Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

SAKDIYAH MAK'RUF MASUK DAFTAR BBC 100 WOMEN


Sakdiyah Ma’ruf, Komedian wanita berhijab tercatat dalam daftar 100 perempuan yang dianggap menginspirasi dan berpengaruh di dunia 2018 versi BBC seperti dilansir laman BBC, (20/11). Dalam daftar tersebut, Sakdiyah berada di urutan ke 54 dan disebut sebagai perempuan komedian tunggal muslim pertama dari Indonesia yang menggunakan komedi sebagai sarana menantang ekstremisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan.

Sakdiyah mencoba mendobrak pandangan sebagian masyarakat bahkan keluarga sendiri yang menganggap komedi adalah hal yang distraksi, maka tidak mudah bagi Sakdiyah untuk jadi komedian dengan statusnya sebagai wanita muslim. “Agama adalah ajaran yang harus dipegang teguh, namun tidak jarang, agama dijadikan alat untuk mengekang seseorang, Salah tafsir sering terjadi, termasuk dunia komedi,” imbuh Sakdiyah.

Sakdiyah mengaku kalau dirinya sering tidak diperbolehkan oleh orangtuanya keluar dari rumah usai pulang sekolah, tidak boleh mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dan organisasi siswa. Tidak ingin terus terkekang, diam-diam Ia mendaftardiri untuk mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia yang diadakan salah satu televisi nasional di Yogyakarta pada tahun 2011.

Ternyata Ia lolos dan menjadi komedian berhijab pertama di Indonesia. “Keberhasilannya itu, Ia rahasiakan, pasalnya orangtua pasti tidak akan setuju,” kata peraih penghargaan Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent 2015, penghargaan untuk kategori stand up comedy di Oslo, Norwegia ini.

Sakdiyah sadar, tidak baik kalau harus terus sembunyi-sembunyi atas kiprahnya di Stand Up Comedy, ahirnya Ia menceritakan semua pada orangtuanya. "Awalnya orangtua marah dan menolaknya, namun ahirnya orangtua mengizinkan, yang penting dirinya tetap terus menyuarakan perjuangan menentang ekstremisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan pada materi komedinya.” Pungkas Sakdiyah. (AB)

#Standupcomedy
#Sosok #Wanita
***

Memaksa Guru Menulis


Bagi sebagian guru, menulis ialah aktivitas atau bahkan hobi yang mengasyikkan. Larangan menulis, bagi mereka, sama saja dengan dilarang berbicara. Ibarat mulut ditutup dengan lakban. Namun, bagi sebagian guru lainnya, menulis adalah beban. Kewajiban menulis dirasakan sebagai beban berat dan masih menjadi momok yang menakutkan. Saat mengajar di kelas, guru sanggup berbicara dari pagi sampai siang. Namun, jika harus menulis, keluhan yang sering terdengar ialah, ”Bisa menulis satu ali­nea saja sudah keringatan.”
Sengaja tulisan ini bertajuk memaksa guru menulis karena dalam pikiran banyak orang, memaksa berarti eksternal. Sumber pemaksa selalu diasosiasikan berasal dari luar diri, orang atau lembaga lain. Kita terpaksa menulis karena dipaksa pihak lain. Padahal, sebenarnya guru dapat memaksa diri sendiri untuk selalu menulis jika ingin meninggalkan warisan pengetahuan dan kearifan pada ke generasi penerus. Melalui tulisan, pengalaman dan pemikiran menjadi abadi.
Mental block
Keluhan yang sering terde­ngar di lapangan, ”Saya tidak bisa menulis,” atau ”Menulis itu sulit sekali.” Keluhan itu dapat dipastikan tidak memiliki basis yang kuat. Sebagian besar guru ialah mereka yang telah lulus S-1. Bahkan kini banyak guru yang telah menyelesaikan pendidikan strata dua bahkan tiga. Itu berarti kemampuan menulis mereka telah teruji. Guru telah lulus baik dari sisi konten akademis maupun kemampuannya dalam menuangkan gagasan secara tertulis. Mereka terbukti sanggup menulis makalah, menyelesaikan penulisan skripsi, bahkan tesis dan disertasi. Jika menulis puluhan bahkan ratusan halaman untuk skripsi dapat dilakukan dengan baik, apa susahnya menulis tiga halaman untuk artikel koran, atau 15 hingga 20 halaman untuk sebuah jurnal? Guru senior dengan segudang pengalaman mengajar selama puluhan tahun, mengapa tidak ada yang dapat dituliskan menjadi sebuah buku?

