnya jangan merokok dekat bayi dan balita. Ventilasi udara dan cahaya matahari harus bagus di rumah. Terakhir, kalau bayi sakit segera obati," ujarnya.

Waspadai komplikasi

Senada, dokter spesialis anak RS Premier Bintaro, Tangerang, dr Marissa Pudjiadi SpA, mengatakan campak merupakan penyakit akibat virus yang bisa menurunkan kekebalan tubuh anak sehingga rentan terkena penyakit lain. Menurutnya, campak tanpa disertai komplikasi sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Namun jika terkena infeksi dari luar, campak bisa menyebabkan komplikasi penyakit, seperti diare, radang paru-paru, dan radang otak. "Virusnya bisa sampai ke otak dan menjadi ensefalitis sehingga menyebabkan kematian," ungkapnya.

Menurutnya, gejala campak terdiri atas tiga stadium. Pertama ialah masa inkubasi yakni sebelum munculnya tanda-tanda campak. Itu berlangsung selama 10-12 hari. Lalu, fase kedua, yakni prodromal, ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, dan mata memerah. Kemudian, masuk ke fase erupsi, yakni mulai muncul ruam merah di tubuh yang kemudian berubah ruamnya menjadi hitam. "Muncul masa konvalesens, yakni perubahan ruam merah menjadi hitam. Kalau sudah hitam sebenarnya sudah tidak menular," ujarnya.

Masyarakat harus waspada terhadap penularannya. Pasalnya, penularan campak tergolong mudah karena terjadi lewat kontak langsung dengan percikan air liur penderita. "Bisa lewat batuk atau menyentuh barang bekas air liur dari anak yang terkena campak," imbuh Marissa. (H-3)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/souGHf
***

PNEUMONIA MENGANCAM ANAK BALITA



Bayi yang tidak mendapat ASI, kurang gizi, dan tidak mendapat imunisasi dasar lengkap lebih berisiko terkena pneumonia.

PNEUMONIA atau radang paru-paru akut menjadi penyebab kematian terbanyak kedua, setelah diare, pada anak balita di Indonesia. Indonesia belum bisa mengeliminasi pnemonia karena rendahnya pengendalian faktor risiko, minimnya tingkat pengetahuan masyarakat, dan masih lemahnya penanganan dan pendataan di fasilitas kesehatan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Wiendra Waworuntu, menjelaskan tata laksana pneumonia sudah diterapkan di fasilitas kesehatan sehingga setiap tenaga kesehatan seharusnya mampu melakukan deteksi dini dan penanganan kasus pneumonia. 


Akan tetapi, masih banyak petugas kesehatan, terutama di daerah, yang belum menjalankannya. Pelaporan kasus pneumonia di daerah, baik dari puskesmas maupun rumah sakit, juga rendah.

"Perhitungan sasaran penemuan kasus pneumonia pada balita masih dari perkiraan. Ini membuat kita kesulitan mengintervensi dan mencapai target menurunkan angka kematian pada balita akibat pneumonia kurang dari 3/1.000 balita pada 2025," tutur Wiendra pada seminar terkait dengan Hari Pneumonia Sedunia di Kantor Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pusat, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terkait dengan pencegahan, lanjutnya, vaksinasi pneumococcal conjugate vaccine (PCV) efektif melindungi anak dari pneumonia. Namun, vaksin tersebut belum bisa masuk dalam program imunisasi dasar di Indonesia. Wiendra menyampaikan, perusahaan vaksin milik pemerintah, yakni Bio Farma, belum mampu memproduksi vaksin PCV sendiri sehingga harus impor dengan harga mahal.

Ketua Umum IDAI, dr Aman B Pulungan SpA(K), menyampaikan tingginya angka kematian bayi di suatu negara menjadi indikator buruknya aspek kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya. Ia pun menyayangkan rendahnya cakupan imunisasi dasar di Indonesia yang hanya 57,9% secara nasional. Selain itu, proporsi anak dengan status gizi buruk masih tinggi, yakni 17,7%, dan stunting (anak balita gagal tumbuh karena kurang gizi kronik) sebeser 30,8%.

"Cakupan imunisasi yang rendah, status gizi yang buruk, paparan asap rokok, dan lingkungan yang tidak bersih menjadi faktor risiko pneumonia," cetus Aman.

Napas cepat

Pada kesempatan sama, dokter spesialis anak dr Darmawan Budi Setyanto SpA(K) menjelaskan pneumonia merupakan radang akut pada jaringan paru dan sekitarnya. Penyebabnya ada berbagai macam. Bisa bakteri, virus, ataupun jamur. Bakteri penyebab pnemonia paling banyak ialah pnemokokus dan Hib (Hemophilus influenza tipe b).

Ia mengingatkan, masyarakat harus mewaspadai gejala selesma pada anak balita, seperti demam, batuk, atau flu. Hal itu disebabkan selesma dapat berkembang menjadi pneumonia. Selesma, lanjut Darmawan, pada dasarnya dapat membaik tanpa pemberian obat. Akan tetapi, ada selesma bisa menjadi pneumonia.

"Yang terpenting ialah mengenali tanda-tanda balita mengalami pneumonia. Balita yang demam dan mengalami peningkatan frekuensi napas (napas cepat) hingga tampak sesak napas bisa dicurigai pneumonia. Orangtua diimbau segera membawa ke fasilitas kesehatan," ujar Darmawan.

Sesak napas, terang Darmawan, disebabkan radang di jaringan paru-paru yang mengganggu pertukaran udara. Sesak napas yang dimaksud berupa tarikan dinding dada bagian bawah setiap kali anak menarik napas. Selain sesak napas, napas cepat juga tanda yang penting diperhatikan sebagai gejala pneumonia.

Karena itu, penting tenaga kesehatan maupun orangtua, ujar Darmawan, untuk mengenali tanda awal pneumonia dengan hitung napas selama 1 menit penuh (lihat grafik).

"Pneumonia dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik serta obat-obatan lain yang diperlukan. Apabila gejalanya berat hingga anak mengalami sesak napas, harus diberikan bantuan suplai oksigen."

Dokter spesialis anak dr Nastiti Kaswandani SpA(K) menjelaskan WHO telah menetapkan pencegahan pneumonia pada anak balita dan anak-anak, yakni dengan pemenuhan nutrisi yang cukup, imunisasi dasar lengkap, pemberian ASI ekslusif hingga usia bayi enam bulan, mencuci tangan, dan membebaskan anak dari polusi baik pajanan asap rokok ataupun kendaraan.

"Pemberian imunisasi dasar lengkap meliputi campak, DPT, aemophilus influenza type b (Hib), dan pneumokokus (PCV) dapat menurunkan angka kejadian pneumonia hingga 49%," kata Nastiti.

Ia mengingatkan, anak balita yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap seperti campak, berisiko lebih besar terkena pneumonia. Hal itu disebabkan campak menyerang mukosa (lapisan dalam) di seluruh saluran napas. Jika terjadi peradangan di saluran pernapasan, terjadi kerentanan terhadap kuman lain termasuk kuman pneumonia. Pasien campak sering mengalami komplikasi itu," terangnya. (H-2)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/M4Bp7t
*-*

KENALI DELAPAN MAKANAN PENCETUS ALERGI



SALAH satu merek unggulan dari PT Kalbe Nutritionals, yakni Morinaga, secara berkesinambungan mendukung program tahunan World Allergy Week dengan rutin melalui berbagai program edukasi.

"Tahun ini, Morinaga kembali mengadakan program parenting seminar skala nasional untuk meningkatkan pemahaman bunda atas alergi serta penyakit lainnya dalam rangka World Allergy Week 2018 serta menggagas pelatihan dan sumber daya untuk diagnosa dan tindakan pencegahan," ungkap Senior Brand Manager Kalbe Nutritionals, Dewi Angraeni, di Jakarta, Sabtu (23/6).

World Allergy Week merupakan program tahunan inisiasi dari World Allergy Organization(WAO) dengan fokus topik dunia tahun ini yakni Dermatitis Atopik atau Eksim. Dermatitis Atopik merupakan penyakit radang kulit yang tidak menular dan bisa kambuh berkala, tetapi juga bisa mencapai titik kronis.

Guru Besar Bagian Anak Alergi dan Immunologi dari RSCM/FKUI, Prof Dr dr Zakiudin Munasir SpA(K), mengatakan, dermatitis atopik atau eksim
terjadi umumnya di episode pertama yakni sebelum anak berusia 1 tahun. Selanjutnya bisa hilang dan timbul kembali.

"Prevalensi jenis kulit dermatitis atopik pada anak diperkirakan mencapai 10%-20%, sementara pada orang dewasa sekitar 1%-3%," kata Zakiudin.

Ia menjelaskan, ada 8 makanan utama yang dianggap bisa mencetus alergi atau yang umumnya dikenal sebagai The Big 8, yaitu, susu, telur, ikan, makanan laut tertentu seperti udang, kacang tanah, kacang kedelai, dan kacang pohon seperti, walnut, almond, serta terakhir gandum.

"Susu atau alergen protein susu sapi jadi salah satu pencetus paling umum di dunia dengan angka kejadian yang mencapai 2-7,5% dengan 0.5% terjadi pada bayi yang masih mendapatkan ASI eksklusif," tuturnya.

Menurut dia, salah satu pencegahan alergi atas makanan bisa dilakukan dengan memperkenalkan berbagai jenis makanan sedini mungkin, memberi ASI secara eksklusif, atau jika bunda tidak dapat memberikan ASI, anak dapat diberi susu yang telah diformulasikan secara khusus seperti susu dengan protein terhidrolisat parsial.

Terkait itu, PT Kalbe Nutritionals bersama Morinaga Research Centre Jepang memiliki program tetap yaitu Morinaga Allergy Solution sebagai solusi alergi untuk anak. Dari program itu, PT Kalbe Nutritionals juga melakukan survey terhadap ibu-ibu di Indonesia dengan anak usia 1-3 tahun yang alergi atas susu sapi.

"Dari survei itu, 9 dari 10 ibu merasa puas dan merekomendasikan Chil Kid Soya sebagai solusi terbaik alergi," tutup Dewi Angraeni. (RO/OL-1)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/9bVgNx
***

STUNTING TURUNKAN KECERDASAN ANAK


ANAK stunting atau berperawakan pendek karena kurang gizi kronis (menahun) tidak hanya rentan mengalami gangguan kesehatan fisik bahkan hingga dewasa kelak. Tingkat kecerdasannya juga kurang karena pada masa tumbuh kembangnya otak tidak mendapatkan asupan gizi maksimal. Karena itulah, stunting harus dicegah dan ditangani dengan serius.

"Stunting bisa terjadi karena asupan nutrisinya tidak cukup, atau karena kebutuhannya meningkat, misalnya, karena anak sering sakit. Yang kita khawatirkan adalah korelasinya dengan risiko retardasi mental," jelas Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dr Damayanti Rusli Sjarif SpA(K), dalam diskusi bertajuk Milk Versation Hari Gizi Nasional: Investasi Pangan Hewani, Stunting, dan Upaya Selamatkan Generasi Mendatang yang digelar Frisian Flag Indonesia (FFI) di Jakarta, pekan lalu.

Damayanti menjelaskan, persoalan stunting di Indonesia sudah terjadi sejak 40-50 tahun lalu. Di beberapa daerah, bahkan ada kasus stunting yang mengenai tiga generasi, dari kakek/nenek, bapak/ibu, hingga anak.

Stunting, lanjut Damayanti, selalu dimulai dari penurunan berat badan atau weight faltering akibat asupan nutrisi yang kurang. "Saat BB mulai turun, anak tidak langsung jadi pendek. Terjadi penurunan fungsi kognitif dulu, baru stunting," paparnya.

Pasalnya, pada anak dengan BB <10 kg, sebanyak 50-60% energi dipakai untuk perkembangan otak. Bila asupan nutrisinya kurang, otak yang akan dikorbankan terlebih dulu. Anak yang 'baru' mengalami weight faltering saja bisa mengalami penurunan IQ hingga 3 poin.

"Bisa dibayangkan betapa banyak penurunan IQ yang mungkin muncul bila anak sampai stunting," imbuh dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu.

Otak dan sinaps-sinapsnya (percabangan sel-sel otak) berkembang pesat selama 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak dalam kandungan hingga berusia dua tahun. "Pada masa ini anak tidak boleh kekurangan nutrisi sama sekali karena dampaknya irreversible (tidak bisa diperbaiki)," tegas Damayanti.

Selain fungsi kognitif, lanjutnya, pembakaran lemak pun terganggu sehingga ketika anak diberi makan banyak, mudah terjadi obesitas. "Bila ditelusuri, orang yang sekarang mengalami penyakit degeneratif mungkin dulunya stunting."

Untuk menilai apakah seorang anak stunting atau tidak, tinggi badan dan berat badan harus dikur dengan benar. Selanjutnya, nilai tinggi badan dan berat badan diplot ke grafik pertumbuhan anak. Dari situ, akan terlihat apakah pertumbuhan anak masuk kategori normal atau tidak. Bila dicurigai stunting, bisa dilakukan pemeriksaan rontgen tangan untuk memastikan diagnosis.

Terkait dengan pencegahan, Damayanti mengingatkan pentingnya kecukupan karbohidrat, protein, dan lemak pada anak. Jadi, selepas ASI eksklusif 6 bulan, anak perlu diberi makanan pendamping ASI (Mpasi). Komposisi Mpasi idealnya menyerupai komposisi ASI, yakni mengandung karbohidrat, lemak, dan protein.

"Jangan takut memberikan lemak pada si kecil karena zat ini sangat penting bagi otaknya. Asupan protein utamakan hewani karena dalam ASI, komposisi protein hewani lebih banyak. Kandungan asam amino pada protein hewani lengkap," pesan Damayanti pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Ia mengkritisi tren pemberian puree sayur dan buah atau tepung-tepung organik berbasis nabati pada bayi. Menurutnya, makanan dengan bahan tunggal seperti itu tidak mencukupi kebutuhan nutrisi anak. "Boleh saja memberikan puree buah dan sayur, tapi harus disertai protein hewani."

Menurutnya, susu dan telur merupakan sumber protein hewani yang paling baik. Diikuti dengan produk susu, unggas, ikan, hati, dan daging. "Jadi, sumber hewani tidak harus mahal. Anak bisa diberi telur, hati ayam, dan berbagai jenis ikan lokal yang harganya relatif terjangkau," pungkasnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia, Prof Hardinsyah, mengatakan kesadaran untuk melek gizi perlu mulai diperkenalkan pada calon pengantin. Sebelum menikah, calon pengantin menjalani edukasi prapernikahan.

"Pengetahuan tentang nutrisi untuk mencegah stunting bisa disisipkan dalam sesi tersebut agar kelak ketika sudah menjadi orangtua bisa memberikan gizi yang cukup untuk anak-anaknya," katanya. (H-2)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/wrHvDk
*-*

BENTUK POLA MAKAN BAIK SEJAK DINI


UPAYA pencegahan stunting pada anak memerlukan peran aktif keluarga, terutama orangtua. Dalam mencukupi gizi anak, orangtua perlu mengkreasikan menu agar anak tertarik mengonsumsi makanan bergizi. "Selain itu, orangtua juga perlu memberikan contoh kebiasaan pola makan yang baik di rumah dan menyediakan waktu makan bersama yang berkualitas dengan anak," ujar psikolog anak dan keluarga, Ajeng Raviando, pada bincang gizi yang digelar Danone Indonesia di Jakarta, kemarin.

Ajeng menjelaskan, di usia balita anak menyerap berbagai pengetahuan dengan cepat. Memberi contoh pola makan yang baik merupakan langkah efektif menularkan kebiasaan tersebut pada anak.

"Sediakan waktu bersama untuk makan bersama dan kasih contoh baik. Selain itu, orangtua perlu menyampaikan kalimat dengan positif agar tertanam afirmasi yang baik di benak mereka tentang makanan," papar Ajeng.

Sayangnya, lanjut dia, banyak orangtua tidak menganggap berat badan kurang pada anak mereka sebagai masalah yang besar. Orangtua juga sering tidak siap untuk melakukan perubahan untuk mengatasi masalah tersebut. Beberapa orangtua cenderung menghindari percakapan tentang masalah berat badan anak agar tidak menjadi beban psikologis bagi diri mereka sendiri.

"Penting bagi orangtua untuk berpikir terbuka dan objektif dalam menerima rekomendasi ahli kesehatan untuk mengikuti petunjuk pemulihan gizi yang disarankan," kata Ajeng.

Pada kesempatan sama, Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, mengatakan permasalahan gizi anak memang masih menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Menurutnya, perlu kerja sama berbagai pihak untuk mengatasinya. Sebagai bentuk dukungan, Danone Indonesia menyediakan platform www.cekberatanak.co.id.

"Website ini diharapkan dapat memudahkan orangtua dalam memantau berat badan ideal si kecil. Dengan rutin mengecek kurva pertumbuhan anak melalui website ini, semoga orangtua dapat lebih siap dan waspada bila terjadi gejala berat badan kurang sehingga segera mencari solusi dengan berkonsultasi kepada ahli kesehatan terdekat," terangnya.

Terpisah, Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) mengungkapkan minimnya pengetahuan orangtua, terutama ibu, turut menyebabkan anak kurang gizi. Wakil Ketua Kopmas Yuli Supriati menyampaikan mencontohkan hasil temuan Kopmas di Kabupaten Pandeglang, Banten. Sebagian ibu di sana memberikan susu kental manis pada bayi sebagai pengganti ASI.

"Hal itu membuat bayi yang lahir dengan berat badan normal, mengalami penurunan berat badan pada usia dua atau tiga bulan. Jika tidak diintervensi, anak tersebut akan dapat menjadi stunting," ujarnya pada diskusi publik menyambut Hari Gizi Nasional, di Jakarta, kemarin.

Yuli menuturkan ibu yang punya pemahaman gizi yang baik tahu akan pentingnya asupan gizi sebelum hamil, memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia enam bulan, dilanjutkan hingga usia dua tahun dengan ditambah makanan pendamping ASI.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Doddy Izwardy mengatakan pencegahan stunting dengan pemenuhan kebutuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, yakni sejak janin dalam kandungan hingga usia dua tahun, belumlah cukup.

"Kesiapan para remaja putri sebelum menjadi calon ibu juga tidak boleh dilupakan. Intervensi gizi sangat penting sebelum mereka masuk ke usia pernikahan, jangan sampai ketika rumah tangga mereka mendapatkan anak yang gagal tumbuh," ucapnya.

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/CuzmeV
*-*

DIABETES BUKAN PENGHALANG PRESTASI ANAK



Dengan penanganan yang baik, anak pengidap diabetes bisa bertumbuh kembang secara normal, juga berprestasi. Pemahaman orangtua dan anak akan penyakit tersebut menjadi kuncinya.

POSTURNYA tegap berisi, geraknya lincah, wajahnya pun ceria. Dengan penampilan seperti itu, mungkin semua yang melihatnya mengira Uki, 12, sehat-sehat saja. Padahal, bocah kelas 1 SMP itu mengidap penyakit yang bisa mematikan, yakni diabetes, tepatnya diabetes melitus tipe 1.

Uki yang bernama lengkap Fulki Baharuddin Prihandoko itu didiagnosis mengidap diabetes sejak kelas 4 SD. Namun, ia sudah merasakan gejala-gejalanya sejak kelas 2 SD.

"Kalau luka sembuhnya lama. Terus kalau pagi sering lesu. Sering merasa haus, padahal sudah minum banyak," terangnya saat ditemui dalam media briefing Anak juga Bisa Diabetes yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan akhir Oktober lalu di Jakarta.

Awalnya, Uki dan orangtuanya tak pernah menganggap gejala itu sebagai persoalan serius. Sampai saat kelas 4 SD, gejala mulai bertambah, seperti rambut makin banyak rontok, sering buang air kecil, bahkan mengompol di malam hari, serta berat badan turun drastis.

Melihat hal yang tidak biasa pada bungsu dari tiga bersaudara itu, sang ibu, Aisyah Rahmah, tentu khawatir. Ia pun beberapa kali memeriksakan Uki ke dokter, tetapi tidak mendapat diagnosis yang memuaskan. Hingga suatu hari, ketika Uki kembali mengompol untuk ke sekian kalinya, Aisyah curiga anaknya terkena diabetes. Ia pun berinisiatif meminta dokter melakukan tes darah.

"Saat kami pulang dari RS, dokter telepon dengan setengah teriak bahwa Uki harus kembali ke RS untuk dirawat karena kadar gula darahnya sampai 750 mg/dL," tuturnya.

Dokter mendiagonosis Uki mengidap diabetes tipe 1 yang mengharuskan dia memakai insulin seumur hidupnya. Awalnya, berat bagi Uki dan orangtua untuk menerima fakta itu. Namun, Aisyah menguatkan diri, merawat anaknya dengan mengikuti petunjuk dokter.

Kini, tiga tahun sudah Uki rutin suntik insulin dan menjaga pola makan. Aisyah menyebut Uki sudah sangat mandiri dan tidak lagi mengeluh.  "Dia tidak minta makanan manis lagi. Dia juga tidak malu untuk suntik insulin di mana saja kalau jadwalnya sudah tiba," imbuh Aisyah.

Kepada keluarga dan pihak sekolah, Aisyah menjelaskan kondisi Uki. Namun, Aisyah tak meminta Uki diperlakukan istimewa. Misalnya, saat sekolah melangsungkan seleksi anggota Pramuka yang akan mengikuti kegiatan jambore internasional di Australia. "Saya isi formulir apa adanya. Saya juga yakinkan Uki sudah mandiri."

Hasil seleksi meloloskan Uki menjadi salah satu peserta yang akan mengikuti jambore itu November ini. Pencapaian itu membuktikan penyakit diabetes, jika dikelola dengan baik, tidak menghalangi penderitanya untuk tetap beraktivitas dan berprestasi.

Lebih dini, lebih baik

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Aman Bhakti Pulungan SpA, menjelaskan, meski anak yang didiagnosis diabetes tipe 1 akan mengidap penyakit itu seumur hidup, bukan mustahil baginya untuk hidup normal dan berprestasi.

"Kata kuncinya, penerimaan dan edukasi. Sampai saat ini banyak orangtua yang belum bisa menerima anaknya terkena diabetes. Memang itu paling sulit, tetapi setelah bisa menerima, langkah selanjutnya akan jadi jauh lebih mudah," papar ahli endokrin anak itu.

Lebih lanjut Aman menerangkan, mayoritas diabetes pada anak merupakan tipe 1. Diabetes tipe 1 tak dapat dicegah. Penyakit itu terjadi karena ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin akibat kombinasi faktor genetik, autoimun, dan lingkungan.

"Anak dengan diabetes tipe 1 ini merupakan anak 'terpilih'. Diabetes tipe 1 dipengaruhi gen tertentu, tapi bukan turunan. Ada faktor dari lingkungan yang memicu autoimun (ketidaknormalan sistem pertahanan tubuh) yang kemudian meningkat menjadi diabetes. Faktor itu, seperti infeksi arbovirus, virus polio, coxsackie, juga defisiensi vitamin D," terang Aman.

Penderita diabetes tipe 1 harus menjalani pengobatan, yakni penyuntikan hormon insulin, seumur hidup. Oleh karena itu, edukasi kepada anak menjadi faktor penting. Dengan edukasi yang baik, anak dengan diabetes bisa mandiri dalam melakukan pengobatan dengan benar. 


"Memang harus seumur hidup diperhatikan, tetapi bukan berarti dia tidak bisa berprestasi. Contohnya aktris Hollywood Halle Berry dan penyanyi Nick Jonas. Mereka bisa sukses walau diabetes," imbuhnya.

Ia menambahkan, semakin dini diabetes terdeteksi dan ditangani dengan benar, semakin baik hasilnya. Oleh karena itu, orangtua wajib memahami dan mewaspadai gejala diabetes pada anak (lihat grafik). "Ketika sudah ada tanda sekecil apa pun, harus pikirkan tentang diabetes. Kalau dokter tidak terpikirkan, orangtua yang harus waspada. Minta cek gula darah."

Terkait dengan diabetes tipe 2, menurut Aman, meski kejadian pada anak masih sedikit, jumlah kasusnya terus meningkat. Salah satu faktor penyebabnya ialah obesitas.

Hal senada disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Fitri Arianie. Pergeseran gaya hidup ke arah tidak sehat, khususnya di kota-kota besar, membuat anak-anak rentan terkena diabetes tipe 2, seperti tren gaya hidup minim aktivitas dan pola makan tinggi karbohidrat, lemak, dan gula.

Karena itulah, lanjut Cut, Kemenkes terus meningkatkan sosialisasi pentingnya gaya hidup sehat dan peningkatan kewaspadaan terhadap diabetes. "Di posyandu maupun posbindu ada layanan screening awal diabetes. Jika hasil screening menunjukkan kecurigaan, warga bisa memeriksakan diri lebih lanjut ke puskesmas." (Ant/H-1)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/kE1y1i
*-*

USUS SEHAT, DAYA TAHAN ANAK PRIMA



ANAK sakit tentu bikin orangtua sedih dan risau. Apalagi, jika frekuensinya terbilang sering. Misalnya, setelah kena hujan, sakit. Sehabis bepergian, sakit, atau misalnya tiap ada teman sekolahnya yang sakit batuk pilek, anak ikut tertular.

Menurut dokter spesialis anak dr Ariani Dewi Widodo SpA(K), kondisi yang demikian menandakan daya tahan tubuh anak lemah. Apa yang harus dilakukan untuk memperkuat daya tahan tubuh?

"Salah satu yang utama ialah menyehatkan sistem pencernaan anak," ujar Ariani pada Workshop Nestle Lactogrow Grow Happy, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Seperti yang dikatakan Bapak Kedokteran, Hippocrates, pada zaman Yunani kuno, bahwa datangnya penyakit-penyakit bersumber dari pencernaan. Berbagai penelitian terkini juga membuktikan bahwa kondisi sistem pencernaan turut menentukan daya tahan tubuh.

"Usus merupakan organ imunitas terbesar. Sebanyak 60%-70% sel imunitas ada di usus," kata Ariani.

Salah satu faktor yang menentukan kesehatan saluran pencernaan ialah keberadaan dan komposisi lebih dari 100 triliun bakteri di usus. Saluran cerna dikatakan sehat bila minimal 85% bakteri di usus merupakan bakteri baik (probiotik). Porsi bakteri jahat (patogen) idealnya hanya 15%.

Beberapa bakteri baik itu misalnya jenis bifidobacterium dan lactobacillus. Bakteri baik berperan meningkatkan sistem imun, membantu metabolisme tubuh, juga memproduksi sejumlah zat yang bahkan tidak bisa diproduksi tubuh, seperti beberapa vitamin.

"Jadi, penting sekali menjaga keseimbangan komposisi bakteri dalam usus tetap ideal. Jangan sampai justru lebih banyak bakteri jahatnya daripada bakteri baiknya," pesan Ariani.

Bagaimana cara menjaga dominasi bakteri baik di usus? Menurut Ariani, caranya ialah menerapkan gaya hidup sehat. Termasuk, menghindari konsumsi junk food, menjauhi polusi udara, minum air yang bebas dari zat-zat beracun, mengelola stres, serta meminimalkan penggunaan antibiotik jika memungkinkan.

Selain itu, konsumsi makanan sesuai konsep gizi seimbang juga sangat penting, termasuk makan sayur dan buah. "Sayur dan buah berperan penting dalam menjaga saluran cerna. Tapi untuk anak porsinya perlu diatur, terutama sayur, karena kalorinya hampir nol, sedangkan anak membutuhkan asupan kalori cukup untuk tumbuh kembangnya. Perlu diingat juga, konsumsi sayur dan buah tidak bisa digantikan suplemen yang mengklaim terbuat dari sayur dan buah," terang Ariani.

Kebersamaan berkualitas

Pada kesempatan sama, psikolog Elizabeth T Santosa mengingatkan pentingnya orangtua terlibat secara berkualitas dalam aktivitas bersama anak. Sayangnya, penelitian yang dilakukan tim dokter dan psikolog Nestle Lactogrow pada awal 2018 di enam kota di Indonesia menghasilkan temuan yang cukup mengejutkan.

Dari hasil wawancara dengan responden orangtua yang memiliki anak berusia 2-6 tahun, hanya 48% yang menemani anak menonton TV dan turut terlibat mamahami karakter, plot cerita, dan nilai dalam tontonan tersebut. Adapun 32% orangtua, bahkan tidak pernah atau jarang menemani saat anak menonton TV. Sisanya 21% orangtua mengaku menemani anak, tetapi tidak paham mengenai tontonan tersebut.

"Dengan kata lain, orangtua sering kali bersama anaknya, tetapi kurang terlibat dalam beraktivitas bersama anak," ujar Elizabeth.

Padahal, lanjutnya, penelitian menyebutkan orang dewasa menyisakan memori tentang rasa nyaman di masa kanak-kanak dan perasaan dicintai orangtua melalui kegiatan yang dihabiskan bersama orangtua. "Jadi, bagaimana agar orangtua lebih terlibat dalam pengasuhan anak? Pertama, jangan fokus pada jenis aktivitas, tetapi waktu kebersamaan. Kedua, harus ada interaksi, tanya jawab, dan komentar saat anak bermain. Tidak ada distraksi. Eye to eye contact, dan buat anak merasa dirinya paling penting," saran Elizabeth.

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/24TPVo
*-*

WASPADAI GEJALA AUTISME


GEJALA autisme bisa diamati saat anak berusia 1,5 tahun. Orangtua perlu memperhatikan bila anak terdapat kecenderungan gejala autisme. Salah satunya ialah perilaku anak dalam memandang objek atau benda.

"Ketika anak berusia 18 bulan diajak memandang benda yang kita tunjuk tapi anak tersebut malah memandang kita dan tidak melihat ke objek yang kita tunjuk. Ini perlu hati-hati karena ada kecenderungan gejala autisme," kata psikiater Kresno Mulyadi dalam acara Hari Kepedulian Autisme Sedunia di Jakarta, Minggu (8/4).

Jika anak memandang objek yang ditunjuk, lanjut Kresno, anak bisa dikatakan tidak ada gejala autisme.

Cara kedua untuk mengenali gejalanya ialah respons imajinasi. Untuk menilai apakah anak punya gejala autisme atau tidak bisa diamati lewat tes imajinasi berpura-pura.

"Misalnya anak diberikan mainan telepon. Anak akan pura-pura berimajinasi kalau dia sedang menelepon. Caranya meletakkan mainan telepon di telinganya," ucapnya.

"Jika anak tidak merespons mainan yang diberikan, patut dicurigai ada kecenderungan autisme."

Jika ditemukan gejala seperti itu, terapi perilaku sedini mungkin wajib dilakukan. Terapi itu bisa dijalankan dengan metode pembelajaran kata dan kalimat pada anak. Terapi harus dijalankan setiap hari selama enam jam. (OL-3)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/aSUDJn
*-*

ATASI REWEL ANAK, JANGAN BERIKAN GAWAI


ALVARO baru bisa menyebut kata papa dan mama saat berusia 3 tahun. Padahal, kakaknya dulu sudah mulai memanggil papa dan mama saat masih di usia setahun.

“Emang sih, saya lebih sibuk karena harus ngurusi dua anak. Jadinya, saya kasih anak saya itu gadget aja untuk nonton Youtube biar gak rewel,” ujar Ruth, ibunda Alvaro.

Lain halnya dengan Yen Cen, ibu dari Mykkha yang berusia 4 tahun. Menurutnya, bila sedang bermain gadget, sang anak sering tidak merespons saat dipanggil.

“Kalau disuruh berhenti susah banget, kadang bisa sampe marah. Penggunaan gadget juga ternyata membentuk karakter anak menjadi temperamental,” kata Yen Cen.

Apa yang dialami Ruth dan Yen Cen juga dialami banyak orangtua. Sebabnya, penggunaan gadget kepada anak-anak saat ini sudah memprihatinkan. Bahkan, tak sedikit anak yang kecanduan gadget.

Hal ini tak terlepas dari peran orangtua dalam mengasuh anak-anak mereka.Menurut dr Surilena SpKJ(K), psikiatri anak di RS Atma Jaya Jakarta, pemberian gadget dengan tujuan agar anak tak rewel dan memudahkan aktivitas orangtua bukanlah pilihan yang bijak.

“Orangtua sebaiknya memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungannya. Biarkan saja berantakan karena melalui hal itu anak dapat belajar dan merangsang kemampuan motorik dan sensorisnya. Orangtua dapat tetap membimbing dan mengawasi,” ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Penggunaan gadget secara berlebihan dan dalam jangka panjang, lanjut Surilena, dapat menurunkan kemampuan anak dalam berinteraksi, menimbulkan adiksi terhadap gadget, serta depresi.

“Penggunaan gadget juga dapat memengaruhi kemandirian dan kedisiplinan anak yang pada akhirnya akan memengaruhi proses belajar serta tingkat kefokusannya,” tambahnya.

Untuk mengatasi anak yang sudah kecanduan gadget, Surilena meminta para orangtua agar bekerja sama dengan anak. Orangtua perlu mengubah pola asuh, misalnya, membuat komitmen bersama untuk membatasi penggunaan gadget, mengajak anak aktif bermain bersama di luar rumah sehingga mereka dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

"Selain itu, dapat mengganti gadget dengan media belajar lain, seperti buku bergambar, puzzle, dan berbagai permainan interaktif lainnya yang dapat merangsang kemampuan sensoris dan motorik anak."

Surilena mengakui, di era digital ini, para orangtua cenderung menggunakan pola asuh praktis. Salah satu contohnya ialah ketika anak sedang rewel, tanpa berpikir panjang orangtua langsung menyodorkan gadget kepada si kecil. Bak pedang bermata dua, keberadaan gadget memberikan dampak positif sekaligus negatif pada anak.

Sementara itu, menurut Journal of Depression and Anxiety berjudul The Impact of using Gadgets on Children karya Sundus, salah satu dampak negatif penggunaan gadget ialah menghambat kemampuan si kecil untuk berbicara.

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/ZwMtqW
*-*

MANFAAT WAKTU TIDUR TERATUR BAGI SIKECIL


MEMBUAT anak-anak tertidur memang tidaklah mudah dan terkadang orang tua membiarkan anak-anak tertidur dengan sendirinya.

Dan menurut penelitian baru, anak-anak dengan waktu tidur yang teratur mungkin lebih sehat saat remaja. Waktu tidur dapat menjadi tantangan bagi orang tua tetapi hal itu bisa menjadi hal yang perlu diusahakan oleh orang tua.

Semua orang tahu bahwa Anda perlu tidur, tetapi mungkin tidak banyak orang tua yang mengetahui jumlah waktu tidur yang tepat bagi anak-anak.

Aturan umum untuk orang dewasa adalah tidur delapan jam setiap malam, tetapi itu tidak berlaku bagi anak-anak.

Untuk anak-anak prasekolah (3 hingga 5 tahun) dan anak-anak usia sekolah (6 hingga 13 tahun), National Sleep Foundation merekomendasikan bahwa mereka harus mendapatkan 10 hingga 13 atau 9 hingga 10 jam waktu tidur.

Para peneliti dari Penn State University memublikasikan hasil penelitiannya dalam jurnal SLEEP. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang tidak memiliki waktu tidur yang rutin dan memiliki waktu tidur yang kurang cukup memiliki BMI yang lebih tinggi pada mereka berusia 15 tahun dibandingkan kelompok anak-anak yang tidur secara teratur.

Salah satu penulis studi, Orfeu Buxton, profesor kesehatan biobehavioral di Penn State University, mengatakan "Pola pengasuhan di masa anak-anak memengaruhi kesehatan fisik dan BMI mereka pada saat remaja."

"Mengembangkan rutinitas yang tepat di masa kanak-kanak sangat penting untuk kesehatan masa depan anak. Kami pikir tidur memengaruhi kesehatan fisik dan mental, dan kemampuan untuk belajar."

Rutinitas sangat penting untuk anak-anak karena itu membantu mereka merasa aman dan juga membantu mereka mengembangkan disiplin diri.

Mereka juga membantu meminimalkan tingkat keegoisan mereka dan memberi anak rasa kepemilikan atas kegiatan mereka sehari-hari. Rutinitas ini dapat mencakup ciuman selamat malam, membacakan buku, dan aspek kebersihan rutin seperti mandi dan menyikat gigi.(medcom/OL-8)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/1mw6vY
*-*

ANAK JUGA BISA GAGAL GINJAL


GAGAL ginjal tak hanya menimpa orang dewasa. Ada pula anak-anak yang menderita penyakit kronis itu. Salah satunya, Viara Hikmatun Nisa. Usianya 14 tahun, tetapi gagal ginjal membuat perawakannya kecil sehingga penampilannya seperti anak usia SD. Saat hadir pada media briefing Kenali Gangguan Ginjal pada Anak di Jakarta pertengahan November lalu, ia duduk di kursi roda. Ia hadir bersama kedua orangtuanya.

Sang ayah, Syaihul Hady, mengisahkan awalnya saat berusia 7 tahun Viara menderita usus buntu yang pecah hingga harus menjalani operasi. Operasi dilakukan beberapa kali karena ada komplikasi.

Hingga suatu waktu, ketika menjalani rawat jalan, saat pemeriksaan rutin dokter mendiagnosis ada kelainan pada fungsi ginjal. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan, Viara dinyatakan gagal ginjal dan menderita penyakit lupus.

Gagal ginjal membuat Viara harus cuci darah/hemodialisis dua kali sepekan. Ia sempat terkendala karena di Surabaya tempatnya dirawat kala itu, tidak ada fasilitas cuci darah untuk anak. Ketika dipaksakan memakai perangkat untuk pasien dewasa, ia kesakitan.

Akhirnya, setelah dua tahun berlalu, Viara sekeluarga pindah ke Jakarta. Ia menjalani cuci darah rutin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang memiliki fasilitas cuci darah untuk anak-anak.

"Sekarang Viara menunggu antrean BPJS Kesehatan untuk transplantasi ginjal dari ibunya. Rencananya, Februari tahun depan di RSCM," ujar Syaihul.

Dokter konsultan ginjal anak dari RSCM, dr Eka Laksmi Hidayati SpA(K), menjelaskan gagal ginjal memang bisa dialami anak-anak. Penyebabnya, antara lain penyakit lupus seperti yang dialami Viara. "Sebanyak 14,6% gagal ginjal pada anak disebabkan oleh lupus," katanya.

Ia menduga, Viara ketika menjalani operasi berulang dalam penanganan usus buntunya, sudah menderita lupus, tetapi masih tanpa gejala. Lupus merupakan kelainan autoimun atau kelainan pada sistem daya tahan tubuh. Pada kasus Viara, lupus membuat sistem ketahanan tubuhnya justru menyerang organ ginjal.

Selain lupus, penyebab gagal ginjal pada anak ialah sindrom nefrotik, yakni kelainan yang membuat protein lolos ke urine dari saringan dalam ginjal. Penyebab lain ialah kelainan hipoplasia atau ginjal kecil, sementara 13,2% gagal ginjal anak tak diketahui penyebabnya.
Gagal ginjal juga bisa disebabkan hipertensi dan diabetes melitus yang tidak terkontrol, sumbatan saluran kemih berkepanjangan, misal karena terbentuknya batu di saluran kemih serta infeksi ginjal berulang.

Kaki bengkak

Ginjal, lanjut Eka, berfungsi untuk membuang zat sisa metabolisme, seperti urea, kreatinina, asam urat, dan bilirubin. "Juga berfungsi membentuk sel darah merah, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, tingkat keasaman darah, tekanan darah, serta membentuk glukosa kalsitriol (bentuk vitamin D) yang penting untuk metabolisme kalsium dan fosfat," terangnya.

Karena itulah, ketika ginjal rusak hingga gagal berfungsi bisa menyebabkan pertumbuhan anak terganggu, anak mengalami kelainan tulang, dan sesak napas. Ia mengingatkan agar orangtua mewaspadai bila terlihat gejala gangguan ginjal pada anak. "Antara lain, bengkak pada kaki. Bengkak itu simetris antara bagian kanan dan kiri. Segera periksakan ke dokter," kata Eka.

Namun, yang lebih penting dari itu ialah mengelola penyakit pada anak yang bisa memicu gagal ginjal, seperti diabetes melitus dan hipertensi.  "Bila anak mengalami hipertensi, anak tetap harus diberi obat agar tekanan darahnya mencapai nilai normal. Harus dipahami, obat hipertensi tidak merusak ginjal," tegas Eka.


Pada kesempatan sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Cut Putri Arianie, mengatakan anak dengan gangguan ginjal membutuhkan biaya pengobatan yang besar, terancam mengalami tumbuh kembang yang terhambat, terkendala dalam proses belajar di sekolah yang berakibat pada menurunnya prestasi, merasa rendah diri, dan yang paling membahayakan ialah risiko kematian dini.

"Oleh karena itu, sangat penting bagi para orangtua dan masyarakat luas untuk mengenali faktor risiko dan gejala gangguan ginjal pada anak. Respons orangtua dan masyarakat terhadap gangguan ginjal akan sangat memengaruhi keberlangsungan hidup anak," ujarnya.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya gangguan ginjal pada anak, imbuhnya, Kementerian Kesehatan mengadakan serangkaian kegiatan promotif dan preventif, meliputi sosialisasi dan diseminasi informasi tentang gangguan ginjal pada anak, serta pencanangan Gerakan Ayo Minum Air (Amir). (*/Ant/H-1)

SUmber: Media Indonesia
https://goo.gl/JDYH9K
*-*

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya