Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

IFY BLINK SENERGIKAN PENDIDIKAN DAN MUSIK


Penyanyi Alyssa Saufika Umari, 19, atau akrab disapa Ify, menyinergikan perannya sebagai musikus dan mahasiswa. Mahasiswa jurusan musik Universitas Pelita Harapan itu menuturkan, pendidikan itu ia ambil karena dapat mendukung minatnya sejak kecil. 

Dengan demikian, walaupun saat ini sudah dikenal sebagai penyanyi, dia semakin serius menempuh pendidikan secara formal di bidang musik.

"Sejak umur tiga tahun aku sudah senang main piano, kemudian dimasukkan ke sekolah musik. Kerja di bidang musik memang jadi cita-citaku. Seandainya tidak jadi musikus, bisa jadi penulis lagu atau produser musik," tutur Ify seusai acara peluncuran produk Clean and Clear di Jakarta, kemarin. Bagi Ify, yang penting ialah keseimbangan membagi waktu antara kuliah dan bermusik. Tidak lupa dia juga menyisakan waktu bersama keluarga.

"Harus pintar-pintar membagi waktu. Kalau waktu kuliah tidak sampai sore, aku memanfaatkan sisanya untuk kegiatan lebih yang produktif, seperti latihan bermusik atau acara lain. Kalau untuk keluarga harus disempatkan waktu luang," tutur anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Karena ingin fokus menggeluti dunia musik, Ify memutuskan tidak lagi bermain sinetron. Di samping itu, bermain sinetron sangat menyita waktu. Menurutnya, menekuni hal yang dia suka akan berdampak baik daripada memaksakan sesuatu yang tidak disenanginya.

"Aku tidak ingin main sinetron karena aji mumpung, lebih ingin dikenal sebagai musikus," ujar salah satu personel grup musik Blink itu.

Dalam pengambilan keputusan, lanjutnya, peran keluarga sangat penting. Baginya, keluarga merupakan support system nomor satu.
"Sebelum memutuskan sesuatu, aku selalu berdiskusi dengan keluarga. Mereka juga tempat aku mengonsultasikan semua hal," imbuh anak kedua presenter berita televisi Gina Sonia itu.
Berkat keseriusannya bermusik, lagu ciptaannya yang berjudul Kembalilah berhasil masuk di 36 tangga lagu Itunes dan menuai pujian dari banyak pihak, termasuk musikus Indonesia.

Dukung kampanye
Dalam usia yang terbilang muda, Ify aktif dalam kegiatan positif lain. Dia kini terlibat dalam kampanye #Imbright bersama Clean and Clear. Kampanye itu mengajak remaja putri Indonesia agar bangga menjadi diri sendiri.

Hal itu dilakukan karena selama ini kecantikan biasa diidentikkan dengan kulit putih. Akhirnya, banyak remaja putri di Indonesia merasa tertekan dan berusaha mengubah kulit alami mereka.

"Kecantikan remaja putri Indonesia beragam, termasuk warna kulit. Dengan jadi diri sendiri, mereka akan lebih percaya diri mengekspresikan diri," tutur Ify. Ify juga menyanyikan lagu tema dalam kampanye tersebut, yaitu No Ordinary Girl. "Lirik intinya you see the real me, bagaimana orang melihat kita apa ada dengan begitu akan lebih percaya diri. Kamu lihat aku apa adanya," tutup cucu aktris Farida Pasha itu.

Nama Alyssa Saufika mulai dikenal setelah ia mengikuti acara pencarian bakat Idola Cilik Musim Pertama. Dia juga bermain dalam sinetron Putih Abu-Abu (2012), Diam-Diam Suka (2013), dan High School Love Story (2015). (H-5)


Sumber: Media Indonesia

KARYA UNIK MENGGUNAKAN MEDIUM BANTAL


Tak hanya mainan, bantal pun ternyata bisa dibuat dengan figur-figur tertentu. Bahkan dengan sentuhan desain, Anda bisa melihat wajah diri sendiri menjadi sebuah figur yang unik dan tertuang dalam medium bantal yang nyaman di genggaman tangan. 


Karya bantal figur ini terlahir dari dua sahabat bernama Cindy Novita, 29, dan Stephanie Adela, 29, yang berkuliah di jurusan desain salah satu universitas swasta ternama di Jakarta Barat.



Setelah lelah menjadi karyawan, mereka memiliki ide untuk membuat usaha bersama. Awalnya ide yang muncul adalah membuat boneka, akhirnya pada Januari 2014 ide bantal lebih bisa direalisasikan ke dalam pasar yang lebih luas.


Karya yang dihasilkan pun cukup unik, sebuah bantal yang dicetak dengan vektor wajah dan potongan bantalnya mengikuti bentuk kepala. Untuk menambahkan keunikan, bagian bawah terjuntai kaki mungil.

Akhirnya merek dagang mereka menggunakan nama Toottle sebuah akronim dari too little. Postur manusia yang besar berhasil dikecilkan dalam ukuran bantal dengan desain yang khas dan unik. Sebuah terobosan berhasil diciptakan saat itu. Hingga akhirnya setahun berjalan, karya mereka ditiru produsen lain.

"Karena kami hanya memasarkan secara daring, jadi banyak orang yang lihat gambarnya dan langsung disadur. Waktu itu kami sudah tanya soal hak cipta, tapi karena ini desainnya custom dan berganti-ganti, jadi tidak bisa dipatenkan," jelas Cindy, di Jakarta, Kamis (28/1). Hingga saat ini Tootlle hanya menjual produknya via Instagram dan Facebook. 

Untuk menyiasati marketingnya, mereka melakukan sistem endorsement dari fesyen blogger ternama. Bermodal hanya Rp1,5 juta, mereka membuat beberapa sampel sejak Januari 2014, baru akhirnya Mei 2014 mereka berhasil merilis Tootlle dengan desain yang sudah mantap. 

"Baru sebulan sudah balik modal, bulan keempat sudah mulai banyak pesanan dan omzetnya stabil sampai saat ini Rp25juta-Rp30 juta," tambah Stephanie. 

Sampai saat ini sudah lebih dari 2.000 bantal diproduksi mereka. 10%-nya bahkan sudah diekspor ke Hong Kong, Australia, Kanada, dan Dubai. 

Harga jual yang dibandrol mulai dari Rp50 ribu-Rp300 ribu tergantung besar ukurannya. Sayangnya, pengiriman keluar negeri terkendala biaya ongkos kirim yang lebih besar ketimbang harga barangnya. Tak sedikit pula orang yang akhirnya enggan membeli. 

"Biasanya paling sering kirim ke Australia, karena ada kerabat yang tinggal di sana dan bisa nitip kalau ada teman yang ke sana," ujar Cindy sambil tertawa. 

Toolittle tak hanya menawarkan desain yang unik dan khas, tapi juga perlakuan yang detail kepada para pelanggannya. Misalnya, banyak pelanggan yang mengirimkan foto dengan format yang tidak lengkap. 

"Kami harus menanyakan mereka untuk memenuhi kelengkapan tersebut. Karena kami harus bikin secara detail mulai dari aksesoris sampai tanda lahir yang ada di wajahnya," jelas Cindy. 

Sementara itu, mereka juga masih mengalami kendala untuk mencari sumber daya manusia yang bisa mendesain sesuai dengan gaya Tootlle. 

Karena tidak semua desainer mampu untuk membuat gambar-gambar vektor yang mirip dengan wajah asli, tapi dengan guratan yang khas. 

Saat ini mereka hanya menggunakan dua desainger paruh waktu yang berada di kota berbeda, Depok dan Yogyakarta. 

Uniknya, Stephanie dan Cindy juga tinggal di kota berbeda, masing-masing di Jakarta dan Yogyakarta. 

"Kami membuktikan kalau kerja tanpa kantor juga bisa, kami bisa berkomunikasi lewat Whatsapp atau email untuk menjalankan bisnis ini. Stephanie bertugas untuk mengawal produksi dan saya marketing," tambah Cindy. 

Saat ini Tootlle baru memili dua aset mesin jahit. Sisa produksinya mereka bekerja sama dengan vendor percetakan dan penjahit. 