Rupanya persoalan bukan pada kemampuan, melainkan lebih kepada kendala mental yang dihadapi. Ada semacam ketakutan kalau tulisannya dianggap jelek. Gejala semacam ini merupakan sindrom trying to be always ‘right’. Salah satu dampak buruk dari model pendidikan formal kita selama ini ialah fokusnya yang terlalu kuat pada keinginan untuk selalu benar, tidak memberi cukup ruang untuk bereksperimen. Meskipun pendekatan ini membantu kita melakukan fungsi-fungsi sosial dalam masyarakat, cara ini berakibat munculnya kesulitan ketika harus menyelesaikan permasalahan kehidupan nyata yang tidak hitam-putih, ambigu.

Kendala mental kedua ialah logical thinking. Tentu saja logika ialah dasar bagi banyak keputusan dan sangat penting untuk proses pemecahan masalah. Namun, logika jika dipakai terlalu dini dapat membunuh aliran kreatif ide-ide baru. Kita semestinya dapat meninggalkan logika untuk sementara ‘di luar pintu’. Ada waktu dan tempatnya untuk logika dalam proses penulisan, tapi tidak setiap waktu. Sebagian besar orang menghabiskan 99% waktunya dalam tahap yang selalu logis. Oleh karena itu, guru butuh time out dari logika sehingga mampu mendapatkan banyak ide yang akan ditulis.

Membiarkan pikiran kita ‘bermain’ lepas juga merupakan cara efektif untuk merangsang pemikiran kreatif. Sayangnya banyak guru memisahkan bermain dari pekerjaan. Kesuntukan guru mendidik anak di kelas, dalam banyak kasus, tidak menyisakan pikiran relaks untuk bermain-main dengan aneka ide yang berseliweran. Padahal, pada pengembangan tulisan, studi menunjukkan orang akan memunculkan ide dan saran lebih kreatif ketika mereka memiliki draf awal untuk didiskusikan meskipun draf awal ini belum sempurna. Kuncinya ialah memiliki sesuatu yang membantu kita menyempurnakan tulisan, mengembangkan ide-ide selanjutnya yang lebih baik.

Bagi sebagian guru, menulis dianggap sebagai that’s not my job. Tugas guru ya meng­ajar, bukan menulis. Dalam era hiperspesialisasi seperti sekarang ini, banyak orang yang terjebak hanya pada bidang tugas masing-masing dan enggan untuk menjelajah ke bidang-bidang lain di luar itu. Padahal, orang kreatif, yang mampu menulis apa pun, perlu penjelajahan yang luas. Know it all, ingin tahu segala, menjadi cikal bakal bagi tumbuh suburnya kreativitas kepenulisan. Tentu, kita harus mengetahui hal-hal khusus dalam bidang kita masing-masing. Namun, jika kita juga melihat diri sendiri sebagai penjelajah, kita akan menjadi penulis yang produktif.

Being a ‘serious’ person acap kali juga menjadi kendala mental. Kebanyakan guru takut terlihat bodoh, dan inilah yang merupakan salah satu kendala terbesar untuk berpikir kreatif, menghasilkan ide-ide baru yang hendak dituangkan dalam tulisan. Kita tidak menulis karena takut dikritik. Setiap orang cenderung menjadi kritikus, bukan penulis. Banyak ide baru diserang dan cepat dijatuhkan. Dampaknya lebih merusak ketika seorang senior dalam sebuah diskusi segera menjatuhkan ide yang baru dimunculkan. Orang sering kurang menyadari bahwa cara terbaik untuk dapat menyebabkan sembelit aliran pemikiran kreatif ialah dengan menjatuhkan atau mengkritik saran baru. Sebaiknya kita bersikap tenang, mendengar­kan, dan memperhatikan apa yang orang lain katakan, tetapi tetap terus menulis.

Tiga rangkaian
Sebenarnya menulis merupakan rangkaian proses yang setidaknya terdiri dari tiga hal: membaca, merenung, dan menulis. Ketiganya ialah keterampilan. Rendahnya tradisi membaca, dan kebiasaan berpikir dangkal selalu menyulitkan bagi siapa pun untuk menulis. Membaca tidak berarti melulu membaca buku. Namun, juga membaca pengalaman, membaca fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Semakin sering keterampilan membaca diasah, semakin banyak bahan yang dapat ditulis. Kedua, menyangkut kemampuan merenung. Dalam bahasa psikologi kapasitas itu disebut deep thinking, kesanggupan untuk berpikir mendalam. Apa pun yang dibaca diamati dan dialami selalu dipikirkan secara mendalam, mengapa ini terjadi dan pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa itu. Perbedaan kemampuan guru dalam berpikir mendalam itu sangat menentukan seberapa banyak kearifan yang dapat mereka tunjukkan dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, maupun profesional mereka.

Ketiga, kebiasaan menulis. Seperti kata pepatah, alah bisa karena biasa. Pepatah itu dapat berarti perbuatan buruk menjadi tidak terasa lagi keburukannya bila telah biasa dilakukan, atau berbagai kesulitan tidak akan terasa lagi manakala sudah biasa.
Namun, dalam konteks kebiasaan menulis, pepatah itu berarti sesuatu yang pada awalnya dirasakan sulit bila sudah biasa dikerjakan akan menjadi mudah. Menulis menjadi pekerjaan yang sangat mudah dan mengasyikkan bagi yang sudah membiasakannya. Karena itu, pilihannya hanya menulis atau habis!

Khoiruddin Bashori Psikolog Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta
Sumber: Media Indonesia

IFY BLINK SENERGIKAN PENDIDIKAN DAN MUSIK


Penyanyi Alyssa Saufika Umari, 19, atau akrab disapa Ify, menyinergikan perannya sebagai musikus dan mahasiswa. Mahasiswa jurusan musik Universitas Pelita Harapan itu menuturkan, pendidikan itu ia ambil karena dapat mendukung minatnya sejak kecil. 

Dengan demikian, walaupun saat ini sudah dikenal sebagai penyanyi, dia semakin serius menempuh pendidikan secara formal di bidang musik.

"Sejak umur tiga tahun aku sudah senang main piano, kemudian dimasukkan ke sekolah musik. Kerja di bidang musik memang jadi cita-citaku. Seandainya tidak jadi musikus, bisa jadi penulis lagu atau produser musik," tutur Ify seusai acara peluncuran produk Clean and Clear di Jakarta, kemarin. Bagi Ify, yang penting ialah keseimbangan membagi waktu antara kuliah dan bermusik. Tidak lupa dia juga menyisakan waktu bersama keluarga.

"Harus pintar-pintar membagi waktu. Kalau waktu kuliah tidak sampai sore, aku memanfaatkan sisanya untuk kegiatan lebih yang produktif, seperti latihan bermusik atau acara lain. Kalau untuk keluarga harus disempatkan waktu luang," tutur anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Karena ingin fokus menggeluti dunia musik, Ify memutuskan tidak lagi bermain sinetron. Di samping itu, bermain sinetron sangat menyita waktu. Menurutnya, menekuni hal yang dia suka akan berdampak baik daripada memaksakan sesuatu yang tidak disenanginya.

"Aku tidak ingin main sinetron karena aji mumpung, lebih ingin dikenal sebagai musikus," ujar salah satu personel grup musik Blink itu.

Dalam pengambilan keputusan, lanjutnya, peran keluarga sangat penting. Baginya, keluarga merupakan support system nomor satu.
"Sebelum memutuskan sesuatu, aku selalu berdiskusi dengan keluarga. Mereka juga tempat aku mengonsultasikan semua hal," imbuh anak kedua presenter berita televisi Gina Sonia itu.
Berkat keseriusannya bermusik, lagu ciptaannya yang berjudul Kembalilah berhasil masuk di 36 tangga lagu Itunes dan menuai pujian dari banyak pihak, termasuk musikus Indonesia.

Dukung kampanye
Dalam usia yang terbilang muda, Ify aktif dalam kegiatan positif lain. Dia kini terlibat dalam kampanye #Imbright bersama Clean and Clear. Kampanye itu mengajak remaja putri Indonesia agar bangga menjadi diri sendiri.

Hal itu dilakukan karena selama ini kecantikan biasa diidentikkan dengan kulit putih. Akhirnya, banyak remaja putri di Indonesia merasa tertekan dan berusaha mengubah kulit alami mereka.

"Kecantikan remaja putri Indonesia beragam, termasuk warna kulit. Dengan jadi diri sendiri, mereka akan lebih percaya diri mengekspresikan diri," tutur Ify. Ify juga menyanyikan lagu tema dalam kampanye tersebut, yaitu No Ordinary Girl. "Lirik intinya you see the real me, bagaimana orang melihat kita apa ada dengan begitu akan lebih percaya diri. Kamu lihat aku apa adanya," tutup cucu aktris Farida Pasha itu.

Nama Alyssa Saufika mulai dikenal setelah ia mengikuti acara pencarian bakat Idola Cilik Musim Pertama. Dia juga bermain dalam sinetron Putih Abu-Abu (2012), Diam-Diam Suka (2013), dan High School Love Story (2015). (H-5)


Sumber: Media Indonesia

MENJAHIT MASA DEPAN KAUM DISABILITAS


Melalui menjahit, mendesain, dan memasang mute, Amy membuka kesempatan bagi kaum disabilitas bisa menjadi mandiri.

Memberikan dukungan bagi kaum disabilitas dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya yang dilakukan desainer busana ternama Indonesia, Amy Atmanto. Ia membantu para perempuan tunarungu mendesain busana.

Hobi akan dunia fesyen sejak dini membuat Amy menciptakan Royal Sulam pada 2006. Sebelum menekuni dunia fesyen, Amy berprofesi sebagai wartawan di televisi swasta. Keputusannya terjun ke dunia fesyen sebagai perancang busana mengantarkannya pada kesuksesan.

Keberhasilannya tidak membuatnya lupa diri. Amy justru banyak menyisihkan waktunya berbagi ilmu dan melatih kaum hawa yang kurang mampu dan penyandang tunarungu sejak 2008.

“Awalnya itu di tahun 2008, saya berpikir ingin memberikan sesuatu ke sesama di lingkungan sekitar saya. Lalu, saya dirikan Royal Sulam Kebaya dan sekaligus memberikan pelatihan kepada ibu-ibu dan kaum difabel yang ingin mengubah nasib mereka,“ ungkap Amy.

Melalui rumah kreatif itu sudah ratusan ibu kurang mampu dan penyandang disabilitas yang mendapatkan pelatihan ini secara gratis. Pelatihan kreativitas berupa pemasangan payet dan mute.

“Mereka berlatih di sini gratis, tidak ada biaya apa pun. Nantinya setelah lulus dari latihan di tempat saya, mereka akan mendapat sebuah piagam yang bisa dijadikan modal untuk mereka menawarkan pekerjaan payet ke toko-toko busana di Tanah Abang dan tempat jualan busana lain,“ sambungnya.


Mencontoh Hebatnya beberapa peserta yang dibantu Amy sudah mandiri dari sisi ekonomi. Mereka menerima pekerjaan sebagai desainer dan berbisnis di luar bidang busana.

“Sudah banyak yang sekarang mandiri.Salah satunya bernama Amalia, sekarang tidak hanya berbisnis busana, namun sudah ada bisnis lain menjadi make up artis,“ kata Amy.

Di balik semua itu, banyak tantangan yang dihadapi Amy. Salah satunya ketika harus berkomunikasi dengan penyandang tunarungu, pasalnya mereka sulit men dengar dan berbicara.Berkat kerja keras dan keinginan kuat, semua kendala bisa dilalui.

“Mereka itu belajar umumnya dengan melihat dan mencontoh. Karena mereka fokus, jadi diajarkannya dengan contoh yang sudah kita siapkan dan mereka belajar dari apa yang kita lakukan. Kemudian dengan gerakan tangan yang intinya memberikan semangat kepada mereka,“ sambung Amy.

Sekian tahun bergelut di dunia fesyen, kini karya Amy disukai tidak hanya di dalam negeri, tapi juga mancanegara.Beberapa rancangannya sudah dipakai orang hebat. Seperti Miss Universe 2007 Riyo Mori yang menggunakan karya Amy saat berkunjung ke Indonesia. Tak hanya itu, Amy ditunjuk menjadi Duta Swarovski yang merupakan ornamen kristal buatan negeri Austria.

Upayanya membantu kaum difabel membuat Amy diganjar sejumlah penghargaan.Di antaranya Kartini Award Piala Ibu Negara di Bidang Sosial Tahun 2010 dan masuk 100 perempuan di Indonesia yang paling menginspirasi pada 2011.

Amy berharap, dengan kegiatannya memberikan banyak pelatihan itu dapat membuat perempuan-perempuan di Indonesia untuk lebih kreatif dan mandiri dalam bidang ekonomi. (M-5)

Sumber : Media Indonesia

TAK BERMIMPI, NYATANYA IA PENULIS YANG HEBAT


"Jika ingin mengenal dunia, Maka Membacalah, Namun jika ingin dikenal oleh Dunia, Maka Menulislah”


"Setiap kata yang terucap akan berlalu bersama angin, tetapi setiap kata yang tertulis akan tetap mengabdi bersama zaman"


Kutipan diatas menjadi gambaran saya terhadapad sosok Setyo Wardoyo, Sang Penulis Buku “The Rise of majapahit”. Dalam bukunya pun Ia menyisipkan kutipan yang menarik “Jika engkau kehilangan kesabaranmu, maka engkau akan hilang kesempatanmu”

Awalnya tidak pernah bercita-cita, mimpi pun tidak, ingin menjadi seorang penulis, apalagi dikaitkan dengan rutinitas kesehariannya yang amat padat bahkan nyaris tidak berhubungan langsung dengan kegiatan menulisnnya tapi itulah Setyo Wardoyo, yang mampu menyisihkan sedikit waktu hingga melahirkan karya tulis yang hebat.

Saat bertemu di Plaza Media Indonesia, Jumat (12/2/2016) Ia menjabat tangan saya sangat erat, sembari berucap ; terima kasih atas suportnya karena The Rise of Majapahit kini kembali dicetak lagi (cetak tahap ke 2), Katanya.

Ketika ditanya, apakah bukunya yang baru sudah terbit dan siap beredar?

Karena banyaknya permintaan Buku The Rise of Majapahit, maka penerbitan buku yang baru terpaksa kami tunda, tunggu saja, buku yang baru akan dilengkapi dengan beberapa ilustrasi gambar yang menarik dan pastinya akan lebih hebat dari buku yang pertama, Tegas Setyo.

Bagamana Anda membagi waktu dengan kesibukannya yang amat padat dan apa rahasianya buku The Rise of Majapahit laris manis dipasaran?

Mau tau jawabannya? Hubungi langsung Setyo Wardoyo dan sebaiknya Anda jadi temanan dulu agar bisa curhat sepuas-puasnya, Silakan ke Akun personal Facebooknya www.facebook.com/kerajaanmajapahit790

Penulis : Abunawarbima

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya