GIZI BURUK PERPARAH CAMPAK



Virus campak memperlemah daya tahan tubuh sehingga anak mudah terkena komplikasi penyakit lain, seperti diare, radang paru, hingga radang otak yang mematikan.

SEBANYAK 59 anak meninggal akibat kejadian luar biasa (KLB) campak disertai gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua, dalam empat bulan terakhir. KLB terjadi di enam distrik di Kabupaten Asmat. Sejak September 2017 hingga kini, RSUD Asmat dilaporkan merawat ratusan pasien campak.

Kementerian Kesehatan menyatakan cakupan imunisasi campak di sana hanya 17% pada tahun lalu. Dokter spesialis tumbuh kembang anak dr Soedjatmiko SpA(K) mengatakan anak berstatus kurang gizi yang terkena campak, apalagi belum diimunisasi, bisa lebih fatal mengalami dampaknya daripada anak yang sudah diimunisasi. Menurutnya, KLB campak yang terjadi di Asmat terjadi cukup parah lantaran gizi buruk dan tidak diketahuinya ketuntasan anak mengikuti imunisasi.

"Di mana saja, bukan hanya di Asmat, kalau ada anak gizi kurang lalu belum diimunisasi, maka kalau terkena campak pasti sakitnya akan lebih berat," kata Soedjatmiko yang merupakan Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) itu saat dihubungi, kemarin.


Menghadapi situasi seperti itu, ia mengatakan penanganan yang perlu segera dilakukan ialah penambahan asupan gizi dan segera melakukan tindakan pengobatan dengan pemberian antibiotik. Dijelaskannya, komplikasi campak dapat menyebabkan sejumlah penyakit. Di antaranya diare dan radang paru-paru.

"Kalau komplikasinya radang paru, selain harus diperbaiki gizinya bakterinya juga harus dimatikan. Pada penyakit radang paru bakteri biasanya ikut nimbrung. Pengobatannya dengan antibiotik," jelas staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo itu. 

Meski begitu, ia menyatakan langkah pencegahan lebih efektif ketimbang pengobatan setelah kejadian. Pasalnya, campak merupakan penyakit yang bisa dicegah. "Menangani gizi buruk memang agak susah tidak bisa sehari dua hari. Perlu waktu berminggu-minggu. Tapi campaknya bisa dicegah dengan imunisasi," imbuhnya.

Menurutnya, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam mencegah kejadian campak yang parah akibat gizi buruk. Pertama ialah pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif selama 6 bulan lalu dilanjutkan sampai 2 tahun. Kedua, memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) berkualitas sejak anak umur 6 bulan. Ketiga, lanjut Soedjatmiko, ialah pengawasan teratur dengan rutin menimbang berat badan anak. 

"Langkah pertama pencegahannya, jangan ada yang gizi buruk. ASI itu sangat penting," tambahnya. Selain itu, sambungnya, kebersihan lingkungan juga patut dijaga seperti mencuci tangan sebelum memegang bayi, juga menutup mulut dan hidung jika batuk atau bersin di dekat balita.

Selanjutnya ialah imunisasi. Ketuntasan imunisasi penting untuk menciptakan kekebalan tubuh. Menurutnya, anak harus diberi minimal 1 kali vaksin MR (measles/campak dan rubella) pada usia 9 bulan. Imunisasi dilakukan lagi minimal 1 kali pada usia 15-18 bulan.

"Untuk usia sekolah juga minimal satu kali imunisasi, kecuali kalau ada wabah perlu ditambah. Pencegahan lainnya jangan merokok dekat bayi dan balita. Ventilasi udara dan cahaya matahari harus bagus di rumah. Terakhir, kalau bayi sakit segera obati," ujarnya.

Waspadai komplikasi

Senada, dokter spesialis anak RS Premier Bintaro, Tangerang, dr Marissa Pudjiadi SpA, mengatakan campak merupakan penyakit akibat virus yang bisa menurunkan kekebalan tubuh anak sehingga rentan terkena penyakit lain. Menurutnya, campak tanpa disertai komplikasi sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Namun jika terkena infeksi dari luar, campak bisa menyebabkan komplikasi penyakit, seperti diare, radang paru-paru, dan radang otak. "Virusnya bisa sampai ke otak dan menjadi ensefalitis sehingga menyebabkan kematian," ungkapnya.

Menurutnya, gejala campak terdiri atas tiga stadium. Pertama ialah masa inkubasi yakni sebelum munculnya tanda-tanda campak. Itu berlangsung selama 10-12 hari. Lalu, fase kedua, yakni prodromal, ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, dan mata memerah. Kemudian, masuk ke fase erupsi, yakni mulai muncul ruam merah di tubuh yang kemudian berubah ruamnya menjadi hitam. "Muncul masa konvalesens, yakni perubahan ruam merah menjadi hitam. Kalau sudah hitam sebenarnya sudah tidak menular," ujarnya.

Masyarakat harus waspada terhadap penularannya. Pasalnya, penularan campak tergolong mudah karena terjadi lewat kontak langsung dengan percikan air liur penderita. "Bisa lewat batuk atau menyentuh barang bekas air liur dari anak yang terkena campak," imbuh Marissa. (H-3)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/souGHf
***

PNEUMONIA MENGANCAM ANAK BALITA



Bayi yang tidak mendapat ASI, kurang gizi, dan tidak mendapat imunisasi dasar lengkap lebih berisiko terkena pneumonia.

PNEUMONIA atau radang paru-paru akut menjadi penyebab kematian terbanyak kedua, setelah diare, pada anak balita di Indonesia. Indonesia belum bisa mengeliminasi pnemonia karena rendahnya pengendalian faktor risiko, minimnya tingkat pengetahuan masyarakat, dan masih lemahnya penanganan dan pendataan di fasilitas kesehatan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Wiendra Waworuntu, menjelaskan tata laksana pneumonia sudah diterapkan di fasilitas kesehatan sehingga setiap tenaga kesehatan seharusnya mampu melakukan deteksi dini dan penanganan kasus pneumonia. 


Akan tetapi, masih banyak petugas kesehatan, terutama di daerah, yang belum menjalankannya. Pelaporan kasus pneumonia di daerah, baik dari puskesmas maupun rumah sakit, juga rendah.

"Perhitungan sasaran penemuan kasus pneumonia pada balita masih dari perkiraan. Ini membuat kita kesulitan mengintervensi dan mencapai target menurunkan angka kematian pada balita akibat pneumonia kurang dari 3/1.000 balita pada 2025," tutur Wiendra pada seminar terkait dengan Hari Pneumonia Sedunia di Kantor Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pusat, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terkait dengan pencegahan, lanjutnya, vaksinasi pneumococcal conjugate vaccine (PCV) efektif melindungi anak dari pneumonia. Namun, vaksin tersebut belum bisa masuk dalam program imunisasi dasar di Indonesia. Wiendra menyampaikan, perusahaan vaksin milik pemerintah, yakni Bio Farma, belum mampu memproduksi vaksin PCV sendiri sehingga harus impor dengan harga mahal.

Ketua Umum IDAI, dr Aman B Pulungan SpA(K), menyampaikan tingginya angka kematian bayi di suatu negara menjadi indikator buruknya aspek kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya. Ia pun menyayangkan rendahnya cakupan imunisasi dasar di Indonesia yang hanya 57,9% secara nasional. Selain itu, proporsi anak dengan status gizi buruk masih tinggi, yakni 17,7%, dan stunting (anak balita gagal tumbuh karena kurang gizi kronik) sebeser 30,8%.

"Cakupan imunisasi yang rendah, status gizi yang buruk, paparan asap rokok, dan lingkungan yang tidak bersih menjadi faktor risiko pneumonia," cetus Aman.

Napas cepat

Pada kesempatan sama, dokter spesialis anak dr Darmawan Budi Setyanto SpA(K) menjelaskan pneumonia merupakan radang akut pada jaringan paru dan sekitarnya. Penyebabnya ada berbagai macam. Bisa bakteri, virus, ataupun jamur. Bakteri penyebab pnemonia paling banyak ialah pnemokokus dan Hib (Hemophilus influenza tipe b).

Ia mengingatkan, masyarakat harus mewaspadai gejala selesma pada anak balita, seperti demam, batuk, atau flu. Hal itu disebabkan selesma dapat berkembang menjadi pneumonia. Selesma, lanjut Darmawan, pada dasarnya dapat membaik tanpa pemberian obat. Akan tetapi, ada selesma bisa menjadi pneumonia.

"Yang terpenting ialah mengenali tanda-tanda balita mengalami pneumonia. Balita yang demam dan mengalami peningkatan frekuensi napas (napas cepat) hingga tampak sesak napas bisa dicurigai pneumonia. Orangtua diimbau segera membawa ke fasilitas kesehatan," ujar Darmawan.

Sesak napas, terang Darmawan, disebabkan radang di jaringan paru-paru yang mengganggu pertukaran udara. Sesak napas yang dimaksud berupa tarikan dinding dada bagian bawah setiap kali anak menarik napas. Selain sesak napas, napas cepat juga tanda yang penting diperhatikan sebagai gejala pneumonia.

Karena itu, penting tenaga kesehatan maupun orangtua, ujar Darmawan, untuk mengenali tanda awal pneumonia dengan hitung napas selama 1 menit penuh (lihat grafik).

"Pneumonia dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik serta obat-obatan lain yang diperlukan. Apabila gejalanya berat hingga anak mengalami sesak napas, harus diberikan bantuan suplai oksigen."

Dokter spesialis anak dr Nastiti Kaswandani SpA(K) menjelaskan WHO telah menetapkan pencegahan pneumonia pada anak balita dan anak-anak, yakni dengan pemenuhan nutrisi yang cukup, imunisasi dasar lengkap, pemberian ASI ekslusif hingga usia bayi enam bulan, mencuci tangan, dan membebaskan anak dari polusi baik pajanan asap rokok ataupun kendaraan.

"Pemberian imunisasi dasar lengkap meliputi campak, DPT, aemophilus influenza type b (Hib), dan pneumokokus (PCV) dapat menurunkan angka kejadian pneumonia hingga 49%," kata Nastiti.

Ia mengingatkan, anak balita yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap seperti campak, berisiko lebih besar terkena pneumonia. Hal itu disebabkan campak menyerang mukosa (lapisan dalam) di seluruh saluran napas. Jika terjadi peradangan di saluran pernapasan, terjadi kerentanan terhadap kuman lain termasuk kuman pneumonia. Pasien campak sering mengalami komplikasi itu," terangnya. (H-2)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/M4Bp7t
*-*

KENALI DELAPAN MAKANAN PENCETUS ALERGI



SALAH satu merek unggulan dari PT Kalbe Nutritionals, yakni Morinaga, secara berkesinambungan mendukung program tahunan World Allergy Week dengan rutin melalui berbagai program edukasi.

"Tahun ini, Morinaga kembali mengadakan program parenting seminar skala nasional untuk meningkatkan pemahaman bunda atas alergi serta penyakit lainnya dalam rangka World Allergy Week 2018 serta menggagas pelatihan dan sumber daya untuk diagnosa dan tindakan pencegahan," ungkap Senior Brand Manager Kalbe Nutritionals, Dewi Angraeni, di Jakarta, Sabtu (23/6).

World Allergy Week merupakan program tahunan inisiasi dari World Allergy Organization(WAO) dengan fokus topik dunia tahun ini yakni Dermatitis Atopik atau Eksim. Dermatitis Atopik merupakan penyakit radang kulit yang tidak menular dan bisa kambuh berkala, tetapi juga bisa mencapai titik kronis.

Guru Besar Bagian Anak Alergi dan Immunologi dari RSCM/FKUI, Prof Dr dr Zakiudin Munasir SpA(K), mengatakan, dermatitis atopik atau eksim
terjadi umumnya di episode pertama yakni sebelum anak berusia 1 tahun. Selanjutnya bisa hilang dan timbul kembali.

"Prevalensi jenis kulit dermatitis atopik pada anak diperkirakan mencapai 10%-20%, sementara pada orang dewasa sekitar 1%-3%," kata Zakiudin.

Ia menjelaskan, ada 8 makanan utama yang dianggap bisa mencetus alergi atau yang umumnya dikenal sebagai The Big 8, yaitu, susu, telur, ikan, makanan laut tertentu seperti udang, kacang tanah, kacang kedelai, dan kacang pohon seperti, walnut, almond, serta terakhir gandum.

"Susu atau alergen protein susu sapi jadi salah satu pencetus paling umum di dunia dengan angka kejadian yang mencapai 2-7,5% dengan 0.5% terjadi pada bayi yang masih mendapatkan ASI eksklusif," tuturnya.

Menurut dia, salah satu pencegahan alergi atas makanan bisa dilakukan dengan memperkenalkan berbagai jenis makanan sedini mungkin, memberi ASI secara eksklusif, atau jika bunda tidak dapat memberikan ASI, anak dapat diberi susu yang telah diformulasikan secara khusus seperti susu dengan protein terhidrolisat parsial.

Terkait itu, PT Kalbe Nutritionals bersama Morinaga Research Centre Jepang memiliki program tetap yaitu Morinaga Allergy Solution sebagai solusi alergi untuk anak. Dari program itu, PT Kalbe Nutritionals juga melakukan survey terhadap ibu-ibu di Indonesia dengan anak usia 1-3 tahun yang alergi atas susu sapi.

"Dari survei itu, 9 dari 10 ibu merasa puas dan merekomendasikan Chil Kid Soya sebagai solusi terbaik alergi," tutup Dewi Angraeni. (RO/OL-1)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/9bVgNx
***

STUNTING TURUNKAN KECERDASAN ANAK


ANAK stunting atau berperawakan pendek karena kurang gizi kronis (menahun) tidak hanya rentan mengalami gangguan kesehatan fisik bahkan hingga dewasa kelak. Tingkat kecerdasannya juga kurang karena pada masa tumbuh kembangnya otak tidak mendapatkan asupan gizi maksimal. Karena itulah, stunting harus dicegah dan ditangani dengan serius.

"Stunting bisa terjadi karena asupan nutrisinya tidak cukup, atau karena kebutuhannya meningkat, misalnya, karena anak sering sakit. Yang kita khawatirkan adalah korelasinya dengan risiko retardasi mental," jelas Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dr Damayanti Rusli Sjarif SpA(K), dalam diskusi bertajuk Milk Versation Hari Gizi Nasional: Investasi Pangan Hewani, Stunting, dan Upaya Selamatkan Generasi Mendatang yang digelar Frisian Flag Indonesia (FFI) di Jakarta, pekan lalu.

Damayanti menjelaskan, persoalan stunting di Indonesia sudah terjadi sejak 40-50 tahun lalu. Di beberapa daerah, bahkan ada kasus stunting yang mengenai tiga generasi, dari kakek/nenek, bapak/ibu, hingga anak.

Stunting, lanjut Damayanti, selalu dimulai dari penurunan berat badan atau weight faltering akibat asupan nutrisi yang kurang. "Saat BB mulai turun, anak tidak langsung jadi pendek. Terjadi penurunan fungsi kognitif dulu, baru stunting," paparnya.

Pasalnya, pada anak dengan BB <10 kg, sebanyak 50-60% energi dipakai untuk perkembangan otak. Bila asupan nutrisinya kurang, otak yang akan dikorbankan terlebih dulu. Anak yang 'baru' mengalami weight faltering saja bisa mengalami penurunan IQ hingga 3 poin.

"Bisa dibayangkan betapa banyak penurunan IQ yang mungkin muncul bila anak sampai stunting," imbuh dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu.

Otak dan sinaps-sinapsnya (percabangan sel-sel otak) berkembang pesat selama 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak dalam kandungan hingga berusia dua tahun. "Pada masa ini anak tidak boleh kekurangan nutrisi sama sekali karena dampaknya irreversible (tidak bisa diperbaiki)," tegas Damayanti.

Selain fungsi kognitif, lanjutnya, pembakaran lemak pun terganggu sehingga ketika anak diberi makan banyak, mudah terjadi obesitas. "Bila ditelusuri, orang yang sekarang mengalami penyakit degeneratif mungkin dulunya stunting."

Untuk menilai apakah seorang anak stunting atau tidak, tinggi badan dan berat badan harus dikur dengan benar. Selanjutnya, nilai tinggi badan dan berat badan diplot ke grafik pertumbuhan anak. Dari situ, akan terlihat apakah pertumbuhan anak masuk kategori normal atau tidak. Bila dicurigai stunting, bisa dilakukan pemeriksaan rontgen tangan untuk memastikan diagnosis.

Terkait dengan pencegahan, Damayanti mengingatkan pentingnya kecukupan karbohidrat, protein, dan lemak pada anak. Jadi, selepas ASI eksklusif 6 bulan, anak perlu diberi makanan pendamping ASI (Mpasi). Komposisi Mpasi idealnya menyerupai komposisi ASI, yakni mengandung karbohidrat, lemak, dan protein.

"Jangan takut memberikan lemak pada si kecil karena zat ini sangat penting bagi otaknya. Asupan protein utamakan hewani karena dalam ASI, komposisi protein hewani lebih banyak. Kandungan asam amino pada protein hewani lengkap," pesan Damayanti pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Ia mengkritisi tren pemberian puree sayur dan buah atau tepung-tepung organik berbasis nabati pada bayi. Menurutnya, makanan dengan bahan tunggal seperti itu tidak mencukupi kebutuhan nutrisi anak. "Boleh saja memberikan puree buah dan sayur, tapi harus disertai protein hewani."

Menurutnya, susu dan telur merupakan sumber protein hewani yang paling baik. Diikuti dengan produk susu, unggas, ikan, hati, dan daging. "Jadi, sumber hewani tidak harus mahal. Anak bisa diberi telur, hati ayam, dan berbagai jenis ikan lokal yang harganya relatif terjangkau," pungkasnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia, Prof Hardinsyah, mengatakan kesadaran untuk melek gizi perlu mulai diperkenalkan pada calon pengantin. Sebelum menikah, calon pengantin menjalani edukasi prapernikahan.

"Pengetahuan tentang nutrisi untuk mencegah stunting bisa disisipkan dalam sesi tersebut agar kelak ketika sudah menjadi orangtua bisa memberikan gizi yang cukup untuk anak-anaknya," katanya. (H-2)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/wrHvDk
*-*

BENTUK POLA MAKAN BAIK SEJAK DINI


UPAYA pencegahan stunting pada anak memerlukan peran aktif keluarga, terutama orangtua. Dalam mencukupi gizi anak, orangtua perlu mengkreasikan menu agar anak tertarik mengonsumsi makanan bergizi. "Selain itu, orangtua juga perlu memberikan contoh kebiasaan pola makan yang baik di rumah dan menyediakan waktu makan bersama yang berkualitas dengan anak," ujar psikolog anak dan keluarga, Ajeng Raviando, pada bincang gizi yang digelar Danone Indonesia di Jakarta, kemarin.

Ajeng menjelaskan, di usia balita anak menyerap berbagai pengetahuan dengan cepat. Memberi contoh pola makan yang baik merupakan langkah efektif menularkan kebiasaan tersebut pada anak.

"Sediakan waktu bersama untuk makan bersama dan kasih contoh baik. Selain itu, orangtua perlu menyampaikan kalimat dengan positif agar tertanam afirmasi yang baik di benak mereka tentang makanan," papar Ajeng.

Sayangnya, lanjut dia, banyak orangtua tidak menganggap berat badan kurang pada anak mereka sebagai masalah yang besar. Orangtua juga sering tidak siap untuk melakukan perubahan untuk mengatasi masalah tersebut. Beberapa orangtua cenderung menghindari percakapan tentang masalah berat badan anak agar tidak menjadi beban psikologis bagi diri mereka sendiri.

"Penting bagi orangtua untuk berpikir terbuka dan objektif dalam menerima rekomendasi ahli kesehatan untuk mengikuti petunjuk pemulihan gizi yang disarankan," kata Ajeng.

Pada kesempatan sama, Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, mengatakan permasalahan gizi anak memang masih menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Menurutnya, perlu kerja sama berbagai pihak untuk mengatasinya. Sebagai bentuk dukungan, Danone Indonesia menyediakan platform www.cekberatanak.co.id.

"Website ini diharapkan dapat memudahkan orangtua dalam memantau berat badan ideal si kecil. Dengan rutin mengecek kurva pertumbuhan anak melalui website ini, semoga orangtua dapat lebih siap dan waspada bila terjadi gejala berat badan kurang sehingga segera mencari solusi dengan berkonsultasi kepada ahli kesehatan terdekat," terangnya.

Terpisah, Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) mengungkapkan minimnya pengetahuan orangtua, terutama ibu, turut menyebabkan anak kurang gizi. Wakil Ketua Kopmas Yuli Supriati menyampaikan mencontohkan hasil temuan Kopmas di Kabupaten Pandeglang, Banten. Sebagian ibu di sana memberikan susu kental manis pada bayi sebagai pengganti ASI.

"Hal itu membuat bayi yang lahir dengan berat badan normal, mengalami penurunan berat badan pada usia dua atau tiga bulan. Jika tidak diintervensi, anak tersebut akan dapat menjadi stunting," ujarnya pada diskusi publik menyambut Hari Gizi Nasional, di Jakarta, kemarin.

Yuli menuturkan ibu yang punya pemahaman gizi yang baik tahu akan pentingnya asupan gizi sebelum hamil, memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia enam bulan, dilanjutkan hingga usia dua tahun dengan ditambah makanan pendamping ASI.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Doddy Izwardy mengatakan pencegahan stunting dengan pemenuhan kebutuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, yakni sejak janin dalam kandungan hingga usia dua tahun, belumlah cukup.

"Kesiapan para remaja putri sebelum menjadi calon ibu juga tidak boleh dilupakan. Intervensi gizi sangat penting sebelum mereka masuk ke usia pernikahan, jangan sampai ketika rumah tangga mereka mendapatkan anak yang gagal tumbuh," ucapnya.

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/CuzmeV
*-*

DIABETES BUKAN PENGHALANG PRESTASI ANAK



Dengan penanganan yang baik, anak pengidap diabetes bisa bertumbuh kembang secara normal, juga berprestasi. Pemahaman orangtua dan anak akan penyakit tersebut menjadi kuncinya.

POSTURNYA tegap berisi, geraknya lincah, wajahnya pun ceria. Dengan penampilan seperti itu, mungkin semua yang melihatnya mengira Uki, 12, sehat-sehat saja. Padahal, bocah kelas 1 SMP itu mengidap penyakit yang bisa mematikan, yakni diabetes, tepatnya diabetes melitus tipe 1.

Uki yang bernama lengkap Fulki Baharuddin Prihandoko itu didiagnosis mengidap diabetes sejak kelas 4 SD. Namun, ia sudah merasakan gejala-gejalanya sejak kelas 2 SD.

"Kalau luka sembuhnya lama. Terus kalau pagi sering lesu. Sering merasa haus, padahal sudah minum banyak," terangnya saat ditemui dalam media briefing Anak juga Bisa Diabetes yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan akhir Oktober lalu di Jakarta.

Awalnya, Uki dan orangtuanya tak pernah menganggap gejala itu sebagai persoalan serius. Sampai saat kelas 4 SD, gejala mulai bertambah, seperti rambut makin banyak rontok, sering buang air kecil, bahkan mengompol di malam hari, serta berat badan turun drastis.

Melihat hal yang tidak biasa pada bungsu dari tiga bersaudara itu, sang ibu, Aisyah Rahmah, tentu khawatir. Ia pun beberapa kali memeriksakan Uki ke dokter, tetapi tidak mendapat diagnosis yang memuaskan. Hingga suatu hari, ketika Uki kembali mengompol untuk ke sekian kalinya, Aisyah curiga anaknya terkena diabetes. Ia pun berinisiatif meminta dokter melakukan tes darah.

"Saat kami pulang dari RS, dokter telepon dengan setengah teriak bahwa Uki harus kembali ke RS untuk dirawat karena kadar gula darahnya sampai 750 mg/dL," tuturnya.

Dokter mendiagonosis Uki mengidap diabetes tipe 1 yang mengharuskan dia memakai insulin seumur hidupnya. Awalnya, berat bagi Uki dan orangtua untuk menerima fakta itu. Namun, Aisyah menguatkan diri, merawat anaknya dengan mengikuti petunjuk dokter.

Kini, tiga tahun sudah Uki rutin suntik insulin dan menjaga pola makan. Aisyah menyebut Uki sudah sangat mandiri dan tidak lagi mengeluh.  "Dia tidak minta makanan manis lagi. Dia juga tidak malu untuk suntik insulin di mana saja kalau jadwalnya sudah tiba," imbuh Aisyah.

Kepada keluarga dan pihak sekolah, Aisyah menjelaskan kondisi Uki. Namun, Aisyah tak meminta Uki diperlakukan istimewa. Misalnya, saat sekolah melangsungkan seleksi anggota Pramuka yang akan mengikuti kegiatan jambore internasional di Australia. "Saya isi formulir apa adanya. Saya juga yakinkan Uki sudah mandiri."

Hasil seleksi meloloskan Uki menjadi salah satu peserta yang akan mengikuti jambore itu November ini. Pencapaian itu membuktikan penyakit diabetes, jika dikelola dengan baik, tidak menghalangi penderitanya untuk tetap beraktivitas dan berprestasi.

Lebih dini, lebih baik

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Aman Bhakti Pulungan SpA, menjelaskan, meski anak yang didiagnosis diabetes tipe 1 akan mengidap penyakit itu seumur hidup, bukan mustahil baginya untuk hidup normal dan berprestasi.

"Kata kuncinya, penerimaan dan edukasi. Sampai saat ini banyak orangtua yang belum bisa menerima anaknya terkena diabetes. Memang itu paling sulit, tetapi setelah bisa menerima, langkah selanjutnya akan jadi jauh lebih mudah," papar ahli endokrin anak itu.

Lebih lanjut Aman menerangkan, mayoritas diabetes pada anak merupakan tipe 1. Diabetes tipe 1 tak dapat dicegah. Penyakit itu terjadi karena ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin akibat kombinasi faktor genetik, autoimun, dan lingkungan.

"Anak dengan diabetes tipe 1 ini merupakan anak 'terpilih'. Diabetes tipe 1 dipengaruhi gen tertentu, tapi bukan turunan. Ada faktor dari lingkungan yang memicu autoimun (ketidaknormalan sistem pertahanan tubuh) yang kemudian meningkat menjadi diabetes. Faktor itu, seperti infeksi arbovirus, virus polio, coxsackie, juga defisiensi vitamin D," terang Aman.

Penderita diabetes tipe 1 harus menjalani pengobatan, yakni penyuntikan hormon insulin, seumur hidup. Oleh karena itu, edukasi kepada anak menjadi faktor penting. Dengan edukasi yang baik, anak dengan diabetes bisa mandiri dalam melakukan pengobatan dengan benar. 


"Memang harus seumur hidup diperhatikan, tetapi bukan berarti dia tidak bisa berprestasi. Contohnya aktris Hollywood Halle Berry dan penyanyi Nick Jonas. Mereka bisa sukses walau diabetes," imbuhnya.

Ia menambahkan, semakin dini diabetes terdeteksi dan ditangani dengan benar, semakin baik hasilnya. Oleh karena itu, orangtua wajib memahami dan mewaspadai gejala diabetes pada anak (lihat grafik). "Ketika sudah ada tanda sekecil apa pun, harus pikirkan tentang diabetes. Kalau dokter tidak terpikirkan, orangtua yang harus waspada. Minta cek gula darah."

Terkait dengan diabetes tipe 2, menurut Aman, meski kejadian pada anak masih sedikit, jumlah kasusnya terus meningkat. Salah satu faktor penyebabnya ialah obesitas.

Hal senada disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Fitri Arianie. Pergeseran gaya hidup ke arah tidak sehat, khususnya di kota-kota besar, membuat anak-anak rentan terkena diabetes tipe 2, seperti tren gaya hidup minim aktivitas dan pola makan tinggi karbohidrat, lemak, dan gula.

Karena itulah, lanjut Cut, Kemenkes terus meningkatkan sosialisasi pentingnya gaya hidup sehat dan peningkatan kewaspadaan terhadap diabetes. "Di posyandu maupun posbindu ada layanan screening awal diabetes. Jika hasil screening menunjukkan kecurigaan, warga bisa memeriksakan diri lebih lanjut ke puskesmas." (Ant/H-1)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/kE1y1i
*-*

USUS SEHAT, DAYA TAHAN ANAK PRIMA



ANAK sakit tentu bikin orangtua sedih dan risau. Apalagi, jika frekuensinya terbilang sering. Misalnya, setelah kena hujan, sakit. Sehabis bepergian, sakit, atau misalnya tiap ada teman sekolahnya yang sakit batuk pilek, anak ikut tertular.

Menurut dokter spesialis anak dr Ariani Dewi Widodo SpA(K), kondisi yang demikian menandakan daya tahan tubuh anak lemah. Apa yang harus dilakukan untuk memperkuat daya tahan tubuh?

"Salah satu yang utama ialah menyehatkan sistem pencernaan anak," ujar Ariani pada Workshop Nestle Lactogrow Grow Happy, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Seperti yang dikatakan Bapak Kedokteran, Hippocrates, pada zaman Yunani kuno, bahwa datangnya penyakit-penyakit bersumber dari pencernaan. Berbagai penelitian terkini juga membuktikan bahwa kondisi sistem pencernaan turut menentukan daya tahan tubuh.

"Usus merupakan organ imunitas terbesar. Sebanyak 60%-70% sel imunitas ada di usus," kata Ariani.

Salah satu faktor yang menentukan kesehatan saluran pencernaan ialah keberadaan dan komposisi lebih dari 100 triliun bakteri di usus. Saluran cerna dikatakan sehat bila minimal 85% bakteri di usus merupakan bakteri baik (probiotik). Porsi bakteri jahat (patogen) idealnya hanya 15%.

Beberapa bakteri baik itu misalnya jenis bifidobacterium dan lactobacillus. Bakteri baik berperan meningkatkan sistem imun, membantu metabolisme tubuh, juga memproduksi sejumlah zat yang bahkan tidak bisa diproduksi tubuh, seperti beberapa vitamin.

"Jadi, penting sekali menjaga keseimbangan komposisi bakteri dalam usus tetap ideal. Jangan sampai justru lebih banyak bakteri jahatnya daripada bakteri baiknya," pesan Ariani.

Bagaimana cara menjaga dominasi bakteri baik di usus? Menurut Ariani, caranya ialah menerapkan gaya hidup sehat. Termasuk, menghindari konsumsi junk food, menjauhi polusi udara, minum air yang bebas dari zat-zat beracun, mengelola stres, serta meminimalkan penggunaan antibiotik jika memungkinkan.

Selain itu, konsumsi makanan sesuai konsep gizi seimbang juga sangat penting, termasuk makan sayur dan buah. "Sayur dan buah berperan penting dalam menjaga saluran cerna. Tapi untuk anak porsinya perlu diatur, terutama sayur, karena kalorinya hampir nol, sedangkan anak membutuhkan asupan kalori cukup untuk tumbuh kembangnya. Perlu diingat juga, konsumsi sayur dan buah tidak bisa digantikan suplemen yang mengklaim terbuat dari sayur dan buah," terang Ariani.

Kebersamaan berkualitas

Pada kesempatan sama, psikolog Elizabeth T Santosa mengingatkan pentingnya orangtua terlibat secara berkualitas dalam aktivitas bersama anak. Sayangnya, penelitian yang dilakukan tim dokter dan psikolog Nestle Lactogrow pada awal 2018 di enam kota di Indonesia menghasilkan temuan yang cukup mengejutkan.

Dari hasil wawancara dengan responden orangtua yang memiliki anak berusia 2-6 tahun, hanya 48% yang menemani anak menonton TV dan turut terlibat mamahami karakter, plot cerita, dan nilai dalam tontonan tersebut. Adapun 32% orangtua, bahkan tidak pernah atau jarang menemani saat anak menonton TV. Sisanya 21% orangtua mengaku menemani anak, tetapi tidak paham mengenai tontonan tersebut.

"Dengan kata lain, orangtua sering kali bersama anaknya, tetapi kurang terlibat dalam beraktivitas bersama anak," ujar Elizabeth.

Padahal, lanjutnya, penelitian menyebutkan orang dewasa menyisakan memori tentang rasa nyaman di masa kanak-kanak dan perasaan dicintai orangtua melalui kegiatan yang dihabiskan bersama orangtua. "Jadi, bagaimana agar orangtua lebih terlibat dalam pengasuhan anak? Pertama, jangan fokus pada jenis aktivitas, tetapi waktu kebersamaan. Kedua, harus ada interaksi, tanya jawab, dan komentar saat anak bermain. Tidak ada distraksi. Eye to eye contact, dan buat anak merasa dirinya paling penting," saran Elizabeth.

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/24TPVo
*-*

WASPADAI GEJALA AUTISME


GEJALA autisme bisa diamati saat anak berusia 1,5 tahun. Orangtua perlu memperhatikan bila anak terdapat kecenderungan gejala autisme. Salah satunya ialah perilaku anak dalam memandang objek atau benda.

"Ketika anak berusia 18 bulan diajak memandang benda yang kita tunjuk tapi anak tersebut malah memandang kita dan tidak melihat ke objek yang kita tunjuk. Ini perlu hati-hati karena ada kecenderungan gejala autisme," kata psikiater Kresno Mulyadi dalam acara Hari Kepedulian Autisme Sedunia di Jakarta, Minggu (8/4).

Jika anak memandang objek yang ditunjuk, lanjut Kresno, anak bisa dikatakan tidak ada gejala autisme.

Cara kedua untuk mengenali gejalanya ialah respons imajinasi. Untuk menilai apakah anak punya gejala autisme atau tidak bisa diamati lewat tes imajinasi berpura-pura.

"Misalnya anak diberikan mainan telepon. Anak akan pura-pura berimajinasi kalau dia sedang menelepon. Caranya meletakkan mainan telepon di telinganya," ucapnya.

"Jika anak tidak merespons mainan yang diberikan, patut dicurigai ada kecenderungan autisme."

Jika ditemukan gejala seperti itu, terapi perilaku sedini mungkin wajib dilakukan. Terapi itu bisa dijalankan dengan metode pembelajaran kata dan kalimat pada anak. Terapi harus dijalankan setiap hari selama enam jam. (OL-3)

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/aSUDJn
*-*

ATASI REWEL ANAK, JANGAN BERIKAN GAWAI


ALVARO baru bisa menyebut kata papa dan mama saat berusia 3 tahun. Padahal, kakaknya dulu sudah mulai memanggil papa dan mama saat masih di usia setahun.

“Emang sih, saya lebih sibuk karena harus ngurusi dua anak. Jadinya, saya kasih anak saya itu gadget aja untuk nonton Youtube biar gak rewel,” ujar Ruth, ibunda Alvaro.

Lain halnya dengan Yen Cen, ibu dari Mykkha yang berusia 4 tahun. Menurutnya, bila sedang bermain gadget, sang anak sering tidak merespons saat dipanggil.

“Kalau disuruh berhenti susah banget, kadang bisa sampe marah. Penggunaan gadget juga ternyata membentuk karakter anak menjadi temperamental,” kata Yen Cen.

Apa yang dialami Ruth dan Yen Cen juga dialami banyak orangtua. Sebabnya, penggunaan gadget kepada anak-anak saat ini sudah memprihatinkan. Bahkan, tak sedikit anak yang kecanduan gadget.

Hal ini tak terlepas dari peran orangtua dalam mengasuh anak-anak mereka.Menurut dr Surilena SpKJ(K), psikiatri anak di RS Atma Jaya Jakarta, pemberian gadget dengan tujuan agar anak tak rewel dan memudahkan aktivitas orangtua bukanlah pilihan yang bijak.

“Orangtua sebaiknya memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungannya. Biarkan saja berantakan karena melalui hal itu anak dapat belajar dan merangsang kemampuan motorik dan sensorisnya. Orangtua dapat tetap membimbing dan mengawasi,” ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Penggunaan gadget secara berlebihan dan dalam jangka panjang, lanjut Surilena, dapat menurunkan kemampuan anak dalam berinteraksi, menimbulkan adiksi terhadap gadget, serta depresi.

“Penggunaan gadget juga dapat memengaruhi kemandirian dan kedisiplinan anak yang pada akhirnya akan memengaruhi proses belajar serta tingkat kefokusannya,” tambahnya.

Untuk mengatasi anak yang sudah kecanduan gadget, Surilena meminta para orangtua agar bekerja sama dengan anak. Orangtua perlu mengubah pola asuh, misalnya, membuat komitmen bersama untuk membatasi penggunaan gadget, mengajak anak aktif bermain bersama di luar rumah sehingga mereka dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

"Selain itu, dapat mengganti gadget dengan media belajar lain, seperti buku bergambar, puzzle, dan berbagai permainan interaktif lainnya yang dapat merangsang kemampuan sensoris dan motorik anak."

Surilena mengakui, di era digital ini, para orangtua cenderung menggunakan pola asuh praktis. Salah satu contohnya ialah ketika anak sedang rewel, tanpa berpikir panjang orangtua langsung menyodorkan gadget kepada si kecil. Bak pedang bermata dua, keberadaan gadget memberikan dampak positif sekaligus negatif pada anak.

Sementara itu, menurut Journal of Depression and Anxiety berjudul The Impact of using Gadgets on Children karya Sundus, salah satu dampak negatif penggunaan gadget ialah menghambat kemampuan si kecil untuk berbicara.

Sumber: Media Indonesia
https://goo.gl/ZwMtqW
*-*

Klik Gambar dibawah ini untuk melihat Berita lainnya