Satu produksi memakan waktu hingga tak kurang dari seminggu. "Biasanya lama di desainnya, kalau jahit dalam sehari bisa selesai 10 buah," papar Stephanie. Nantinya mereka akan mengembangkan produknya untuk tas dan casing ponsel. 

Otomatis hal ini membuat mereka harus menambah sumber daya manusia terutama desainer. "Kami masih terus mencari dan selalu membuka perekrutan," pungkas Cindy.

Sumber : Media  Indonesia

CORAT CORET KE INTERNATIONAL


Corat coret anak kecil biasanya tidak pernah diperhatikan serius orang dewasa. Tidak demikian untuk Ira Kurnia Santoso. Ibu Kennard Alvaro Hadinata ini tidak memandang sebelah mata segala hasil corat-coret anaknya.


Ira memperhatikan dan mengumpulkan semua karya putranya sejak usia tiga tahun. “Awalnya itu umur 2,5 tahun. Itu juga hanya coret-coret di kertas saja,” ujar Ira.


Perempuan yang berprofesi sebagai desain grafis itu berhasil menangkap bakat melukis Kennard sejak berusia tujuh tahun. Ia menyediakan banyak kertas sebagai media anaknya menyalurkan bakat.

“Tepatnya kalau tidak salah saat umur tiga tahun sudah mulai ada kejelasan gambarnya.

Jadi, memang Kennard tidak pernah melukis di tembok, saya selalu sediakan banyak kertas dengan ukuran besar agar dia bisa mencoret-coret dengan bebas di kertas itu,” ujar Ira.

Menurut Ira, ada beberapa strategi untuk bisa memperhatikan dan mengeluarkan bakat yang dimiliki anaknya itu. Dirinya selalu bebas dan memberikan banyak waktu ketika Kennard melukis. Setelah usai, ia juga menyempatkan untuk melihat hasil yang sudah dikerjakan.

“Saya pilih, yang bagus-bagus selalu saya simpan. Karena kadang kalau didiamkan, anak kecil itu bisa langsung mencoret-coret dengan tidak jelas,” sambung Ira. Melihat perkembangan anaknya yang pesat, Ira lantas memasukkan Kennard ke Daun Sanggar Lukis Anak binaan Pak Arik saat usia empat tahun agar bakatnya terasah.

Hasilnya ialah, lukisan Kennard telah dikirim ke berbagai lomba melukis di berbagai ajang perlombaan. Kennard yang awalnya hanya mencoret-coret secara asal di atas kertas itu telah berhasil memenangi banyak penghargaan, baik itu dari dalam maupun luar negeri.

Karya pertama Kennard yang diikutsertakan dalam perlombaan mendapat Honorary Mention di ajang The 4th Yang Ming International Adolescents Painting Competition 2012. 

Mendapat penghargaan itu, Kennard pun semakin rajin melukis dan mengikuti perlombaan yang membuat hasil karyanya itu sering dilirik para juri.

Terbukti, lebih dari 70 penghargaan diperoleh Kennard, baik dari perlombaan dalam maupun luar negeri. Tak hanya sampai di situ, berbagai lukisan Kennard sudah banyak dipamerkan di galeri-galeri luar negeri. Seperti di Spanyol, Jepang, Belanda, Polandia, Tiongkok, Jerman, London, Rusia, dan Paris.

“Kennard itu memiliki bakat yang luar biasa.Dia salah satu anak didik lukis saya yang paling banyak mengukir prestasi dan mendapatkan penghargaan di berbagai negara yang merupakan kelas berat seperti di London. Di sana, Kennard satu-satunya orang Asia dan Indonesia yang bisa mengikuti pameran,“ ujar guru lukis Kennard, Arik S Wartono.

Selain itu juga, karya anak bungsu dari dua bersaudara yang gemar menggambar robot dan mobil ini bahkan menjadi ilustrator souvenir dalam sampul katalog sabun dalam The Twelve Art Competition di Polandia pada 2014.

Sampai saat ini, Kennard yang masih berusia belia itu juga masih sering berlatih melukis dan mengikuti berbagai ajang perlombaan, baik nasional maupun internasional untuk menggapai cita-citanya sebagai seorang pelukis profesional.(M-5)

Sumber : Media Indonesia

KEINDAHAN DIBALIK KELUMPUHAN


Seni dan kreativitas tidak terbatas untuk jiwa dan raga yang sempurna. Hal itu dibuktikan Kadek Windari asal Bali. Perempuan yang akrab disapa Winda itu terlahir normal. Namun, saat ia berusia enam tahun, keanehan terjadi pada dirinya.

Kala itu Winda tidak
sengaja tersandung dan jatuh. Seketika tubuh putri pasangan Ketut Punia dan Komang Warsiki itu lumpuh.



“Awalnya dokter bilang tidak ada apa-apa. Cuma terjatuh biasa saja, jadi saya juga tidak begitu memikirkan. Pada akhirnya tidak normal seperti ini,“ ujar Winda.

Dalam keterbatasannya, perempuan kelahiran Gianyar, 12 Desember 1990, itu gemar menggambar. Sejak kecil tangannya terampil menorehkan kuas ke atas kanvas. Meski saat melukis tangan kirinya harus menopang tangan saat memegang kuas, itu tidak menghalanginya menghasilkan lukisan yang indah.

Dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti melukis, Winda dibantu ibunya menyiapkan alat lukis dan cat warna. Melihat hasil lukisan adiknya yang indah, sang kakak Putu Agus Setiawan yang juga penyandang disabilitas ikut membantu. 

Agus membantu dengan mempromosikan dan menjual hasil lukisan adiknya itu di media sosial dan internet. Tak disangka, lukisan Winda banyak peminatnya, baik dalam maupun luar negeri.

Agus secara tidak langsung menjadi seorang pemasar dalam proses menjual lukisan milik adiknya. Dalam seminggu, Winda dapat menyelesaikan satu karya lukisan.

“Dulu tidak ada yang mengenal atau mengetahui karya Winda. Sampai akhirnya saya coba memposting di internet dan media sosial. Sejak itu banyak orang yang memesan dan membeli karya Winda,” ungkap Agus.

Winda pun menjadi tulang punggung keluarganya dengan menjual lukisannya lantaran ibunya yang sudah tidak bisa lagi bekerja karena harus mengurus Winda dan Agus.

Satu lukisan Winda berukuran 50x60 sentimeter (cm) dihargai Rp1,2 juta dan ukuran 60x90 cm bernilai Rp2,2 juta.

Bagi Winda, cacat fisik tidak menghambat dirinya menggapai cita-cita. Justru dengan ketekunan dan kegigihan yang kuat, dirinya yakin bisa menjadi seorang pelukis profesional yang dikenal banyak orang. (Rio/M-5)

Sumber : Media Indonesia

CLOTHING LINE, JAKCLOTH YEAR AND SALE 2015


Aneka merek fesyen yang didesain dan diproduksi anak-anak muda secara independen itu memamerkan produkproduknya, mengalihkan perhatian dari label-label mainstream yang lazimnya telah mengglobal. Di sini, justru clothing line yang masih merintis dan belum rilis di mal yang dapat prioritas. 


Merek yang telah berskala besar itu, kata Perdana Kusuma, Creative Director Jakcloth, di dunia clothing line diistilahkan sudah go-public. "Kalau merek-merek yang sudah sangat besar dan sudah dijual di mal kami tolak, untuk melindungi merek-merek yang masih kecil, terang Dana.



Dana menjelaskan, acara yang diselenggarakannya memang berusaha membangun semangat dan jiwa bisnis anak-anak muda. "Mereka-mereka ini kan membangun lapangan kerja, anggap saja satu cabang toko distro bisa mempekerjakan lima sampai delapan orang. Kami berusaha membuka peluang bagi siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur," ujar Dana. 

Pebisnis-pebisnis muda ini memandang Jakcloth sebagai ajang tempat untuk berjualan sekaligus promosi. "Untuk memperkenalkan mereknya secara cepat ke banyak orang. Para pengunjung di sini pun sangat terbuka dengan merek-merek baru, tapi tetap respek dengan merekmerek lama. Kalau ada merek baru yang bagus, ya mereka juga mau membeli. Makanya merek-merek baru itu sangat senang ikut acara ini," ujar Dana.

Diselenggarakan di penutup dan pembuka tahun, 30 Desember 2015 hingga 3 Januari 2016, acara yang diselenggarakan Lian Mipro ini memasuki tahun kedelapan. Terus bertumbuh "Dulu pas 2009 itu gue tahu salah satu merek di sini cuma punya satu stan kecil. 

Sekarang, merek itu sudah bisa menyewa satu sampai tiga stan," ujar Antonius, salah satu pengunjung Jakcloth. Berdesain keren dan berbahan bagus, harga yang disematkan pada labellabel kaus, kemeja, celana, hingga aneka asesori itu pun terjangkau jika dibandingkan dengan produk serupa yang dijual di mal.

"Kalau barang merek jelek terus harga mahal, ya tidak akan dilirik pengunjung. Pasti tumbang, mereka juga pasti selalu menjaga kualitas, boleh diadu dengan barang-barang yang ada di mal," tegas Dana. 

Hal senada diungkapkan Yulianto, 18. "Misalnya gue dapat satu baju di mal, dengan harga yang sama, gue bisa mendapatkan dua sampai tiga baju di sini," kata Yulianto. Pada ajang tahun ini, ada 400 brand yang saling berebut perhatian pengunjung. Di antaranya, Restart Development Kickdenim serta Bloods. 

Gugi Aryamula, pemilik Restart Development meyakini bisnis clothing bertahan di situasi krisis sekalipun. "Kebutuhan sandang ini bisa dibilang primer. Hebatnya lagi, Indonesia adalah negara dengan penduduk muda atau produktif yang banyak," ujar Gugi.

Firmansyah, pemilik Bloods juga optimistis fesyen lokal bisa bersaing dengan merek-merek luar yang juga tak kalah agresif masuk ke pasar Indonesia. “Kami mencoba membuat produk sebaik mungkin dan mengikuti pasar Indonesia yang harganya tidak terlalu tinggi. Kita lokal tapi kualitas sebaik mungkin,” terang Firmanyah.

Ekspresikan diri

Fesyen, lanjut Firmansyah, tidak ada matinya. Orang-orang, terutama anakanak muda dipastikan ingin mengekspresikan dirinya lewat fesyen. Mereka lalu mengidentikkan dirinya dengan merek fesyen tertentu, baik sebagai produsen maupun konsumen. "Tiap orang punya taste, jadi mereka bisa ekspresi sesuka hati. Misalnya mereka tidak suka dengan merek ini, mereka mau campur konsep merek A dengan merek B. Akhirnya dengan ide seperti itu, mereka membuat merek mereka sendiri," terang Firmansyah. 

Saat anak-anak muda itu menolak cuma jadi sasaran pasar dan menjajaki bisnis fesyen dengan membuka clothing line, makin banyaknya tempat produksi dan perajin yang bisa jadi mitra, membuat peluang terbuka lebar. "Mereka juga melihat kesempatan, tidak perlu ada fisik bangunan untuk dagang, karena bisa berjualan lewat online," lanjut Firmansyah.

Di sisi lain, Dana menganggap kebutuhan sandang ialah salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat. "Walaupun sesusah-susahnya orang, pasti mereka mau trendi-trendi sedikit. Nabung dulu sebulan atau dua bulan sebelum perhelatan Jakcloth," ujar Dana. Harus cepat Desain yang silih berganti, merek yang terus bertumbuhan, dan muka-muka pengusaha clothing baru yang bermunculan,

Menurut Ivanza, Manajer Kickdenim, menuntut pebisnis di bidang ini cepat berpikir dan bergerak. Soalnya dalam hitungan hari atau bulan, keinginan konsumen itu sudah berubah-berubah. Fesyen, musik, fotografi , dan internet, bagi Gugi ialah empat faktor yang mendorong perkembangan bisnis clothing di Indonesia. "Sekarang yang sedang berkembang itu ialah bandband lokal yang sering menjadi endorser bagi merek-merek fesyen.

Dengan banyaknya event baik itu yang on-air maupun off air, band-band lokal tersebut sangat eksis keberadaannya. Gaya berpakaian mereka itu akan diikuti juga oleh para fan mereka," terang Gugi. Senada dengan Gugi, Dana juga mengakui adanya kolaborasi antara musik dengan fesyen. "Menurut saya, itu ramuan mujarab. Kebetulan beberapa clothing kan juga akrab dengan bandband sebagai endorser.  Kadang yang bikin ngetrend clothing-clothing ini ya band," jelas Dana. 

Dunia Fotografi , bagi Gugi, juga sangat penting bagi perkembangan bisnis di Indonesia. Menurutnya, jika endorser sesuai dengan konsep produk dibarengi dengan visualisasi yang persuasif dan menarik, niscaya konsumen terpikat. Kualitas tetap nomor satu Tentu saja faktor-faktor tersebut wajib dibarengi dengan produk-produk berkualitas agar konsumen tidak merasa ditipu lewat iklan. 

Gugi mengatakan merek-merek lokal saat ini sangat cerdas melakukan ikhtiar menguatkan mereknya. "Itu merupakan kreativitas dari brand-brand tersebut, bagaimana brand-brand tersebut mengikat talent-nya, bagaimana brand-brand tersebut meng-endorse artis-artis terkenalnya, ataupun memunculkan bintangbintang tamu sebagai foto modelnya.

Tak kalah pentingnya, memanfaatkan internet serta media sosial. “Internet memudahkan merek yang memiliki konsumen di luar kota atau bahkan luar negeri. Misalnya brand itu ikut Jakcloth, toko mereka di Bandung, padahal konsumennya tinggal di Jakarta. Ya jadi terhubung dengan online. Ke depan,online akan menjadi pendukung terbesar di luar penjualan langsung," kata Dana. Jadi, kapan kamu mulai berbisnis? (M-1)

Penulis: Jonathan Patrick Andreas Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran
Sumber : Media Indonesia

MENIKMATI BUKU DALAM BAHASA GAMBAR


Lewat akun Instagram-nya, Sesti Kusmayati, 28, mengunggah foto proses mewarnai buku yang sedang ditekuninya. ‘Sengaja unggah foto yang belum selesai karena prosesnya lebih penting’, tulisnya santai. Dia tidak mengikuti kebiasaan netizen lainnya yang memilih memamerkan foto hasil mewarnai yang sudah tuntas.



Setelah demam swafoto yang banyak membanjiri media sosial, kini foto buku mewarnai untuk orang dewasa memang menjadi tren baru. Tersebarlah foto beberapa gambar yang sama dengan perpaduan warna yang berlainan.

Sebenarnya tren buku mewarnai sudah lebih dulu meluas di luar negeri sejak dua tahun lalu. Namun, baru sejak Juni 2015, virus mewarnai untuk kalangan dewasa tersebar di Indonesia seiring dengan beberapa penerbit yang mulai menghadirkan pilihan buku mewarnai untuk orang dewasa. 


Johanna Basford dikenal sebagai pelopor tren mewarnai segala usia. Gramedia Pustaka Utama membeli hak cipta bukunya yang berjudul Secretret Garden dan membuat buku itu bisa dibeli di Tanah Air. Sebelum buku mewarnai untuk dewasa dijual di Indonesia, beberapa penikmatnya bahkan sampai membeli langsung dari negara asalnya.



Buku mewarnai untuk dewasa berdesain gambar lebih rinci dan terbilang rumit. Uniknya kegiatan mewarnai di kalangan dewasa ini diklaim ampuh untuk menangkal stres. Beberapa komunitas yang peduli pada kesehatan mental, seperti Komunitas Gethappy, ikut mempromosikan kegiatan mewarnai.



Amandani Hastari, 27, seorang ibu dari satu orang anak yang sesekali menggunakan waktu istirahatnya dengan mewarnai. Saat anaknya sudah tidur, dia menyibukkan diri dengan mewarnai. Oktober lalu, dia sengaja membeli satu buku mewarnai karena merasa jenuh, membutuhkan pengalihan fokus. “Saya membutuhkan terapi, lalu tahu ada terapi warna dan memang suka gambar-gambar,” katanya.

Lantas berhasilkah misi Amandani lewat mewarnai? Dia mengaku sebenarnya gambar yang penuh dengan detail malah bisa membuat stres karena harus mewarnai bidang yang kecil.

Kalau tidak ditopang dengan alat mewarnai yang bagus, dia merasa kurang semangat karena bisa mengurangi kualitas gambar dan itu memperburuk suasana hatinya.

Dalam acara talkshow Tren Buku Mewarnai dan Manfaatnya sebagai Antistres di Gramedia Central Park, Jakarta, Sabtu (16/1) lalu, psikolog Agatha Novi Ardhiati menyatakan manfaat mewarnai itu terkait dengan fokus.

“Ketika seseorang sedang ada masalah, saat mewarnai fokusnya akan tertuju pada kegiatan yang sedang ia lakukan, sejenak melupakan masalah-masalahnya.” Setelah merasa lebih rileks karena senang dengan serunya mewarnai, ketika kembali dihadapkan dengan masalah, pikirannya bisa lebih jernih mencari jalan keluar.

Hal itu dirasakan Dini Afi andri, 29, yang seharihari berprofesi sebagai penulis . Dia mulai awalnya mengetahui buku mewarnai untuk dewasa lewat media sosial seorang temannya. Suatu hari dia melihat di toko buku dan tertarik karena gambargambarnya terbilang rumit yang memancingnya membayangkan warna yang dipikirnya akan cocok untuk setiap gambar. 

“Ini rasanya membantu mengurangi stres soalnya bisa fokus memilih warna dan mewarnai sampai berjam-jam, terus puas dan senang lihat hasilnya,” simpulnya. Perkembangan Stres di pekerjaan, waktu yang dihabiskan sia-sia di jalan, kemacetan yang harus dilalui demi ke lokasi wisata, semua itu diyakini Tria menjadi pendorong merebaknya tren buku mewarnai di kalangan dewasa Indonesia. Bersama Khalezza, dia digandeng Penerbit Renebook untuk membuat buku mewarnai sejak Juni 2015.

Bersama penerbit, mereka kemudian menggagas Komuni tas Tabrak Warna di media sosial sebagai wadah bagi orang dewasa yang suka mewarnai.

Kini pengikut mereka di Instagram sudah 9.000. Tak hanya di Jakarta, Komunitas Tabrak Warna juga ada di Malang, Surabaya, Bandung, Lampung, Pekanbaru, dan Yogyakarta.

Mereka menyebar virus mewarnai lewat berbagai kegiatan di car free day, kampus, bahkan ajang peng galangan dana. “Mewarnai ialah aktivitas sederhana, mudah, dan murah yang dapat menjadi teman untuk mengisi time,“ pikir Tria.

Meski banyak aplikasi mewarnai, format buku mewarnai bisa menghadirkan sensasi yang lain. Buku yang disusun ilustrator pada akhirnya bukan karya ilustra tor itu, melainkan karya si pemilik buku, orang yang mewarnainya. Nilai plusnya buku mewarnai bisa disimpan dan dikenang.

Indonesia tampaknya baru di tahap awal dalam tren mewarnai untuk orang dewasa. Namun, kini semakin lazim pula lomba mewarnai untuk dewasa, bukan sekadar untuk anak-anak.

Gramedia Pustaka Utama (GPU) sudah menerbitkan 12 judul buku mewarnai. Tak hanya karya ilustrator luar negeri, sebagian di antaranya juga karya ilustrator lokal. Dini selaku editor buku mewarnai di GPU mengatakan pihaknya akan mendorong lebih banyak ilustrator lokal untuk membuat buku mewarnai.

“Kita menerbitkan edisi kartu pos mewarnai dan buku mewarnai ukuran travel yang lebih nyaman dibawa untuk saat bepergian“ ujarnya menegaskan ke depan perkembangan tren mewarnai ini masih panjang.(Her/M-2)

Sumber : Media Indonesia.

KAIL UNTUK PEREMPUAN MARGINAL


Sebuah boneka berambut panjang terbungkus rapi dalam kotak berwarna pink. Sekilas tak nampak perbedaan boneka ini dengan boneka yang umum dijual di toko. Namun, sebuah angklung mini segera menarik perhatian. Ya, boneka itu memegang angklung mini, dan mengenakan pakaian batik dengan desain yang lucu dan menggemaskan.

Adalah Lusia Efriani, penggagas boneka batik dengan label 'Batik Girl' ini. Dan, siapa sangka, baju boneka ini adalah karya napi wanita. Sebagian besar adalah napi wanita dari Lapas Balerang, sebagian lain adalah napi dari Lapas wanita Tangerang.

Pemberdayaan Perempuan

Memberdayakan kaum perempuan menjadi tujuan awal Lusi ketika memulai misi sosial ini. Melalui Yayasan Cinderella from Indonesia, Lusi menyelenggarakan pelatihan gratis bagi perempuan di Batam tempat ia tinggal. Ia memberi fasilitas pelatihan kepada perempuan yang menjadi orang tua tunggal, ibu rumah tangga yang menderita HIV (ODHA) serta kepada napi wanita.

Mulanya Lusia menyelenggarakan pelatihan gratis untuk membuat es dan cupcake. Hasil dari penjualan diputar kembali sebagai modal. Masalah timbul ketika barang tidak habis terjual, sehingga Lusia harus membeli barang sisa. Ć¢€Å“Dari situlah terpikirkan ide baru untuk membuat sesuatu yang tahan lama. Jadilah produk Batik Girl ini,Ć¢€ tutur perempuan kelahiran Surabaya ini.

Di antara berbagai komunitas perempuan yang mendapat pelatihan, hasil karya napi wanita terlihat menonjol dan paling berhasil. "Mereka mempunyai banyak waktu, dan tidak memiliki banyak kegiatan. Jadi, mereka lebih fokus membuat baju untuk boneka, " ujar Lusi. 

Sebagian besar napi di Lapas Balerang yang menjadi pembuat baju untuk boneka Batik Girl adalah perempuan muda yang terkait kasus narkoba. Status sebagai napi wanita sangat rentan dan terpinggirkan. Karena menanggung beban mental, beberapa di antaranya sempat melakukan percobaan bunuh diri dalam tahanan. Dengan pelatihan ini, Lusi mencoba memberikan bekal yang bermanfaat untuk mereka jika nanti sudah keluar dari tahanan. Bahkan, salah seorang trainer-nya saat ini adalah mantan napi yang dulu ia bina.

Langkah Maju

Sepanjang tahun 2014, boneka Batik Girl telah diproduksi sebanyak 1500 buah. Hasil ini di luar dugaan, mengingat target yang diterapkan hanya 1000 buah. Untuk tiap baju boneka yang dikerjakan, tiap napi mendapat upah Rp.10.000,00.

Namun Lusi mengakui kendala dalam hal penjualan. Ć¢€Å“Jujur saja, boneka Batik Girl lebih dikenal di luar negeri dari pada di Indonesia. Sayang sekali, masyarakat kurang menghargai hasil karya dalam negeri meskipun kualitasnya tidak kalah dengan produk luar,Ć¢€ jelasnya prihatin.

Boneka Batik Girl dibuat unik, satu boneka satu desain sehingga tidak ada boneka yang memakai baju yang sama.

Menurut Lusi, pihaknya telah mencoba berbagai cara untuk memasarkan hasil karya napi binaannya dengan membuat display di Gado-gado Boplo, Jakarta, Saung Angklung Mang Udjo, Bandung, serta di Cinderella Center, Batam. Ia juga mengikuti berbagai pameran di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Karena hasilnya kurang maksimal, ia mengupayakan mengadakan roadshow penjualan boneka Batik Girl.

Ć¢€Å“Target pasar kami adalah Singapura, Malaysia, Hong Kong, Australia dan Amerika. Hasil penjualan akan dialokasikan untuk kegiatan sosial di yayasan, yang membantu single parent, anak jalanan, ODHA,Ć¢€ kata Lusi yang mempunyai usaha arang di Batam. Ia berharap roadshow akan mendongkrak penjualan sekaligus bisa menyebarkan misi yang diemban untuk memberdayakan perempuan.(X-11)

Sumber : Media Indonesia.

PENGABDIAN DI RUANG PUBLIK


Lima penari masuk dari kiri panggung dan menghadirkan unsur gerakan tradisi. Mereka pentas atas nama keetnikan. Ada kritik atas para perantau yang sukses di negeri seberang hingga perantau yang kerap melupakan nilai-nilai adat-istiadat kala pergi jauh. Jemari hingga hentakan kaki para penari begitu apik. 


Ada penghayatan atas identitas Minangkabau. Cuplikan itu terlihat dalam karya kontemporer Rantau Berbisik suguhan kelompok Nan Jombang (Padang) di Jakarta, pertengahan pekan ini. Rantau Berbisik merupakan karya koreografer Ery Mefri.

Ia mementaskan tarian tersebut dalam rangka Festival Kelola 2015. Ery menghadirkan para penari profesional. Mereka ialah Angga Djamar Mefri, Rio Mefri, Intan Mefri, Ririn Mefri, dan Gitra Miranda. "Ini tentang dunia perantauan. Ada gerakan kontemporer yang kami sajikan," ujar Ery seusai pementasan. 

Karya tarian Rantau Berbisik tak terpisahkan dari kegiatan merantau. Ini merupakan tradisi yang lekat bagi masyarakat Minangkabau. Kematangan seorang laki-laki dalam perjalanan kehidupan sehari-hari membuat merantau menjadi sebuah perjalanan alami. Lewat suguhan tarian itu, koreografer ingin mengisahkan dinamika, pasang-surut, dan perjuangan para perantau dari Minang di seluruh Nusantara.

Hal itu menarik karena merantau yang notabene perjalanan kultural mampu Ery suguhkan di festival tersebut. Penampilan Nan Jombang memang tak diragukan lagi. Mereka telah mementaskan berbagai karya pada festival dunia. 

Sebut saja, tampil pada Oz Asia Festival di Australia, Fall for Dance Festival New York di Amerika Serikat dan Festival Asia Pacific di Haus Der Kulturen Der Welt, Berlin, Jerman. Nan Jombang berhasil meraih dua kali Hibah Seni Kelola, yaitu pada 2002 untuk karya Mati Suri dan 2011 untuk karya Rantau Berbisik.

Karya yang mereka bawakan kembali di festival kali ini. Selain suguhan Nan Jombang, Festival Kelola juga menghadirkan Gilang Ramadhan & Komodo (Jakarta), Danang Pamungkas (Solo), dan Yola Yulfianti (Jakarta). 

Semua pertunjukan digelar di beberapa kampus di Jakarta dan Malang, Jawa Timur. Kehadiran Festival Kelola memang masih jauh dari harapan. Apalagi, tidak ada karya baru yang disajikan pada pementasan tari. Semuanya ialah karya-karya yang pernah seniman/koreografer sajikan di beberapa kesempatan di Taman Ismail Marzuki atau beberapa pusat kebudayaan lainnya.

Di ambang kematian

Selain pementasan tarian, ada pemutaran film dan diskusi film pada festival itu. Pada diskusi kecil yang berlangsung di kawasan Cikini, misalnya, sejumlah penari, teaterawan, dan sastrawan pun ikut hadir. Ada hal pesimistis karena Festival Kelola yang baru pertama kali digelar ini mendapatkan nada sinis dari beberapa seniman. 

Koreografer Hartati menilai keberadaan Kelola di ambang kematian. Hal itu disebabkan Kelola tidak menyajikan program-program yang mampu memberikan sumbangsih penting. "Ya saya kira perlunya Kelola-Kelola lainnya di daerah sehingga bisa menjembatani seniman di sana," tutur perempuan yang juga dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu.

Menanggapi itu, Direktur Yayasan Kelola Amna S Kusumo mengakui keberadaan yayasannya memang mengalami kendala. Apalagi, pendanaan yang diterima dari sebuah donatur asing pun tidak cukup untuk mengakomodasi seniman. "Kami mendapatkan dana (tapi bukan dari pemerintah Indonesia). 

Dengan tim kerja yang ada, kami hanya mau membantu seniman untuk bisa menyajikan karya terbaik. Kami yakin suatu hari akan ada Kelola-Kelola di daerah sehingga bisa menjembatani seniman di kawasan timur Indonesia," jelasnya. Teaterawan asal Bandung, Iman Soleh, pun menilai pelaksanaan festival semacam itu perlu dilakukan di berbagai daerah.

Hal itu berguna agar gaungannya lebih membumi dan memberikan dampak pada masyarakat. "Kami juga pernah mendapatkah hibah dari Kelola untuk mementaskan beberapa pertunjukan dengan tema tanah. 

Kami siap bila ajang semacam ini digelar di Bandung. Jangan di Jakarta saja," cetus pengajar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, itu. Iman berharap Kelola harus tetap mengambil peran penting di ruang publik. Apalagi, sudah 15 tahun mengabdi di kancah seni. "Saya kira, perlu sekali ada lembaga yang menjembatan antara seniman, penikmat seni, dan komunitas global. Tanpa itu, seniman bukan siapa-siapa," akunya.

Sumber : Media Indonesia

KUBISME PENUH KISAH


Aladin duduk di kursi kayu. Ia memandang seorang gadis yang ada di sebelahnya. Dia tampak membawa kendi di tangan kirinya, sedangkan tangan kanan hendak merangkul gadis itu. Ada kotak perhiasan tergeletak di samping kursi. Mungkin saja, itu hadiah terindah Aladin baginya. 

Latar belakang gedung beratap bundar begitu jelas terlihat. Ada unsur warna primer, menandaskan kawasan tersebut berada di Timur Tengah. Ada semacam degradasi cahaya nan terang benderang. 

Gambaran itu terlihat pada karya berjudul Aladin and The Princes (akrilik di atas kanvas, 147 x 197 cm). Pelukis Edi Mulyo menyajikan karya dengan perspektif multibudaya di Duta Fine Arts Gallery, Kemang Utara, Jakarta, 9-29 September ini.

Pada pameran tersebut, Edi memamerkan puluhan karya. Lelaki kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, 18 Agustus 1966, itu menyajikan tema romantis. Edi datang dari keluarga sederhana. Tak begitu tertarik dalam seni rupa. Namun, bukan berarti dia awam. 

Saat kecil, Edi sudah membaca kisah seniman Affandi (1907-1990) dan Pablo Picasso (1881-1973) dari surat kabar. Pada pameran kali ini, Edi menghadirkan objek tematis. Seperti wajah orang dan gedung. Ia masih bermain dengan gaya kubisme. Itu bisa kita lihat pada wajah perempuan yang penuh kisah.

Pada 1987, Edi mendaftar di jurusan hukum di sebuah universitas di Tegal. Namun, studi ini tidak sesuai dengan perasaannya. Dua tahun berjalan, ia lantas mengundurkan diri dan masuk ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia (kini; Institut Seni Indonesia Surakarta). 

Selama lima tahun di sana, ia belajar dengan bimbingan I Gusti Nengah Nurata dan Bonyong Muni Ardi. Ia akhirnya lulus pada 1994 dan pergi melukis di Bali selama satu tahun. Tak mengherankan, pengaruh Bali dalam karya-karyanya begitu kuat.

Terutama, tentang unsur surealisme. Terlepas dari itu, Edi menjadi pelukis bertalenta. Itu membuat karya-karyanya ibarat melihat kesunyian dan kegundahan. 

 "Edi memang orang yang suka menyendiri. Semua karya ia buat dengan kesunyian. Ini membuat semuanya lebih berarti dan bermakna. Ada surealisme di sini," tutur kurator ameran Didier Hamel, pertengahan pekan ini. Tentu saja, lukisan-lukisan Edi kali ini mengandung makna. Ia menunjukkan ada kegembiraan dan keisengan sehingga memberikan warna kecerahan yang kuat.

Energi vital

Pada 1996, Edi memutuskan kembali ke Surakarta. Di saat itulah, ia bekerja sebagai pelukis dekoratif untuk sebuah perusahaan mebel milik Joko Widodo, Presiden Indonesia saat ini. Edi bekerja sama dengan rekanan seniman Enggar Yuwono dan Agung Prabasmoro. 

"Edi tetap idealis melukis sehingga ia juga membuat galeri di Pemalang. Baginya, melukis itu sebagai panggilan. Ia tidak begitu melejit, tapi karya-karyanya kuat pada konteks kekinian," jelas Didier. Saat melihat karya Edi, kita dapat menemukan komposisi yang hampir naif.

Ada perasaan imajinasi liar. Ia suguhkan lewat permainan komposisi warna. Warna-warni begitu kuat. Itu menunjukkan energi vital. Edi mampu membaca dongeng dan ia sajikan ke dalam karya-karyanya. Ia sudah berpartisipasi sejak 1982 dalam pelbagai pameran kelompok di Indonesia. Eksistensi Edi dalam seni rupa pun membawa sebuah perspektif.

Bagi finalis 100 Artis Terbaik di Philip Morris Award 2000 ini, seni bukan lagi sebagai barang mewah. Di pameran tanpa judul kali ini, Edi ingin menyampaikan pesan. Terutama, tentang kesederhanaan dan kesetiaan pada warna. 

Tak mengherankan jika melihat pameran Edi, penikmat seni pun langsung bisa mengingat sejarah seni rupa. Khususnya, pada gerakan avant-garde abad ke-20 yang dirintis Picasso. Terlepas dari kesuksesan Edi kali ini, ada beberapa catatan tentang pameran. 

Pertama, tidak adanya unsur lokal. Mayoritas karya seakan lebih mengedepankan unsur legenda Timur Tengah. Kedua, Edi belum menyajikan ledakan. Karya-karyanya lebih bersifat dekoratif. Tentu saja, lebih cocok dipajang di ruangan makan atau ruangan keluarga.

Sumber : Media Indonesia.

MEME YANG BUKAN CUMA GUYON


Ramadhan, 27, tertawa-tawa melihat gawainya. Sesekali air matanya mengalir. Itu bukan karena ia sedih, melainkan menahan geli.


Ia memperlihatkan meme bergambar seorang polwan dengan mimik khas. Di bawah gambar itu tertera 'Buka kaleng Oreo, ternyata isinya rengginang. Di situ kadang saya merasa sedih'.

Istilah meme awalnya lahir dari ilmuwan Inggris Richard Dawkins pada 1976. Ia mencomotnya dari bahasa Yunani kuno mimeme (tiruan). Namun, di era internet, pengertian meme berubah menjadi gambar karakter yang bertujuan humor.

Selain polwan asal Bandung tersebut, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana atau Haji Lulung juga belakangan banyak dijadikan meme. Namun, banyak pula meme yang menggunakan tokoh khayalan.

Meme berkembang di Tanah Air mulai 2011 dan kini sudah ada beberapa situs yang khusus menampung kreativitas meme. Sebut saja Meme Comic Indonesia (MCI), 1Cak, na9a, 9uyon, dan Dagelan.

"Setiap hari ada sekitar 2.000 - 2.500 meme yang diunggah anggota," kata pendiri situs 1Cak.com Aji Ramadhan. Jumlah anggota situs itu mencapai 400 ribu orang. MCI bahkan memiliki anggota hingga 1,8 juta orang.

Pengamat media sosial Farid Subkhan, menilai fenomena tersebut merupakan gambaran peradaban baru di Indonesia akibat modernisasi.

Namun, yang jadi pertanyaan ialah akankah meme bisa mendorong perubahan perilaku masyarakat ke arah positif atau sekadar guyonan belaka?

Sumber : Media Indonesia.

MENJUAL ILUSI MEMANFAATKAN FOTOGRAFI


Manusia yang bisa membelah diri atau melayang lazimnya hanya bisa dilakukan para pesulap. Tentu saja hal itu dilakukan dengan trik-trik tertentu. Namun, kini, mereka yang bukan pesulap pun bisa melakukannya. Dengan kemajuan teknologi, khususnya di bidang fotografi, tubuh Anda pun bisa terlihat seperti melayang atau terbelah dua. 

Jika tak percaya datang saja ke photo booth milik Gunggi Giannaskaf. Pria berusia 28 tahun itu berprofesi sebagai pesulap sekaligus membuka usaha photo booth.

"Ilusi photo booth ini bisa membuat orang awam seolah-olah menjadi pesulap, tapi alat yang digunakan bukan cara sebenarnya yang biasa dipakai pesulap untuk menerbangkan diri atau membelah badannya menjadi dua," papar Gunggi, akhir Desember lalu. 

Bersama Alakazam Enterprise yang didirikannya tahun lalu, ia bersama seorang rekannya jeli melihat peluang usaha di lini photo booth. Beberapa temannya yang sudah lebih dulu membuka usaha semacam ini biasanya selalu kebanjiran order, untuk berbagai helatan perusahaan, pernikahan, dan lain-lain.

"Saya lantas terpikir untuk bikin sesuatu yang berbeda, akhirnya bikin illusion photo booth karena Alakazam bergerak di showbiz pertunjukan dan magic. 

Akhirnya unsur saya buat photo booth yang bisa menerbangkan, membelah badan persis pesulap ternama seperti David Copperfield dan Criss Angel," ungkapnya.

Beberapa bulan pertama, penawaran ilusi photo booth ini belum begitu ditanggapi pihak event organizer, perusahaan, dan wedding organizer karena dianggap aneh. 

Barulah di awal 2015, setelah ada beberapa perusahaan yang memakai jasa Gunggi, trennya meningkat tajam. Promosi dari mulut ke mulut, hingga ke jejaring sosial, akhirnya mulai ramai. Sejak Juli 2015 sampai event malam tahun baru lalu, mereka bahkan kebanjiran order.

Kata Gunggi, omzet usahanya kini bisa berkisar Rp25 juta-Rp50 juta per bulan. Alakazam mematok beberapa harga paket, mulai Rp3 juta untuk 100 print foto hingga Rp7 juta untuk 300 print foto. 

Semuanya sudah termasuk dengan perlengkapan sulap dan bonus street magician untuk paket termahal dan ukuran foto 4R. Gunggi menuturkan awalnya dia hanya bermodal sekitar Rp35 juta untuk membeli mesin cetak foto dan kamera.

Ia tidak lagi membeli properti dan alat-alat sulap karena sudah dimiliki sebelumnya. Sewaktu baru menjalankan usaha ini, Gunggi memilih menggunakan fotografer lepas. Bersama fotografer tersebut, tim Alakazam belajar foto. 

Akhirnya kini mereka sudah bisa foto sendiri. Sampai saat ini lebih dari 50 event sudah mereka tangani. Gunggi berharap ilusi photo booth ini bisa menjadi tren dan bisnis yang semakin besar.

Apalagi foto yang dihasilkan bisa terlihat lebih atraktif ketimbang di photo booth biasa. Apakah tidak khawatir jika masyarakat menganggap ini seperti membuka rahasia para pesulap? "Oh beda. Kami para pesulap punya trik dan kemampuan sendiri untuk bisa terlihat seperti terbang atau melayang," ujar Gunggi tersenyum.  (Fik/M-6)-MI

PIPI LUNGIT

Oleh : Stella Elsa Gratia Plena Reporter Cilik 2014 Semarang

Seorang anak perempuan 13 tahun sedang mematut diri di depan cermin sambil mencubit-cubit gemas pipinya. Ia tidak sedang bersolek. Mukanya muram dan bibirnya dipilin membentuk raut muka kesal. “Ih.. sebel, sebel!“ ujar gadis itu.

Namanya Lungit. Ia sering diejek teman­teman karena pipi gembulnya ditambah potongan rambut pendek sehingga menambah kesan lucu dirinya. Ia sungguh tidak suka dengan ucapan teman­temannya. Ingin rasanya Lungit membantah. Namun, ia takut akan semakin diejek oleh teman­temannya.

“Pibul, pibul.. si Pipi Gembul lewat..“ ujar teman sekelasnya.Mendengar hal itu, pipi Lungit langsung memerah.

*** Kasihan Lungit. Ia hanya bisa pasrah dan pergi menjauh. Pada saat ia sedang sedih, ada satu sahabat Lungit yang baik, bijaksana, dan suka memberikan motivasi kepada dirinya. Lia namanya.

“Huu..hu..hu.. . Aku sedih.Teman­teman mengejek pipiku lagi..hu..hu..hu..“ ujar Lungit sambil menekan­nekan pipinya.

“Sudahlah, jangan menangis.Terkadang seseorang mengejek bukan karena dengki ataupun benci justru karena orang yang diejek itu mempunyai su atu keunikan yang ti dak dimiliki orang lain. Mungkin sebenarnya mereka gemas dan sangat menyayangi kamu karena keunikanmu,“ Ujar Lia sambil menunjuk kedua pipi gembul milik Lungit.

* * * Hari terus berganti. Sikap teman­teman Lungit kian menjadi. Lungit sudah tidak tahan lagi. Maka, ia membeli masker kain bermotif polkadot dan memakainya ke sekolah guna menutupi kedua pipinya itu.

“Ahh...pasti Lungit sengaja memakai masker karena malu dengan pipinya yang seperti bakso itu“ celetuk Evan, teman Lungit yang paling sering mengejek dirinya.

Kelas menjadi riuh dipenuhi gelak tawa. Pipi Lungit yang tertutup masker menjadi merah padam. Ia mengepalkan tangan. Matanya berkaca­kaca menahan tangis.

“Cukup!“ Ujar Bu Suli dengan nada menghardik.

“Anak­anak. Saling mengejek itu tindakan yang sangat tidak terpuji, jangan diulangi lagi!“ Sambung Bu Suli.

Lungit kembali ke tempat duduk dengan tertunduk lesu.Sepulang sekolah, Lungit memutuskan pergi ke apotek.

“Permisi Pak, saya ingin membeli obat untuk menghilangkan pipi gembul ini ada?“ tanya Lungit.

“Beres, dek. Ini obatnya.“

Ujar Bapak pemilik apotek sambil menyodorkan sebutir kapsul berwarna merah muda.

Hati Lungit gembira sekali.Malam harinya, ia meminum obat tersebut dengan sejuta harapan. Keesokan harinya ia segera bangun dan mandi. Ia terkejut saat berganti baju di depan cermin.

“Waaa!!! Siapa ini!!! “ Ia ter kejut melihat pantulan diri nya di cermin. Pipinya yang semula gembul, berubah menjadi tirus.*** Saat masuk kelas, semua mata tertuju padanya.

“Cie... anak baru,“ ujar salah satu temannya.

“Bukan. Aku bukan murid baru. Aku Lungit,“ ucap nya.

“Lungit si pipi gembul!“ Sambung Lungit sambil menarik­narik pipinya yang sudah tirus.

“Lungit itu unik dan cantik.Pipinya membuat kami gemas.Ia juga pintar. Siapa kau? Kami tidak mengenalmu!“ Ujar Evan.

“Ini aku Lungit. Sungguh! Lungit Laksita, “ ujar Lungit sambil menepuk­nepuk pundaknya sendiri. Apa boleh buat, hari itu tidak berjalan sesuai harapan Lungit. Bahkan, Lia tidak mau bermain dengannya. Ia sedih dan sangat menyesal dengan perbuatannya yang gegabah. Maka, sepulang sekolah, Lungit kembali ke apotek itu.

“Permisi. Pak, saya mau tanya ada obat yang bisa membuat pipi saya gembul lagi?“ tanya Lungit kepada bapak pemilik Apotek.

“Ini yang kemarin, ya? Tenang saja. Itu dosis obatnya hanya untuk satu hari. Besok pipi mbak sudah kembali seperti semula, kok,“ ujarnya.

*** Keesokan paginya ia datang dengan pipi yang gembul dan lucu seperti semula.

Pada saat ia masuk kelas, semua mata kembali tertuju pada dirinya.

“Lungit.. kemarin ada yang mengaku sebagai dirimu. Kemarin kelas ini menjadi sepi tanpa kehadiranmu,“ ujar Evan.

“Memang benar itu aku.Habisnya kesal karena kalian semua mengejek diri pipiku ini,“ suara Lungit bergetar.

“Maafkan kami semua, Ngit.Kami janji tidak akan pernah mengejek dirimu lagi,“ ujar Evan seraya mengulurkan tangannya kepada Lungit.

“Iya, bukan masalah,“ Lungit menerima uluran tangan Evan dengan raut bahagia. Mereka berdua bersalaman diikuti teman­teman Lungit yang lain.

Mereka semua bersalaman. Lungit tersentuh dengan tingkah kawannya itu. Ia memandang Lia. Mereka berdua saling mengerlingkan mata. Ia teringat ucapan Lia, seseorang mengejek bisa jadi bukan karena dengki ataupun benci, tapi karena keunikan yang tidak mereka miliki.

Lungit sadar bahwa pipi gembulnya ialah karunia Tuhan yang sangat berharga serta menjadi ciri khasnya.

Sejak itu, Lungit selalu gembira dengan apa yang dimilikinya. Ia tidak pernah merasa malu dengan pipi gembulnya lagi. Karena ia tahu, itu merupakan karunia Tuhan yang luar biasa. (M-1)

BERTEATER BERSAMA SANG ABDUL

Minggu sore itu, Panji berkumpul bersama teman-temannya di Gelanggang Olah raga Remaja (GOR) Bulungan, Jakarta Selatan. Sore itu, Minggu (11/10), 

Panji sudah siap mengikuti latihan teater, rutinitas yang ia jalankan sejak setahun lalu. Sobat Medi yang satu ini datang jauhjauh dari Bekasi untuk latihan di Sanggar Anak Bulungan (Sang Abul). 


Biasanya, Panji berangkat dari rumah pukul 15.00 WIB. Bersama ayah, ibu, dan adiknya, Sobat Medi yang duduk di kelas 2 SD ini tidak pernah absen ikut latihan.


“Awalnya aku disuruh ibu. Malu-malu, malah sampai nangis. Tapi sekarang justru aku sudah berani. Enggak malu lagi,“ cerita Panji disela latihan.

Sanggar Anak Bulungan, asuhan Om Andi Bersama, memang menjadi tempat anak-anak yang mau belajar kesenian teater. Bahkan, ada juga sobat kita yang masih TK lo.

“Sang Abul itu kan sifatnya sebagai fasilitator untuk anak-anak. Kami ingin mengenalkan mereka dasar-dasar teater sejak dini untuk bekal mereka nanti,“ ujar Om Andi yang akrab disapa Om AB ini.

Berdiri sejak 2003, anggota Sang Abul beragam, dari TK hingga SMA. Kak Ifta contohnya, sudah aktif di Sang Abul sejak kelas 1 SD hingga ia kini kelas 1 SMA.

“Aku dulu disuruh Ayah. Belum tahu apa-apa, terus pas kelas 2 SD, ikut pen tas di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Ya pasti ada naik turunnya, susah sedihnya. Tapi aku ingat apa yang dibilang Om Andi. Intinya ikutin aja latihannya, nanti bakal dapat hasilnya. Eh benar, pas aku kelas 6, sudah mulai asyik. Se karang aku malah sudah mulai menulis puisi,“ ujar kak Ifta.

Melihat beragamnya usia di Sang Abul, Om Andi melihat potensi yang bisa dikembangkan.

Contohnya, seperti Kak Ifta yang coba diarahkan Om Andi untuk ikut mengasuh anggota yang masih kecil kecil supaya timbul jiwa kepemimpinan. Cerita pulang latihan Sobat Medi, ternyata anggota-anggota Sang Abul juga punya cerita unik lo di tengah kegiatan mereka berteater. Kak Unggul, yang sekarang kelas 2 di SMP Hang Tuah 02, pernah mengalami kejadian unik sewaktu kelas 5 SD.

“Aku kan rumahnya di Ciledug. Jadi, kalau berangkat atau pulang latihan naik Metromini. Eh, pas pulang latihan, pernah kebablasan karena ketiduran. Pulang latihan kan capek haha,“ celoteh Kak Unggul yang sudah mengikuti teater sejak balita.

Dulunya, dia sering diajak kakaknya, yang juga pernah di Sang Abul. “Kendalaku paling ya ongkos transportasi,“ kata kak Unggul.

Menurut Om Andi, teater untuk anak-anak adalah bermain. “Mereka sudah punya peran sendiri kok tanpa harus kita arahkan harus begini atau harus begitu. Ya Sang Abul sebatas fasilitatornya. Kelihatan mereka yang punya potensi, bukan dari sanggar, melainkan dari mereka sendiri. Jadi, sebenarnya, sanggar pertama mereka itu ya, rumah,“ Ujar Om Andi.

Di Sang Abul, Om Andi melibatkan anakanak dalam membuat naskahnya. Pasalnya, di setiap pentas, kebanyakan menggunakan naskah sendiri.

“Kalau Sang Abul ini bisa dikatakan setiap pentas selalu ada menyanyinya. Musikal. Itu juga menjadi pengenalan kepada anak-anak ya, musik. Bukan cuma musik, melainkan juga teater untuk anak juga mengenalkan improvisasi, sastra, silaturahim, dan cek progres.Jadi, sejauh mana perkembangan latihannya.“ kata Om Andi.

Teater untuk anak-anak sebenarnya memiliki nilai positif pada psikologis anak-anak.“Kenapa sebelum remaja karena sebenarnya kan usia sebelum remaja atau di masa anakanak itu kan usia emas. Sang Abul mengubah posisi anak-anak sebagai penonton menjadi yang ditonton. Artinya, dari objek menjadi subjek,“ Jelas Om Andi.

Nah, sobat medi, tertarik punya banyak teman, atau ingin ikut bermain teater seperti sobat kita dari Sang Abul? Jangan malu-malu lagi ya. Lihat kan, Panji saja kini sudah tidak malu lagi. Malahan, dia sekarang juga mulai berakting di film lo. Wah, seru kan! (Fathurrozak Jek/M-1) 

SANG PENULIS, PELAYAN DALAM SEBUAH TAYANGAN

Terkadang menciptakan imajinasi begitu sulit. Namun, bagi para penulis skenario sinetron stripping, itu begitu mudahnya. Imajinasi selalu berkejaran dengan waktu dan harus dirangkum menjadi sebuah cerita yang menarik.

Waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Rabu (18/3), empat penulis alur cerita baru saja terlelap tidur setelah sejam sebelumnya mengirim tulisan kepada kepala penulis. Sekitar pukul 10.00, mereka kembali bergelut dengan penulisan cerita.

Di sisi teras apartemen di bilangan Jakarta Barat, Yanti Puspitasari, 42, tetap terjaga fokus pada layar laptop 15 inci keluaran pabrikan Amerika. Ia ialah kepala penulis dari tim kecil yang dimilikinya bersama Joni Faisal, 41, Reki Jayusman, 23, Ade Budiman, 32, dan Amartha Cintarama, 23. Di teras itu rupanya ia sedang membuat skenario dari tulisan yang baru saja diterima. 

Beragam dialog dikerjakan, bahkan lebih dari satu judul. Tiap judulnya berjatah satu episode sinetron. Jumlah halamannya bisa mencapai 75 halaman dari 12-15 halaman alur cerita yang berhasil dikembangkan.

Waktu yang dibutuhkan untuk satu episode 5-6 jam per hari untuk membuat alur cerita. Kemudian 5-6 jam berikutnya untuk menyelesaikan naskah lengkap. Waktu istirahat untuk merebahkan badan tak lebih dari 2 jam untuk Yanti.

Sejak tahun 1993 ibu dua anak itu telah memulai kariernya sebagai penulis skenario sinetron. “Namun, kisah yang saya buat tidak memengaruhi kehidupan pribadi saya. 

Semua berdasarkan ide dan berimajinasi. Saya banyak membaca dari berbagai literatur,” ujarnya memastikan.

Sejak sinetron kejar tayang (stripping) dimulai tahun 1998, Yanti merupakan pionir untuk penulis naskahnya dengan sinetron bertajuk Doaku Harapanku yang diproduksi oleh Multivision Plus.
Tren sinetron stripping pun mulai menjadi tren untuk edisi Ramadan. Ia pun menjadi penulis langganan Multivision Plus selama tak kurang dari 11 tahun. Tren stripping pun berimbas pada industri sinetron lain di luar Ramadan.

Saat ini ia tengah mengerjakan sinetron bertajuk 7 Manusia Harimau produksi SinemArt yang tayang di RCTI setiap hari sejak 8 November 2014. Di waktu yang bersamaan ia tengah menggarap sinetron Hijab In Love yang berhenti tayang sejak bulan lalu.

Ketika keadaan genting datang, semisal aktor atau aktris yang tidak bisa ikut syuting, penulis skenario harus siap mengubah alur ceritanya. “Bila ada aktor yang sakit kami pun harus menyiasati dengan membuat alur cerita baru,” jelasnya.

Saat mengerjakan Jilbab in Love, Yanti sempat merasa ingin mengundurkan diri karena kerap mendapat rekan kerja yang memanfaatkan ide-idenya. Dalam konteks industri, dirinya mengaku siap bersaing dengan kreativitas. Namun, kalau harus berhubungan dengan orang yang suka dari belakang tersebut, menjadikan alasan besar untuk mengundurkan diri.

Namun, niat itu urung dilakukan karena mendapat nasihat dari pemilik SinemArt, Leo Sutanto. “Kalau setiap ada rintangan kamu mundur, kamu tidak akan jadi apaapa,” kata Yanti menirukan perkataan Leo. 

Mengorbankan kehidupan normal sebagai manusia. Yanti memutuskan bercerai dengan Agam Suharto yang juga berprofesi sama dengan dirinya pun lantaran waktunya yang didedikasikan untuk pekerjaannya.

Ketika ayahnya pun meninggal 7 tahun silam, Yanti tidak lepas dari pekerjaannya menulis. Ia memang dibantu beberapa rekannya sebagai asisten penulis untuk menyelesaikan naskah yang diajak ke tempat jenazah disemayamkan. “Saat saya berdoa pun, rekan saya masih bertanya soal naskah dan saya harus tetap kontrol,“ kenangnya.

Hal serupa sempat dialami Donna. Sebelum nikah, dirinya mengaku tidak punya waktu untuk keluarga. “Bangun tidur yang dipikirin langsung deadline skenario, rating, meeting, preview, dan lain-lain. Saya jadi jarang datang ke acara-acara keluarga,“ akunya.

Ia kemudian berani mengambil sikap setelah menikah, “Mau tidak mau, saya harus prioritaskan keluarga juga. Sedangkan materi tidak akan ada habisnya kalau dicari.“

Walaupun mengurangi intensitas kerjanya, Donna kini tetap menjadi kepala penulis. Ia membatasi jam kerjanya. Lepas pukul 19.00 jangan harap bisa melakukan pertemuan pekerjaan dengannya. “Itu pun tidak tiap hari. Hari lainnya saya meeting dengan tim menggunakan google drive.

Sejauh ini tidak ada kendala,” ungkapnya saat dijumpai Media Indonesia, kemarin lusa.
Risiko bukan hanya menyelimuti batin.

Bila dilihat dari segi kesehatan, risiko untuk sakit sangat besar mengingat jam istirahat yang tidak beraturan. Untuk menyiasati hal itu, Yanti mendatangkan suster untuk memberikan infus vitamin.

Padahal, nilai sejumlah Rp9,5 juta menjadi angka kisaran yang didapatkan para penulis skenario sinetron tiap episode. Jika sedikitnya tim penulis empat orang, Yanti hanya menerima Rp7,5 juta, itu pun harus dikurangi dengan membayar gaji asisten rumah tangga, konsumsi sehari-hari untuk, perawatan kesehatan mereka. Namun, ratarata sinetron stripping memiliki lebih dari 100 episode per judul.

Yanti sendiri tidak hanya menggarap satu judul. Di samping itu ia juga menerima proyek untuk menulis buku biografi . Di balik risiko itu semua, ada misi mulia yang dilakukan. Ia merangkul para penulis muda untuk terlibat di dalam pekerjaannya. Baginya ilmu harus dibagi dan diberikan sebanyakbanyaknya kepada orang lain. (M-2)

Sumber : MI/www.mediaindonesia.com

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya